RO MODE ON 1440 H

25 Mei 1986 — 25 Mei 2019
33 Tahun FSLDK Indonesia

Bertambahnya usia bersamaan dengan masuknya 10 hari terakhir Ramadan 1440 H. Hari yang menjadi momen peningkatan ibadah, optimalisasi dakwah, syukur, doa, dan rasa penuh harap juga ampunan-Nya. Semoga semangat yang sama tertambat kuat dalam diri kami, FSLDK Indonesia bersama seluruh LDK se-Indonesia.

Inilah saatnya, hidupkan MODE ON di 10 terakhir Ramadan! Saat-saat kesempatan mendapat keagungan terbuka lebar buat kita.

Siap? Bismillah! Yuk ikutan RO MODE ON 1440 H! Hidupkan 10 terakhir Ramadan dengan amal kebaikan maksimal, mulai malam ini. Kita pasang twibbon serentak melalui bit.ly/ROMODEON

Nantikan serial RO MODE ON hingga menjelang hari nan fitri!

“Rasulullah SAW ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih)

Perjalanan Menembus Galaksi: Captain Marvel atau Shazam?

Kisah perjalanan menembus galaksi untuk menyelamatkan manusia bukan Captain Marvel atau Shazan, ini tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Pada malam 14 abad lalu, seperti yang digambarkan Allah SWT dalam surah Al-Israa: Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekkah, ke Masjid Al-Aqsha di Jerussalem, kemudian naik ke sidratul muntaha, menembus tujuh lapis langit. Dari perjalan ini lahirlah kemudian syariat shalat 5 waktu bagi umat nabi Muhammad SAW yang kita laksanakan hingga hari ini.

Surat Al-Isra seperti yang dijelaskan dalam beberapa tafsir menyebutkan bahwa unsur yang dominan dalam struktur surah ini serta menjadi poros substansial tema-temanya adalah pribadi Rasulullah SAW. Lebih jauh juga bagaimana problem risalah para rasul dan keistimewaan risalah nabi Muhammad SAW.

Jadi, jika diceritakan bahwa Captain Marvel maupun Shazam dapat terbang ke angkasa dan menembus galaksi untuk menyelamatkan umat manusia, Rasulullah sudah melakukannya jauh lebih lama dan tentu saja, itu nyata.

Isra’ Mi’raj adalah momen yang baik untuk kita dapat merenungi makna perjalanan nabi Muhammad SAW, bagaimana kesabaran beliau menghadapi sikap kaum Quraish terhadap dakwah yang disampaikan beliau, dan semoga menjadi penguat iman kita.

Membangun Internal Organisasi : Memotivasi

Motivasi merupakan salah satu bahan bakar utama yang dapat menggerakkan pengurus dalam organisasi. Organisasi yang dapat membuat para pengurusnya selalu dalam motivasi yang tinggi hampir bisa dipastikan akan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi. Dari titik ini kita bersepakat bahwa salah satu tugas para pemimpin di organisasi adalah untuk selalu memberikan motivasi pada para pengurusnya.

Daniel Pink, penulis best seller buku-buku tentang bisnis dan manajemen menyebutkan bahwa motivasi itu ada dua tipe, yaitu extrinsic motivation (motivasi ekstrinsik) dan intrinsic motivation (motivasi intrinsik). Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari intervensi luar setiap diri pengurus seperti uang, pujian, hadiah, dan lain-lain. Sedangkan motivasi intrinsik adalah motivasi yang datang dari dalam diri sendiri. Studi membuktikan bahwa motivasi intrinsik akan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap produktivitas kerja seseorang dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik. Sebagai contoh sederhana, dua orang karyawan dengan gaji yang sama di sebuah perusahaan belum tentu memiliki produktivitas yang sama pula. Motivasi intrinsik dari kedua orang tersebut akan memberikan berpengaruh besar pada produktivitas kerja keduanya.

Menurut Dan Pink, ada tiga elemen yang membangun motivasi intrinsik pada diri seseorang, yaitu autonomy, mastery dan purpose. Apabila seorang pimpinan organisasi ingin membangkitkan motivasi intrinsik pada diri pengurusnya, yang perlu Ia lakukan adalah memberikan ketiga elemen ini pada stafnya. Autonomy (otonomi) berarti memberikan kewenangan, kepercayaan, kebebasan pada staf untuk melakukan sebuah pekerjaan. Pink menyebut ada empat aspek utama dalam autonomy, yaitu time (waktu), technique (tekhnik, cara), team (tim), dan task (tugas, pekerjaan).

Sebagai contoh, beberapa perusahaan yang mengharuskan punya nilai kreativitas tinggi untuk bersaing dengan kompetitornya membuat kebijakan untuk memberikan waktu bebas pada karyawan mereka untuk melakukan apapun yang dia mau di kantor pada jam tertentu yang berbeda dengan jam istirahat, asalkan target kerja bisa tercapai. Contoh lain misalnya, dalam sebuah proyek yang dijalankan oleh tim kecil di organisasi, pimpinan organisasi memberikan wewenang pada ketua tim kecil tersebut untuk bebas memilih siapa saja anggota tim mereka dan bagaimana cara tim ini bekerja. Pada situasi ini, berikan kepercayaan penuh pada staf dan pastikan mereka merasa bahwa dirinya dipercaya oleh Anda sebagai pimpinan organisasi untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Berhati-hatilah, memberikan kepercayaan dan membangun kepercayaan pada staf berbeda dengan melimpahkan tugas padanya. Ada pendekatan yang berbeda antara keduanya, yang juga akan menghasilkan penerimaan yang berbeda pada staf. Kita harus berlatih untuk peka terhadap hal ini.

Mastery dideskripsikan sebagai hasrat seseorang untuk bertumbuh dan menguasai suatu keahlian. Pink berpendapat bahwa manusia senang untuk selalu menjadi lebih baik tentang suatu hal, mereka akan menikmati kepuasan dari capaian pribadi dan perkembangan dirinya. Seorang pemimpin yang dapat membuat stafnya merasa selalu ter- improve dan menikmati perkembangan atas dirinya, berarti pemimpin itu telah berhasil membangun motivasi intrinsik yang kuat dalam diri stafnya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang abai terhadap pengembangan diri para stafnya akan mendapati banyak pengurus yang kehilangan motivasi untuk bekerja dan bertahan di organisasi tersebut.

Poin pengembangan diri (mastery) ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti berdiskusi dengan para staf, mengadakan pelatihan, memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan keahlian para staf secara menyenangkan, atau bahkan memberikan pekerjaan yang ‘challenging’ bagi mereka. Namun lagi-lagi harus berhati-hati, membangun hasrat seseorang untuk bertumbuh berbeda dengan mewajibkan staf melakukan sesuatu yang kita kira akan menambah kualitas serta skill mereka. Ya, mengajak staf utuk berdiskusi ringan dan kemudian menyampaikan ilmu pada mereka dan memintanya membaca sebuah buku dengan perkataan seperti “Nih, coba deh lu baca buku ini bab 2. Hal yang tadi kita omongin ada disitu dan lu bisa dapet lebih banyak hal yang keren disitu” akan menghasilkan dampak yang berbeda dibanding kita membuat tulisan di papan pengumuman “Semua staf wajib membaca buku A bab 2 selama 7 hari ke depan” walaupun keduanya sama-sama meminta staf untuk mebaca buku dan staf tersebut menyelesaikan bacaannya. Pemahaman mereka bisa saja sama-sama bertambah, namun motivasi intrinsik mereka belum tentu akan sama-sama terbangun. Perhatikan pendekatan yang kita gunakan dalam menyampaikan hal ini.

Terakhir yaitu purpose, bagi saya pribadi poin ini adalah poin terpenting untuk membangun intrinsic motivation bagi para pengurus. Purpose berarti membangun keresahan, menyampaikan alasan, menemukan tujuan, hingga semua staf akan bersepakat bahwa sesuatu ini memang harus dilakukan. Poin ini bisa juga kita sebut pemaknaan. Ya, seseorang secara tidak sadar akan lebih semangat untuk melakukan sesuatu ketika mereka mendapatkan makna dari apa yang mereka kerjakan. Kalau Simon Sinek mengatakan “starts with why”, mulailah dengan why. Pada bagian ini, seorang pemimpin wajib memastikan staf yang akan bekerja bersamanya itu mengetahui alasan dan tujuan pekerjaan itu dilakukan, dan pemaknaan itu muncul. Sejalan dengan poin autonomy di atas, yang harus kita lakukan adalah bersepakat dengan para staf pada purpose ini dan kemudian berikan wewenang pada staf untuk mengerjakan sisanya. Jangan selalu meminta staf mengerjakan sesuatu, tapi lebih dalam dari itu buatlah mereka menyepakati alasan keberadaan kita berada disitu dan mengapa pekerjaan ini harus kita lakukan. Apabila Anda berhasil membangun purpose yang kuat pada diri staf Anda di organisasi, memberikan kepercayaan padanya untuk melakukan sesuatu, dan menyediakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk bertumbuh, maka bersiaplah melihat para staf yang akan siap berjuang bersama Anda dan memberikan kemampuan terbaik mereka untuk mencapai tujuan bersama di organisasi yang Anda pimpin.

oleh Ahmad Yanis Audi
Ketua Komisi Kaderisasi dan Kelembagaan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Iman yang Mencukupkan

Mari kita mengingat sebuah hari yang berat.
Saat sahabat-sahabat yang dipercaya berjuang, tiba-tiba memutuskan lari meninggalkan.
Mari belajar memandang kekecewaan dengan perasaan kasih sayang, bukan tatap tajam kebencian. Sebab semua hanya perlu dicukupkan dengan iman.

Adalah hari ketika sekian pasukan muslim lari meninggalkan Rasulullah dan pasukannya dalam Hunain, mereka dari kalangan Thulaqaa.
Sedangkan Anshar, memilih menjadi yang setia hingga akhirnya.

Hingga akhirnya kemenangan menjadi milik Rasul dan pasukan muslim. Tertampak harta rampasan perang yang menggunug-gunung. Lembah penuh dengan hewan ternak, emas, perak, dan tawanan. Maka, pembagian pun dilakukan.

Kira-kira, siapa yang paling berhak mendapatkan bagian?
Logika kebanyakan kita akan berpikir Anshar lah yang paling layak.
Tapi Rasulullah saw. punya cara berbeda, yang membuat sebagian hati kaum Anshar bergemuruh dalam tanda tanya.

Rasulullah saw. membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, ialah mualaf Makkah yang paling pertama melarikan diri dari pertempuran.

Ada tanda tanya besar di tengah kalangan Anshar dengan pembagian tersebut hingga Sa’ad bin Ubadah menyampaikan maksud. Lalu Rasul mengumpulkan mereka pada sebuah tempat.
Bukan untuk memarahi sikap mempertanyakan para Anshar.
Bukan pula menghakimi dan merasa bahwa Rasulullah yang paling benar.
Inilah pengingatan yang begitu mulia, nasihat yang disampaikan dengan penuh cinta, dengan berkata,
Wahai orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat ku dengar dari kalian, dan dalam diri kalian ada perasaan mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Kaum Anshar tertunduk. Masing-masing sibuk menelisik isi hatinya: jernih atau keruh.

Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang Anshar?” tanya Rasulullah saw.

Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia.” jawab ringkas salah satu mereka.

Mendengar itu, Rasulullah tidak lantas merasa besar dan benar. Rasulullah berusaha memahami posisi kaum Anshar lalu berkata, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa, lalu kami memberikan tempat dan menampungmu.”

Rasulullah memahami, adalah wajar jika pun Anshar merasa dan berkata demikian. Anshar pun memahami, bahwa sejatinya merekalah yang telah ditolong, bukan menolong. Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah sudut pandang tawadhu.
Mendengar itu, air mata mulai berlinang-linang di wajah para Anshar. Isak tersedan mulai ramai. Mereka, menemukan sesuatu yang dicari dalam hati.

Rasul melanjutkan, “Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sedangkan keislaman kalian tak mungkin lagi ku ragukan. Wahai sekalian orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Lepas sudah air mata bergerak membentuk sungai-sungai panjang di wajah dan di hati mereka. Menjernihkan dan menyadarkan, untuk kembali mencukupkan diri dengan iman.

Dan Kaum Anshar, Kaum Penolong, menutup kisah ini dengan begitu manis: ialah penerimaan tanpa tapi, keridhoan tanpa sanksi, “Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini. Kami Ridha Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami.

Lihatlah, betapa sudut pandang tawadhu menjadi penting dalam memandang masalah dan memposisikan diri.
Bukan dari sisi yang merasa benar dan besar, merasa dirugikan atau merasa telah paling banyak berkorban.
Rasul menempatkan dirinya sebagai muhajir yang ditolong Kaum Anshar, bukan sebagai nabi yang menyelamatkan. Pun Kaum Anshar, mengambil sudut pandang sebagai kaum yang telah diselamatkan Rasul, bukan menyelamatkan. Inilah sudut pandang tawadhu. Agar dalam masalah, kita tidak saling menuntut dan menyalahkan, melainkan saling memahami dan berempati. Hingga akhirnya iman yang mencukupkan dari segala tipu daya yang melenakan.

Oleh:Soffa Lutfiah
Wakil Ketua Kemuslimahan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Salam Satu Indonesia!

Bagi siapa pun di antara kita yang pernah atau sedang Allah izinkan untuk singgah di luar negeri, pasti kita akan merasakan kerinduan pada Indonesia. Saya pernah mengalaminya, saat 2016 Allah izinkan berkunjung ke negara Turki, dalam sebuah konferensi. Memang hanya lima hari saja, namun sudah rindu dengan banyak hal tentang Indonesia. Rindu melihat kemacetan, rindu makan-makanan khas Indonesia dan banyak hal lainnya. Hal lain di negeri orang, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih Indonesia Raya, insyaAllah kita pun pasti akan terenyuh.

Sensasi lebih mendalam adalah saat kita berjumpa sesama orang Indonesia di luar negeri. Kita pasti merasakan hal yang berbeda, rasanya sesuatu sekali. Terserah, bahkan tidak sempat melintas dalam pikiran, apa agamanya, sukunya, pilihan politiknya, pokoknya sesuatu. Sontak langsung ingin berkenalan, menyapa, menanyakan, kamu di Indonesia tinggal di mana? Kampusnya dulu di mana? Ya, semua itu bagi saya adalah sebuah kejujuran hati. Nurani yang membimbing kita, menunjukkan bahwa dengan siapa pun, pasti ada benang merah yang menyatukan, mendekatkan. Bahwa juga, akan selalu ada cinta untuk Indonesia.

Namun, tidak harus ke luar negeri dulu sebenarnya, untuk merasakan momen yang demikian. Kita pun bisa mendapatkannya di tanah air sendiri pastinya. Misalnya saja, saat mendukung Indonesia di ASIAN GAMES 2018 kemarin, kita dukung Minions dan Jojo di cabang bulutangkis sampai dapat emas. Kita dukung Timnas Sepakbola sampai lolos perempat final dan cabang lainnya. Bukankah pada saat itu kita telah berhasil saling memahami perbedaan? Bukankah juga pada saat itu kita mampu bersatu dengan satu narasi? Mendukung Indonesia dengan sepenuh hati! Bahkan, kita saat itu sampai bisa melihat momen langka berpelukannya Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo saat pengalungan medali kepada atlet silat Hanifan yang mendapatkan emas.

Tahun ini, 2019, adalah tahun yang katanya akan ‘panas’, sebab ada pesta demokrasi yang hendak digelar. Belum lagi, kerukunan antarumat beragama pun akhir-akhir ini terus diuji. Islam dan nasionalisme pun coba terus dipertentangkan. Sampai kapan kita akan terus masuk dalam ‘kubangan’ yang justru membuat kita semakin jadi bangsa yang kerdil?

Sebagai warga Indonesia, khususnya Muslim, semangat mencintai Indonesia dan mempersatukan harus terus dijunjung. Bersilaturahmi, sinergi dalam kebaikan, dengan siapa pun, dari agama apa pun, suku apa pun harus kita tingkatkan. Dengan tetap bertoleransi pada setiap perbedaan yang masuk dalam ranah keyakinan. Serta yang paling utama, selalu menunjukkan akhlak yang baik menjadi sesuatu yang harus kita dahulukan di atas apa pun. Maka, insyaAllah kehadiran kita akan membawa rahmah bagi siapa pun, menjadi kehadiran yang selalu dinantikan orang lain. Ingat sekali lagi, kunci utamanya selalu menunjukkan akhlak terbaik.

Nabi kita, Muhammad SAW pernah berpesan.

Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi kotor.” (HR. Tirmidzi).

Selamat berikhtiar menjadi Muslim yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha menjadi pribadi lebih baik. Selamat selalu belajar mencintai Indonesia, menjalin silaturahmi dan kolaborasi aksi dengan semua elemen anak bangsa, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Karena negeri ini terlalu sayang dan sulit rasanya, jika dibangun sendiri-sendiri, tanpa adanya sinergi kebaikan di dalamnya. Salam Satu Indonesia!

 

oleh Rangga Kusumo
Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia