Muslimah mengenali Potensi

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.
kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi
 
Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.
 
Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.
Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.
Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.
Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.
Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

Membangun Generasi Penuh Berkah

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08
Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.
Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya
Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 
Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.
Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.
Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01
Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.
Komisi C FSLDK Nusa Tenggara

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40
Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 
Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?
Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.
Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.
Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.
Komisi C FSLDK Priangan Timur