Iman yang Mencukupkan

Iman yang Mencukupkan - FSLDK Indonesia

Mari kita mengingat sebuah hari yang berat.
Saat sahabat-sahabat yang dipercaya berjuang, tiba-tiba memutuskan lari meninggalkan.
Mari belajar memandang kekecewaan dengan perasaan kasih sayang, bukan tatap tajam kebencian. Sebab semua hanya perlu dicukupkan dengan iman.

Adalah hari ketika sekian pasukan muslim lari meninggalkan Rasulullah dan pasukannya dalam Hunain, mereka dari kalangan Thulaqaa.
Sedangkan Anshar, memilih menjadi yang setia hingga akhirnya.

Hingga akhirnya kemenangan menjadi milik Rasul dan pasukan muslim. Tertampak harta rampasan perang yang menggunug-gunung. Lembah penuh dengan hewan ternak, emas, perak, dan tawanan. Maka, pembagian pun dilakukan.

Kira-kira, siapa yang paling berhak mendapatkan bagian?
Logika kebanyakan kita akan berpikir Anshar lah yang paling layak.
Tapi Rasulullah saw. punya cara berbeda, yang membuat sebagian hati kaum Anshar bergemuruh dalam tanda tanya.

Rasulullah saw. membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, ialah mualaf Makkah yang paling pertama melarikan diri dari pertempuran.

Ada tanda tanya besar di tengah kalangan Anshar dengan pembagian tersebut hingga Sa’ad bin Ubadah menyampaikan maksud. Lalu Rasul mengumpulkan mereka pada sebuah tempat.
Bukan untuk memarahi sikap mempertanyakan para Anshar.
Bukan pula menghakimi dan merasa bahwa Rasulullah yang paling benar.
Inilah pengingatan yang begitu mulia, nasihat yang disampaikan dengan penuh cinta, dengan berkata,
Wahai orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat ku dengar dari kalian, dan dalam diri kalian ada perasaan mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Kaum Anshar tertunduk. Masing-masing sibuk menelisik isi hatinya: jernih atau keruh.

Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang Anshar?” tanya Rasulullah saw.

Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia.” jawab ringkas salah satu mereka.

Mendengar itu, Rasulullah tidak lantas merasa besar dan benar. Rasulullah berusaha memahami posisi kaum Anshar lalu berkata, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa, lalu kami memberikan tempat dan menampungmu.”

Rasulullah memahami, adalah wajar jika pun Anshar merasa dan berkata demikian. Anshar pun memahami, bahwa sejatinya merekalah yang telah ditolong, bukan menolong. Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah sudut pandang tawadhu.
Mendengar itu, air mata mulai berlinang-linang di wajah para Anshar. Isak tersedan mulai ramai. Mereka, menemukan sesuatu yang dicari dalam hati.

Rasul melanjutkan, “Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sedangkan keislaman kalian tak mungkin lagi ku ragukan. Wahai sekalian orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Lepas sudah air mata bergerak membentuk sungai-sungai panjang di wajah dan di hati mereka. Menjernihkan dan menyadarkan, untuk kembali mencukupkan diri dengan iman.

Dan Kaum Anshar, Kaum Penolong, menutup kisah ini dengan begitu manis: ialah penerimaan tanpa tapi, keridhoan tanpa sanksi, “Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini. Kami Ridha Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami.

Lihatlah, betapa sudut pandang tawadhu menjadi penting dalam memandang masalah dan memposisikan diri.
Bukan dari sisi yang merasa benar dan besar, merasa dirugikan atau merasa telah paling banyak berkorban.
Rasul menempatkan dirinya sebagai muhajir yang ditolong Kaum Anshar, bukan sebagai nabi yang menyelamatkan. Pun Kaum Anshar, mengambil sudut pandang sebagai kaum yang telah diselamatkan Rasul, bukan menyelamatkan. Inilah sudut pandang tawadhu. Agar dalam masalah, kita tidak saling menuntut dan menyalahkan, melainkan saling memahami dan berempati. Hingga akhirnya iman yang mencukupkan dari segala tipu daya yang melenakan.

Oleh:Soffa Lutfiah
Wakil Ketua Kemuslimahan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *