RO MODE ON: Senja di Sudut Kota

Perlahan ia menginjak rem untuk menghentikan laju kendaraannya. Terlihat traffic lights menyala merah menganga, seperti warna kaki-kaki langit diufuk barat yang tepat berada 30 derajat dihadapannya. Jalan raya sudut kota itu dengan hiruk pikuk kendaraan yang padat merayap laksana ruang tunggu pasien rumah sakit yang usai ia kunjungi. Hanya saja membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk melanjutkan lagi perjalanan menuju rumahnya. Dalam kesempitan badan jalan, begitu banyak manusia yang ingin mempercepat laju kendaraan mereka. Bunyi klakson kendaraan yang tak kunjung henti karena kendaraan yang kian meretas lintasan kendaraan lain dan antrian kendaraan roda empat yang ingin memasuki pusat perbelanjaan hingga ke badan jalan.

Sementara itu, anak-anak dibawah umur dengan wajah haus dan lapar masih menyapu-nyapu debu kaca mobil dengan kemoceng, ada pula yang bermain gitar sambil membawa bekas bungkus permen berdiri tepat di depan kaca supir, juga sebagian menggunakan tongkat sebagai penumpu badan sambil berjualan kerupuk jangek dan menawarkan kepada setiap kendaraan yang berhenti. Ada pula pengendara tidak nyaman dan tidak terima, dengan sengaja mengusir mereka dengan wajah bengis dan kata-kasar.

Pria ini melamun dan gumam dalam hatinya membuncah seakan-akan jutaan kosakata berlomba untuk keluar dari mulutnya, “Sedekah kita sampai mana?”. Sementara itu tepat di sisi kanan badan jalan segerombolan orang sedang membagi-bagi takjil kepada kendaraan yang tengah berhenti. Mereka mahasiswa dari berbagai komunitas di kampusnya. Walaupun hanya segelas es buah yang mereka bagikan, setidaknya bisa menjadi teman lafadz doa buka puasa yang tak lama lagi akan tiba. Pemberian mereka disambut dengan penuh suka cita.

Sebentar ia melihat jam tangan dilengan kirinya, pukul 18.15 WIB. Empat menit lagi menuju waktu berbuka, sementara ia masih berada di tengah kerumunan kendaraan yang diselimuti asap dan polusi. Kalimat-kalimat dzikir dan sholawat kepada baginda Nabi tak surut dari bibirnya. Ia mengingat-ingat, Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Perasaan sedih ingin berpisah dengannya mulai melilit sanubari. Namun semangat beribadah harus ditingkatkan lagi karena belum tentu raga ini bersua dengannya dikemudian hari.

Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Ia memulai laju kendarannya.

(bersambung)….

Oleh: Dedy Purnomo Meow
Ketua Puskomda FSLDK Riau

RO MODE ON: Optimalisasi 10 Malam Terakhir Ramadan

Tidak lama lagi Ramadan tahun ini akan pergi. Itu artinya peluang untuk mendapatkan banyak pahala akan berakhir pula. Alangkah meruginya kita jika telah diberikan kesempatan namun tidak dimaksimalkan bahkan diabaikan.

Tidak ada jaminan, apakah Ramadan tahun depan kita masih diberikan kesempatan lagi atau tidak. Oleh sebab itu, mari optimalkan tiga amalan yang biasa Nabi SAW dan para sahabat lakukan di 10 malam terakhir, yaitu:

  1. Tilawah
  2. Sedekah
  3. Shalat
    Ketiga amalan di atas, sungguh sangat mudah dibayangkan namun berat dilaksanakan tergantung tingkat kualitas iman seseorang.

Sebagai motivasi,

  • Imam Syafi’i, menghatamkan Al-Quran 60 kali selama Ramadan. (Woww.. sadis gaess..!)
  • Orang yang bersedekah, ibarat menanam sebuah pohon, dari pohon itu tumbuh 7 tangkai, dan setiap tangkai tumbuh 100 buah. (Super bingit nhi Gaess)
  • Rasulullah Saw., menjelang 10 Malam terakhir Ramadan beliau mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (Ini artinya penting Gaess)

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap aktivitas kita yaa gaess..

Ene Madi Jaya
(Ketua Puskomda FSLDK Maluku Utara)

RO MODE ON 1440 H

25 Mei 1986 — 25 Mei 2019
33 Tahun FSLDK Indonesia

Bertambahnya usia bersamaan dengan masuknya 10 hari terakhir Ramadan 1440 H. Hari yang menjadi momen peningkatan ibadah, optimalisasi dakwah, syukur, doa, dan rasa penuh harap juga ampunan-Nya. Semoga semangat yang sama tertambat kuat dalam diri kami, FSLDK Indonesia bersama seluruh LDK se-Indonesia.

Inilah saatnya, hidupkan MODE ON di 10 terakhir Ramadan! Saat-saat kesempatan mendapat keagungan terbuka lebar buat kita.

Siap? Bismillah! Yuk ikutan RO MODE ON 1440 H! Hidupkan 10 terakhir Ramadan dengan amal kebaikan maksimal, mulai malam ini. Kita pasang twibbon serentak melalui bit.ly/ROMODEON

Nantikan serial RO MODE ON hingga menjelang hari nan fitri!

“Rasulullah SAW ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dukung Pemprov, Mahasiswa Muslim se-Jadebek Siap Kawal Isu “LEPAS SAHAM BIR ANKER” Hingga Tuntas

Jakarta (19/3), FSLDK Jadebek – turunnya massa aksi ke kantor DPRD DKI Jakarta, selasa siang itu menjadi langkah nyata ratusan mahasiswa muslim dalam menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta terkait penolakan Ketua DPRD terhadap rencana Pemprov DKI yang ingin melepas sahamnya di perusahaan bir. Seperti yang diketahui dari pernyataan di beberapa media massa bahwa Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi menolak rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan melepas sahamnya di perusahaan bir PT Delta Djakarta Tbk. Pras begitu sapaannya mengatakan, perusahaan bir tersebut tak merugikan Pemprov DKI. Bahkan menghasilkan dividen hampir lebih dari Rp50 miliar.

Pras meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan alasan penjualan saham tersebut ke publik dan dia berharap Anis dapat lebih berpikir kembali terhadap pelepasan saham tersebut. Pras mengaku sudah lama tidak lagi berkirim surat dengan Anies soal pelepasan saham tersebut. Dia selalu mengabaikan permintaan Pemprov dengan alasan karena tidak setuju dengan keputusan tersebut (www.metro.sindonews.com). Sedangkan menurut Anies, Pemprov DKI Jakarta telah menyampaikan surat permohonan pelepasan saham di PT Delta sejak Mei 2018 lalu kepada DPRD DKI. Ia memperkirakan, kurang lebih dana Pemprov DKI di perusahaan bir itu sebesar Rp1.2 triliun. Anies mengatakan, dana itu seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan bagi warga Jakarta. Terutama untuk menyediakan akses air bersih bagi masyarakat. Ia mempertanyakan, unsur pembangunan BUMD yang seharusnya berperan untuk membangun Jakarta tak seharusnya memproduksi bir. Uang itu akan lebih bermanfaat digunakan untuk membangun infrastruktur (www.m.republika.co.id).

Sehubungan dengan persoalan tersebut, Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) se-Jadebek bersama mahasiswa muslim dari UNJ, UI, STIE IGI, Polimedia, UNISMA dan STEI SEBI melakukan aksi “Tolak Saham Bir” di depan kantor DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih, Gambir, Jakarta Pusat. Massa aksi mulai berkumpul di Masjid

Medan Merdeka Selatan menuju kawasan Kebon Sirih hingga sampai di depan Kantor DPRD DKI Jakarta dengan berjalan kaki secara tertib. Aksi pun dimulai dengan penyampaian orasi dari beberapa mahasiswa ditambah riuhnya massa aksi menimpalkan dukungan terhadap orasi yang disuarakan. Aksi ini juga diramaikan dengan poster-poster bertuliskan pernyataan yang mewakili aspirasi masyarakat untuk mendukung Pemprov DKI Jakarta segera melepas saham bir dan ada pula yang meminta DPRD DKI agar segera menyetujui rencana Pemprov menjual saham bir tersebut. Aksi pun berjalan damai dan kondusif walaupun cuaca terik, namun tak menghentikan massa aksi dalam menyuarakan aspirasi di depan kantor DPRD DKI Jakarta siang itu.

Aksi terus berlanjut hingga lima orang mahasiswa yang menjadi perwakilan massa aksi diterima masuk dan melakukan audiensi dengan anggota dewan. Mahasiswa yang menjadi utusan massa aksi untuk melakukan audiensi ialah saudara Mujahid, Ahmad Firdaus, Suhandi dari UNJ, Bayu dari UI dan Fuad dari STIE IGI. Mereka disambut oleh Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta, yaitu Bapak Syarifudin dari fraksi Hanura, Komisi B – Perekonomian. Dalam audiensi tersebut, Pak Syarifudin mengaku bahwa surat yang diberitakan awak media telah dikirim oleh Gubernur, Pak Anies Baswedan sejak Mei dan Januari belum satupun masuk ke DPRD. Beliau menjelaskan bahwa mekanisme surat masuk akan diterima dan diurus oleh Sekretaris Dewan, kemudian diusulkan ke Badan Musyawarah dalam hal ini Perda yang dicanangkan melibatkan unsur legislatif, eksekutif dan masyarakat, sehingga yang berhak membahas persoalan ini adalah Komisi B bidang perekonomian setelah itu barulah disampaikan dalam sidang paripurna. Namun beliau menyatakan sama sekali belum menerima surat apapun dan di Komisi B juga belum ada bahasan tentang pelepasan saham bir seperti yang direncanakan Pemprov DKI tersebut. Persoalan ini amat disayangkan karena pernyataan Pak Syarifudin tidak sesuai seperti yang dikabarkan awak media belakangan ini. Seperti berita yang telah dikabarkan banyak media, bahwa Pemprov telah mengirimkan dua kali surat yang berisikan rencana pelapasan saham bir tersebut kepada DPRD DKI Jakarta namun hal ini berkebalikan dengan keterangan yang disampaikan Pak Syarifudin ketika audiensi siang itu, beliau menyampaikan kalau surat Pemprov belum sama sekali masuk dan diterima DPRD DKI Jakarta. Hal ini mungkin akan membuat bingung dan menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat terhadap pernyataan yang diberikan kedua pihak.

Dari hal ini, FSLDK berharap agar DPRD DKI Jakarta kedepannya dapat memberikan keterangan yang sebenar-benarnya kepada para media terkait persoalan ini, agar informasi yang dikabarkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Dan berharap segala persoalan yang berhubungan dengan pelepasan saham bir anker tersebut dapat segera diproses serta diselesaikan dengan baik oleh kedua belah pihak, baik Pemprov DKI Jakarta maupun DPRD DKI Jakarta. Bapak Syarifudin juga menyatakan bahwa pernyataan kontroversial yang dilakukan Ketua DPRD DKI Jakarta, Bapak Edi Marsudi dari fraksi PDIP dan Bapak Bestari dari fraksi Partai Nasdem bukanlah merupakan suara DPRD secara kelembagaan melainkan suara mereka sebagai individu saja. Pernyataan kontroversial yang dimaksud dua orang dewan tersebut adalah penolakan penjualan saham bir di DKI Jakarta. Ketika audiensi, Mujahid menyampaikan bahwa sebenarnya isu ini menjadi panas dan terangkat media karena adanya penolakan secara reaktif yang dilakukan oleh Ketua DPRD DKI Jakarta. Sehingga ditangkap oleh publik bahwa DPRD DKI Jakarta secara lembaga telah menolak, namun dari hasil pernyataan yang disampaikan Pak Syarifudin waktu audiensi, hal itu hanyalah pernyataan yang bersifat. Namun, beliau juga menegaskan hal tersebut harus dilakukan dengan mekanisme yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2007.

Di akhir audiensi, FSLDK Jadebek menyampaikan dan menyerahkan pernyataan sikap kepada Pak Syarifudin selaku perwakilan dari DPRD DKI Jakarta. Pernyataan sikap yang disampaikan yaitu:

  1. Mendesak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk segera menjual saham milik Pemprov DKI Jakarta di produsen Anker Bir, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) karena penjualan bir adalah haram bagi umat beragama di Indonesia, khususnya agama Islam. Apalagi, dividen dari perusahaan tersebut juga tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap APBD DKI Jakarta;
  2. Mendesak DPRD DKI Jakarta untuk segera menyetujui rencana Pemprov dalam menjual saham perusahaan bir karena rakyat DKI Jakarta lebih membutuhkan air bersih, sekolah dan fasilitas publik lainnya daripada air beralkohol;
  3. Menolak caleg-caleg dari partai politik di DPRD DKI Jakarta yang menolak penjualan saham bir milik Pemprov DKI Jakarta;
  4. Mengajak rakyat DKI Jakarta untuk tidak memilih caleg-caleg dari parpol di DPRD DKI Jakarta yang menolak penjualan saham bir milik Pemprov DKI Jakarta karena terbukti tidak mendengarkan aspirasi rakyat.
    Mujahid yang merupakan Ketua FSLDK Jadebek juga menambahkan akan terus mengawal isu ini sampai benar-benar terselesaikan yaitu DPRD DKI Jakarta menyetujui langkah Pemprov DKI Jakarta untuk melepas dan menjual saham bir di PT Delta Djakarta. Aksi ini berakhir sekitar pukul 15.20 WIB, tanpa pembubaran paksa, massa aksi pun meninggalkan kantor DPRD DKI Jakarta dengan tertib dan kondusif. (SL)

Demi Allah, Demi Ayah

Kalimat sakral yang diucapkan sang Ustad pada sebuah kajian rutin di Masjid Kampus masih terngiang dalam telingaku. Aku terpaksa mengalah pada Kania yang terus merengek mengajakku mengikuti kajian itu. Berhubung hari itu aku juga sedang tak ada jadwal pemotretan, aku mengiyakan saja ajakannya yang lebih pantas kusebut paksaan.

Selangkah saja seorang gadis keluar dari biliknya tanpa menutup aurat, selangkah pula kaki Ayahnya terseret ke Neraka

Aku merinding kala teringat pekerjaanku di dunia modelling. Sejak usiaku 13 tahun, Mama sudah mengenalkanku pada dunia permodelan. Awalnya aku hanya membantu Mama mempromosikan busana-busananya. Mama seorang desainer yang mengelola sendiri butiknya. Omset di butik Mama naik pesat berkat wajah cantikku, begitu yang selalu Mama bilang. Banyak perusahaan fashion yang menawarkan kerja sama, tetapi Mama menolak. Barulah ketika Pak Sajogyo, kawan lama Mama menawarkan kontrak kerja, Mama akhirnya luluh –karena upahku yang menggiurkan. Sampai saat ini aku masih terikat kontrak dengan perusahaan Pak Sajogyo. Banyak kawan-kawanku di Sekolah–bahkan di kampus sekarang–menghujatku karena pekerjaanku itu. Kata mereka aku pamer kecantikan lah, mengekspos kulit putihku, bahkan sampai ada yang bilang poseku membangkitkan berahi. Aku memang selalu berpose dengan busana-busana yang kata orang ‘kurang bahan’. Namun, aku tak peduli. Toh pekerjaanku halal. Namun perkataan sang Ustad hari itu sungguh membuat hatiku dipenuhi kegamangan. Ayahku sudah lama dirawat di Rumah Sakit. Bisa dibilang Mamalah tulang punggung keluarga. Sebagai anak semata wayangnya, aku berusaha untuk membantu Mama menafkahi keluarga ini dengan menjadi model. Jika yang dikatakan sang Ustad itu benar adanya, aku bimbang apakah mesti berhenti menjadi model dan membiarkan Mama bekerja sendirian atau tetap melanjutkan kontrak yang sebulan lagi berakhir demi menjaga agar Ayah tidak terdampar ke Neraka? Dilema melandaku.

“Rere, ya? Amaretta El-Mira Putri. Benar?” tanya seorang lelaki yang entah datang dari mana. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang terus menunduk. Wajahnya familiar. Aku berusaha mengingat-ingat di mana pernah melihatnya. Ah, benar. Kajian.
“Kamu Ustad yang ngisi kajian Senin kemarin, ya?” Aku tersenyum semringah karena bisa bertemu dengannya. Aku ingin menanyakan sesuatu.
“Eh?” Ia mengangkat wajah dan dengan cepat menunduk kembali. Ada apa dengannya? Apa wajahku setakmenarik itu sampai dia tak betah berlama-lama memandangiku? “I–iya,” katanya kemudian.
“Aku mau nanya bisa?”
“Lewat Whatsapp saja, Re, biar asyik,” kata temannya yang menyapaku pertama tadi. Aku tak menggubrisnya.
“Mau nanya apa? Di sini saja. Insya Allah bisa aku jawab,” katanya masih dengan wajah menunduk.
“Apa benar kalau perempuan keluar Rumah tanpa hijab, dosanya ditanggung Ayahnya?”
“Benar. Karena seorang perempuan yang belum memiliki mahrom, dosanya akan ditanggung oleh Ayahnya.”
“Mahrom itu apa?”
“Suami. Ketika seorang perempuan telah melepas masa sendirinya, ia bukan lagi menjadi tanggung jawab Ayahnya, melainkan suaminya.”
“Terima kasih.”
Aku berlalu dari hadapannya. Entah mengapa rasanya ada yang menyesaki rongga dadaku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, air mataku mulai tertumpah ruah. Tak terhitung berapa banyak mata yang selama ini telah menikmati tubuhku. Dan entah telah sejauh mana kaki Ayah terseret ke Neraka. Aku ingin berhenti menjadi model; demi Ayah.


Aku menemui Mama dan mengutarakan semua keinginan juga kecemasanku. Aku berharap Mama bisa mengerti dengan keputusanku meninggalkan dunia model. Namun, aku tak menyangka reaksi Mama akan sesadis itu. Membujuk Mama semustahil membangun candi dalam satu malam.

“Kamu itu masih muda, Sayang. Masih banyak waktu untuk bertobat,” kata Mama dengan entengnya.
“Ma, ajal itu bisa datang kapan saja. Hari esok tak menjamin aku masih hidup di bumi yang sama dengan Mama.”
“Rere, kamu kerja juga demi Ayah, kan? Tuhan pasti mengerti, Sayang.”
“Tidak ada tawar-menawar untuk perkara wajib, Ma. Berhijab itu wajib untuk semua muslimah yang ada di muka bumi ini. Termasuk Mama.”
“Terserah kamu saja. Mama menyesal sudah melahirkan dan membesarkan kamu,” kata Mama sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Terdengar pintu berdebum dibanting Mama dengan keras. Aku beristighfar dalam hati. Air mata mengalir dengan sendirinya tanpa isyarat. Aku bergegas menemui Ayah di Rumah Sakit.
Aku mengucap salam beriringan dengan pintu kamar Ayah yang kubuka. Ayah terkejut melihat penampilanku. Sedetik kemudian ia tersenyum. Aku mendekati ranjangnya dan memeluknya erat. Aku menangis dalam dekapannya. Rasa nyaman menjalari hatiku.
“Rere berhenti jadi model. Demi Ayah,” kataku di sela isak tangis.
“Kamu berhijab demi siapa?” tanya Ayah sambil mengusap kepalaku yang terbalut kerudung berwarna peach berenda.
“Demi Ayah. Biar Ayah nggak masuk neraka.”
“Kalau hijrahmu hanya karena takut Ayah masuk neraka, lebih baik lepas kembali tudung kepalamu itu.”
Aku terkejut mendengar penuturan Ayah. Kutatap lekat wajah Ayah, menanti penjelasan darinya.
“Biasakan untuk meniatkan segala sesuatu karena Allah. Hijab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah. Itu perintah mutlak dari Allah dalam Kitab-Nya. Ayah senang kamu menjelma wanita muslimah yang bahkan bidadari Surga pun cemburu. Tapi sekali lagi, jika niatmu hanya karena Ayah, Ayah akan sedih.”
“Baik, Ayah. Insya Allah akan Rere tata kembali niat Rere. Rere sayang Ayah.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Amaretta El-Mira Putri dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Kata sah merambat ke seluruh ruangan di Masjid Kampus. Aku terharu sampai menitikkan air mata karena telah melaksanakan separuh agama. Ayah pasti tersenyum dari Surga demi melihat putrinya kini telah dipersunting oleh seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya. Lelaki yang juga telah membawaku menuju jalan ini. Dia ibarat pelita yang menerangi kala kegelapan menyapa. Zaynal Abidin Datukramat; imamku.

Hal nisbi yang Tuhan titahkan,
Tak mesti jadi soal sampai membuat alasan.
Jika menunggu diri sesuci malaikat,
Setan tak pernah libur menjadikan sesat.
Berhijrahlah!
Jemputlah hidayah!

-The End-

Oleh : Dayana
Puskomda FSLDK GoSulut