Membangun Generasi Penuh Berkah

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08
Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.
Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya
Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.
WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40
Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 
Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?
Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.
Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.
Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.
Komisi C FSLDK Priangan Timur

Mencinta Indonesia

Film-Nasionalisme
Sumber Gambar : blog.bukalapak.com

Oleh: Putra Abdi Ramadan
(Universitas Negeri Padang)

Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan. Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (AI-Baqarah: 286).”(Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta).

Melihat wajah negeri Indonesia pada saat sekarang ini, mungkin akan membuat kita merasa kurang percaya diri. Kita tahu negeri kita saat ini sedang mengalami krisis dan masalah di segala bidang di dalam kehidupannya. Sesuai dengan kutipan pernyataan Anis Matta di atas tidak ada manusia yang sempurna namun kita diperintahkan untuk menjadi sempurna dan Allah telah berfirman, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Begitu juga dengan sebuah negeri tidak ada negeri yang sempurna, namun kita diharapkan bisa memperbaiki negeri ini, karena Allah juga hendak melihat sesiapa hambaNya yang benar-benar beriman dan bertakwa kepadaNya dengan diberikannya ujian berupa permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Tentu itu sebagai ladang amal untuk kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kehidupan suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlak masyarakatnya.

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan bagaimana keadaan bangsa dan negaranya. Dari diciptakannya manusia pertama Nabi Adam Alaihisallam hingga pada saat sekarang ini kita bisa melihat dan mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai hancur dan bangkitnya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Salah satu contohnya kisah dari perbuatan keji kaum Nabi Luth Alaihisalam yang terdapat didalam al-Quran. Dikisahkan bahwa Kota Sodom yaitu kota kaum Nabi Luth Alaihisalam tinggal, disana masyarakatnya memiliki kebiasaan buruk yaitu homoseksual dan lesbian atau istilah sekarang lgbt, ketika sudah diingatkan dan didakwahi oleh Nabi Luth Alaihisalam agar tidak melakukan perbuatan tercela tersebut, namun kaumnya tidak menghiraukannya, maka Allah Subhana wa Taa’la mengazab mereka dengan suara yang keras, dibolak-balikkan negeri mereka, dan hujan batu membinasakan mereka semuanya.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kota Sodom karena kedzaliman penduduknya, agar menjadi i’tibar bagi orang-orang yang mau berfikir dan menambah keimanan mereka. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa tujuan Allah Subhana wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia yang sudah rusak dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk itu jika kita memang mencintai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama memperbaiki bangsa kita untuk masa depan yang indah, dalam setiap kesempatan yang ada, di saat waktu masih tersisa, kita dedikasikan diri untuk selalu melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita masing-masing dahulu. Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita. Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam menginginkan perbaikan secara terus menerus.

Kita tidak bisa mengandalkan pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita. Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak untuk diri kita. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imraan:110). Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus memimpin dalam teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.

Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan hasil kerja. Apalagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo, banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak, bertindak, dan berbuat agar negeri yang kta cintai ini diberkahi dan dilindungi oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96).

 

Pernyataan Sikap Aksi Nasional FSLDK Indonesia

fsldk-logo
 
 

Pada hari Selasa (18/10), FSLDK Indonesia turun ke jalan untuk menyuarakan pendapat tentang kondisi di negeri ini sebagai aksi nyata dalam menjaga Indonesia. Menjaga Indonesia adalah semangat perjuangan yang sekaligus menjadi tema aksi yang digelar untuk mewakili suara masyarakat di berbagai kota di Indonesia.

Indonesia adalah perwujudan negara berperadaban luhur dengan ketinggian etika serta adab. Namun hari ini, negeri ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Seorang pejabat publik yang dibayar dengan uang rakyat tidak bersikap selayaknya seorang negarawan. Sikap, etika, dan adab yang baik seolah bukan lagi hal penting untuk dicontohkan, apalagi bagi pemimpin di ibu kota negara yang terkenal santun ini.

Apa yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, saat berkunjung ke Pulau Seribu pada 6 Oktober yang lalu menyisakan luka mendalam di hati umat Islam. Dengan membawa ayat Al-Qur’an, ia memancing amarah umat. Bahkan banyak pihak menilai, tindakannya yang tidak hati-hati tersebut telah memicu provokasi. Ulama sepakat bahwa tindakan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah melewati batas. Tindakannya dianggap telah menistakan agama Islam dengan menuduh Al-Qur’an Surat Al Maidah: 51 sebagai alat untuk membohongi dan membodohi masyarakat. Dimana secara implisit hal ini juga menuduh ulama/ustadz sebagai pembohong yang menggunakan ayat Al Qur’an sebagai alat.

Maka, FSLDK Indonesia, ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa :

1. FSLDK Indonesia mengecam keras tindakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, atas tindakannya menghina dan menistakan ayat Al-Qur’an sebagai alat untuk membohongi dan membodohi umat. Menjalankan tuntunan kitab suci adalah hak yang dijamin oleh negara, maka tidak pantas seorang warga negara apalagi seorang pejabat publik berpendapat yang mengintervensi keimanan umat yang berbeda keyakinan, apalagi menempatkannya sebagai alat untuk membohongi.

2. Mendesak aparat hukum untuk melanjutkan proses hukum secara tuntas, tegas, cepat, tepat, proporsional, dan profesional atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta KUHP 156a tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Serta menghimbau aparat hukum untuk menindak segala penistaan terhadap agama apapun.

3. Menghimbau kepada seluruh umat Islam, dari golongan manapun, untuk mendukung penuh sikap atau putusan yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi para alim ulama di Indonesia dan tetap menjaga keharmonisan kehidupan antarumat beragama, serta tidak mudah terpancing oleh perkataan atau sikap dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab.

4. Umat Islam adalah umat yang menjaga kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi beragama. Namun perlu diperhatikan bahwa umat Islam pun memiliki nilai dan prinsip dasar yang harus dihargai dan dihormati oleh pemeluk agama lainnya. Sebab toleransi bukanlah pekerjaan satu arah dari satu pihak, lebih-lebih jika sudah menyangkut akidah.

5. Menegaskan kembali bahwa :
a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan adab dengan jalan memberi teladan dan meneladani. Ing ngarso sung tuladha, yang di depan memberi teladan.
b. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengayomi, menghormati pendapat mayoritas, dan menjaga minoritas.
c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menolak provokasi, baik oleh kelompok atau perseorangan untuk memecah-belah persatuan Indonesia.
d. Perlu diingat kembali bahwa umat Islam memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa dan negara ini melalui keterlibatan begitu banyak ulama dan santri dalam menggalang usaha dan doa untuk melawan kolonialisme di Indonesia.

Dan perlawanan kami atas hinaan terhadap agama Islam ini bukanlah bentuk arogansi, melainkan suatu kewajiban yang memang semestinya kami lakukan atas dasar iman. Sebagaimana tidak ada seorang pemeluk agama apapun yang rela agamanya dinistakan dan dihinakan di muka umum. Hal ini kami pahami dari apa yang Islam ajarkan untuk menghargai dan tidak menistakan agama manapun. Kami akan terus menyuarakan ketidakadilan dan melawan segala bentuk upaya memecah belah bangsa dan negara Indonesia.

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia

fsldk-logo
 

Bismihirrahmanirrahim. Segala puji hanya untuk Allah ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Shalawat beriring salam untuk baginda Rasulullah SAW. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hari-hari ini tersiar kabar yang cukup mengusik telinga umat Islam. Tertanggal 5 Oktober 2016 ada sebuah video yang diunggah ke youtube dan menjadi viral dalam waktu singkat. Video itu adalah potongan dari pidato gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama, atau masyhur orang-orang mengenalnya dengan sebutan Ahok. Pidato itu disampaikan di depan warga Kepulauan Seribu. Dalam video tersebut bapak Ahok dengan jelas menyatakan “Bapak ibu ga bisa pilih saya. Dibohongin dengan surat Al Maidah: 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu”. Entah dengan maksud apa, yang jelas pernyataan ini sudah terlanjur diketahui banyak pihak.

Selama dua hari kami mencoba menunggu sambil mencari informasi yang valid. Apakah video ini asli atau tidak. Dengan maksud agar tidak mengambil sikap yang semakin memperkeruh suasana. Karena memang yang tersebar hanya potongan saja. Akhirnya video lengkap bisa kami dapatkan dan bagian potongan yang tersebar itu memang asli. Rekaman penuh juga hasil dokumentasi dari tim pemprov, dilengkapi dengan lambang kota Jakarta. Dalam pernyataannya Q.S. Al Maidah: 51 diucapkan seolah-olah dijadikan sebagai alat untuk membohongi publik. Begini bapak Ahok, Al Qur’an itu kitab suci kami umat Islam. Keasliannya terjamin, isinya pun terjaga. Maka ketika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa ada bagian dari Al Qur’an ini yang dijadikan sebagai alat membohongi maupun membodohi tentu hal ini begitu menyakiti kami sebagai umat Islam. Karena hal ini sudah menyentuh perihal keimanan kami. Dalam hemat kata kami menyimpulkan apa yang bapak ucapkan ini bagian dari tindakan yang melampaui batas. Yang apabila dikorelasikan dengan UU KUHP Pasal 156a hal ini bisa termasuk penodaan agama.

Sebagai umat muslim tentu kami marah dengan hal ini, bukankah bapak juga akan marah apabila agamanya dilecehkan? Namun, tanpa bermaksud menyinggung SARA, agama yang kami imani ini mengajarkan tentang sabar. Sabar itu tidak ada batasnya, petuah dari guru kami, namun bentuknya bisa dipilih. Maka inilah bentuk sabar kami pak Ahok, kami tidak rela agama kami dilecehkan, karena kami sadar saat kami dilarang melecehkan agama lain, berarti hal itu bisa berdampak pada cideranya hati. Inilah bentuk komitmen kami sebagai seorang muslim, sebagai seorang Indonesia. Kami akan menjaga persatuan bangsa dan negara. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasul kami Muhammad SAW, saat beliau sebagai pemimpin mampu mengayomi seluruh umat bergama di Madinah, mengatur hubungannya dalam Piagam Madinah yang lebih dulu ada sebagai konstitusi tertulis, mendahului Magna Carta kerajaan Inggris. Inilah Islam yang diajarkan kepada kami.

Selanjutnya kami sampaikan bahwa, posisi bapak sekarang adalah sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta. Pemimpin dari sebuah kota yang merepresentasikan Indonesia. Pemimpin adalah perwajahan dari mereka yang dipimpin. Tentu kita tidak ingin dinilai sebagai warga yang akhlaknya buruk, tindakannya sering melampaui batas, yang -boleh jadi- intoleran, hanya karena tindakan bapak yang di mata umum tidak mencerminkan sikap sebagai seorang pemimpin. Orang akan semakin sadar bahwa teko yang berisi teh hanya akan mengeluarkan teh. Teko yang berisi susu hanya akan berisi susu. Teko yang berisi comberan? Tidak mungkin mengeluarkan yang lain.

Terakhir kami meminta kepada bapak untuk meminta maaf secara terus terang kepada seluruh umat Islam khususnya dan umumnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas tindakan yang menciderai sebagian besar bangsa ini. Karena klarifikasi yang bapak sampaikan di media hari ini tidak akan menyelesaikan masalah. Kami tunggu keberanian bapak. Salam.

Surakarta Hadiningrat, 7 Oktober 2016
Atas nama FSLDK Indonesia

Hanafi Ridwan Dwiatmojo