Banjar, Negeri Ulama Falak Tanpa Observatorium

Siapa yang tidak kenal Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari? Ulama besar yang masyhur namanya, wabil khusus di hati masyarakat Kalimantan Selatan dengan gelar Datuk Kalampayan.


Sedikit manaqib penulis sampaikan untuk mengingat memori kita tentang beliau. Lahir di Martapura pada tahun 1122 Hijriyah, dari seorang ayah yang masih memiliki darah biru bangsawan Kesultanan Mindanao.
Melihat ada bakat kecerdasan pada Syaikh Muhammad Arsyad, Sultan Banjar pada masa itu memilih untuk mendidik secara khusus dan pada 1151 Hijriyah/1738 Masehi beliau diberangkatkan ke Mekkah al-Mukarramah untuk menuntut ilmu.

Beliau pergi ke Mekkah bersama tiga kawannya yang lain, yakni Syaikh Abdusshamad al-Falembangi, Syaikh Daud al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahab Bugis yang dikenal sebagai 4 serangkai dari Jawi.
Setelah menimba ilmu selama 35 tahun di dataran Hijaz dan negeri Arab lainnya, beliau akhirnya pulang ke Banua Banjar. Ketika pulang, beliau melakukan pembaharuan pada sistem keagamaan di Kesultanan Banjar.
Di bidang hukum, beliau mengukuhkan Mazhab Syafi’i sebagai mazhab resmi negara. Beliau membawa pembaharuan terhadap ilmu tauhid melalui kitab Tuhfat Ar-Raghibin, yang isinya juga mengkritik beberapa adat masyarakat yang berbau kesyirikan.
Saat beliau menjabat sebagai mufti, beliau juga mengarang kitab fikih yang fenomenal, yakni Sabiilal Muhtadin lit Tafaqquh fii Amriddiin yakni penjelasan dari kitab Sirath Al-Mustaqim Karya Syekh Nuruddin Al-Raniri.
Kitab ini kemudian menjadi kurikulum pendidikan di kepulauan Nusantara. Kitab ini juga menjadi salah satu sumber rancangan Undang-Undang Sultan Adam yang berlaku di Kesultanan Banjar. Kitab tersebut juga memudahkan masyarakat Banjar memahami ajaran Islam karena ditulis dalam bahasa Melayu, di tengah kitab-kitab berbahasa Arab yang agak susah diakses.
Selain menjadi pembaharu agama dalam bidang tauhid dan fikih, beliau juga membersihkan sanubari masyarakat Banjar dengan tazkiyatun nafs. Mata air tasawwuf yang beliau ambil dari telaga Murabbi beliau, Sayyid Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani berhasil menerangi tanah Kalimantan dari segala ilmu sihir hitam.
Ratib Samman yang menjadi amaliyah utama tarekat Sammaniyah mulai menggeser aliran-aliran kebatinan yang mengakar dari zaman nenek moyang pra-Islam. Sehingga masyarakat Banjar terbiasa dengan zikir mengingat Allah SWT.

Setelah mengetahui penghulu Banjar yang luar biasa keilmuannya dari segi tauhid, fikih, dan tasawwuf, maka tidak mengherankan jika banyak bertebaran pondok pesantren, madrasah, majelis ta’lim, dan masjid-masjid di Kalimantan Selatan. Darah daging beliau pula banyak mencetak ulama yang luar biasa. Nama-nama seperti Syaikh Sarwani Abdan Bangil dan KH Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul adalah buktinya. Dengan demikian, Tanah Banjar dikenal sebagai daerah yang agamis dan kental ke-Islamannya.
Dengan segudang kehebatan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, sayangnya ada satu hal yang jarang disadari oleh masyarakat Banjar. Sebuah fakta bahwa Datuk Kelampayan adalah seorang sarjana di bidang astronomi. Hal ini dibuktikan oleh beliau ketika membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Batavia, seperti Masjid Luar Batang sebelum pulang ke Banjarmasin. Nalar matematis beliau membuat Gubernur Batavia berdecak kagum dan memberikan beliau hadiah. Beliau juga mampu mengukur kedalaman air laut dengan akurat. Setidaknya, ada tiga kitab tentang ilmu falak yang beliau tulis selain dari keilmuan pokok agama lainnya. Tiga kitab tersebut adalah Risalah Ilmu Falak (tentang gerhana matahari dan bulan), Risalatul Qiblah (tentang perhitungan arah kiblat), dan Kur al-Ardhi wa Khath al-Istiwa (Peta Bumi dan Garis Katulistiwa).


Maka dengan kepiawaian ulama kita di bidang falakiyah, yang menjadi pertanyaan, kenapa di Banua Banjar tidak memiliki observatorium? Ya, gedung bulat tempat memperhatikan benda-benda angkasa berteropong raksasa. Dengan adanya observatorium, tentu akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan modern juga bisa lebih cepat. Observatorium juga dapat menarik minat anak-anak untuk belajar sains. Padahal, peradaban-peradaban Islam seperti di Andalusia, Baghdad dan Samarkand ratusan tahun lalu sudah memilikinya. Disaat negara-negara lain mulai mengembangkan kemajuan sains untuk memperkuat kedaulatan negaranya, maka Indonesia harusnya sudah mulai membangun dengan adanya modal historis. Dengan sejarah Datuk Kalampayan, kita bisa memajukan ilmu pengetahuan sains yang berlandaskan kearifan lokal berupa nilai agama Islam.


Sebenarnya jika kita menilik, sains dan agama harusnya bisa menjadi selaras dalam kehidupan, bukan sebagai dua entitas yang harus dipetentangkan. Agama menjadi landasan kebenaran yang kemudian ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran tersebut. Memisahkan keduanya akan menjadikan peradaban Islam menjadi terbelakang. Hal ini sudah dibahas di dalam kitab terbitan majalah al-Manar oleh Syekh Rasyid Ridha dan Amir Syakib Arsalan, yang berjudul ‘Limadza Ta’akhkhar al-Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?’ (mengapa umat Islam mundur sedangkan non-Islam maju?) Kitab tersebut berasal dari pertanyaan seorang alim dari Negeri Sambas (sekarang bagian dari Kalimantan Barat), yakni Maharaja Imam Baisuni Imran. Pertanyaan yang singkat tersebut seolah melampaui pemikiran di zamannya.

Namun ketika penulis mengamati kondisi koleksi museum kita yang begitu-begitu saja, jumlah koleksi ensiklopedia di perpustakaan kita yang masih kurang lengkap, fokus visi pembangunan para pemimpin kita yang masih kurang memperhatikan pendidikan, sepertinya harapan itu masih harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Katalisator pembangunan juga masih diukur dari berapa dalam kerukan tanah hasil tambang, bukan dengan meningkatnya kesadaran akan ilmu pengetahuan. Peran ulama kita juga sangat penting, dengan momen haul Datuk Kelampayan yang setiap tahun kita peringati. Hendaknya juga menyisipkan urgensi membangkitkan ilmu falak disela-sela pembacaan manaqib. Hal itu jauh lebih bermanfaat, dibandingkan terus mengisahkan ‘keajaiban’ Datuk Kelampayan memunculkan buah kasturi di Negeri Arab.


(Penulis adalah Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Demisioner Kepala Departemen Keagamaan Badan Eksekutif Mahasiswa ULM periode 2018, demisioner anggota LDK Unit Kerohanian Mahasiswa Muslim (UKMM) ULM, anggota Angkatan Muda Masjid As-Sa’adah 2016-2017, Komisi D FSLDK 2020-2021, Founder media dakwah @majaliskita)
Referensi :
Azra, Azyumardi. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.
Djaelani, M. Anwar. (2016). 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Pro-U Media.
Halidi, Jusuf. (1968). Ulama Besar Kalimantan Sjech Muhammad Arsjad Al-Banjary. Surabaya: Penerbit al-Ikhsan.
La Eda, Maulana. (2020). 100 Ulama Nusantara Di Tanah Suci. Jawa Tengah: Aqwam.

Mauladdawilah, Abdul Qadir Umar. (2014). 12 Ulama Kharismatik di Indonesia. Malang: Pustaka Basma.


Natsir, Nanat Fatah. (2012). The Next Civilization Menggagas Indonesia Sebagai Puncak Peradaban Dunia. Jakarta: Media Maxima.
Pribadi, Haries. (2018). Qanun & Tarikh Kesultanan Sambas. Pusat Studi Humaniora Indonesia.
Rahmadi, dkk. (2012). Islam Banjar : Dinamika dan Tipologi Pemikiran Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Banjarmasin: IAIN Antasari Press.

Muslimah mengenali Potensi

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.
kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi
 
Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.
 
Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.
Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.
Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.
Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.
Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

Membangun Generasi Penuh Berkah

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08
Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.
Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya
Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 
Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.
Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.
Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01
Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.
Komisi C FSLDK Nusa Tenggara