Sekolah Kebangsaan untuk LDK se-Indonesia di UI

Depok – LDK Salam UI sebagai Koordinator Nasional FSLDK Indonesia menyelenggarakan Sekolah Kebangsaan (SKB) pada Sabtu (28/9) bertempat di Masjid Ukhuwah Islamiyah Kampus UI, Depok Jawa Barat. Acara ini diisi oleh Bapak Kolonel Sus. Drs. Solihudin Nasition selaku Kasubdit Bina Masyarakat BNPT dan K.H. M. Cholil Nafis, Lc., Ph.D selaku Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat.

Acara Sekolah Kebangsaan ini bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional FSLDK Indonesia yang dihadiri oleh 560 lebih peserta dari perwakilan LDK seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Acara ini bertujuan mengukuhkan semangat persatuan bangsa, pengamalan Pancasila, cinta NKRI, merawat kebhinekaan serta nasionalisme untuk terus berkarya bagi Indonesia.

LDK sebagai organisasi mahasiswa Islam sangat diharapkan oleh BNPT mampu menjadi pelopor dalam menyebarkn nilai-nilai Keindonesiaan.

“Adik-adik LDK adalah harapan Kita untuk menanamkan nilai-nilai Keindonesiaan di tengah-tengah masyarakat”, ujar Kolonel Solahudin perwakilan dari BNPT.

Dalam kesempatan yang sama, K.H Cholil Nafis juga memberikan kesan dan pesannya kepada LDK sebagai orang-orang pilihan agar tetap memiliki semangat kebangsaan dan meningkatkan literasi.

“LDK adalah orang-orang pilihan, kader masa depan serta insan intelektual yang memiliki semangat Kebangsaan. Jangan lupa untuk terus membaca, membaca, dan membaca”, ujar K.H Cholil.

Di akhir dibacakan deklarasi bersama “Pemuda Islam Indonesia untuk Mengukuhkan Persatuan Bangsa” yang diikuti oleh seluruh peserta dan ditandatangani oleh wakil dari BNPT, MUI Pusat, Ketua FSLDK Indonesia dan Ketua Salam UI 22. FSLDK Indonesia kedepan akan terus melaksanakan Sekolah Kebangsaan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia berkerjasama dengan berbagai pihak khususnya BNPT, Kepolisian, MUI dan pihak lainnya.

Dukung Pemprov, Mahasiswa Muslim se-Jadebek Siap Kawal Isu “LEPAS SAHAM BIR ANKER” Hingga Tuntas

Jakarta (19/3), FSLDK Jadebek – turunnya massa aksi ke kantor DPRD DKI Jakarta, selasa siang itu menjadi langkah nyata ratusan mahasiswa muslim dalam menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta terkait penolakan Ketua DPRD terhadap rencana Pemprov DKI yang ingin melepas sahamnya di perusahaan bir. Seperti yang diketahui dari pernyataan di beberapa media massa bahwa Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi menolak rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan melepas sahamnya di perusahaan bir PT Delta Djakarta Tbk. Pras begitu sapaannya mengatakan, perusahaan bir tersebut tak merugikan Pemprov DKI. Bahkan menghasilkan dividen hampir lebih dari Rp50 miliar.

Pras meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan alasan penjualan saham tersebut ke publik dan dia berharap Anis dapat lebih berpikir kembali terhadap pelepasan saham tersebut. Pras mengaku sudah lama tidak lagi berkirim surat dengan Anies soal pelepasan saham tersebut. Dia selalu mengabaikan permintaan Pemprov dengan alasan karena tidak setuju dengan keputusan tersebut (www.metro.sindonews.com). Sedangkan menurut Anies, Pemprov DKI Jakarta telah menyampaikan surat permohonan pelepasan saham di PT Delta sejak Mei 2018 lalu kepada DPRD DKI. Ia memperkirakan, kurang lebih dana Pemprov DKI di perusahaan bir itu sebesar Rp1.2 triliun. Anies mengatakan, dana itu seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan bagi warga Jakarta. Terutama untuk menyediakan akses air bersih bagi masyarakat. Ia mempertanyakan, unsur pembangunan BUMD yang seharusnya berperan untuk membangun Jakarta tak seharusnya memproduksi bir. Uang itu akan lebih bermanfaat digunakan untuk membangun infrastruktur (www.m.republika.co.id).

Sehubungan dengan persoalan tersebut, Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) se-Jadebek bersama mahasiswa muslim dari UNJ, UI, STIE IGI, Polimedia, UNISMA dan STEI SEBI melakukan aksi “Tolak Saham Bir” di depan kantor DPRD DKI Jakarta, Kebon Sirih, Gambir, Jakarta Pusat. Massa aksi mulai berkumpul di Masjid

Medan Merdeka Selatan menuju kawasan Kebon Sirih hingga sampai di depan Kantor DPRD DKI Jakarta dengan berjalan kaki secara tertib. Aksi pun dimulai dengan penyampaian orasi dari beberapa mahasiswa ditambah riuhnya massa aksi menimpalkan dukungan terhadap orasi yang disuarakan. Aksi ini juga diramaikan dengan poster-poster bertuliskan pernyataan yang mewakili aspirasi masyarakat untuk mendukung Pemprov DKI Jakarta segera melepas saham bir dan ada pula yang meminta DPRD DKI agar segera menyetujui rencana Pemprov menjual saham bir tersebut. Aksi pun berjalan damai dan kondusif walaupun cuaca terik, namun tak menghentikan massa aksi dalam menyuarakan aspirasi di depan kantor DPRD DKI Jakarta siang itu.

Aksi terus berlanjut hingga lima orang mahasiswa yang menjadi perwakilan massa aksi diterima masuk dan melakukan audiensi dengan anggota dewan. Mahasiswa yang menjadi utusan massa aksi untuk melakukan audiensi ialah saudara Mujahid, Ahmad Firdaus, Suhandi dari UNJ, Bayu dari UI dan Fuad dari STIE IGI. Mereka disambut oleh Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta, yaitu Bapak Syarifudin dari fraksi Hanura, Komisi B – Perekonomian. Dalam audiensi tersebut, Pak Syarifudin mengaku bahwa surat yang diberitakan awak media telah dikirim oleh Gubernur, Pak Anies Baswedan sejak Mei dan Januari belum satupun masuk ke DPRD. Beliau menjelaskan bahwa mekanisme surat masuk akan diterima dan diurus oleh Sekretaris Dewan, kemudian diusulkan ke Badan Musyawarah dalam hal ini Perda yang dicanangkan melibatkan unsur legislatif, eksekutif dan masyarakat, sehingga yang berhak membahas persoalan ini adalah Komisi B bidang perekonomian setelah itu barulah disampaikan dalam sidang paripurna. Namun beliau menyatakan sama sekali belum menerima surat apapun dan di Komisi B juga belum ada bahasan tentang pelepasan saham bir seperti yang direncanakan Pemprov DKI tersebut. Persoalan ini amat disayangkan karena pernyataan Pak Syarifudin tidak sesuai seperti yang dikabarkan awak media belakangan ini. Seperti berita yang telah dikabarkan banyak media, bahwa Pemprov telah mengirimkan dua kali surat yang berisikan rencana pelapasan saham bir tersebut kepada DPRD DKI Jakarta namun hal ini berkebalikan dengan keterangan yang disampaikan Pak Syarifudin ketika audiensi siang itu, beliau menyampaikan kalau surat Pemprov belum sama sekali masuk dan diterima DPRD DKI Jakarta. Hal ini mungkin akan membuat bingung dan menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat terhadap pernyataan yang diberikan kedua pihak.

Dari hal ini, FSLDK berharap agar DPRD DKI Jakarta kedepannya dapat memberikan keterangan yang sebenar-benarnya kepada para media terkait persoalan ini, agar informasi yang dikabarkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Dan berharap segala persoalan yang berhubungan dengan pelepasan saham bir anker tersebut dapat segera diproses serta diselesaikan dengan baik oleh kedua belah pihak, baik Pemprov DKI Jakarta maupun DPRD DKI Jakarta. Bapak Syarifudin juga menyatakan bahwa pernyataan kontroversial yang dilakukan Ketua DPRD DKI Jakarta, Bapak Edi Marsudi dari fraksi PDIP dan Bapak Bestari dari fraksi Partai Nasdem bukanlah merupakan suara DPRD secara kelembagaan melainkan suara mereka sebagai individu saja. Pernyataan kontroversial yang dimaksud dua orang dewan tersebut adalah penolakan penjualan saham bir di DKI Jakarta. Ketika audiensi, Mujahid menyampaikan bahwa sebenarnya isu ini menjadi panas dan terangkat media karena adanya penolakan secara reaktif yang dilakukan oleh Ketua DPRD DKI Jakarta. Sehingga ditangkap oleh publik bahwa DPRD DKI Jakarta secara lembaga telah menolak, namun dari hasil pernyataan yang disampaikan Pak Syarifudin waktu audiensi, hal itu hanyalah pernyataan yang bersifat. Namun, beliau juga menegaskan hal tersebut harus dilakukan dengan mekanisme yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2007.

Di akhir audiensi, FSLDK Jadebek menyampaikan dan menyerahkan pernyataan sikap kepada Pak Syarifudin selaku perwakilan dari DPRD DKI Jakarta. Pernyataan sikap yang disampaikan yaitu:

  1. Mendesak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk segera menjual saham milik Pemprov DKI Jakarta di produsen Anker Bir, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) karena penjualan bir adalah haram bagi umat beragama di Indonesia, khususnya agama Islam. Apalagi, dividen dari perusahaan tersebut juga tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap APBD DKI Jakarta;
  2. Mendesak DPRD DKI Jakarta untuk segera menyetujui rencana Pemprov dalam menjual saham perusahaan bir karena rakyat DKI Jakarta lebih membutuhkan air bersih, sekolah dan fasilitas publik lainnya daripada air beralkohol;
  3. Menolak caleg-caleg dari partai politik di DPRD DKI Jakarta yang menolak penjualan saham bir milik Pemprov DKI Jakarta;
  4. Mengajak rakyat DKI Jakarta untuk tidak memilih caleg-caleg dari parpol di DPRD DKI Jakarta yang menolak penjualan saham bir milik Pemprov DKI Jakarta karena terbukti tidak mendengarkan aspirasi rakyat.
    Mujahid yang merupakan Ketua FSLDK Jadebek juga menambahkan akan terus mengawal isu ini sampai benar-benar terselesaikan yaitu DPRD DKI Jakarta menyetujui langkah Pemprov DKI Jakarta untuk melepas dan menjual saham bir di PT Delta Djakarta. Aksi ini berakhir sekitar pukul 15.20 WIB, tanpa pembubaran paksa, massa aksi pun meninggalkan kantor DPRD DKI Jakarta dengan tertib dan kondusif. (SL)

GEMAR 2019 – Sempurnakan Hijabmu

FSLDK Indonesia tahun ini kembali menyelenggarakan GEMAR (Gerakan Menutup Aurat), sebuah gerakan bersama sejak tahun 2012 yang diinisiasi oleh berbagai komunitas di Indonesia yang peduli terhadap perempuan khususnya pada isu hijab / menutup aurat bagi muslimah.

Acara ini diadakan pada 17 Februari – 17 Maret 2019 oleh 37 Puskomda di Indonesia. GEMAR 2019 mengusung tema “Sempurnakan Hijabmu” dimana rangkaian kegiatan di dalamnya berupa pembagian jilbab, kajian akbar, longmarch, flashmob, donasi jilbab, hingga penggalangan dana untuk bencana alam maupun untuk saudara-saudara di Palestina.

Diharapkan dengan adanya konsistensi FSLDK Indonesia dalam pelaksanaan GEMAR setiap tahunnya dapat meningkatkan semangat para muslimah untuk mengenakan busana syar’i dan menyebarkan syiar Islam di masyarakat.


Berikut rilis dan dokumentasinya 🙂

Rilis: download di sini

Video dokumentasi:
http://bit.ly/DokumentasiGEMAR2019

Penyerahan Bantuan Dana: Musim Dingin Palestina

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia, telah menyerahkan bantuan dana untuk program Musim Dingin Palestina kepada Komite Nasional untuk Rakyat Palestina, Selasa, 5 Maret 2019 di Kantor KNRP Pusat.

Dana yang disalurkan kepada KNRP berasal dari penggalangan dana manual di Car Free Day yang diadakan oleh Puskomnas FSLDK, dana infaq harian Puskomnas FSLDK, hasil Penggalangan Dana Rutin Puskomda dan LDK yang tergabung dalam FSLDK, dan dana Donasi Musim Dingin melalui FSLDK. Total donasi yang diserahkan adalah sebesar Rp 30.202.848,-.

Ketua bidang Keuangan KNRP, Ari Achmad Rifai menyampaikan rasa terima kasih yang besar kepada FLSDK atas partisipasinya dalam membantu Palestina dan berharap kedepannya jalinan kerja sama dengan KNRP akan semakin kuat tidak hanya melalui kegiatan donasi, melainkan juga melalui program Peningkatan Tsaqofah Kepalestinaan.

Semoga donasi tersebut bisa menjadi amal shaleh bagi anggota FSLDK dan para donatur dan juga membantu menghangatkan saudara-saudara Palestina.

Harmoni: Kami Tak Sama!

Sebagai seorang muslim, harmoni dalam perbedaan bukan hal baru. Kita dapat belajar dri sejarah Jarusalem.

Jerusalem merupakan tempat yang diberkahi, kota suci bagi tiga agama semit: Islam, Yahudi, Kristen. Ia juga tempat sejarah Nabi, mulai Ibrahim a.s, Ishaq a.s, Yaqub a.s, Sulaiman a.s, Musa a.s, Isa a.s, juga Muhammad saw saat ber-Isra.

Pada 637 M, pasukan Islam di bawah komando ‘Amr ibn al-Ash dan Syarhabil ibn Hasanah mendekati wilayah Jerusalem setelah melewati Levantina, Hayfa, Ajnadin, dan berbagai kota bandar lain. Di balik benteng Jerusalem, Patriach (Uskup Agung) Sophronius bersama Artavon dan petinggi lainnya berdiskusi terkait masa depan Jerusalem hingga akhirnya diputuskan untuk menyerahkan Jerusalem dengan damai ke Kekhalifahan Islam. (Musthafa Murad, ‘Umar ibn al-Khattab, hlm 107).

Pasca penyerahan Jerusalem, ‘Umar ibn al-Khattab berangkat dari Madinah dengan hanya berkendara keledai dan ditemani Aslam (pengawal setia khalifah). Setibanya di Jerusalem, Khalifah disambut oleh Uskup Agung Sophronius yang bersamaan merasa takjub dengan sosok pemimpin muslim yang berkuasa di berbagai belahan bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya. Khalifah ‘Umar diajak mengelilingi Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (didirikan oleh Saint Helena -Helena Augusta- 250-330 M). Uskup Agung Sophronius mempersilahkan Khalifah ‘Umar untuk shalat di gereja tersebut namun Sang Khalifah menolaknya karena khawatir jika seandainya ia shalat di gereja tersebut, kelak umat Islam akan merubah gereja tersebut menjadi masjid dengan dalih Sang Khalifah pernah shalat di tempat itu sehingga mendzalimi hak umat Kristiani.

Selain terkait shalat, ‘Umar juga mencontohkan toleransi beragama dengan sebuah perjanjian. Berikut potongan perjanjian tersebut, “Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, ‘Umar amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Bahwa ia memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta benda, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka dan tidak dipaksa beralih memeluk Islam….” (Tarikh at-Thabari).

Puskomnas

 

📷 Silaturahmi Kebangsaan FSLDK Indonesia bersama Perhimpunan Pemuda Hindu (Perpadah) Indonesia). Diwakili oleh Puskomnas (Pusat Komunikasi Nasional) FSLDK Indonesia dan DPN (Dewan Pengurus Nasional) Perpadah Indonesia.

Kami yakini bahwa kami berbeda dalam tataran teologi, keyakinan, cara ibadah, dan berbagai perbedaan lain. Tapi kami punya semangat dan spirit yang sama tentang kebangsaan, kedamaian, menjaga ketenteraman, dan sampai pada satu titik bahwa kita harus menjadi pemuda pelopor kebaikan di negeri ini. Tidak harus sama untuk menjadi indah. Justru karna perbedaan, kedewasaan akhirnya belajar untuk sebuah harmoni.

Harmoni dalam perbedaan!