Tahukah Kamu Siapa Ibumu??

Oleh: Loli Rahmana Putri

Kenapa penulis memberikan pertanyaan demikian kepada pembaca sekalian?

Beragam fenomena yang penulis temukan ketika mebahas tentang ibu. Banyak  anak yang mengenal ibunya, namun tidak tahu siapa ibunya, bahkan seolah lupa akan cara bersikap pada ibunya. Banyak anak yang mengenal ibunya, tetapi tidak tahu kemana muara keringat ibunya. Masih banyak fenomena lain yang masih bertebaran di luar sana.

Ibu, seorang wanita yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Mungkin penulis akan berkisah pada tulisan kali ini, karena biasanya kisah lebih berperan sebagai kunci pembuka mata hati pembaca.

Seorang ibu yang berjuang menghidupi anaknya, bekerja di sawah bersama suami, melawan terik matahari dari pagi hingga sore hari. Sesampainya di rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Hari-hari dilewati dengan rutinitas yang demikian. Kadang lelah sudah enggan menghinggapi karena selalu kalah dengan kekuatan hati nurani.

Suatu hari, sang ibu mulai sakit. Tubuhnya lemah, segala makanan yang ditawarkan ditolak mentah-mentah oleh tubuhnya. Alhasil, tidak ada sedikitpun energi yang menopang tubuh yang sudah mulai renta itu. Suatu hari, sang ibu selalu bertanya-tanya tentang keberadaan putra-putrinya di dalam hati. Ketika putrinya sudah berada di sampingnya, maka pengakuan tulus dari hati seorang ibupun meluncur. Ia mengaku, bahwa kehadiran seorang anak adalah sumber kekuatan di kala sakitnya.

Baiklah, kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Tahukah kamu siapa ibumu?

Ibu, wanita yang berharap jabang bayi sebagai penawar sakit.

Tahukah pembaca bagaimana harap-harap cemas seorang wanita ketika ia sudah menikah? Seorang wanita dikatakan sempurna apabila ia telah menjadi seorang ibu. Memberikan anak untuk suaminya, memberikan cucu untuk orang tuanya maupun orang tua maupun mertua. Banyak fenomena-fenomena perceraian disebabkan oleh tidak adanya kehadiran seorang anak dalam rumah tangga, tetapi masih ada yang mampu mempertahankan rumah tangga mereka walaupun tanpa kehadiran seorang anak.  Ketika seorang ibu mengetahui bahwa dalam rahimnya telah ditipkan seorang bayi yang akan dididik menjadi seorang anak yang berguna kelak, betapa haru dan sendunya hati seorang ibu tersebut. Betapa bahagianya hati seorang ibu yang dari rahimnya lahir seorang putra atau putri yang selalu mengisi segala sudut rumah dengan suara tangis dan tawanya.

Setelah bayi yang ia idam-idamkan lahir, saatnya jati diri sebagai seorang ibu diaplikasikan seutuhnya. Bekal dalam mendidik anak ia praktikan dengan sebenar-benarnya, hingga bermacam kesulitan ia rasakan. Jika dahulu ia sering menyalahkan dan memandang kekurangan seorang anak dari didikan orang tuanya, maka kini iapun mulai merasakan betapa sulitnya dalam mendidik seorang anak sehingga mampu menjadi generasi harapan yang memberikan kebanggaan baginya baik di dunia maupun di akhirat.

Maka tidakkah kita merasa beruntung menjadi seorang anak yang diidam-idamkan oleh kedua orang tua? Lantas mengapa, sebagian dari kita masih saja memilih mengecewakan harapan orang tua kita yang telah tertanam sejak embrio kita tertanam dalam rahim ibu?

Ibu, wanita kuat penahan rintih sang anak.       

Seorang ibu tidak pernah menyalin curhatan, rintihan hati anaknya pada orang lain. Seorang ibu tidak pernah membiarkan anaknya tertatih sendiri. Ia pasti akan terus memapah anaknya, walaupun ia sendiri berjalan di atas telapak kaki yang luka dan beban yang seakan meruntuhkan tulang pundaknya.

Mungkin ketika kita mendapatkan luka, kita sering pulang untuk menyalin keresahan pada ibu. Menceritakan dengan berbagai diksi manja, hingga dada yang awalnya sesak menjadi lapang. Pernah suatu gadis bercerita, ketika ia merasa lelah dan ingin menangis dengan segala tugas yang menurutnya tidak memberikan ia ruang untuk berfikir. Namun, ketika ia mengutarakan niatnya tersebut kepada temannya, ia mendapatkan suatu pertanyaan yang membuatnya memurungkan niatnya.

“Jika kamu pulang untuk menambahkan beban berat ibumu, lalu kapan kamu pulang untuk mengangkat beban berat yang ada di pundaknya?” Pertanyaan itu membuat gadis tersebut terhenyak.

Sejatinya, seorang ibu sangat bangga ketika anaknya berhasil kuliah dengan baik. Tidak ada ibu yang mau mendengar anaknya menghadapi kesulitan, namun bukan berarti juga ia tidak peduli. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa seorang ibu akan selalu menerima curhatan anaknya. Ketika ia melihat anaknya pulang, senyum dan kehangatan telah ia siapkan untuk mendekap kelelahan putra-putrinya tersebut.

Siapa yang mengatakan tidak boleh pulang saat hati mulai gelisah dan menemukan kebuntuan. Pulang adalah jalan terbaik, tetapi akan lebih baik lagi jika niat pulang bukan untuk mencurahkan keresahan dalam hati, akan lebih baik jika pulangnya kita adalah untuk kembali mengamati, mengambil pelajaran tentang bagaimana seorang ibu menyelesaikan masalahnya.

Ibu, seorang penadah doa di sepertiga malam.

Pernahkah membaca atau mendengar statement ‘keberhasilanmu saat ini, delapan puluh persen adalah hasil dari doa ibumu, dan dua puluh persen adalah hasil usahamu.’

Seorang mahasiswa pernah bercerita kepada penulis tentang keyakinannya akan doa sang ibu saat ia hendak melanjutkan pendidikan selepas SMA. Kuliah memang pilihannya, namun sayangnya pilihan tersebut kurang maksimal dalam usaha menggapainya. Mahasiswa tersebut masih ingat  ketika ibunda tercinta tidak pernah lelah dalam membangunkannya untuk shalat tahajud memohon keberhasilan dalam meraih cita-cita kuliah di kampus impiannya.

Masih banyak lagi jati diri seorang ibu yang belum tergambar dalam tulisan ini.

feril bersama ibuSebelum menulis, penulis mencoba meminta quotes tentang ibu, beberapa Quotes bermunculan, di antaranya:

 

Ibu, di setiap aku membuka dan menutup mata, aku melihatmu,” (Hardian Feril: Koordinator Komisi B, Puskomda Sumbar)

“Ibu adalah sosok yang menerima kita apa adanya,” Asyraf Mardiah, Staf Komisi C, Puskomda Sumbar).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *