Pernyataan Sikap dan Klarifikasi atas Hasil Penelitian SETARA Institute

Pernyataan Sikap dan Klarifikasi
Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia
atas Hasil Penelitian SETARA Institute Tentang “Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN.”

FSLDK Indonesia merupakan sebuah forum yang menghimpun dan mengkoordinasikan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di hampir seluruh kampus se-Indonesia.1 Sebagai bagian dari elemen bangsa, FSLDK Indonesia terus berkomitmen mengajak anak-anak muda Indonesia untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila, merawat kebhinekaan, dan menjaga persatuan bangsa melalui serangkaian program yang telah dilakukan. Saat ini, LDK Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (Salam UI) diamanahkan sebagai Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas).

Berkaitan dengan isu radikalisme yang berpotensi mengancam sendi kehidupan masyarakat Indonesia yang bhineka, FSLDK Indonesia juga memiliki sikap yang jelas, yaitu siap berjuang bersama elemen bangsa lain dari beragam latar belakang untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Serangkaian agenda kebangsaan telah dilakukan oleh FSLDK Indonesia, baik yang diselenggarakan di tingkat pusat maupun oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di berbagai kampus. Kegiatan tersebut di antaranya adalah Sekolah Kebangsaan yang mengundang berbagai elemen seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kepolisian RI, Menristekdikti, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), bertujuan memperkuat semangat nasionalisme bagi anak-anak muda.

Kami mencermati sudah banyak juga pihak yang memberikan perhatian terhadap isu radikalisme, salah satunya adalah SETARA Institute. Pada 31 Mei 2019, bertempat di Hotel Ibis, Thamrin, Jakarta Pusat, SETARA Institute mengeluarkan sebuah rilis hasil penelitian yang berjudul “Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN.” Mengacu pada dokumen Ringkasan Eksekutif hasil penelitian yang telah dirilis oleh SETARA Institute, terdapat keterangan bahwa penelitian ini dilaksanakan di beberapa kampus sebagai area riset, yaitu Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Teknologi Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga.

Berdasarkan hasil telaah kami atas dokumen SETARA Institute tersebut, khususnya pada bagian yang menyinggung Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di temuan kunci kedua, kami menilai perlu untuk merespon, menggunakan hak kami menyampaikan klarifikasi dan menyuguhkan data pembanding atas temuan tersebut. Sebab, menurut kami, temuan tersebut sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap Lembaga Dakwah Kampus (LDK) atas keadaan/fakta yang sebenarnya. Apalagi, setelah kami melakukan pengecekan terhadap kampus-kampus yang menjadi area riset penelitian ini, tidak kami temukan adanya wawancara atau teknik pengumpulan data lainnya yang melibatkan Pengurus Inti LDK periode tahun ini di semua kampus yang menjadi area riset oleh SETARA Institute.

Temuan kunci kedua yang dimaksud dalam dokumen Ringkasan Eksekutif SETARA Institute tersebut terdapat pada bagian “Beberapa Temuan Kunci”, tertulis pernyataan sebagai berikut.

“Kedua, corak kegiatan keislaman di sebagian besar kampus sebenarnya monolitik, cenderung homogen, belum mengakomodir kegiatan kelompok-kelompok lain sesama Islam. Hal itu terlihat dari dominasi kegiatan keislaman tertentu yang diakomodir oleh lembaga struktural kemahasiswaan seperti Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Lembaga Dakwah Fakultas (LDK), dan UKM Kerohanian Islam (dengan aneka nomenklatur organisasi), yang sebenarnya hanya mengakomodasi kegiatan keislaman kelompok-kelompok Tarbiyah dan Tahririyah (yang belakangan simpul gerakannya dikuasai oleh gerakan Tarbiyah). Hampir semua organisasi dan kegiatan keislaman di seluruh kampus area riset memiliki kecenderungan yang sama”.

Berdasarkan analisis data yang kami miliki sebagai Puskomnas FSLDK Indonesia terhadap LDK di kampus-kampus area riset SETARA Institute, dan data LDK di kampus-kampus lainnya, kami bermaksud memberikan beberapa poin klarifikasi dan menyuguhkan data pembanding atas temuan SETARA Institute di poin temuan kunci kedua yang menyinggung LDK tersebut.

Unduh Dokumen: Pernyataan Sikap & Klarifikasi

Pemilu 2019: Indonesia Optimis

Nusantara, 17 April 2019 s/d 22 Mei 2019 menjadi perjalanan penting bagi atmosfer kebangsaan kita. Untuk bersama-sama memahami bahwa sebaik apapun strategi yang digunakan, sebesar apapun hasil real di penghitungan suara akhir, dan siapapun yang terpilih nanti, semoga kita masih punya impian yang tetap sama: menjayakan negeri ini, memperjuangkan kaum kecil, dan menjunjung setinggi keadilan.

Saat ini, ada perbedaan beberapa hasil quick count pemilu 2019. Sebagian memenangkan 02 dan sebagian lain memenangkan 01. Juga hasil quick count Pileg dari Partai nomor urut 01 hingga 20 yang beragam. Adapun sebagian besar quick count menggunakan data sampel sekitar 2.000-4.000 TPS dari 800.000 TPS yang ada. Dan KPU baru akan mengumumkan secara resmi pada 22 Mei 2019.

Mewakili FSLDK Nasional Indonesia (dengan 37 wilayah, 505 LDK dan 25.215 anggota se-Indonesia), kami mengajak, mari terus menjadi #KawanPemilu. Mari menciptakan suasana yang kondusif dengan saling menghargai pilihan masing-masing. Dan terus mengawal berjalannya Pemilu (baik Pilpres maupun Pileg) untuk tetap berada pada asas luberjurdil-nya hingga 22 Mei 2019.

Mengajak untuk kembali menonton campaign video KawalPemilu(org) dan upload data dari TPS kamu berupa:
• C1 Plano Pilpres 2 halaman
• C1 Plano DPR RI 18 halaman
ke link upload.kawalpemilu.org/c/fsldk (link ada di bio @fsldkindonesia)

Terakhir, mari tingkatkan munajat kita. Ikhtiar dan doa, semoga Tuhan memberkahi negeri ini, melimpahkan beribu keberkahan, dan cinta. Aamiin.

Kebumen, 17 April 2019
Fahrudin Alwi
Ketua Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) FSLDK Indonesia.

Kawan Pemilu 2019

Mari berkawan dengan pemilu. Bersahabat dengan pemilu untuk mewujudkan pemilu yang bahagia untuk semua.

Hakikatnya pemilu itu bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, luber jurdil. Makanya kasihan kalau sampai ada pihak-pihak yang berusaha mengganggu dia bahkan memaksa dia mengubah sifat aslinya. Hmm.

Layaknya kawan, satu sama lain harus saling jaga. Kita akan nemenin pemilu sehingga dia tetap seperti sifat aslinya, Insya Allah akan bisa menjadi pemilu yang membahagiakan untuk semua. Kalau pemilunya baik, maka bangsa Insya Allah juga akan baik. Karena semua yang dimulai dari hal baik ujungnya akan baik pula. Tapi ketika sedari awalnya sudah ga baik maka ke depannya bisa ga baik juga.

Ya, inilah gerakan kita! Ayo temenin pemilu, ayo jadi kawan pemilu!

Salam Satu Indonesia!

Bagi siapa pun di antara kita yang pernah atau sedang Allah izinkan untuk singgah di luar negeri, pasti kita akan merasakan kerinduan pada Indonesia. Saya pernah mengalaminya, saat 2016 Allah izinkan berkunjung ke negara Turki, dalam sebuah konferensi. Memang hanya lima hari saja, namun sudah rindu dengan banyak hal tentang Indonesia. Rindu melihat kemacetan, rindu makan-makanan khas Indonesia dan banyak hal lainnya. Hal lain di negeri orang, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih Indonesia Raya, insyaAllah kita pun pasti akan terenyuh.

Sensasi lebih mendalam adalah saat kita berjumpa sesama orang Indonesia di luar negeri. Kita pasti merasakan hal yang berbeda, rasanya sesuatu sekali. Terserah, bahkan tidak sempat melintas dalam pikiran, apa agamanya, sukunya, pilihan politiknya, pokoknya sesuatu. Sontak langsung ingin berkenalan, menyapa, menanyakan, kamu di Indonesia tinggal di mana? Kampusnya dulu di mana? Ya, semua itu bagi saya adalah sebuah kejujuran hati. Nurani yang membimbing kita, menunjukkan bahwa dengan siapa pun, pasti ada benang merah yang menyatukan, mendekatkan. Bahwa juga, akan selalu ada cinta untuk Indonesia.

Namun, tidak harus ke luar negeri dulu sebenarnya, untuk merasakan momen yang demikian. Kita pun bisa mendapatkannya di tanah air sendiri pastinya. Misalnya saja, saat mendukung Indonesia di ASIAN GAMES 2018 kemarin, kita dukung Minions dan Jojo di cabang bulutangkis sampai dapat emas. Kita dukung Timnas Sepakbola sampai lolos perempat final dan cabang lainnya. Bukankah pada saat itu kita telah berhasil saling memahami perbedaan? Bukankah juga pada saat itu kita mampu bersatu dengan satu narasi? Mendukung Indonesia dengan sepenuh hati! Bahkan, kita saat itu sampai bisa melihat momen langka berpelukannya Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo saat pengalungan medali kepada atlet silat Hanifan yang mendapatkan emas.

Tahun ini, 2019, adalah tahun yang katanya akan ‘panas’, sebab ada pesta demokrasi yang hendak digelar. Belum lagi, kerukunan antarumat beragama pun akhir-akhir ini terus diuji. Islam dan nasionalisme pun coba terus dipertentangkan. Sampai kapan kita akan terus masuk dalam ‘kubangan’ yang justru membuat kita semakin jadi bangsa yang kerdil?

Sebagai warga Indonesia, khususnya Muslim, semangat mencintai Indonesia dan mempersatukan harus terus dijunjung. Bersilaturahmi, sinergi dalam kebaikan, dengan siapa pun, dari agama apa pun, suku apa pun harus kita tingkatkan. Dengan tetap bertoleransi pada setiap perbedaan yang masuk dalam ranah keyakinan. Serta yang paling utama, selalu menunjukkan akhlak yang baik menjadi sesuatu yang harus kita dahulukan di atas apa pun. Maka, insyaAllah kehadiran kita akan membawa rahmah bagi siapa pun, menjadi kehadiran yang selalu dinantikan orang lain. Ingat sekali lagi, kunci utamanya selalu menunjukkan akhlak terbaik.

Nabi kita, Muhammad SAW pernah berpesan.

Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi kotor.” (HR. Tirmidzi).

Selamat berikhtiar menjadi Muslim yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha menjadi pribadi lebih baik. Selamat selalu belajar mencintai Indonesia, menjalin silaturahmi dan kolaborasi aksi dengan semua elemen anak bangsa, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Karena negeri ini terlalu sayang dan sulit rasanya, jika dibangun sendiri-sendiri, tanpa adanya sinergi kebaikan di dalamnya. Salam Satu Indonesia!

 

oleh Rangga Kusumo
Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia

Indonesia Berduka – Kecelakaan Pesawat

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Senin (29/10), pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang telah mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut jatuh di perairan dekat Karawang, Jawa Barat. Pesawat ini diketahui membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 balita (sumber kompas.com).

Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia mengucapkan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas insiden tersebut.

Kami juga mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk senantiasa mendoakan saudara-suadara kita yang menjadi korban. Serta mendoakan keluarga korban untuk senantiasa diberikan kesabaran dan kekuataan untuk menghadapi musibah ini.

Musibah beruntun melanda. Semoga Allah ampuni dosa kita dan bimbing bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik kedepan. Aamiin

#IndonesiaBerduka
#FSLDKIndonesia
#KolaboratorKebaikan