Sang Maha Pengasih

Seorang kekasih takkan pernah rela meninggalkan kekasih yang dicintainya. Tentu akan ada banyak pengorbanan yang dilakukan untuknya. Sehingga itulah bentuk pembuktian yang akan memberinya sebuah “cap” kesetiaan. Sama halnya dengan Allah. Sang Maha Pengasih yang tak pernah pilih kasih kepada setiap hamba hamba-Nya.

            Sudah begitu banyak kisah-kisah dan hikmah-hikmah dari Maha Pengasih Allah. Sementara juga dari sekian banyaknya itu, masih ada juga sampai saat ini yang menentang hal itu. Mereka yang semacam ini adalah hamba-hamba yang tidak mampu dan tidak pernah mau untuk bersyukur kepada Allah.

Hari ini banyak yang tidak respect terhadap ayat pertama di dalam (QS. Al-Fatihah). Bahwa Allah adalah Sang Maha Pengasih sekaligus Maha Penyayang. Hal ini juga tertuang dalam 99 Asma’ul Husna yang menjadi hafalan para murid di MDA ataupun PDTA sekarang namanya.

            Manusia pada dewasa ini masih berpikir klasik. Bahwa ketika Allah memberikan sedikit ujian pada mereka, dengan sekonyong-konyongnya mereka menyalahkan Maha Pengasihnya Allah. Mereka segera menyergah: “Allah tidak adil, kenapa harus aku yang menanggung semua beban penderitaan ini?”

            Tapi tunggu dulu, bung. Penderitaan bung belum separah itu. Kita tahu betapa Allah menguji kesabaran Nabi Ayyub dengan membuat semua ternaknya mati seketika. Hartanya yang selama ini melimpah ruah dari usaha yang ia lakukan selama ini, satu per satu Allah tarik darinya.

Nabi Ayyub ‘Alaihi Salam mungkin adalah orang yang paling berat penderitaannya. Bagaimana Allah mengujinya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Bahkan, di tengah sakitnya yang semakin parah, sampai lidahnya ikut terserang wabah penyakit. Hatinya tidak pernah luput untuk terus saja memuji Allah. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya ataupun terbersit di dalam hatinya untuk menyalahkan Allah ataupun mengucapkan sumpah serapah.

            Kita sebagai manusia pada zaman ini mungkin tidak akan pernah sanggup jika melalui ujian seberat Nabi Ayyub. Kadang kita hanya diuji dengan sedikit hilangnya harta, anak, ataupun jabatan yang sudah selama ini kita sandang dengan bangganya. Malah seringkali kita petantang petenteng di tengah-tengah keluarga dan tetangga kita yang masih belum makan dan sangat memerlukan uluran tangan kita.

Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim tidak pernah kecewa ketika ia ditinggalkan oleh suaminya di sebuah padang tandus yang gersang pada masa itu. Ia ditinggalkan bersama anaknya Ismail dengan hanya perbekalan cukup untuk makan beberapa hari atau beberapa bulan saja. Ia tahu bahwa itu adalah perintah Allah, dan Allah takkan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya walaupun sedetik saja. Ia tahu Allah Maha Pengasih, sehingga pasti Allah mengasihinya selaku hamba-Nya.

           Bung, sadarlah dengan semua hikmah yang akan Allah berikan di kemudian hari. Terlalu sedikit buah kecintaan kita pada-Nya jika kita hanya mengukur segala sesuatu lewat ujian-ujian kecil yang Allah berikan. Pun juga terlalu besar jika ditimbang dalam satuan kilogram dan terlalu luas jika diukur dari luasnya hamparan samudera di lautan tentang nikmat yang selama ini sudah Allah berikan. Oleh Suryandi Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *