GEMAR 2019 – Sempurnakan Hijabmu

FSLDK Indonesia tahun ini kembali menyelenggarakan GEMAR (Gerakan Menutup Aurat), sebuah gerakan bersama sejak tahun 2012 yang diinisiasi oleh berbagai komunitas di Indonesia yang peduli terhadap perempuan khususnya pada isu hijab / menutup aurat bagi muslimah.

Acara ini diadakan pada 17 Februari – 17 Maret 2019 oleh 37 Puskomda di Indonesia. GEMAR 2019 mengusung tema “Sempurnakan Hijabmu” dimana rangkaian kegiatan di dalamnya berupa pembagian jilbab, kajian akbar, longmarch, flashmob, donasi jilbab, hingga penggalangan dana untuk bencana alam maupun untuk saudara-saudara di Palestina.

Diharapkan dengan adanya konsistensi FSLDK Indonesia dalam pelaksanaan GEMAR setiap tahunnya dapat meningkatkan semangat para muslimah untuk mengenakan busana syar’i dan menyebarkan syiar Islam di masyarakat.


Berikut rilis dan dokumentasinya 🙂

Rilis: download di sini

Video dokumentasi:
http://bit.ly/DokumentasiGEMAR2019

Demi Allah, Demi Ayah

Kalimat sakral yang diucapkan sang Ustad pada sebuah kajian rutin di Masjid Kampus masih terngiang dalam telingaku. Aku terpaksa mengalah pada Kania yang terus merengek mengajakku mengikuti kajian itu. Berhubung hari itu aku juga sedang tak ada jadwal pemotretan, aku mengiyakan saja ajakannya yang lebih pantas kusebut paksaan.

Selangkah saja seorang gadis keluar dari biliknya tanpa menutup aurat, selangkah pula kaki Ayahnya terseret ke Neraka

Aku merinding kala teringat pekerjaanku di dunia modelling. Sejak usiaku 13 tahun, Mama sudah mengenalkanku pada dunia permodelan. Awalnya aku hanya membantu Mama mempromosikan busana-busananya. Mama seorang desainer yang mengelola sendiri butiknya. Omset di butik Mama naik pesat berkat wajah cantikku, begitu yang selalu Mama bilang. Banyak perusahaan fashion yang menawarkan kerja sama, tetapi Mama menolak. Barulah ketika Pak Sajogyo, kawan lama Mama menawarkan kontrak kerja, Mama akhirnya luluh –karena upahku yang menggiurkan. Sampai saat ini aku masih terikat kontrak dengan perusahaan Pak Sajogyo. Banyak kawan-kawanku di Sekolah–bahkan di kampus sekarang–menghujatku karena pekerjaanku itu. Kata mereka aku pamer kecantikan lah, mengekspos kulit putihku, bahkan sampai ada yang bilang poseku membangkitkan berahi. Aku memang selalu berpose dengan busana-busana yang kata orang ‘kurang bahan’. Namun, aku tak peduli. Toh pekerjaanku halal. Namun perkataan sang Ustad hari itu sungguh membuat hatiku dipenuhi kegamangan. Ayahku sudah lama dirawat di Rumah Sakit. Bisa dibilang Mamalah tulang punggung keluarga. Sebagai anak semata wayangnya, aku berusaha untuk membantu Mama menafkahi keluarga ini dengan menjadi model. Jika yang dikatakan sang Ustad itu benar adanya, aku bimbang apakah mesti berhenti menjadi model dan membiarkan Mama bekerja sendirian atau tetap melanjutkan kontrak yang sebulan lagi berakhir demi menjaga agar Ayah tidak terdampar ke Neraka? Dilema melandaku.

“Rere, ya? Amaretta El-Mira Putri. Benar?” tanya seorang lelaki yang entah datang dari mana. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang terus menunduk. Wajahnya familiar. Aku berusaha mengingat-ingat di mana pernah melihatnya. Ah, benar. Kajian.
“Kamu Ustad yang ngisi kajian Senin kemarin, ya?” Aku tersenyum semringah karena bisa bertemu dengannya. Aku ingin menanyakan sesuatu.
“Eh?” Ia mengangkat wajah dan dengan cepat menunduk kembali. Ada apa dengannya? Apa wajahku setakmenarik itu sampai dia tak betah berlama-lama memandangiku? “I–iya,” katanya kemudian.
“Aku mau nanya bisa?”
“Lewat Whatsapp saja, Re, biar asyik,” kata temannya yang menyapaku pertama tadi. Aku tak menggubrisnya.
“Mau nanya apa? Di sini saja. Insya Allah bisa aku jawab,” katanya masih dengan wajah menunduk.
“Apa benar kalau perempuan keluar Rumah tanpa hijab, dosanya ditanggung Ayahnya?”
“Benar. Karena seorang perempuan yang belum memiliki mahrom, dosanya akan ditanggung oleh Ayahnya.”
“Mahrom itu apa?”
“Suami. Ketika seorang perempuan telah melepas masa sendirinya, ia bukan lagi menjadi tanggung jawab Ayahnya, melainkan suaminya.”
“Terima kasih.”
Aku berlalu dari hadapannya. Entah mengapa rasanya ada yang menyesaki rongga dadaku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, air mataku mulai tertumpah ruah. Tak terhitung berapa banyak mata yang selama ini telah menikmati tubuhku. Dan entah telah sejauh mana kaki Ayah terseret ke Neraka. Aku ingin berhenti menjadi model; demi Ayah.


Aku menemui Mama dan mengutarakan semua keinginan juga kecemasanku. Aku berharap Mama bisa mengerti dengan keputusanku meninggalkan dunia model. Namun, aku tak menyangka reaksi Mama akan sesadis itu. Membujuk Mama semustahil membangun candi dalam satu malam.

“Kamu itu masih muda, Sayang. Masih banyak waktu untuk bertobat,” kata Mama dengan entengnya.
“Ma, ajal itu bisa datang kapan saja. Hari esok tak menjamin aku masih hidup di bumi yang sama dengan Mama.”
“Rere, kamu kerja juga demi Ayah, kan? Tuhan pasti mengerti, Sayang.”
“Tidak ada tawar-menawar untuk perkara wajib, Ma. Berhijab itu wajib untuk semua muslimah yang ada di muka bumi ini. Termasuk Mama.”
“Terserah kamu saja. Mama menyesal sudah melahirkan dan membesarkan kamu,” kata Mama sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Terdengar pintu berdebum dibanting Mama dengan keras. Aku beristighfar dalam hati. Air mata mengalir dengan sendirinya tanpa isyarat. Aku bergegas menemui Ayah di Rumah Sakit.
Aku mengucap salam beriringan dengan pintu kamar Ayah yang kubuka. Ayah terkejut melihat penampilanku. Sedetik kemudian ia tersenyum. Aku mendekati ranjangnya dan memeluknya erat. Aku menangis dalam dekapannya. Rasa nyaman menjalari hatiku.
“Rere berhenti jadi model. Demi Ayah,” kataku di sela isak tangis.
“Kamu berhijab demi siapa?” tanya Ayah sambil mengusap kepalaku yang terbalut kerudung berwarna peach berenda.
“Demi Ayah. Biar Ayah nggak masuk neraka.”
“Kalau hijrahmu hanya karena takut Ayah masuk neraka, lebih baik lepas kembali tudung kepalamu itu.”
Aku terkejut mendengar penuturan Ayah. Kutatap lekat wajah Ayah, menanti penjelasan darinya.
“Biasakan untuk meniatkan segala sesuatu karena Allah. Hijab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah. Itu perintah mutlak dari Allah dalam Kitab-Nya. Ayah senang kamu menjelma wanita muslimah yang bahkan bidadari Surga pun cemburu. Tapi sekali lagi, jika niatmu hanya karena Ayah, Ayah akan sedih.”
“Baik, Ayah. Insya Allah akan Rere tata kembali niat Rere. Rere sayang Ayah.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Amaretta El-Mira Putri dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Kata sah merambat ke seluruh ruangan di Masjid Kampus. Aku terharu sampai menitikkan air mata karena telah melaksanakan separuh agama. Ayah pasti tersenyum dari Surga demi melihat putrinya kini telah dipersunting oleh seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya. Lelaki yang juga telah membawaku menuju jalan ini. Dia ibarat pelita yang menerangi kala kegelapan menyapa. Zaynal Abidin Datukramat; imamku.

Hal nisbi yang Tuhan titahkan,
Tak mesti jadi soal sampai membuat alasan.
Jika menunggu diri sesuci malaikat,
Setan tak pernah libur menjadikan sesat.
Berhijrahlah!
Jemputlah hidayah!

-The End-

Oleh : Dayana
Puskomda FSLDK GoSulut

Sempurnakan Hijabmu

Rara nampak cerah hari itu. Tudung (re: hijab/kerudung) berbunga-bunga di kepala lengkap dengan warna merah yang menyala, memberi kesan ceria dan penuh semangat dalam jiwanya. Tak lupa bagian ujungnya disematkan agar tak menjuntai begitu saja. Celana pensil putih yang dipadukan dengan  baju kemeja iklim tropis, polesan make up di wajah ala gadis korea, serta tak ketinggalan sepatu hak tinggi membuatnya semakin percaya diri untuk beraktifitas di  kampus. Penampilan seperti itu dianggap gaul, tidak ribet, dan tentunya tetap dengan simbol keislamannya (mengenakan jilbab). Intinya style seperti itu tengah diminati saat ini, begitupun Rara dan teman-temannya.

Penampilan seperti itu menghilangkan pandangan bahwa muslimah itu tidak selalu identik dengan rok dan potongan baju kaku, jilbab lebar kelabu, serta sendal gunung lengkap dengan kaos kakinya. Citra tersebut berhasil diganti dengan citra yang baru. Ditambah dengan begitu banyaknya toko jilbab online yang menawarkan berbagai jenis jilbab yang lucu dan menarik, dengan variasi potongan dan ukuran tertentu. Sehingga variasi yang terjadi pada pakaian muslimah dalam hakikat yang sebenarnya mengalami degenerasi, akibat adanya konvensional group. Lantas bagaimana sebenarnya Islam mengatur itu semua?

Pakaian Muslimah (yang Sebenarnya)

Islam adalah agama Allah yang sempurna. Tak satu pun yang luput tanpa aturannya. Bahkan hal kecil seperti ke kamar mandi sekalipun ada adab dan normanya. Kita diperintahkan untuk berdoa dan masuk dengan kaki kiri, serta keluar dengan kaki kanan, serta membaca doa (ghufraanaka). Begitu juga dengan Muslimah. Allah berikan perhatian yang lebih kepada muslimah, bahkan ada satu surat yang Allah beri nama An-Nisaa, yakni perempuan, khusus membahas tentang perempuan. Menandakan bahwa Muslimah begitu spesial dan berharga. Maka sudah barang tentu ada kewajiban yang perlu dijalankan oleh seorang muslimah, salah satunya menyempurnakan hijab sesuai syariat.

Ada kriteria yang wajib dipenuhi oleh muslimah dalam berpakaian. Seperti yang  tertuang dalam kitab Fiqh Wanita yang ditulis oleh Ibrahim Muhammad Al-Jamal:

Pertama menutupi seluruh badan selain wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, tidak ketat sehingga masih menampakkan bentuk tubuh yang ditutupinya. Ketiga, tidak tipis temaram sehingga warna kulit masih bisa dilihat. Keempat, tidak menyerupai pakian laki-laki. Kelima, tidak berwarna mencolok sehingga menarik perhatian orang. Keenam, tidak menyerupai pakaian wanita kafir dan ketujuh, dipakai bukan dengan maksud memamerkannya.

Selain  kriteria tersebut pemakaian kerudung harus sampai menutupi dada. Hal itu disebutkan secara jelas dalam QS An-Nisaa’:31

“…dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.

serta dalam QS Al-Ahzab ayat 59,

            “…. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka perintah untuk menutup aurat tersebut sudah sangatlah terang Allah sampaikan, agar kita lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu. Dalam tafsir Ibnu Katsir, As-Saddi mengatakan bahwa dahulu kaum lelaki fasik dari kalangan penduduk Madinah  suka mengganggu wanita yang keluar malam. Saat itu rumah penduduk Madinah kecil-kecil. Bila hari telah malam, kaum wanita hendak menunaikan hajatnya keluar, dan hal ini dijadikan kesempatan oleh orang-orang fasik untuk mengganggunya. Tetapi apabila mereka melihat wanita yang keluar itu memakai jilbab, maka mereka  berkata kepada teman-temannya, “Ini adalah wanita merdeka, jangan kalian ganggu.” Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, “Ini adalah budak”, lalu mereka mengganggunya.

Maka itu adalah satu hikmah dari sekian banyak hikmah yang Allah sampaikan untuk muslimah agar menutup aurat dengan sempurna. Namun perlu diperhatikan juga, niat tetap yang utama dalam mengerjakannya. Murni karena ini adalah perintah Allah SWT.  Bentuk ketaatan muslimah kepada Allah, menjalankan yang sudah diperintahkan dan meninggalkan hal yang tidak diperintahkan, termasuk membuat variasi-variasi tandingan dalam berpakaian sehingga hakikat utama berjilbab sesuai perintah menjadi tersamarkan.

Memfungsikan (kembali) Jilbab

Ketika seorang jilbaber ingin terlihat menarik dan ingin semua mata tertuju padanya, maka yakinlah itu bukanlah hijab yang menutupi diri. Sangat kontras tentunya dengan perintah yang ada dalam Al-Qur’an. Karena justru yang menjadi alasan agar muslimah menutupi tubuhnya dengan pakaian syar’i, untuk meredam fitnah yang ada padanya.

Adalah sebuah fakta bahwa wanita sumber fitnah terbesar bagi kaum laki-laki. Dalam surat Yusuf ayat 28, Zulaikha disebutkan memiliki tipu daya yang besar (inna kaida kunna ‘adzhiim), lalu bandingkan dengan sebutan tipu daya Syaithan yang Allah abadikan dalam Al-Quran, …”sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’:76). Maka sudah sepatutnya muslimah perlu intropeksi diri, bahwa tipu daya/fitnah wanita lebih berbahaya dari Syaithan. Bahkan sudah barang tentu juga, muslimah meyakini kalimat ini : wanita itu adalah aurat. Jika kalimat itu sudah dipahami, maka sudah saatnya kemantapan hati untuk memfungsikan kembali hijab tersebut sesuai dengan tuntunan illahi.

Karena jilbab dan kerudung adalah model busana yang memiliki aturan main. Bukan sekedar trend atau style yang dapat diatur sesuai selera. Adalah wujud penghambaan muslimah kepada Rabb-Nya. Bentuk pengakuan bahwa Allah ‘azza wa jalla berhak penuh mengatur kehidupannnya. 

Hari ini, memfungsikan kembali jilbab sesuai haknya adalah tindakan terbaik yang dipilih oleh muslimah. Karena hidup (beriman) di akhir zaman tidaklah mudah, seperti menggenggam bara api yang sangat panas kata Rasulullah. “Menjaga dan terjaga” hari ini adalah keharusan. Bukan lagi hanya sekedar tanggung jawab sebagai muslimah.

Muslimah dan Peradaban

Wanita itu tiang negara, apabila kaum wanitanya baik maka baiklah kehidupan suatu negara, namun apabila kehidupan kaum wanita dalam suatu negara itu rusak, maka rusaklah negara itu. (H.R Imam Muslim).

Barangkali kita tidak asing lagi dengan hadist di atas. Secara tidak langsung, tuntutan hadist tersebut adalah menjaga dan mendidik wanita, (khususnya muslimah) agar tetap pada kehidupan yang baik. Standar baiknya wanita adalah Islam (Al-Quran dan Sunnah).  Sehingga tuntutan hadist itu adalah amanah bersama, artinya tidak hanya tugas wanita semata. Peran laki-laki (ayah, saudara, atau suami) mesti mengambil bagian dalam hal ini.

Muslimah adalah kontributor peradaban dunia, khususnya tamadun dunia Islam. Dalam mewujudkan tamadun Islam maka muslimah harus menjadi kontributor bagi dirinya sendiri untuk berubah. Kontributor menciptakan lingkungan yang sehat. Kontributor merangkul wanita yang ada di luar sana untuk sama-sama berproses menjadi baik. Semuanya  itu tentunya dimulai dari diri sendiri. Tidak bisa untuk mewujudkan peradaban Islam hanya dengan cantik, kuliah yang rajin (saja) dengan pengetahuan dan cita-cita yang tinggi (saja), jika tanggung jawab sebagai muslimah dalam menutup aurat dengan sempurna tidak dapat dilakukan. Karena jika pintar sekedar pintar, jika berpengetahuan sekedar berpengetahuan, cantik hanya sekedar cantik, maka 1Hetairai lebih mampu melakukannya. Maka sempurnakan hijabmu untuk diri, lingkungan keluarga, masyarakat, dan dunia.

Padang, 10 Februari 2019

-Susi Wahyuni, Komisi C Syiar Muslimah FSLDK Sumbar-

___________________________________________

1 Hetairai adalah wanita penghibur kelas atas Athena Kuno (Yunani) yang dipuja semua orang, yang piawai dalam memainkan musik, serta berpengetahuan tinggi, khususnya dalam politik, filsafat dan ilmu  lainnya.

Hari Solidaritas Hijab Internasional

Teman-teman, 9 September selain diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional, juga ditandai sebagai Hari Solidaritas Hijab Internasional juga lho! Beken dengan akronim IHSD atau International Hijab Solidarity Day, tahun ini FSLDK Indonesia bekerjasama dengan Solidaritas Peduli Jilbab dan Yawme kembali menyemarakkan peringatan IHSD. Dengan mengangkat jargon “Hijabku, Hijrahku”, kami mengajak teman-teman se-Indonesia untuk mengikuti challenge One Day One Story.

Challenge apa itu?

Gampang, teman-teman silahkan ramaikan fitur story di instagram masing-masing dengan cerita muslimah versimu yang bisa menginspirasi netizen lainnya. Bisa cerita tentang perjalanan hijrahmu, atau cerita tokoh-tokoh muslimah lain yang kamu kagumi. Satu cerita setiap hari, dimulai hari ini, 9 hingga 15 September 2018. Tag akun FSLDK Indonesia dan FSLDK di daerahmu ya! Sertakan juga hashtag #OneDayOneStoryIHSD, dan jangan lupa ajak teman-temanmu untuk ikut challenge ini. Siapa saja boleh ikut!

Selain mengikuti challenge, teman-teman juga bisa menggunakan twibbon yang dapat diunduh di: bit.ly/StoryofIHSD. Yuk bagikan ceritamu walau satu paragraf!

 

twibbon-ihsd-2018

hijabku-hijrahku