Milad KAMMI ke-21

“Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segologan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”, Mohammad Natsir

FSLDK Indonesia sebagai bagian dari masyarakat yang siap menyongsong kemajuan Indonesia mengucapkan:

Selamat Milad KAMMI ke-21!

Do and Don’ts when You Heard News on Terrorist Attacks

Do and Don’ts when You Heard News on Terrorist Attacks

Dos :

  1. Pray for victims and safety of others
  2. Warn your family, friends and relatives to stay away from the location of attacks and to stay in safe places
  3. Spread out the anti-terrorism messages

Don’ts :

  1. Share videos or pictures containing horrific images of the tragedy and victims
  2. Spread out any hate speeches that fuel racism
  3. Stay silent

#TerrorismHasNoReligion

#FightTerrorism

FSLDK Indonesia Official Statement: Christchurch Mosque Shooting

Terrorism in New Zealand. The grief news comes from our brothers in New Zealand. Terrorism in the form of a brutal shooting has been taking place in two mosques, namely Masjid Noor Mosque and Anan Linwood, Christchurch, New Zealand, on Friday (15/3).

New Zealand Herald daily newspaper reported the perpetrator was an Australian man that ever wrote a manifesto containing the extreme right ideology towards anti-Muslim and anti-immigrant. From this brutal terror of action, Prime Minister of New Zealand, Jacinda Ardern, revealed that there were at least 40 people have been assassinated.

Meanwhile, Indonesian Minister of Foreign Affairs, Retno Marsudi, as reported by detik.com, says there are six citizens of Indonesia (WNI) who are in the Masjid Al Noor when the shooting occurred. Three CITIZENS certainly survived and can be contacted.

FSLDK Indonesia as a part of the world community expressed attitude condemning this brutal inhuman act of terrorism. This kind of terrorism act can’t ever be justified in any humanity norms and values.

FSLDK Indonesia also declaring support for New Zealand police institution to carried out the case with a best consequency for the perpetrators of this terrorism, so that there is no similar act of brutality will be arise in another day.

“Whoever kills a human being, not because of the people (is killing) someone else, or not because of the mischief of the Earth, then it is as if he has killed the man entirely …” (QS Al Maidah: 32]

We also convey deep sorrow and prayers to the victims. especially for Indonesian CITIZENS who become some of the victims. May Allah SWT always give strength and protection.

Let’s held a ghaib prayer as a form of caring towards the victims. And so in a form of resistance to this inhuman terrorism act, let’s do a campaign together with hashtag : #TerrorismHasNoReligion to reaffirm that there is no place in any religion for acts of terrorism. (See also: Do and Don’t )

So through this attitude, hopefully there will never be any more inhuman act of terrorism incident happens going forward, stay united and brave, for a peaceful humanity in the world.

Bahasa Indonesia version (https://fsldk.id/aksi-terorisme-di-selandia-baru/)


Jakarta, March 15, 2019
Chairman Of Indonesia, FSLDK Puskomnas
Fahrudin Alwi, S. Hum

Sikap terhadap Aksi Terorisme di Selandia Baru


Terorisme di Selandia Baru. Kabar duka yang amat mendalam datang dari saudara kita di Selandia Baru. Aksi terorisme dalam bentuk penembakan brutal di dua tempat, yaitu Masjid An Noor dan Masjid Linwood, Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3) siang. Harian New Zealand Herald melaporkan pelaku adalah seorang pria Australia yang pernah menulis manifesto berisi ideologi ekstrem kanan yang anti-Islam dan anti-imigran. Dari aksi teror brutal ini, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengungkap bahwa terdapat sedikitnya 40 orang telah tewas dibunuh.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Ibu Retno Marsudi sebagaimana dilansir detik.com, mengatakan ada enam warga negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di Masjid Al Noor saat penembakan terjadi. Tiga WNI dipastikan selamat dan bisa dikontak.

FSLDK Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia menyatakan sikap mengutuk aksi terorisme yang sangat menyedihkan ini, atas dasar apapun tidak dapat dibenarkan. Mendukung kepolisian setempat untuk menindak dengan seadil-adilnya pelaku terorisme tersebut, agar tidak ada lagi yang berani bertindak brutal yang serupa.

”Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” (QS Al Maidah: 32]

Kami juga menyampaikan duka mendalam kepada para korban. Khususnya bagi WNI yang turut menjadi korban. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan dan perlindungan.

Mari melaksanakan shalat ghaib sebagai bentuk kepedulian. Sebagai bentuk perlawanan, juga mari kita lakukan kampanye bersama dengan tagar #TerrorismHasNoReligion untuk menegaskan kembali bahwa tidak ada tempat di agama apapun bagi tindakan terorisme. (Lihat juga : Do and Don’ts )

Demikian sikap kami, semoga juga tidak akan pernah ada lagi kejadian terorisme menyedihkan serupa yang terjadi kedepannya, tetap bersama mewujudkan perdamaian di dunia.

English version (https://fsldk.id/christchurch-mosque-shooting/)


Jakarta, 15 Maret 2019
Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia,
Fahrudin Alwi, S.Hum

Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan

“Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan”
Oleh: Fahrudin Alwi[1]

Sezaman dengan Dinasti Han (leluhur Tiongkok), 200 tahun sebelum masehi (SM) untuk pertama kalinya bangsa Turki muncul dengan etnik tersendiri di Xiongnu, wilayah yang berdiaspor menjadi Uyghur Xinjiang, Kazakhstan Timur, Kirgizstan Timur, Manchuria Barat, Mongolia, dan Rusia Selatan.[2] Sejarah panjang menceritakan perjalanan penduduk pegunungan Altay itu hingga mulai memeluk Islam di abad-10 M. Kerajaan Uyghur muncul dan terus berkembang hingga di kemudian hari berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tiongkok, Dinasti Qing pada 1759 dan dirubah namanya menjadi Xinjiang yang bermakna new territory –kekuasaan baru—.[3] Satu keterangan tambahan: Uyghur sebagai ‘Turkic ethnic group’ di wilayah Xinjiang disebut sebagai shaoshu minzu atau “minority nationality”. Sementara Han adalah mayoritasnya.

Perjalanan diplomatis yang dinamis (dengan sedikit konflik) antara Uyghur Xinjiang dan “Han” berjalan sejak dikuasainya Uyghur oleh Dinasti Qing 1759 hingga Tiongkok modern berdiri. Sebelum Tiongkok menjadi PRC (People’s Republic of China), tepatnya 1940, Uyghur memprakarsai berdirinya Republik Turkistan Timur. Namun di 1949, PRC berdiri dan memasukkan Republik Turkistan Timur menjadi wilayah otonomi PRC dengan sebutan yang sama dengan Dinasti Qing: Xinjiang Uyghur Autonomous Region, the new territory.[4]

Tiongkok modern hadir bersama karakter yang khas dengan value komunis namun memberikan keleluasaan rakyatnya dalam memilih dan bertindak. Termasuk kepada Muslim yang diberikan kebebasan melaksanakan ibadah, menikah, berhaji, dll dengan syariat Islam. Seperti yang tertuang dalam China’s White Paper: “Muslim customs regarding food and drink, clothing, festivals, marriages and funerals are fully respected. The Islamic Association of China organizes for Muslims to go on pilgrimage to Saudi Arabia every year, with the number of participants exceeding 10,000 a year since 2007.”[5] PRC berhasil melaksanakan ini dengan memberikan kebebasan beragama etnis Muslim Tiongkok: Hui dan berbagai diaspora Muslim di dataran Tiongkok. Etnis Hui sendiri memiliki geonologis seperti etnis Han dan memiliki tokoh kuat Laksamana Cheng Ho, pendakwah hingga Nusantara. Namun, ada satu catatan atas inkonsistensi PRC dalam melaksanakan ‘konstitusinya’ sendiri, yakni dengan tidak memberikan kebebasan beragama bagi Muslim Uyghur. Sebuah paradoks. Lihat, “China: Human Right Concern in Xinjiang” oleh Human Right Watch HRW.[6]

Tulisan ini muncul ketika saya mencoba berdiskusi dengan mualaf keturunan Tiongkok dan saya hubungkan dengan mata kuliah ‘History of Ancient Turkey (civilization)’ waktu jadi mahasiswa. Menarik memang menuliskan Uyghur dan Tiongkok, dua etnis Turkic dan China Han dengan karakteristik yang cukup jauh namun harus tinggal di wilayah yang sama selama berabad tahun. Saya akan coba bahas dari sebuah pemicu pertanyaan beberapa kawan mahasiswa muslim baik di Jakarta maupun di daerah, “apa yang bisa kita lakukan untuk Uyghur?” Setidaknya, dari pandangan pribadi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, responsif bukan reaktif. Perjuangan Uyghur adalah perjuangan panjang. Dan hanya orang bernafas panjanglah yang akhirnya bisa ikut berjuang. Maka menjadi responsif adalah satu hal yang penting. Memastikan sumber informasi primer dan sekunder menjadi satu hal yang juga penting yang harus dilakukan. Bukan menjadi reaktif dengan sekonyong-konyong menuntut tanpa tahu cara dan resiko. Saya ingin mengambil contoh dari isu Rohingya. Di awal meledaknya isu, ada beberapa bagian masyarakat yang reaktif namun redup di sekian bulan setelahnya. Ada juga cerita sebuah NGO yang masuk secara diam-diam, berhubungan people to people dan mengambil jaminan dari tokoh di Myanmar, hingga akhirnya bisa masuk ke Rakhine dan membangun beberapa sekolah serta memberikan berbagai bantuan lainnya. Tentu berjalan sebagai kolaboratif NGO, karna ia bukan pemain tunggal yang kesepian. NGO tersebut baru mem-publish aktivitasnya 3 bulan kemudian karena mempertimbangkan keselamatan tim yang bekerja di lapangan dan keamanan misi program jangka panjang. InsyaaAllah ini adalah berita yang valid karna saya sekarang mengabdi di NGO yang berhasil menempatkan timnya berbulan-bulan di Rakhine itu. Dan ini salah satu cara responsif yang tidak reaktif, terutama ketika kita melihat PRC sebagai salah satu super-power dunia dan pemerintah Indonesia sedang cukup mesra dalam kerjasama dengan PRC. Tentu di sisi lain, pemerintah Indonesia lebih “berhati-hati”.

Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur Xinjiang

Fahrudin Alwi bertemu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur, Xinjiang
Mewakili FSLDK Indonesia bertemu Ibu Retno Menlu RI

Kedua, diplomatis. Setidaknya ada dua jenis diplomasi yang bisa dilakukan oleh kita untuk saat ini: people to people diplomacy (p to p) dan people to government diplomacy (p to g). Saya bersama FSLDK Indonesia sedang mencoba melakukan “p to p” dengan menjalin komunikasi ke salah satu anggota Perkumpulan Muslim Hangzhou, juga seorang mualaf keturunan Tiongkok, dan warga muslim PRC yang sedang belajar di Indonesia. “p to g” juga kami lakukan dengan upaya audiensi dengan Kemenlu RI. Surat audiensi sudah kami masukkan beberapa hari lalu. Plus saya pribadi mewakili FSLDK Indonesia juga bertemu Ibu Retno Menlu RI di sebuah momen, —meski belum sejauh pembicaraan diplomasi Uyghur. Kemenlu RI menjadi lembaga yang kita harapkan bisa membuka akses dan menyuarakan secara soft di meja diplomasi antara RI dan PRC. Juga secara hard, seperti di PBB atau OKI jika dibutuhkan. Diplomasi dunia Islam di belahan dunia lain harapannya mampu memediasi konflik berkepanjangan di Uyghur. Andaikata permainan ‘p to p’ atau ‘p to g’ belum berhasil, secara natural “people’s power” akan bermain.

Dan yang terakhir, melangitkan doa dan mengirimkan donasi terbaik. Poin ketiga ini salah satu yang paling penting. Mengirim dan langitkan doa terbaik untuk saudara kita di Uyghur. Agar Allah beri kesabaran, kekokohan iman, dan kemudahan amal. Juga agar Allah ‘lembutkan’ hati para penguasa PRC. Maka mari jadikan Jumat-Jumat kita sebagai waktu khusus untuk mendoakan saudara kita di Uyghur khususnya, dan belahan dunia pada umumnya. Adapun donasi, sampai sekarang baru bisa mengakses Uyghur di luar Xinjiang. Karena akses ke Uyghur Xinjiang masih sangat rapat tertutup.

Wallahu a’lam bisshawab. Allahu yubaarik fiikum!

————————

[1] Fahrudin Alwi, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia 2018; Ketua LDKN Salam UI 2017; Overseas Partnership (International Relation) PKPU Human Initiative 2018. https://www.instagram.com/p/BrmxmtXA5_p/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=31enw9avyt57

https://timeline.line.me/post/_dTi6rRrUcfbSVYkR18jYEiCs3AeIQnXOJOI6XbU/1154530705002028191

[2] Tulisan Peter Zieme: The Old Turkish Empires in Mongolia, Genghis Khan and His Heirs: The Empire of The Mongol. 2005

[3] Oxford Research Encyclopedias, http://oxfordre.com/asianhistory/view/10.1093/acrefore/9780190277727.001.0001/acrefore-9780190277727-e-160

[4] Sejarah Konflik Uyghur, http://repository.lppm.unila.ac.id/6158/1/364-712-1-PB.pdf

[5] White Paper: China’s Policies and Practices on Protecting Freedom of Religious Belief. Kutipan: White Paper Chapter III. Point 5. http://t.m.china.com.cn/convert/c_oEsyxNII.html

[6] China: Human Right Concern in Xinjiang oleh Human Right Watch, https://www.hrw.org/legacy/backgrounder/asia/china-bck1017.htm