Harmoni: Kami Tak Sama!

Sebagai seorang muslim, harmoni dalam perbedaan bukan hal baru. Kita dapat belajar dri sejarah Jarusalem.

Jerusalem merupakan tempat yang diberkahi, kota suci bagi tiga agama semit: Islam, Yahudi, Kristen. Ia juga tempat sejarah Nabi, mulai Ibrahim a.s, Ishaq a.s, Yaqub a.s, Sulaiman a.s, Musa a.s, Isa a.s, juga Muhammad saw saat ber-Isra.

Pada 637 M, pasukan Islam di bawah komando ‘Amr ibn al-Ash dan Syarhabil ibn Hasanah mendekati wilayah Jerusalem setelah melewati Levantina, Hayfa, Ajnadin, dan berbagai kota bandar lain. Di balik benteng Jerusalem, Patriach (Uskup Agung) Sophronius bersama Artavon dan petinggi lainnya berdiskusi terkait masa depan Jerusalem hingga akhirnya diputuskan untuk menyerahkan Jerusalem dengan damai ke Kekhalifahan Islam. (Musthafa Murad, ‘Umar ibn al-Khattab, hlm 107).

Pasca penyerahan Jerusalem, ‘Umar ibn al-Khattab berangkat dari Madinah dengan hanya berkendara keledai dan ditemani Aslam (pengawal setia khalifah). Setibanya di Jerusalem, Khalifah disambut oleh Uskup Agung Sophronius yang bersamaan merasa takjub dengan sosok pemimpin muslim yang berkuasa di berbagai belahan bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya. Khalifah ‘Umar diajak mengelilingi Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (didirikan oleh Saint Helena -Helena Augusta- 250-330 M). Uskup Agung Sophronius mempersilahkan Khalifah ‘Umar untuk shalat di gereja tersebut namun Sang Khalifah menolaknya karena khawatir jika seandainya ia shalat di gereja tersebut, kelak umat Islam akan merubah gereja tersebut menjadi masjid dengan dalih Sang Khalifah pernah shalat di tempat itu sehingga mendzalimi hak umat Kristiani.

Selain terkait shalat, ‘Umar juga mencontohkan toleransi beragama dengan sebuah perjanjian. Berikut potongan perjanjian tersebut, “Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, ‘Umar amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Bahwa ia memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta benda, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka dan tidak dipaksa beralih memeluk Islam….” (Tarikh at-Thabari).

Puskomnas

 

📷 Silaturahmi Kebangsaan FSLDK Indonesia bersama Perhimpunan Pemuda Hindu (Perpadah) Indonesia). Diwakili oleh Puskomnas (Pusat Komunikasi Nasional) FSLDK Indonesia dan DPN (Dewan Pengurus Nasional) Perpadah Indonesia.

Kami yakini bahwa kami berbeda dalam tataran teologi, keyakinan, cara ibadah, dan berbagai perbedaan lain. Tapi kami punya semangat dan spirit yang sama tentang kebangsaan, kedamaian, menjaga ketenteraman, dan sampai pada satu titik bahwa kita harus menjadi pemuda pelopor kebaikan di negeri ini. Tidak harus sama untuk menjadi indah. Justru karna perbedaan, kedewasaan akhirnya belajar untuk sebuah harmoni.

Harmoni dalam perbedaan!

FSLDK Lampung bersama MUI Lampung Siap Menjadi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Kamis, (06/09/2018) pukul 14.00 FSLDK Lampung yang dikoordinatori oleh Biro Khusus Jaringan dan Kemitraan melakukan kunjungan ke MUI Lampung dalam rangka langkah kolaboratif FSLDK Lampung beserta MUI untuk menangkal radikalisme dan terorisme di tataran kampus. Adapun dalam kunjungan tersebut membahas diskusi berupa peran LDK dan kolaborasinya dengan MUI untuk meningkatkan peran mahasiswa muslim dalam merawat NKRI. “MUI Lampung sepakat untuk bisa bersama-sama FSLDK menangkal gerakan radikalisme dikampus,  MUI pun mendukung setiap kegiatan yg dilaksanakan FSLDK dalam rangka menjaga persatuan umat.” Ujar Khairuddin Tahmid, selaku Ketua MUI Lampung

Wahyu Kurniawan selaku Ketua Puskomda FSLDK Lampung mengatakan bahwa, “FSLDK Lampung sebagai forum LDK se-Provinsi Lampung siap menjadi garda terdepan dalam menangkal setiap gerakan radikalisme dikampus. FSLDK bersama seluruh LDK di Lampung berkomitmen penuh untuk menumbuhkan semangat berbangsa dan bertanah air Indonesia dalam rangka menjaga persatuan dan merawat NKRI.”

Salah satu butir kerjasama antara FSLDK Lampung dan MUI Lampung adalah bahwa salah satu perwakilan dari MUI Lampung akan menjadi pemateri dalam Sekolah Kebangsaan dalam rangkaian agenda Muslim Student Summit oleh FSLDK Lampung dalam waktu dekat.

Fsldk-lampung-bersama-mui

Sekolah Kebangsaan di Lembaga Dakwah Kampus Nusantara Summit

Sebanyak 500 lebih pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang terhimpun dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia berkumpul mengadakan Sekolah Kebangsaan di Universitas Indonesia, Sabtu 21 Juli 2018. Tema yang diangkat adalah “Peran Masyarakat Kampus dalam Menjaga Persatuan Bangsa”. Hadir dalam acara tersebut beberapa nara sumber dari berbagai pihak, yaitu Brigjen. Pol. Ir. Hamli, M.E (Direktur Pencegahan BNPT), Dr. Didin Wahidin, M.Pd (Direktur Kemahasiswaan Dirjen Perguruan Tinggi Meristekdikti), Komjen Pol. Drs. Lutfi Lubihanto, M.M (Kaba Intelkam Polri), dan saudara Fahrudin Alwi, S. Hum (Ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK Indonesia). Fahrudin Alwi sebagai ketua Puskomnas FSLDK Indonesia dalam penjelasannya mengatakan bahwa acara ini adalah bagian dari upaya mengokohkan semangat kebangsaan para kader FSLDK seluruh Indonesia, ditengah keprihatinan akan isu radikalisme yang bisa memecah belah bangsa. “Kami berhimpun hari ini dari seluruh provinsi di Indonesia untuk kembali menjalin persaudaraan dan menguatkan semangat berkontribusi bagi bangsa serta tidak pernah lelah mensyiarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamiin”, ujar Alwi dalam penjelasannya. Sementara itu, perwakilan dari Polri, Komjen Pol. Drs. Lutfi Lubihanto, M.M memberikan pencerdasan kepada para peserta akan bahaya radikalisme. Beliau menyampaikan bahwa Polri membutuhkan mahasiswa untuk melakukan kontra ideologi dengan lebih menggiatkan kegiatan yang memperkokoh nilai Pancasila. Tidak lupa, Komjen Pol. Drs. Lutfi juga mengungkapkan perasaannya bahwa hari ini dihadapan para mahasiswa dari Lembaga Dakwah Kampus, Polri jadi merasa memiliki teman yang bisa diajak bergerak bersama untuk bisa terus mewujudkan persatuan Indonesia dan menangkala radikalisme Dalam kesempatan lain, perwakilan dari BNPT, Brigjen. Pol. Ir. Hamli, M.E memberikan pesan bahwa tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama adalah sebuah hal yang keliru, dan mahasiswa lah yang harus berperan aktif menyelesaikan masalah tersebut. “Semua tindakan terorisme yang membunuh orang yang tidak bersalah adalah kekeliruan, apalagi mereka mengatasnamakan agama kita (Islam). Dan adik-adiklah yang bisa mencegah kekeliruan ini”, jelas Brigjen. Pol. Ir. Hamli dalam kesempatannya berbicara. Terakhir, perwakilan Kemenristek Dikti, memberikan suntikan semangat kepada para peserta sebagai insan intelektual untuk aktif menjaga persatuan dengan mengokohkan ilmu pengetahuan, karakter, memahami era globalisasi, dan tidak melupakan nilai ke-Indonesiaan. Acara sekolah kebangsaan ini ditutup dengan penyampaian pendapat dari salah satu peserta yang berasal dari delegasi Provinsi Papua bernama Amel. Amel menjelaskan bahwa di Papua melalui Aliansi Mahasiswa Papua mereka telah berhasil mengadakan agenda bersama lintas agama untuk aktivitas sosial. Amel berharap teman-teman di provinsi lain mampu mengambil inspirasi dari kegiatan tersebut. Acara kemudian ditutup dan dilanjutkan pemberian rekomendasi kajian ilmiah dari FSLDK Indonesia kepada BNPT untuk mendukug program deradikalisasi dari BNPT serta peresmian Sekolah Kebangsaan oleh Direktur Kemahasiswaan UI, Bapak Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. Sekolah kebangsaan berencana akan dijalankan di seluruh provinsi di Indonesia kedepan melalui Lembaga Dakwah Kampus.