Sempurnakan Hijabmu

Rara nampak cerah hari itu. Tudung (re: hijab/kerudung) berbunga-bunga di kepala lengkap dengan warna merah yang menyala, memberi kesan ceria dan penuh semangat dalam jiwanya. Tak lupa bagian ujungnya disematkan agar tak menjuntai begitu saja. Celana pensil putih yang dipadukan dengan  baju kemeja iklim tropis, polesan make up di wajah ala gadis korea, serta tak ketinggalan sepatu hak tinggi membuatnya semakin percaya diri untuk beraktifitas di  kampus. Penampilan seperti itu dianggap gaul, tidak ribet, dan tentunya tetap dengan simbol keislamannya (mengenakan jilbab). Intinya style seperti itu tengah diminati saat ini, begitupun Rara dan teman-temannya.

Penampilan seperti itu menghilangkan pandangan bahwa muslimah itu tidak selalu identik dengan rok dan potongan baju kaku, jilbab lebar kelabu, serta sendal gunung lengkap dengan kaos kakinya. Citra tersebut berhasil diganti dengan citra yang baru. Ditambah dengan begitu banyaknya toko jilbab online yang menawarkan berbagai jenis jilbab yang lucu dan menarik, dengan variasi potongan dan ukuran tertentu. Sehingga variasi yang terjadi pada pakaian muslimah dalam hakikat yang sebenarnya mengalami degenerasi, akibat adanya konvensional group. Lantas bagaimana sebenarnya Islam mengatur itu semua?

Pakaian Muslimah (yang Sebenarnya)

Islam adalah agama Allah yang sempurna. Tak satu pun yang luput tanpa aturannya. Bahkan hal kecil seperti ke kamar mandi sekalipun ada adab dan normanya. Kita diperintahkan untuk berdoa dan masuk dengan kaki kiri, serta keluar dengan kaki kanan, serta membaca doa (ghufraanaka). Begitu juga dengan Muslimah. Allah berikan perhatian yang lebih kepada muslimah, bahkan ada satu surat yang Allah beri nama An-Nisaa, yakni perempuan, khusus membahas tentang perempuan. Menandakan bahwa Muslimah begitu spesial dan berharga. Maka sudah barang tentu ada kewajiban yang perlu dijalankan oleh seorang muslimah, salah satunya menyempurnakan hijab sesuai syariat.

Ada kriteria yang wajib dipenuhi oleh muslimah dalam berpakaian. Seperti yang  tertuang dalam kitab Fiqh Wanita yang ditulis oleh Ibrahim Muhammad Al-Jamal:

Pertama menutupi seluruh badan selain wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, tidak ketat sehingga masih menampakkan bentuk tubuh yang ditutupinya. Ketiga, tidak tipis temaram sehingga warna kulit masih bisa dilihat. Keempat, tidak menyerupai pakian laki-laki. Kelima, tidak berwarna mencolok sehingga menarik perhatian orang. Keenam, tidak menyerupai pakaian wanita kafir dan ketujuh, dipakai bukan dengan maksud memamerkannya.

Selain  kriteria tersebut pemakaian kerudung harus sampai menutupi dada. Hal itu disebutkan secara jelas dalam QS An-Nisaa’:31

“…dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.

serta dalam QS Al-Ahzab ayat 59,

            “…. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka perintah untuk menutup aurat tersebut sudah sangatlah terang Allah sampaikan, agar kita lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu. Dalam tafsir Ibnu Katsir, As-Saddi mengatakan bahwa dahulu kaum lelaki fasik dari kalangan penduduk Madinah  suka mengganggu wanita yang keluar malam. Saat itu rumah penduduk Madinah kecil-kecil. Bila hari telah malam, kaum wanita hendak menunaikan hajatnya keluar, dan hal ini dijadikan kesempatan oleh orang-orang fasik untuk mengganggunya. Tetapi apabila mereka melihat wanita yang keluar itu memakai jilbab, maka mereka  berkata kepada teman-temannya, “Ini adalah wanita merdeka, jangan kalian ganggu.” Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, “Ini adalah budak”, lalu mereka mengganggunya.

Maka itu adalah satu hikmah dari sekian banyak hikmah yang Allah sampaikan untuk muslimah agar menutup aurat dengan sempurna. Namun perlu diperhatikan juga, niat tetap yang utama dalam mengerjakannya. Murni karena ini adalah perintah Allah SWT.  Bentuk ketaatan muslimah kepada Allah, menjalankan yang sudah diperintahkan dan meninggalkan hal yang tidak diperintahkan, termasuk membuat variasi-variasi tandingan dalam berpakaian sehingga hakikat utama berjilbab sesuai perintah menjadi tersamarkan.

Memfungsikan (kembali) Jilbab

Ketika seorang jilbaber ingin terlihat menarik dan ingin semua mata tertuju padanya, maka yakinlah itu bukanlah hijab yang menutupi diri. Sangat kontras tentunya dengan perintah yang ada dalam Al-Qur’an. Karena justru yang menjadi alasan agar muslimah menutupi tubuhnya dengan pakaian syar’i, untuk meredam fitnah yang ada padanya.

Adalah sebuah fakta bahwa wanita sumber fitnah terbesar bagi kaum laki-laki. Dalam surat Yusuf ayat 28, Zulaikha disebutkan memiliki tipu daya yang besar (inna kaida kunna ‘adzhiim), lalu bandingkan dengan sebutan tipu daya Syaithan yang Allah abadikan dalam Al-Quran, …”sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’:76). Maka sudah sepatutnya muslimah perlu intropeksi diri, bahwa tipu daya/fitnah wanita lebih berbahaya dari Syaithan. Bahkan sudah barang tentu juga, muslimah meyakini kalimat ini : wanita itu adalah aurat. Jika kalimat itu sudah dipahami, maka sudah saatnya kemantapan hati untuk memfungsikan kembali hijab tersebut sesuai dengan tuntunan illahi.

Karena jilbab dan kerudung adalah model busana yang memiliki aturan main. Bukan sekedar trend atau style yang dapat diatur sesuai selera. Adalah wujud penghambaan muslimah kepada Rabb-Nya. Bentuk pengakuan bahwa Allah ‘azza wa jalla berhak penuh mengatur kehidupannnya. 

Hari ini, memfungsikan kembali jilbab sesuai haknya adalah tindakan terbaik yang dipilih oleh muslimah. Karena hidup (beriman) di akhir zaman tidaklah mudah, seperti menggenggam bara api yang sangat panas kata Rasulullah. “Menjaga dan terjaga” hari ini adalah keharusan. Bukan lagi hanya sekedar tanggung jawab sebagai muslimah.

Muslimah dan Peradaban

Wanita itu tiang negara, apabila kaum wanitanya baik maka baiklah kehidupan suatu negara, namun apabila kehidupan kaum wanita dalam suatu negara itu rusak, maka rusaklah negara itu. (H.R Imam Muslim).

Barangkali kita tidak asing lagi dengan hadist di atas. Secara tidak langsung, tuntutan hadist tersebut adalah menjaga dan mendidik wanita, (khususnya muslimah) agar tetap pada kehidupan yang baik. Standar baiknya wanita adalah Islam (Al-Quran dan Sunnah).  Sehingga tuntutan hadist itu adalah amanah bersama, artinya tidak hanya tugas wanita semata. Peran laki-laki (ayah, saudara, atau suami) mesti mengambil bagian dalam hal ini.

Muslimah adalah kontributor peradaban dunia, khususnya tamadun dunia Islam. Dalam mewujudkan tamadun Islam maka muslimah harus menjadi kontributor bagi dirinya sendiri untuk berubah. Kontributor menciptakan lingkungan yang sehat. Kontributor merangkul wanita yang ada di luar sana untuk sama-sama berproses menjadi baik. Semuanya  itu tentunya dimulai dari diri sendiri. Tidak bisa untuk mewujudkan peradaban Islam hanya dengan cantik, kuliah yang rajin (saja) dengan pengetahuan dan cita-cita yang tinggi (saja), jika tanggung jawab sebagai muslimah dalam menutup aurat dengan sempurna tidak dapat dilakukan. Karena jika pintar sekedar pintar, jika berpengetahuan sekedar berpengetahuan, cantik hanya sekedar cantik, maka 1Hetairai lebih mampu melakukannya. Maka sempurnakan hijabmu untuk diri, lingkungan keluarga, masyarakat, dan dunia.

Padang, 10 Februari 2019

-Susi Wahyuni, Komisi C Syiar Muslimah FSLDK Sumbar-

___________________________________________

1 Hetairai adalah wanita penghibur kelas atas Athena Kuno (Yunani) yang dipuja semua orang, yang piawai dalam memainkan musik, serta berpengetahuan tinggi, khususnya dalam politik, filsafat dan ilmu  lainnya.

Kabar Palestina, Alarm Kita

Sejak Palestina dilanda musim dingin, perjuangan masyarakat Ghaza dalam mempertahankan hidup semakin bertambah.  Wartawan Indonesia untuk Palestina, Abdilah Onim menceritakan kondisi anak-anak Palestina yang tengah kedinginan. Untuk meminimalisir kedinginan, mereka menyalakan api unggun. Mirisnya, pernah terjadi kebakaran di saat mereka tertidur, yang tak lain disebabkan oleh api unggun yang digunakan untuk menghangatkan tubuh para penghafal Quran tersebut. Meskipun demikian, tidak ada rona takut terpancar dari wajah mereka. Air mata kesakitan yang mengaliri pipi pun tak berselang lama. Berlarut-larut dalam kesedihan, bukanlah sifat mereka.

Itulah sebabnya, mengapa kita sering melihat adanya potret-potret para mujahid di atas kursi roda yang ikut bersama rombongan demonstran. Walaupun demonstrasi yang diharapkan dapat memberikan hak justru malah menghilangkan nyawa, mereka tidak pernah takut. Kematian di ranah perjuangan adalah kematian yang membanggakan. Berharap menjadi syuhada yang dimuliakan Allah di sisiNya.

Dilansir dari portal berita Suara Palestina.com yang dibagikan oleh Abdillah Onim, di halaman facebook-nya, sebanyak 22 orang demonstran Palestina mengalami cidera akibat serangan dari pihak Yahudi, Jumat (04/01/19) kemarin. Tak hanya warga, tim medis pun termasuk ke dalam daftar korban cidera tersebut. Ribuan warga dalam aksi yang disebut Masirat Al Kubra ini ditembaki pihak Israel dengan peluru tajam dan gas air mata.

Adalah salah satu bukti kekuasaan Allah, di saat para mujahid meninggal di medan perjuangan, Allah memberikan calon-calon pengganti mujahid dari rahim ibu-ibu di Palestina. Tanah Palestina terkenal dengan kelahiran bayi kembar. Memasuki tahun 2019, bayi kembar tiga lahir di empat wilayah Palestina. Mereka lahir dari kaum Dhuafa, yang tentu saja membutuhkan bantuan beruapa selimut dan beberapa bantuan keperluan bayi lainnya.

Kembali menjadi alarm bagi kita, bahwa saudara-saudara kita saat ini masih berjuang mempertahankan tanah suci. Sudah selayaknya kita sebagai pemuda muslim juga ikut membantu perjuangan mereka, baik dengan materi maupun doa. Semoga doa yang diselipkan pada waktu dua pertiga malam langsung diluncurkan Allah kepada para saudara kita di Palestina.

Tahukah Kamu Siapa Ibumu??

Oleh: Loli Rahmana Putri

Kenapa penulis memberikan pertanyaan demikian kepada pembaca sekalian?

Beragam fenomena yang penulis temukan ketika mebahas tentang ibu. Banyak  anak yang mengenal ibunya, namun tidak tahu siapa ibunya, bahkan seolah lupa akan cara bersikap pada ibunya. Banyak anak yang mengenal ibunya, tetapi tidak tahu kemana muara keringat ibunya. Masih banyak fenomena lain yang masih bertebaran di luar sana.

Ibu, seorang wanita yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Mungkin penulis akan berkisah pada tulisan kali ini, karena biasanya kisah lebih berperan sebagai kunci pembuka mata hati pembaca.

Seorang ibu yang berjuang menghidupi anaknya, bekerja di sawah bersama suami, melawan terik matahari dari pagi hingga sore hari. Sesampainya di rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Hari-hari dilewati dengan rutinitas yang demikian. Kadang lelah sudah enggan menghinggapi karena selalu kalah dengan kekuatan hati nurani.

Suatu hari, sang ibu mulai sakit. Tubuhnya lemah, segala makanan yang ditawarkan ditolak mentah-mentah oleh tubuhnya. Alhasil, tidak ada sedikitpun energi yang menopang tubuh yang sudah mulai renta itu. Suatu hari, sang ibu selalu bertanya-tanya tentang keberadaan putra-putrinya di dalam hati. Ketika putrinya sudah berada di sampingnya, maka pengakuan tulus dari hati seorang ibupun meluncur. Ia mengaku, bahwa kehadiran seorang anak adalah sumber kekuatan di kala sakitnya.

Baiklah, kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Tahukah kamu siapa ibumu?

Ibu, wanita yang berharap jabang bayi sebagai penawar sakit.

Tahukah pembaca bagaimana harap-harap cemas seorang wanita ketika ia sudah menikah? Seorang wanita dikatakan sempurna apabila ia telah menjadi seorang ibu. Memberikan anak untuk suaminya, memberikan cucu untuk orang tuanya maupun orang tua maupun mertua. Banyak fenomena-fenomena perceraian disebabkan oleh tidak adanya kehadiran seorang anak dalam rumah tangga, tetapi masih ada yang mampu mempertahankan rumah tangga mereka walaupun tanpa kehadiran seorang anak.  Ketika seorang ibu mengetahui bahwa dalam rahimnya telah ditipkan seorang bayi yang akan dididik menjadi seorang anak yang berguna kelak, betapa haru dan sendunya hati seorang ibu tersebut. Betapa bahagianya hati seorang ibu yang dari rahimnya lahir seorang putra atau putri yang selalu mengisi segala sudut rumah dengan suara tangis dan tawanya.

Setelah bayi yang ia idam-idamkan lahir, saatnya jati diri sebagai seorang ibu diaplikasikan seutuhnya. Bekal dalam mendidik anak ia praktikan dengan sebenar-benarnya, hingga bermacam kesulitan ia rasakan. Jika dahulu ia sering menyalahkan dan memandang kekurangan seorang anak dari didikan orang tuanya, maka kini iapun mulai merasakan betapa sulitnya dalam mendidik seorang anak sehingga mampu menjadi generasi harapan yang memberikan kebanggaan baginya baik di dunia maupun di akhirat.

Maka tidakkah kita merasa beruntung menjadi seorang anak yang diidam-idamkan oleh kedua orang tua? Lantas mengapa, sebagian dari kita masih saja memilih mengecewakan harapan orang tua kita yang telah tertanam sejak embrio kita tertanam dalam rahim ibu?

Ibu, wanita kuat penahan rintih sang anak.       

Seorang ibu tidak pernah menyalin curhatan, rintihan hati anaknya pada orang lain. Seorang ibu tidak pernah membiarkan anaknya tertatih sendiri. Ia pasti akan terus memapah anaknya, walaupun ia sendiri berjalan di atas telapak kaki yang luka dan beban yang seakan meruntuhkan tulang pundaknya.

Mungkin ketika kita mendapatkan luka, kita sering pulang untuk menyalin keresahan pada ibu. Menceritakan dengan berbagai diksi manja, hingga dada yang awalnya sesak menjadi lapang. Pernah suatu gadis bercerita, ketika ia merasa lelah dan ingin menangis dengan segala tugas yang menurutnya tidak memberikan ia ruang untuk berfikir. Namun, ketika ia mengutarakan niatnya tersebut kepada temannya, ia mendapatkan suatu pertanyaan yang membuatnya memurungkan niatnya.

“Jika kamu pulang untuk menambahkan beban berat ibumu, lalu kapan kamu pulang untuk mengangkat beban berat yang ada di pundaknya?” Pertanyaan itu membuat gadis tersebut terhenyak.

Sejatinya, seorang ibu sangat bangga ketika anaknya berhasil kuliah dengan baik. Tidak ada ibu yang mau mendengar anaknya menghadapi kesulitan, namun bukan berarti juga ia tidak peduli. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa seorang ibu akan selalu menerima curhatan anaknya. Ketika ia melihat anaknya pulang, senyum dan kehangatan telah ia siapkan untuk mendekap kelelahan putra-putrinya tersebut.

Siapa yang mengatakan tidak boleh pulang saat hati mulai gelisah dan menemukan kebuntuan. Pulang adalah jalan terbaik, tetapi akan lebih baik lagi jika niat pulang bukan untuk mencurahkan keresahan dalam hati, akan lebih baik jika pulangnya kita adalah untuk kembali mengamati, mengambil pelajaran tentang bagaimana seorang ibu menyelesaikan masalahnya.

Ibu, seorang penadah doa di sepertiga malam.

Pernahkah membaca atau mendengar statement ‘keberhasilanmu saat ini, delapan puluh persen adalah hasil dari doa ibumu, dan dua puluh persen adalah hasil usahamu.’

Seorang mahasiswa pernah bercerita kepada penulis tentang keyakinannya akan doa sang ibu saat ia hendak melanjutkan pendidikan selepas SMA. Kuliah memang pilihannya, namun sayangnya pilihan tersebut kurang maksimal dalam usaha menggapainya. Mahasiswa tersebut masih ingat  ketika ibunda tercinta tidak pernah lelah dalam membangunkannya untuk shalat tahajud memohon keberhasilan dalam meraih cita-cita kuliah di kampus impiannya.

Masih banyak lagi jati diri seorang ibu yang belum tergambar dalam tulisan ini.

feril bersama ibuSebelum menulis, penulis mencoba meminta quotes tentang ibu, beberapa Quotes bermunculan, di antaranya:

 

Ibu, di setiap aku membuka dan menutup mata, aku melihatmu,” (Hardian Feril: Koordinator Komisi B, Puskomda Sumbar)

“Ibu adalah sosok yang menerima kita apa adanya,” Asyraf Mardiah, Staf Komisi C, Puskomda Sumbar).

 

Energi Anak Negeri Di Tengah Badai

Di penghujung tahun 2018 Ibu Pertiwi kembali berduka. Tepatnya pada Sabtu, 22 Desember 2018 giliran kawasan pesisir pantai Banten dan Lampung Selatan yang diterjang gelombang tsunami. Tsunami Selat Sunda ini disebut berbeda dari tsunami yang pernah terjadi karena tak didahului gempa bumi. Dampak bencana tsunami Selat Sunda melanda beberapa daerah seperti pantai barat Provinsi Banten, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang dan di pantai selatan Provinsi Lampung meliputi Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran. BMKG menyebut tsunami ini diduga disebabkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi mengakibatkan gelombang arus pasang naik, menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG tsunami Selat Sunda juga dipicu oleh gelombang pasang karena bulan purnama.

Jika kita menoleh ke belakang lebih jauh lagi, tentu akan ada begitu banyak bencana alam yang menimpa negeri ini, mulai dari longsor, banjir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan seterusnya seolah berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya masing-masing. Berbagai bencana tersebut datang bergantian satu demi satu seolah tak lelah meluluhlantakkan negeri ini. Begitu banyak kerugian yang diakibatkan oleh bencana-bencana tersebut. Ribuan manusia meninggal dunia, ribuan gedung dan bangunan rusak parah, jalan-jalan menjadi terputus meluluhlantakkan sendi ekonomi masyarakat yang terkena musibah, bertumpah ruah air mata menyaksikannya. Jika dihitung-hitung ada triliunan lebih, rupiah habis dan ludes disebabkan oleh kehadiran bencana alam di negeri ini. Apalah hendak dikata takdir negeri ini memang begini, alam penuh kekayaan tetapi terdapat juga bencana alam yang siap menerjang kapan saja tanpa rasa keraguan.

Dibalik bencana alamnya yang hadir silih berganti tanpa diminta tanpa lelah, ada sisi menakjubkan dari anak negeri ini, yakni energi yang tak pernah habis dan selalu bertumbuh dalam setiap bencana alam yang terjadi. Energi tersebut menjadi-jadi terlebih dibumbui oleh rasa kebersamaan dan rasa sepenanggungan dalam menerima musibah tanpa dibatasi sekat-sekat suku, agama, ras, dan etnik tertentu. Sekat-sekat tersebut dianggap tipis atau bahkan tidak ada sama sekali, yang ada adalah sikap kemanusiaan yang tinggi disertai jiwa kerelawanan untuk berbuat kebaikan dan menolong sesama manusia. Semacam ada perlombaan antara silih bergantinya bencana dan kepedulian anak negeri terus menerus mengalir ke sesama. Ketika bencana terjadi, di sisi yang lain anak-anak negeri tanpa lelah menolong saudaranya. Hal ini menandakan adanya energi yang besar dalam jiwa kerelawanan disertai motivasi yang kuat untuk kemanusiaan. Di saat badai melanda negeri, energi anak-anak bangsa terus mengangkasa. Sungguh menakjubkan anak-anak negeri ini. Di kala badai melanda, bencana silih berganti, energi kemanusiaan dan kerelawanan mereka tak putus.

Sebagai seorang aktivis yang aktif di organisasi kampus, saya merasakan betul tatkala bencana datang melanda, teman-teman aktivis dari berbagai genre organisasi, baik organisasi pergerakan, kerohanian, kedaerahan maupun yang lainnya mereka selalu tanggap dan tangkas menyikapi keadaan. Anak-anak ini memiliki motivasi yang kuat untuk ikut berpartisipasi dalam penanganan bencana. Saat mendapatkan informasi bahwa telah terjadi bencana di suatu tempat, mereka sesegera mungkin langsung melakukan konsolidasi menyiapkan racikan strategi untuk menyikapi bencana tersebut. Umumnya beberapa organisasi tersebut melebur secara bersama-sama melakukan penggalangan dana yang kemudian hasil penggalangan dana tersebut dikirimkan melalui lembaga-lembaga tertentu untuk diserahkan kepada para korban bencana yang membutuhkan. Terkadang juga mereka menunjuk perwakilannya masing-masing untuk meninjau dan secara langsung memberikan bantuan tersebut. Mereka rela beberapa hari berdiri di pinggir jalan, ke ruang-ruang kelas untuk mengajak partisipasi semua orang membantu korban bencana. Berpeluh keringat, disertai panas dingin cuaca dihadapi atas dasar kepedulian kepada sesama manusia. Tentu banyak keterbatasan mereka, akan tetapi dibalik keterbatasan itu semua nampaklah semangat kepedulian mereka. Energi anak-anak negeri seolah tak pernah habis, tak peduli siapa yang mereka bantu, yang ada di pikirannya hanyalah yang terkena musibah adalah saudara saya dan saya merasakan itu. Perlu digarisbawahi juga mereka melakukan itu semuanya tanpa motif apapun tidak mengharapkan imbalan ataupun mencari keuntungan, melainkan hanyalah sebuah energi kemanusiaan dan berasaskan rasa sepenanggungan. Inilah sebagian potret anak-anak energi ini dalam menghadapi badai bencana yang melanda negerinya, energi mereka tak pernah habis, selalu ada dan selalu enerjik.

Potret anak negeri dalam menghadapi badai merupakan karakter bangsa Indonesia itu sendiri yang terkenal dengan semangat gotong royong. Hal ini dapat kita anggap sebagai nilai nasionalisme bangsa yakni sikap ataupun paham untuk cinta tanah air dan cinta kepada bangsa Indonesia. Kekuatan cinta itulah yang mampu melahirkan keikhlasan, kemauan, dan juga pengorbanan. Ikhlas dalam beramal tanpa mengharapkan apapun membuat tapak langkah selalu maju ke depan selalu memberi tanpa pamrih. Kemauan dalam menyebarluaskan nilai-nilai kebaikan akan memberikan nafas panjang perjuangan sehingga energi kepedulian takkan surut apalagi habis. Dan juga pengorbanan dalam berbuat baik juga berefek kebaikan untuk semuanya. Sehingga ketiga hal ini memungkinkan untuk tumbuh kembangnya energi kepedulian sesama anak bangsa tanpa dibatasi sekat-sekat suku, agama, ras, dan etnik tertentu. Sekat-sekat ini hanyalah kecil semata atau bahkan tidak ada, yang terpatri hanyalah kepedulian dan kemanusiaan.

Kini telah memasuki masa waktu yang baru,  tahun 2019. Badai bencana selalu menguntit untuk hadir dan menunjukkan eksistensinya. Kewaspadaan senantiasa harus terjaga terlebih lagi nyala energimu harus terus berkobar.

 

 

Oleh:

Ahai Septa Maja

Staff Komisi B FSLDK Sumsel

Siapkan Pemuda Muslim Peduli Bangsa, FSLDK Sumbar Gelar Sekolah Kebangsaan 2018

Padang, Mentari pagi menyapa perjalanan tim panitia dari Puskomda Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Sumbar. Bersiap menuju Aula Gubernuran dalam rangka menyelenggarakan acara Sekolah Kebangsaan (SKB) 2018 sebagai modal bagi pemuda/pemudi muslim Sumbar untuk membangun bangsa.

Bagaimanapun juga, semangat nasionalisme harus ada dalam diri pemuda. Hal ini dapat mengokohkan persatuan untuk maju bersama dalam mengamankan bangsa dan negara. Kekuatan besar tentu memiliki landasan agar dapat dikendalikan dengan baik dan membuahkan hasil sesuai harapan.

Oleh karena itu, FSLDK Sumbar mengajak seluruh pemuda muslim Sumbar untuk ikut menggali ilmu di Sekolah Kebangsaan (SKB), pada hari Ahad, 9 Desember 2018. Yusrizal Yasmar selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa diadakannya SKB ini bertujuan untuk meningkatkan semangat kebangsaan atau nasionalisme mahasiswa muslim Sumatera Barat sebagai kolaborator kebaikan. “Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan tali silaturahmi antar mahasiswa muslim yang ada di Sumatera barat,” tambahnya.

Tepat di saat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. (Walikota Padang), Prof. Dr. H. Yaswirman (Guru Besar Fakultas Hukum Unand), dan Kombes Pol. Nasrun Fahmi, S.H., M.Si (Dir. Bimnas Polda Sumbar) selaku pemateri telah menduduki kursi yang disediakan, Ismail Syahputra selaku MC megalihkan pengarahan acara kepada Rizki Azmirwan (Sekretaris Puskomda Sumbar) selaku moderator.

Kombes Pol. Nasrun Fahmi di Sekolah Kebangsaan
Kombes Pol. Nasrun Fahmi, S.H., M.Si, Dir. Bimnas Polda Sumbar

“Pemuda adalah pelopor perubahan bangsa, pemuda memiliki kekuatan besar. Terbukti dengan keberhasilan mahasiswa dalam menggulingkan pemerintahan Soeharto, jika menjadi pemimpin, maka tauladanilah kepemimpinan Rasulullah” ujar Kombes Pol Nasrun Fahmi, S.H saat menyampaikan materi.

Mahyeldi Walikota Padang di Sekolah Kebangsaan
H. Mahyeldi Ansharullah, S.P., Walikota Padang

Mahyeldi, Walikota yang juga merupakan da’i mengatakan bahwa banyak Ayat-ayat Al-Quran tentang peran pemuda sebagai pemimpin di masa depan. Ada tiga hal pokok yang harus dimiliki pemuda muslim dalam upaya membangun bangsa. Ketiga hal pokok tersebut adalah iman, pengetahuan, dan rasa persatuan. Selain itu, H. Mahyeldi juga menyambut baik pelaksanaan kegiatan SKB 2018 ini. Sungguh apresiasi yang kembali membangkitkan semangat FSLDK dalam berkontribusi untuk bangsa.

Antusiasme seratus empat puluh orang peserta yang hadir memenuhi Aula Gubernuran turut menyukseskan kegiatan SKB. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa masih banyak pemuda/pemudi muslim yang peduli akan bangsa dan negara.

guru-besar-unand-sekolah-kebangsaan
Prof. Dr. H. Yaswirman, Guru Besar Fakultas Hukum Unand

Kehadiran Prof. Dr. H. Yaswirman (Guru Besar Fakultas Hukum Unand), juga selaku pemateri semakin menambah semangat intelektual FSLDK dalam mengemban amanah sebagai agen pelopor perubahan bangsa. “Syarat FSLDK itu, harus mampu menjadi intelektual muslim,” ujar Pak Yas, begitu sebutan dari panitia. (KomD)