ISLAM MEMERDEKAKAN PEREMPUAN

Pembicara : Tia Restu Rahmawati. S.Pd
Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Maret 2020
Waktu : 20.00-22.49 WIB

PENYAMPAIAN MATERI

Bagaimana Islam memerdekan Perempuan?
Sekarang ini sedang marak Isu feminisme, yakni menginginkan derajat perempuan sama dengan laki-laki. Mereka mengatakan Islam tidak membebaskan perempuan dan mengkungkung perempuan dengan tatanan aturan yang memberatkan. Tapi jika kita pahami, aturan itu sebenarnya membuat kita nyaman. Kita bisa membuktikan hal ini dengan melihat sejarah sebelum Islam datang. Banyak kasus di beberapa wilayah dan di berbagai agama yang merendahkan perempuan. Berikut beberapa contohnya :
– Di Yunani dulu, perempuan dijadikan sebagai pemuas hawa nafsu dan budak. Selain itu kita tau mereka menyembah dewa dewi. Lalu ada keterangan bahwa salah satu dewa yang mereka sembah adalah hasil perzinaan antara dewi dengan manusia. Jelas sekali itu merupakan pemikiran konyol.
– Di India, jika seorang laki-laki meninggal sedangkan istrinya masih hidup. Maka istrinya akan dibakar hidup-hidup bersama dengan suaminya. Apakah itu semua disebut dengan memuliakan perempuan? Tentunya tidak!
– Pada jaman jahiliah sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai rasul. Jika seorang suami meninggal, maka suami dapat mewariskan istrinya untuk anaknya. Kemudian si anak berhak memilih untuk menikahi ibunya atau membebaskannya.
– Selain itu banyak perempuan yang mempermasalahkan hak warisan karena mereka hanya mendapat ½ bagian dari laki-laki. Para feminisme/liberalisme mengkritik hal tersebut karena mereka merasa Islam tidak adil dalam pembagian harta warisan, mereka berpikir mengapa tidak disamakan saja derajatanya dengan laki-laki. Padahal dalam Islam, dasar dijadikan ketentuan itu karena suami dibebankan sebagai qoam atau memberikan nafkah, sehingga mendapat harta bagian lebih banyak dibandingkan wanita.

Ada orang liberalisme/feminisme yang mengartikan bahwa seorang maskulin memimpin seorang feminim. Jadi misal, perempuan yang lebih maskulin boleh memimpim laki-laki yang feminim. Padahal Allah sudah mengatur bahwa laki-laki berbeda dengan perempuan. Contohnya dari segi fisik, mereka memiliki rambut yang berbeda. Lalu dari segi otak, juga sudah berbeda. Perempuan ditakdirkan lebih banyak bicara dan lebih perasa dari laki-laki. Pada QS Al-Imran dikatakan bahwa laki-laki berbeda dari wanita, jadi tidak bisa disamakan. Namun kaum feminisme tidak bisa membedakan karakter laki-laki dan perempuan.

Kebanyakan sekarang perempuan menginginkan emansipasi wanita, yakni meminta satu derajat dengan laki-laki. Padahal Allah sudah menakdirkan masing-masing punya keunggulan dan fungsi yang tidak bisa ditukar-tukar. Allah telah menjadikan perempuan sebagai malam, sebagai tempat beristirahat untuk suami dan anak-anaknya. Coba kita bayangkan jika perannya ditukar. Perempuan menjadi seorang yang sibuk mengurusi bisnis, yang dia tidak nyaman di rumah. Bukankah jika itu benar terjadi fitrahnya sebagai perempuan bisa hilang. ISLAM BENAR-BENAR MEMBEDAKAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. ISLAM MENGANGKAT DERAJAT PEREMPUAN, KARENA DI JAMAN SEBELUM ISLAM DATANG, PEREMPUAN BEGITU DIRENDAHKAN. ISLAM MENEMPATKAN DAN MEMULIAKAN PEREMPUAN PADA FITRAHNYA. ALLAH LEBIH TAU APA YANG IA CIPTAKAN. Misal, aturan Allah kepada perempuan untuk menutup aurat, bukankah itu sejatinya sebagai bentuk menjaga kehormatannya.?

Dulu ketika Islam berkuasa, Islam dijadikan sebagai kiblat. Sampai orang kafir ada yang menyatakan cinta menggunakan ucapan bahasa arab, karena Islam sangat ngetren pada saat itu. Perempuan kafir pun menutup aurat mereka, salah satunya Ratu Austria yang memakai pakaian tertutup sebagaimana orang Islam, padahal dia bukan beragama Islam. Alasannya karena ia berfikir sebagai seorang ratu, tidak dapat sembarang orang dapat melihat dan menyentuhnya. Namun, karena sekarang ini kiblatnya adalah orang kafir, orang-orang ikut berpikir bahwa perempuan harus menunjukkan auratnya agar orang-orang tau.

Coba kita pikirkan, bahwa di Al-Qur’an terdapat surat tentang perempuan (An-Nissa). Selain itu, syurga Allah tetapkan ada dibawah kaki ibu, bukan kaki ayah. Kita juga diperintahkan untuk menghormati orangtua, terutama ibu yang kita tau sampai disebutkan 3x dalam sabda Rasulullah. Pada surat Al-Baqarah disebutkan bahwa seorang ibu dituruti karena ia yang melahirkan anaknya, merawatnya, dll. Beberapa perempuan sekarang ini merasa malu ketika menjadi IRT. Padahal itu termasuk pekerjaan yang keren dan sebagaimana fitrahnya. Akhirnya di situasi COVID-19 ini, Allah membuat perempuan kembali kepada fitrohnya, yaitu lebih banyak di rumah.

Ada seorang penelti yang meneliti tentang pendidikan dalam Islam, lalu ia mendapati bahwa kelemahannya ada pada perempuannya. Dalam penelitiannya, ia mendirikan sebuah gedung untuk dijadikan kegiatan-kegiatan agar perempuan sibuk diluar. Dalam hal ini kemudian orang-orang kafir menjadikan perempuan target untuk menghancurkan umat Islam. Sebab perempuan bisa menjadi pemghancur anak-anak. Misalnya jika seorang ibu tidak memahamkan akidah dan kasih sayang kepada anaknya, maka anaknya menjadi nakal. Harusnya kita ingat bahwa perempuan menjadi tonggak peradaban kedepan. Islam terletak pada kita, kita bisa mendukung suami, mendidik anak-anak jika kita berpacu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak ada agama yg memuliakan perempuan kecuali Islam. Kita tahu bahwa mereka para feminisme tidak berpacu pada Al-qur’an dan As-sunnah, tapi pada tafsiran mereka sendiri yang sangat terbatas. YANG TERPENTING SEKARANG AYO SIAPKAN MENJADI PEREMPUAN YANG LUAR BIASA dan SIAP MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN DI MASA SEKARANG INI.

SESI DISKUSI

Q: Bagaimana pandangan Islam terkait perempuan yang ingin menjadi pemimpin (misal pemimpin di ranah pemerintahan/negara) ?
A: Perempuan boleh menjadi pemimpin untuk anak-anaknya atau para perempuan, tapi tidak untuk memimpin laki-laki. Karena akal dan fitrahnya berbeda. Kita juga bisa mendapati dalam sejarah Islam, perempuan tdak ditempati di ranah seperti itu.
Ketika perempuan diberi kedudukan seperti itu, maka akan terjadi perubahan pada fitrahnya. Perempuan di fitrahkan untuk berkasih sayang. Bagaimana mungkin suami dan anak-anak akan mendapat hak itu jika ia ssibuk mengurus ummat. Hal ini bukan berati Islam merendahkan perempuan. Laki-laki tidak bisa juga mengerjakan pekerjaan perempuan, karena fitrhanya memang perempuan yang kuat menjalaninya. Sampai disini kita pahami bahwa Islam menempatkan sesuai fitrahnya. Ketika perempuan memimpin di ranah besar maka mungkin dia tidak bisa menyimbangkan antara perhatiannya kepada suami dan anak. Hal lain juga kedudukan laki-laki (qoam) menjadi turun.

Q: Bagaimana untuk memahamkan orangtua atau masyarakat terkait peran perempuan sesungguhnya?
A: Ketika kita berada di jalan kebaikan, dan ada orang yang memusuhi atau mengkritik, itu tidak masalah. Kritikan itu akan membuat derajat kita diangkat karena kesabaran menghadapi hal itu. Yang jelas kita harus berakhlak baik dan menasehati juga dengan baik ketika ingin memahamkan masyarakat.

Q: Bagaimana sikap laki-laki memerdekakan perempuan di jaman sekarang? Jadi bagaimana ketika ada seorang perempuan yg bekerja untuk biaya kehidupan dan terbiasa melakukan hal-hal yg berat. Kala itu melihat seorang laki-laki biasa kemudian perempuan itu berkata “Jadi laki-laki kok lemah banget, aku aja perempuan bisa melakukan segala hal” ?
A: Bentuk sikap laki-laki diantaranya menghormati dan tidak melecehkan perempuan, menjadikan perempuan seorang yang mulia dan dijaga perasaan dan fisiknya. Bagi perempuan yang bekerja di luar, harus mengkondisikan dirinya agar tidak menjadi fitnah dan tidak meremehkan laki-laki. Tidak boleh sombong, karena semuanya titipan Allah. Justru yang harus ditegaskan apakah dia bisa menyadari hal itu atau terlalu terbang.

Q: Bagaimana hukumnya apabila istri tidak menuruti kemauan suami, karena permintaan suami yang di rasa bertentangan atau yg melanggar aturan Allah dan harus bersikap seperti apa istri tersebut?
A: Tidak ada ketaatan kepada makhluk, jika bermaksiat kepada Allah. Seorang istri pun begitu, jika disuruh hal yang buruk oleh suami. Seorang istri itu ridhonya ada di suami. Tapi tetap kita harus berakhlak baik kepada suami kita, meskipun ada perintah buruk yang harus kita kerjakan dri suami. Ajakan itu tidak boleh ditaati, tapi berakhlaknya harus wajib. Jika urusan suami-istri berakhlak baik, maka Allah akan mudahkan urusan yg lainnya. Baik tidaknya urusan istri diluar, dari bagaimana hubungannya dengan suaminya di rumah. Ada sebuah kisah yang bisa kita ingat, dulu ada istri yang mengeluh tidak bisa mengasuh anak. Jika diingat ternyata penyebabnya sikap yang buruk kepada suami, sikap itu yang menjadikan urusan yang lainnya juga buruk. Kita juga ada kewajiban untuk menasehati suami agar berubah.

Q: Bagaimana pandangan terhadap orangtua yang berusaha untuk meminta anak perempuannya (sulung) harus bekerja menjadi wanita karir padahal fitrahnya wanita tidak begitu?
A: Pertama-tama, kenapa orangtua menyuruh seperti itu? apakah masalah ekonomi atau sekadar biar kita tidak di rumah aja?
Ketika orangtua bersikap seperti itu, pasti ada suatu alasan. Sebenarnya wanita boleh bekerja di luar, tapi tidak boleh melanggar syariat/fitrah dan menjaga izzah. Contoh karir yang bisa dilakukan wanita, seperti membuka bisnis online/rumahan, mengajar anak kecil.

Q: Bagaimana perempuan sebagai pemimpin dalam suatu organisasi seperti ketua BEM dan lainnya, lalu bagaimana harus sikap ketika emosi tidak terkontrol?
A: Bukan tempatnya dia disitu, ketika sudah terjadi lakukan dengan adil dan amanah. Ini akan dipertanyakan Allah kedepan. Dia harus ingat bahwa ia memiliki tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban kepada Allah. Dengan emosi itu tidak mengatasi masalah, tetapi kita harus meminta bantuan Allah agar dapat mengatasi emosi.

Q: Jadi baiknya kita menjadi wanita IRT atau bagaimana ? Kan kita juga punya impian pribadi.
A: Tugas utama seorang perempuan menjadi IRT, seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dan harus taat kepada suaminya karena surga perempuan ada di suami. Tapi bukan berati harus jadi IRT aja, tergantung keahlian ataupun ekonomi kelurga. Misalnya seorang perempuan yang pintar di bidang dakwah / kesehatan, dia boleh menekuni itu dengan cara syar’i tapi tetap wajib menjdi IRT. Jangan sampai keinginan nya mengabaikan tugas utamanya, yakni menjadi tempat yang tenang bagi seorang suami dan mendidik anak.