Salam Satu Indonesia!

Bagi siapa pun di antara kita yang pernah atau sedang Allah izinkan untuk singgah di luar negeri, pasti kita akan merasakan kerinduan pada Indonesia. Saya pernah mengalaminya, saat 2016 Allah izinkan berkunjung ke negara Turki, dalam sebuah konferensi. Memang hanya lima hari saja, namun sudah rindu dengan banyak hal tentang Indonesia. Rindu melihat kemacetan, rindu makan-makanan khas Indonesia dan banyak hal lainnya. Hal lain di negeri orang, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih Indonesia Raya, insyaAllah kita pun pasti akan terenyuh.

Sensasi lebih mendalam adalah saat kita berjumpa sesama orang Indonesia di luar negeri. Kita pasti merasakan hal yang berbeda, rasanya sesuatu sekali. Terserah, bahkan tidak sempat melintas dalam pikiran, apa agamanya, sukunya, pilihan politiknya, pokoknya sesuatu. Sontak langsung ingin berkenalan, menyapa, menanyakan, kamu di Indonesia tinggal di mana? Kampusnya dulu di mana? Ya, semua itu bagi saya adalah sebuah kejujuran hati. Nurani yang membimbing kita, menunjukkan bahwa dengan siapa pun, pasti ada benang merah yang menyatukan, mendekatkan. Bahwa juga, akan selalu ada cinta untuk Indonesia.

Namun, tidak harus ke luar negeri dulu sebenarnya, untuk merasakan momen yang demikian. Kita pun bisa mendapatkannya di tanah air sendiri pastinya. Misalnya saja, saat mendukung Indonesia di ASIAN GAMES 2018 kemarin, kita dukung Minions dan Jojo di cabang bulutangkis sampai dapat emas. Kita dukung Timnas Sepakbola sampai lolos perempat final dan cabang lainnya. Bukankah pada saat itu kita telah berhasil saling memahami perbedaan? Bukankah juga pada saat itu kita mampu bersatu dengan satu narasi? Mendukung Indonesia dengan sepenuh hati! Bahkan, kita saat itu sampai bisa melihat momen langka berpelukannya Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo saat pengalungan medali kepada atlet silat Hanifan yang mendapatkan emas.

Tahun ini, 2019, adalah tahun yang katanya akan ‘panas’, sebab ada pesta demokrasi yang hendak digelar. Belum lagi, kerukunan antarumat beragama pun akhir-akhir ini terus diuji. Islam dan nasionalisme pun coba terus dipertentangkan. Sampai kapan kita akan terus masuk dalam ‘kubangan’ yang justru membuat kita semakin jadi bangsa yang kerdil?

Sebagai warga Indonesia, khususnya Muslim, semangat mencintai Indonesia dan mempersatukan harus terus dijunjung. Bersilaturahmi, sinergi dalam kebaikan, dengan siapa pun, dari agama apa pun, suku apa pun harus kita tingkatkan. Dengan tetap bertoleransi pada setiap perbedaan yang masuk dalam ranah keyakinan. Serta yang paling utama, selalu menunjukkan akhlak yang baik menjadi sesuatu yang harus kita dahulukan di atas apa pun. Maka, insyaAllah kehadiran kita akan membawa rahmah bagi siapa pun, menjadi kehadiran yang selalu dinantikan orang lain. Ingat sekali lagi, kunci utamanya selalu menunjukkan akhlak terbaik.

Nabi kita, Muhammad SAW pernah berpesan.

Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi kotor.” (HR. Tirmidzi).

Selamat berikhtiar menjadi Muslim yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha menjadi pribadi lebih baik. Selamat selalu belajar mencintai Indonesia, menjalin silaturahmi dan kolaborasi aksi dengan semua elemen anak bangsa, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Karena negeri ini terlalu sayang dan sulit rasanya, jika dibangun sendiri-sendiri, tanpa adanya sinergi kebaikan di dalamnya. Salam Satu Indonesia!

 

oleh Rangga Kusumo
Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia

Indonesia Berduka – Kecelakaan Pesawat

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Senin (29/10), pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang telah mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut jatuh di perairan dekat Karawang, Jawa Barat. Pesawat ini diketahui membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 balita (sumber kompas.com).

Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia mengucapkan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas insiden tersebut.

Kami juga mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk senantiasa mendoakan saudara-suadara kita yang menjadi korban. Serta mendoakan keluarga korban untuk senantiasa diberikan kesabaran dan kekuataan untuk menghadapi musibah ini.

Musibah beruntun melanda. Semoga Allah ampuni dosa kita dan bimbing bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik kedepan. Aamiin

#IndonesiaBerduka
#FSLDKIndonesia
#KolaboratorKebaikan

Pembakaran Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid di Garut

Assalaamu’alaikum, wr. wb.

Baru saja terjadi kegaduhan di tengah masyarakat Indonesia yang bersumber dari adanya peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum Banser di Garut, Jawa Barat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan sikap menyayangkan kejadian tersebut.

Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, tentu kejadian tersebut tidak bisa kita diamkan serta tidak boleh lewat begitu saja tanpa ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk perbaikan kedepan. Oleh sebab itu, Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia sebagai bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keadilan, persatuan dan perdamaian merasa penting untuk menyatakan sikap sebagai berikut:

1. FSLDK Indonesia menyatakan sikap bahwa segala bentuk kegiatan yang mengandung unsur mempermainkan/menodai nilai sebuah agama, apapun agamanya, adalah tindakan tercela yang tidak berakhlak, dapat memunculkan kegaduhan di tengah masyarakat serta dapat menyakiti hati pemeluk suatu agama tertentu. Selain itu, hal tersebut bertentangan dengan pasal 156a KUHP yang salah satu isinya membahas tentang pidana bagi siapapun yang melakukan tindakan penodaan terhadap suatu agama.

2. Terhadap kegaduhan pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid di Garut, FSLDK Indonesia penting untuk menyatakan sikap sekaligus meluruskan pandangan yang keliru di sebagian masyarakat kita, bahwa bendera bertuliskan kalimat Tauhid sesungguhnya adalah bendera milik semua umat Islam yang memiliki makna sangat agung, bukan bendera milik satu organisasi/kelompok tertentu. Maka menjaga keagungannya, tidak sembarangan memperlakukannya adalah sebuah keharusan dan bagian terpenting dari akhlak sebagai seorang yang beragama dan berbangsa. Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa tindakan pembakaran yang terhadap bendera bertuliskan kalimat Tauhid di Garut oleh oknum Banser adalah bentuk penodaan terhadap nilai Islam, apalagi telah sampai menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat.

3. FSLDK Indonesia mengajak masyarakat untuk mempercayakan penyelesaian kasus ini kepada proses hukum. Kita desak pihak Kepolisian agar mengusut kasus dugaan penodaan agama ini secara cepat, adil dan transparan. Hal tersebut penting agar dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat, sehingga tidak sembarangan bertindak kedepannya.

4. FSLDK Indonesia mengajak semua elemen masyarakat, khususnya para pemuda Muslim untuk menjadi pelopor pemersatu dan perdamaian umat. Mari kita mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Kita tetap nyatakan ketegasan kita berpihak dan membela nilai kebenaran, namun tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan upaya mempersatukan kembali umat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan. Semoga Allah mengampuni kelalaian kita, menguatkan persaudaraan kita, dan selalu membimbing negeri kita agar menjadi negeri yang diberkahi. Aamiin

Wassalaamu’alaikum, wr. wb.

Download : SIKAP FSLDK INDONESIA – PEMBAKARAN BENDERA TAUHID DI GARUT

Jakarta, 24 Oktober 2018
Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia
Fahrudin Alwi, S. Hum

Bangun Negeri, Dengan Jiwa Santri

Bangun Negeri, Dengan Jiwa Santri

Sejarah telah mencatat peran besar pesantren dan santri dalam kemerdekaan Indonesia. Membuat santri tidak bisa dilepaskan sebagai bagian penting dalam upaya berkelanjutan membangun Indonesia, hingga hari ini.

Santri adalah kita. Siapapun bisa jadi santri. Sebagaimana Guru kita Gus Mus pernah mengatakan, bahwa “santri bukanlah mereka yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, adalah santri”.

Santri adalah kita, yang selalu diajarkan agar memiliki jiwa santri, yaitu jiwa yang memiliki semangat belajar tanpa lelah, jiwa yang dekat dengan Tuhannya.

Santri adalah kita, yang selalu berusaha meneladani semangat kebangsaan dari para tokoh bangsa, semangat rela berkorban untuk membangun negeri, dan semangat menjaga perdamaian untuk keutuhan bangsa dan negara kita tercinta.

Selamat Hari Santri Nasional 2018

Bersama santri, mari kita jaga perdamaian. Mari bangun negeri, dengan jiwa santri!

#HariSantriNasional
#FSLDKIndonesia
#KolaboratorKebaikan

——————–
Web: www.fsldk.id
Fanspage: FSLDK Indonesia
Instagram: @fsldkindonesia
Twitter: @fsldkindonesia
Line@: @yok1532s
Youtube: FSLDK Indonesia
Google+: FSLDK Indonesia

LDK Se Bengkulu Serukan Persatuan Umat

Bengkulu – Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK BENGKULU) bersama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK) se Bengkulu serukan persatuan umat melalui rangkaian acara Gerakan Shubuh Berjamah Nasional (GSJN).

Sabtu – Ahad, 15 – 16 September 2018 dilaksanakan rangkaian acara GSJN di Universitas Bengkulu. Rangkaian acara tersebut diantaranya pembukaan secara resmi, tabligh akbar, nonton bareng film islami, qiyamul lail, Sholat Shubuh Berjamaah, kuliah subuh, dzikir bersama dan dilanjutkan dengan senam nusantara.

Pembukaan acara GSJN ini di hadiri oleh Pembina UKM Kerohanian KBM UNIB, Perwakilan Rektor l, FSLDK Bengkulu, dan mahasiswa dari beberapa Universitas di Bengkulu. Kemudian dibuka secara resmi oleh perwakilan rektor Universitas Bengkulu yaitu bapak Dr. Drs. Tamrin, MKM dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh bapak Drs. Choirul Muslim, Su, Ph.D. serta berbagai kegiatan lainnya.

Pada sambutannya bapak Dr. Drs. Tamrin, MKM sebagai perwakilan rektor menyampaikan bahwa, sudah sepatutnya mahasiswa itu untuk menjadi pelopor persatuan. Mengajak kepada hal-hal yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Terkhusus ini adalah mahasiswa muslim. Harus memberikan hal-hal positif dalam berbagai kegiatannya.

“Mahasiswa muslim itu harus menjadi orang yang bermanfaat. Tidak melakukan hal-hal yang kurang ada manfaatnya. Menjadikan kegiatan-kegiatannya selalu bernilai positif,” jelas Dr. Drs. Tamrin, MKM dalam sambutannya.

Dan bapak Drs. Choirul Muslim, Su, Ph.D. juga menambahkan bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual jangan mudah terpengaruh serta terprovokasi oleh berbagai hal. Diantaranya dengan banyakny hoax yang tersebar. Harus menelusuri fakta jangan menyebarkan keburukan.

“Mahasiswa itu kaum intelektual, jangan menjadi pihak yang menelan mentah-mentah segala informasi sehingga menimbulkan kegaduhan. Harus ada penelusuran apakah itu benar-benar fakta atau bukan” ungkap bapak Drs. Choirul Muslim, Su, Ph.D.

GSJN dilaksanakan serentak se Indonesia oleh Puskomda setiap daerah bersama para kader LDK dan mengajak seluruh eleman masyarakat untuk ikut serta.

Dokumentasi

Sumber :  http://www.fsldkbengkulu.org/2018/09/ldk-se-bengkulu-serukan-persatuan-umat.html