Membangun Internal Organisasi : Memotivasi

Motivasi merupakan salah satu bahan bakar utama yang dapat menggerakkan pengurus dalam organisasi. Organisasi yang dapat membuat para pengurusnya selalu dalam motivasi yang tinggi hampir bisa dipastikan akan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi. Dari titik ini kita bersepakat bahwa salah satu tugas para pemimpin di organisasi adalah untuk selalu memberikan motivasi pada para pengurusnya.

Daniel Pink, penulis best seller buku-buku tentang bisnis dan manajemen menyebutkan bahwa motivasi itu ada dua tipe, yaitu extrinsic motivation (motivasi ekstrinsik) dan intrinsic motivation (motivasi intrinsik). Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari intervensi luar setiap diri pengurus seperti uang, pujian, hadiah, dan lain-lain. Sedangkan motivasi intrinsik adalah motivasi yang datang dari dalam diri sendiri. Studi membuktikan bahwa motivasi intrinsik akan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap produktivitas kerja seseorang dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik. Sebagai contoh sederhana, dua orang karyawan dengan gaji yang sama di sebuah perusahaan belum tentu memiliki produktivitas yang sama pula. Motivasi intrinsik dari kedua orang tersebut akan memberikan berpengaruh besar pada produktivitas kerja keduanya.

Menurut Dan Pink, ada tiga elemen yang membangun motivasi intrinsik pada diri seseorang, yaitu autonomy, mastery dan purpose. Apabila seorang pimpinan organisasi ingin membangkitkan motivasi intrinsik pada diri pengurusnya, yang perlu Ia lakukan adalah memberikan ketiga elemen ini pada stafnya. Autonomy (otonomi) berarti memberikan kewenangan, kepercayaan, kebebasan pada staf untuk melakukan sebuah pekerjaan. Pink menyebut ada empat aspek utama dalam autonomy, yaitu time (waktu), technique (tekhnik, cara), team (tim), dan task (tugas, pekerjaan).

Sebagai contoh, beberapa perusahaan yang mengharuskan punya nilai kreativitas tinggi untuk bersaing dengan kompetitornya membuat kebijakan untuk memberikan waktu bebas pada karyawan mereka untuk melakukan apapun yang dia mau di kantor pada jam tertentu yang berbeda dengan jam istirahat, asalkan target kerja bisa tercapai. Contoh lain misalnya, dalam sebuah proyek yang dijalankan oleh tim kecil di organisasi, pimpinan organisasi memberikan wewenang pada ketua tim kecil tersebut untuk bebas memilih siapa saja anggota tim mereka dan bagaimana cara tim ini bekerja. Pada situasi ini, berikan kepercayaan penuh pada staf dan pastikan mereka merasa bahwa dirinya dipercaya oleh Anda sebagai pimpinan organisasi untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Berhati-hatilah, memberikan kepercayaan dan membangun kepercayaan pada staf berbeda dengan melimpahkan tugas padanya. Ada pendekatan yang berbeda antara keduanya, yang juga akan menghasilkan penerimaan yang berbeda pada staf. Kita harus berlatih untuk peka terhadap hal ini.

Mastery dideskripsikan sebagai hasrat seseorang untuk bertumbuh dan menguasai suatu keahlian. Pink berpendapat bahwa manusia senang untuk selalu menjadi lebih baik tentang suatu hal, mereka akan menikmati kepuasan dari capaian pribadi dan perkembangan dirinya. Seorang pemimpin yang dapat membuat stafnya merasa selalu ter- improve dan menikmati perkembangan atas dirinya, berarti pemimpin itu telah berhasil membangun motivasi intrinsik yang kuat dalam diri stafnya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang abai terhadap pengembangan diri para stafnya akan mendapati banyak pengurus yang kehilangan motivasi untuk bekerja dan bertahan di organisasi tersebut.

Poin pengembangan diri (mastery) ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti berdiskusi dengan para staf, mengadakan pelatihan, memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan keahlian para staf secara menyenangkan, atau bahkan memberikan pekerjaan yang ‘challenging’ bagi mereka. Namun lagi-lagi harus berhati-hati, membangun hasrat seseorang untuk bertumbuh berbeda dengan mewajibkan staf melakukan sesuatu yang kita kira akan menambah kualitas serta skill mereka. Ya, mengajak staf utuk berdiskusi ringan dan kemudian menyampaikan ilmu pada mereka dan memintanya membaca sebuah buku dengan perkataan seperti “Nih, coba deh lu baca buku ini bab 2. Hal yang tadi kita omongin ada disitu dan lu bisa dapet lebih banyak hal yang keren disitu” akan menghasilkan dampak yang berbeda dibanding kita membuat tulisan di papan pengumuman “Semua staf wajib membaca buku A bab 2 selama 7 hari ke depan” walaupun keduanya sama-sama meminta staf untuk mebaca buku dan staf tersebut menyelesaikan bacaannya. Pemahaman mereka bisa saja sama-sama bertambah, namun motivasi intrinsik mereka belum tentu akan sama-sama terbangun. Perhatikan pendekatan yang kita gunakan dalam menyampaikan hal ini.

Terakhir yaitu purpose, bagi saya pribadi poin ini adalah poin terpenting untuk membangun intrinsic motivation bagi para pengurus. Purpose berarti membangun keresahan, menyampaikan alasan, menemukan tujuan, hingga semua staf akan bersepakat bahwa sesuatu ini memang harus dilakukan. Poin ini bisa juga kita sebut pemaknaan. Ya, seseorang secara tidak sadar akan lebih semangat untuk melakukan sesuatu ketika mereka mendapatkan makna dari apa yang mereka kerjakan. Kalau Simon Sinek mengatakan “starts with why”, mulailah dengan why. Pada bagian ini, seorang pemimpin wajib memastikan staf yang akan bekerja bersamanya itu mengetahui alasan dan tujuan pekerjaan itu dilakukan, dan pemaknaan itu muncul. Sejalan dengan poin autonomy di atas, yang harus kita lakukan adalah bersepakat dengan para staf pada purpose ini dan kemudian berikan wewenang pada staf untuk mengerjakan sisanya. Jangan selalu meminta staf mengerjakan sesuatu, tapi lebih dalam dari itu buatlah mereka menyepakati alasan keberadaan kita berada disitu dan mengapa pekerjaan ini harus kita lakukan. Apabila Anda berhasil membangun purpose yang kuat pada diri staf Anda di organisasi, memberikan kepercayaan padanya untuk melakukan sesuatu, dan menyediakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk bertumbuh, maka bersiaplah melihat para staf yang akan siap berjuang bersama Anda dan memberikan kemampuan terbaik mereka untuk mencapai tujuan bersama di organisasi yang Anda pimpin.

oleh Ahmad Yanis Audi
Ketua Komisi Kaderisasi dan Kelembagaan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019