Demi Allah, Demi Ayah

Kalimat sakral yang diucapkan sang Ustad pada sebuah kajian rutin di Masjid Kampus masih terngiang dalam telingaku. Aku terpaksa mengalah pada Kania yang terus merengek mengajakku mengikuti kajian itu. Berhubung hari itu aku juga sedang tak ada jadwal pemotretan, aku mengiyakan saja ajakannya yang lebih pantas kusebut paksaan.

Selangkah saja seorang gadis keluar dari biliknya tanpa menutup aurat, selangkah pula kaki Ayahnya terseret ke Neraka

Aku merinding kala teringat pekerjaanku di dunia modelling. Sejak usiaku 13 tahun, Mama sudah mengenalkanku pada dunia permodelan. Awalnya aku hanya membantu Mama mempromosikan busana-busananya. Mama seorang desainer yang mengelola sendiri butiknya. Omset di butik Mama naik pesat berkat wajah cantikku, begitu yang selalu Mama bilang. Banyak perusahaan fashion yang menawarkan kerja sama, tetapi Mama menolak. Barulah ketika Pak Sajogyo, kawan lama Mama menawarkan kontrak kerja, Mama akhirnya luluh –karena upahku yang menggiurkan. Sampai saat ini aku masih terikat kontrak dengan perusahaan Pak Sajogyo. Banyak kawan-kawanku di Sekolah–bahkan di kampus sekarang–menghujatku karena pekerjaanku itu. Kata mereka aku pamer kecantikan lah, mengekspos kulit putihku, bahkan sampai ada yang bilang poseku membangkitkan berahi. Aku memang selalu berpose dengan busana-busana yang kata orang ‘kurang bahan’. Namun, aku tak peduli. Toh pekerjaanku halal. Namun perkataan sang Ustad hari itu sungguh membuat hatiku dipenuhi kegamangan. Ayahku sudah lama dirawat di Rumah Sakit. Bisa dibilang Mamalah tulang punggung keluarga. Sebagai anak semata wayangnya, aku berusaha untuk membantu Mama menafkahi keluarga ini dengan menjadi model. Jika yang dikatakan sang Ustad itu benar adanya, aku bimbang apakah mesti berhenti menjadi model dan membiarkan Mama bekerja sendirian atau tetap melanjutkan kontrak yang sebulan lagi berakhir demi menjaga agar Ayah tidak terdampar ke Neraka? Dilema melandaku.

“Rere, ya? Amaretta El-Mira Putri. Benar?” tanya seorang lelaki yang entah datang dari mana. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang terus menunduk. Wajahnya familiar. Aku berusaha mengingat-ingat di mana pernah melihatnya. Ah, benar. Kajian.
“Kamu Ustad yang ngisi kajian Senin kemarin, ya?” Aku tersenyum semringah karena bisa bertemu dengannya. Aku ingin menanyakan sesuatu.
“Eh?” Ia mengangkat wajah dan dengan cepat menunduk kembali. Ada apa dengannya? Apa wajahku setakmenarik itu sampai dia tak betah berlama-lama memandangiku? “I–iya,” katanya kemudian.
“Aku mau nanya bisa?”
“Lewat Whatsapp saja, Re, biar asyik,” kata temannya yang menyapaku pertama tadi. Aku tak menggubrisnya.
“Mau nanya apa? Di sini saja. Insya Allah bisa aku jawab,” katanya masih dengan wajah menunduk.
“Apa benar kalau perempuan keluar Rumah tanpa hijab, dosanya ditanggung Ayahnya?”
“Benar. Karena seorang perempuan yang belum memiliki mahrom, dosanya akan ditanggung oleh Ayahnya.”
“Mahrom itu apa?”
“Suami. Ketika seorang perempuan telah melepas masa sendirinya, ia bukan lagi menjadi tanggung jawab Ayahnya, melainkan suaminya.”
“Terima kasih.”
Aku berlalu dari hadapannya. Entah mengapa rasanya ada yang menyesaki rongga dadaku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, air mataku mulai tertumpah ruah. Tak terhitung berapa banyak mata yang selama ini telah menikmati tubuhku. Dan entah telah sejauh mana kaki Ayah terseret ke Neraka. Aku ingin berhenti menjadi model; demi Ayah.


Aku menemui Mama dan mengutarakan semua keinginan juga kecemasanku. Aku berharap Mama bisa mengerti dengan keputusanku meninggalkan dunia model. Namun, aku tak menyangka reaksi Mama akan sesadis itu. Membujuk Mama semustahil membangun candi dalam satu malam.

“Kamu itu masih muda, Sayang. Masih banyak waktu untuk bertobat,” kata Mama dengan entengnya.
“Ma, ajal itu bisa datang kapan saja. Hari esok tak menjamin aku masih hidup di bumi yang sama dengan Mama.”
“Rere, kamu kerja juga demi Ayah, kan? Tuhan pasti mengerti, Sayang.”
“Tidak ada tawar-menawar untuk perkara wajib, Ma. Berhijab itu wajib untuk semua muslimah yang ada di muka bumi ini. Termasuk Mama.”
“Terserah kamu saja. Mama menyesal sudah melahirkan dan membesarkan kamu,” kata Mama sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Terdengar pintu berdebum dibanting Mama dengan keras. Aku beristighfar dalam hati. Air mata mengalir dengan sendirinya tanpa isyarat. Aku bergegas menemui Ayah di Rumah Sakit.
Aku mengucap salam beriringan dengan pintu kamar Ayah yang kubuka. Ayah terkejut melihat penampilanku. Sedetik kemudian ia tersenyum. Aku mendekati ranjangnya dan memeluknya erat. Aku menangis dalam dekapannya. Rasa nyaman menjalari hatiku.
“Rere berhenti jadi model. Demi Ayah,” kataku di sela isak tangis.
“Kamu berhijab demi siapa?” tanya Ayah sambil mengusap kepalaku yang terbalut kerudung berwarna peach berenda.
“Demi Ayah. Biar Ayah nggak masuk neraka.”
“Kalau hijrahmu hanya karena takut Ayah masuk neraka, lebih baik lepas kembali tudung kepalamu itu.”
Aku terkejut mendengar penuturan Ayah. Kutatap lekat wajah Ayah, menanti penjelasan darinya.
“Biasakan untuk meniatkan segala sesuatu karena Allah. Hijab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah. Itu perintah mutlak dari Allah dalam Kitab-Nya. Ayah senang kamu menjelma wanita muslimah yang bahkan bidadari Surga pun cemburu. Tapi sekali lagi, jika niatmu hanya karena Ayah, Ayah akan sedih.”
“Baik, Ayah. Insya Allah akan Rere tata kembali niat Rere. Rere sayang Ayah.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Amaretta El-Mira Putri dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Kata sah merambat ke seluruh ruangan di Masjid Kampus. Aku terharu sampai menitikkan air mata karena telah melaksanakan separuh agama. Ayah pasti tersenyum dari Surga demi melihat putrinya kini telah dipersunting oleh seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya. Lelaki yang juga telah membawaku menuju jalan ini. Dia ibarat pelita yang menerangi kala kegelapan menyapa. Zaynal Abidin Datukramat; imamku.

Hal nisbi yang Tuhan titahkan,
Tak mesti jadi soal sampai membuat alasan.
Jika menunggu diri sesuci malaikat,
Setan tak pernah libur menjadikan sesat.
Berhijrahlah!
Jemputlah hidayah!

-The End-

Oleh : Dayana
Puskomda FSLDK GoSulut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *