RO MODE ON : Selamat Hari Lahir Pancasila

Saat itu, 1 Juni 1945 untuk pertama kalinya diperkenalkan dalam sidang BPUPKI gagasan mengenai Pancasila oleh Bung Karno. Menandai berdirinya fondasi rumah besar bernama Republik Indonesia.

Lima butir mutiara yang Indah dalam Pancasila sejatinya lahir dari sebuah sikap kebijaksanaan yang amat agung dari para pendiri bangsa. Sebuah dasar negara yang menjadi penguat bagi keutuhan berbangsa dan bernegara.

Sudah saatnya, bukan hanya menghafal dan mengucapkan setiap butir sila dalam Pancasila sebagai sebuah rutinitas peringatan belaka, namun lebih dari itu. Setiap sila dihayati mendalam dengan hati yang bersih, dan diamalkan dalam setiap perbuatan.

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2019. Selamat mengokohkan dan merawat persatuan Indonesia.

“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah”, (Ir. Soekarno)

RO MODE ON: Senja di Sudut Kota

Perlahan ia menginjak rem untuk menghentikan laju kendaraannya. Terlihat traffic lights menyala merah menganga, seperti warna kaki-kaki langit diufuk barat yang tepat berada 30 derajat dihadapannya. Jalan raya sudut kota itu dengan hiruk pikuk kendaraan yang padat merayap laksana ruang tunggu pasien rumah sakit yang usai ia kunjungi. Hanya saja membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk melanjutkan lagi perjalanan menuju rumahnya. Dalam kesempitan badan jalan, begitu banyak manusia yang ingin mempercepat laju kendaraan mereka. Bunyi klakson kendaraan yang tak kunjung henti karena kendaraan yang kian meretas lintasan kendaraan lain dan antrian kendaraan roda empat yang ingin memasuki pusat perbelanjaan hingga ke badan jalan.

Sementara itu, anak-anak dibawah umur dengan wajah haus dan lapar masih menyapu-nyapu debu kaca mobil dengan kemoceng, ada pula yang bermain gitar sambil membawa bekas bungkus permen berdiri tepat di depan kaca supir, juga sebagian menggunakan tongkat sebagai penumpu badan sambil berjualan kerupuk jangek dan menawarkan kepada setiap kendaraan yang berhenti. Ada pula pengendara tidak nyaman dan tidak terima, dengan sengaja mengusir mereka dengan wajah bengis dan kata-kasar.

Pria ini melamun dan gumam dalam hatinya membuncah seakan-akan jutaan kosakata berlomba untuk keluar dari mulutnya, “Sedekah kita sampai mana?”. Sementara itu tepat di sisi kanan badan jalan segerombolan orang sedang membagi-bagi takjil kepada kendaraan yang tengah berhenti. Mereka mahasiswa dari berbagai komunitas di kampusnya. Walaupun hanya segelas es buah yang mereka bagikan, setidaknya bisa menjadi teman lafadz doa buka puasa yang tak lama lagi akan tiba. Pemberian mereka disambut dengan penuh suka cita.

Sebentar ia melihat jam tangan dilengan kirinya, pukul 18.15 WIB. Empat menit lagi menuju waktu berbuka, sementara ia masih berada di tengah kerumunan kendaraan yang diselimuti asap dan polusi. Kalimat-kalimat dzikir dan sholawat kepada baginda Nabi tak surut dari bibirnya. Ia mengingat-ingat, Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Perasaan sedih ingin berpisah dengannya mulai melilit sanubari. Namun semangat beribadah harus ditingkatkan lagi karena belum tentu raga ini bersua dengannya dikemudian hari.

Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Ia memulai laju kendarannya.

(bersambung)….

Oleh: Dedy Purnomo Meow
Ketua Puskomda FSLDK Riau

Pancasila; Sebuah Pakta Toleransi Tertinggi

Kadang-kadang dalam lingkungan petugas negara Pancasila itu tidak diamalkan. Camkanlah, negara Republik Indonesia belum lagi berdasarkan Pancasila, apabila Pemerintah dan masyarakat belum sanggup mentaati Undang-Undang Dasar 1945, terutama belum dapat melaksanakan Pasal 27 ayat 2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34.” (Pidato Bung Hatta pada 1 Juni 1977 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta).

Begitulah Bung Hatta menjawab persoalan bangsa ini, sembari mengingatkan demikian besarnya peran pemerintah, masyarakat dan semua elemen bangsa ini dalam upaya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai philosofische grondslag. Yang sudah menjadi gentlement agreement sebagai rancangan preambule konstitusi atau mukadimah Undang-Undang Dasar yang merupakan hasil dari diskusi panjang para pendiri bangsa ini terdahulu.

Kita patut bangga, karena negara yang demikian besar dan beragam ini masih eksis dalam satu kesatuan yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila memiliki peran yang paling mendasar dalam proses permulaan bangsa ini, dan kita berharap hal itu juga akan berlaku dan terus berlanjut pada masa-masa yang akan datang, terutama masa-masa sulit saat ini.

Sebagai indikator pembanding, mari kita lihat Referendum Quebec 1995, “yang merupakan referendum kedua untuk memutuskan nasib Quebec sebagai provinsi Kanada atau memisahkan diri untuk menjadi sebuah negara merdeka”. Referendum ini muncul hanya karena perbedaan dua budaya saja, yaitu Inggris dan Prancis. Hal yang sama juga terjadi pada India dan Pakistan di tahun 1947 silam, perbedaan agama yang akhirnya membuat negara bekas jajahan Inggris ini akhirnya terbagi.

Maka patut kita syukuri bersama, negara sebesar Indonesia ini yang notabenenya adalah negara kepulauan dengan kurang lebih 70.000 pulau dari sabang sampai merauke. Artinya, dengan laut sebagai batasan teritorial tidak menjadikan Indonesia tercerai berai. Begitu juga dengan keragaman bahasa yang ada, kita punya ratusan bahasa daerah: Jawa, minang, bugis, mandailing, melayu dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan keragaman agama dan kepercayaan yang mendiami bangsa ini. Sebenarnya ada banyak indikator yang mampu kita kemukakan untuk membuat bangsa ini tercerai berai. Tapi kita tidak melakukan itu, karena kita sudah “Tsiqoh” dengan Pancasila sebagai Pakta toleransi tertinggi untuk semua perbedaan yang ada dan sudah ada bahkan sebelum Tan Malaka mengenalkan istilah “Republik” untuk bangsa ini.

Refleksi nilai-nilai Pancasila

Pada dasarnya dalam sejarah yang cukup panjang, Pancasila sudah mampu berinteraksi dengan baik terhadap setiap elemen yang hidup di dalamnya. Fakta bahwa Pancasila dibangun atas dasar-dasar yang berasal dari nilai-nilai religious adalah benar. Jika kita uji satu persatu nilai Pancasila maka dari sila pertama sampai sila kelima adalah buah pikir yang berasal dari nilai-nilai keagamaan.

Pertama, Sila Pertama. “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila pertama menjelaskan bahwasanya ada semacam keharusan yang telah disepakati bersama agar setiap orang yang ada di Indonesia adalah wajib mempunyai keyakinan kepada tuhan. Karena bagaimanapun juga kultur budaya dan adat bangsa kita telah mewariskan semacam DNA kepercayaan kepada kekuatan yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri.

Kedua, Sila Kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kecenderungan hari ini orang-orang menggunakan sila ini sebagai legitimasi atas pemuasan nafsu-nafsu kemanusiaannya. Sebut saja upaya pelegalan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang menjadikan sila kedua ini menjadi senjata pamungkasnya. Tanpa pernah disadari bahwasanya pola penafsiran Pancasila yang sebenarnya. Pancasila dibuat berurutan dari satu sampai lima adalah hierarki. Dalam artian, sila pertama menjadi titik tafsir untuk sila-sila dibawahnya. Sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima harus sesuai dengan norma dasar pada sila pertama. Maka kemanusiaan disini adalah kemanusian yang telah bersandar pada nilai ketuhanan. Lalu kemudian istilah beradab, Pancasila adalah produk yang lahir dari nilai keberagaman bangsa. Maka ia adalah adab yang dinormakan. Dan LGBT bukan adab bangsa ini.

Ketiga, Sila Ketiga “Persatuan Indonesia”. Adanya Pengakuan bahwasanya keberagaman yang sudah ada ini saling membutuhkan satu sama lainnya dan mesti berjalan dengan membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”. Sila keempat ini menunjukan bahwasanya ada kebebasan yang diberikan kepada warganegara ini untuk menyuarakan aspirasinya. Ada penghargaan terhadap suaranya. Kelima, “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Menjaga eksistensi Pancasila

Politisasi Pancasila menjadi salah satu momok yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Mengutip pendapat Rocky Gerung dalam diskusi Reboan di Indonesia Democracy Monitor (Indemo), di Jl Lautze 62 C, Jakarta Pusat, Rabu (7/6) memaparkan Pancasila sebagai sekedar “tools of politics” dan lebih parah lagi sebagai pembatas antara “kami yang pluralis” dan “mereka yang fundamentalis”. Karena semua dianggap sudah ada jawabannya melalui Pancasila, tandas Rocky, maka siapapun penguasa memperlakukan Pancasila untuk “turun tangan” mengatasi segala macam jenis penyakit. Akibatnya bangsa ini kehilangan kemampuan dalam memproduksi gagasan.

Hari ini Pancasila sengaja dibenturkan dengan islam. Pancasila dijadikan indikator untuk mengeluarkan seseorang dari nasionalismenya. Pancasila coba ditafsirkan sesuai dengan citarasa penguasa. Jika kita lihat secara komprehensif dan historis, Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai ketuhanan. Begitupun dengan nilai-nilai keislaman.

Dalam hemat penulis, Pancasila diposisikan oleh kekuasaan hari ini sebagai pembeda antara yang nasionalis dan islamis. Padahal islam sudah lebih dulu mengajarkan konsep nasionalis. Hari ini orang-orang yang berbicara perihal agama dibungkam dengan istilah tidak nasionalis. Hal yang paling sederhana saja adalah ketika perdebatan tagar #2019GantiPresiden. Yang notabenenya adalah tagar yang secara tidak lansung mendukung pasangan cawapres pilihan ulama. Lalu kemudian dimunculkan tagar #2019TetapPancasila. Seakan-akan mereka yang dengan tagar #2019GantiPresiden adalah mereka yang tidak pancasilais, tidak nasionalis.

Hari ini Pancasila digunakan sebagai legitimasi untuk membenarkan kecurigaan penguasa terhadap apa yang ada dalam setiap diri orang besar dalam gerakan-gerakan yang muncul. Setiap manusia lain yang punya insting politik seakan-akan sah dan legal menjadi musuh politiknya yang dengan Pancasila bisa ia bungkam dan hancurkan dengan mudah.

Maka dari itu pada momen kelahiran Pancasila ini, mari sama-sama kita maknai kembali apa yang sudah di ucapkan Bung Hatta ”Negara Republik Indonesia belum lagi berdasarkan Pancasila, apabila Pemerintah dan masyarakat belum sanggup mentaati Undang-Undang Dasar 1945, terutama belum dapat melaksanakan Pasal 27 ayat 2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34” bahwasanya pengemban amanah terbesar dalam menjaga Pancasila sebagai philosofische grondslag pada urutan pertama ada pada pundak pemerintah.

“Pancasila itu letaknya disini, bukan disini” percuma saja dan sungguh kesia-siaan yang sangat besar sekali dengan adanya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Percuma saja adanya sosialisasi Pancasila ke daerah-daerah, dan sangat sia-sia juga keberadaan pemuda Pancasila di setiap daerahnya ketika mereka yang membuat kebijakan (pemerintah), yang membentuk, maupun mereka yang dibentuk dalam upaya mempertahankan eksistensi Pancasila tersebut tidak sedikitpun menunjukkan prilaku yang ”berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkesatuan indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

“bagaimana mungkin kita bisa menyembuhkan penyakit yang sebenarnya ada di atas sana dengan mengirim dokter untuk mengobati orang-orang yang tidak punya penyakit di bawah sini”

(Hardian Feril, Ketua Komisi B FSLDK Sumatera Barat)

RO MODE ON: Optimalisasi 10 Malam Terakhir Ramadan

Tidak lama lagi Ramadan tahun ini akan pergi. Itu artinya peluang untuk mendapatkan banyak pahala akan berakhir pula. Alangkah meruginya kita jika telah diberikan kesempatan namun tidak dimaksimalkan bahkan diabaikan.

Tidak ada jaminan, apakah Ramadan tahun depan kita masih diberikan kesempatan lagi atau tidak. Oleh sebab itu, mari optimalkan tiga amalan yang biasa Nabi SAW dan para sahabat lakukan di 10 malam terakhir, yaitu:

  1. Tilawah
  2. Sedekah
  3. Shalat
    Ketiga amalan di atas, sungguh sangat mudah dibayangkan namun berat dilaksanakan tergantung tingkat kualitas iman seseorang.

Sebagai motivasi,

  • Imam Syafi’i, menghatamkan Al-Quran 60 kali selama Ramadan. (Woww.. sadis gaess..!)
  • Orang yang bersedekah, ibarat menanam sebuah pohon, dari pohon itu tumbuh 7 tangkai, dan setiap tangkai tumbuh 100 buah. (Super bingit nhi Gaess)
  • Rasulullah Saw., menjelang 10 Malam terakhir Ramadan beliau mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (Ini artinya penting Gaess)

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap aktivitas kita yaa gaess..

Ene Madi Jaya
(Ketua Puskomda FSLDK Maluku Utara)

Selamat hari Kartini

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” – R.A. Kartini

Setiap tahunnya, 21 April selalu menjadi momentum bagi rakyat Indonesia untuk memperingati hari Kartini, sosok yang menjadi representasi perempuan tangguh Indonesia. Beliau adalah muslimah yang taat, memiliki semangat belajar yang tinggi, dan bercita-cita mencerdaskan anak bangsa. Dalam surat-surat yang ditulis untuk temannya di Belanda, ia menyampaikan ingin menerjemahkan naskah kitab-kitab Islam ke bahasa Indonesia agar muslim Indonesia dapat memahaminya. Ia juga terinspirasi dengan salah satu ayat di Al qur’an surat Al Baqarah ayat 257 yaitu ‘minadzdzulumaati ilannuur’ yang artinya “Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”.

Memperingati hari Kartini, artinya mengingat kembali cita-cita luhur para pahlawan perempuan Indonesia sehingga menjadi momentum refleksi bagi kita semua para muslimah untuk mewujudkan harapan mereka. Memperingati hari Kartini, artinya menguatkan ‘azzam kita bahwa sebagai seorang muslimah tidak hanya harus cerdas tetapi harus pula mencerdaskan, sebab kita adalah madrasatil ulaa kelak bagi anak-anak kita. Memperingati hari Kartini, artinya menyadari bahwa pemikiran akan lebih tercerahkan dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan nilai-nilai keislaman.

Selamat hari Kartini!
Selamat menjadi versi terbaik diri wahai muslimah masa kini!