Banjar, Negeri Ulama Falak Tanpa Observatorium

Siapa yang tidak kenal Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari? Ulama besar yang masyhur namanya, wabil khusus di hati masyarakat Kalimantan Selatan dengan gelar Datuk Kalampayan.


Sedikit manaqib penulis sampaikan untuk mengingat memori kita tentang beliau. Lahir di Martapura pada tahun 1122 Hijriyah, dari seorang ayah yang masih memiliki darah biru bangsawan Kesultanan Mindanao.
Melihat ada bakat kecerdasan pada Syaikh Muhammad Arsyad, Sultan Banjar pada masa itu memilih untuk mendidik secara khusus dan pada 1151 Hijriyah/1738 Masehi beliau diberangkatkan ke Mekkah al-Mukarramah untuk menuntut ilmu.

Beliau pergi ke Mekkah bersama tiga kawannya yang lain, yakni Syaikh Abdusshamad al-Falembangi, Syaikh Daud al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahab Bugis yang dikenal sebagai 4 serangkai dari Jawi.
Setelah menimba ilmu selama 35 tahun di dataran Hijaz dan negeri Arab lainnya, beliau akhirnya pulang ke Banua Banjar. Ketika pulang, beliau melakukan pembaharuan pada sistem keagamaan di Kesultanan Banjar.
Di bidang hukum, beliau mengukuhkan Mazhab Syafi’i sebagai mazhab resmi negara. Beliau membawa pembaharuan terhadap ilmu tauhid melalui kitab Tuhfat Ar-Raghibin, yang isinya juga mengkritik beberapa adat masyarakat yang berbau kesyirikan.
Saat beliau menjabat sebagai mufti, beliau juga mengarang kitab fikih yang fenomenal, yakni Sabiilal Muhtadin lit Tafaqquh fii Amriddiin yakni penjelasan dari kitab Sirath Al-Mustaqim Karya Syekh Nuruddin Al-Raniri.
Kitab ini kemudian menjadi kurikulum pendidikan di kepulauan Nusantara. Kitab ini juga menjadi salah satu sumber rancangan Undang-Undang Sultan Adam yang berlaku di Kesultanan Banjar. Kitab tersebut juga memudahkan masyarakat Banjar memahami ajaran Islam karena ditulis dalam bahasa Melayu, di tengah kitab-kitab berbahasa Arab yang agak susah diakses.
Selain menjadi pembaharu agama dalam bidang tauhid dan fikih, beliau juga membersihkan sanubari masyarakat Banjar dengan tazkiyatun nafs. Mata air tasawwuf yang beliau ambil dari telaga Murabbi beliau, Sayyid Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani berhasil menerangi tanah Kalimantan dari segala ilmu sihir hitam.
Ratib Samman yang menjadi amaliyah utama tarekat Sammaniyah mulai menggeser aliran-aliran kebatinan yang mengakar dari zaman nenek moyang pra-Islam. Sehingga masyarakat Banjar terbiasa dengan zikir mengingat Allah SWT.

Setelah mengetahui penghulu Banjar yang luar biasa keilmuannya dari segi tauhid, fikih, dan tasawwuf, maka tidak mengherankan jika banyak bertebaran pondok pesantren, madrasah, majelis ta’lim, dan masjid-masjid di Kalimantan Selatan. Darah daging beliau pula banyak mencetak ulama yang luar biasa. Nama-nama seperti Syaikh Sarwani Abdan Bangil dan KH Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul adalah buktinya. Dengan demikian, Tanah Banjar dikenal sebagai daerah yang agamis dan kental ke-Islamannya.
Dengan segudang kehebatan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, sayangnya ada satu hal yang jarang disadari oleh masyarakat Banjar. Sebuah fakta bahwa Datuk Kelampayan adalah seorang sarjana di bidang astronomi. Hal ini dibuktikan oleh beliau ketika membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Batavia, seperti Masjid Luar Batang sebelum pulang ke Banjarmasin. Nalar matematis beliau membuat Gubernur Batavia berdecak kagum dan memberikan beliau hadiah. Beliau juga mampu mengukur kedalaman air laut dengan akurat. Setidaknya, ada tiga kitab tentang ilmu falak yang beliau tulis selain dari keilmuan pokok agama lainnya. Tiga kitab tersebut adalah Risalah Ilmu Falak (tentang gerhana matahari dan bulan), Risalatul Qiblah (tentang perhitungan arah kiblat), dan Kur al-Ardhi wa Khath al-Istiwa (Peta Bumi dan Garis Katulistiwa).


Maka dengan kepiawaian ulama kita di bidang falakiyah, yang menjadi pertanyaan, kenapa di Banua Banjar tidak memiliki observatorium? Ya, gedung bulat tempat memperhatikan benda-benda angkasa berteropong raksasa. Dengan adanya observatorium, tentu akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan modern juga bisa lebih cepat. Observatorium juga dapat menarik minat anak-anak untuk belajar sains. Padahal, peradaban-peradaban Islam seperti di Andalusia, Baghdad dan Samarkand ratusan tahun lalu sudah memilikinya. Disaat negara-negara lain mulai mengembangkan kemajuan sains untuk memperkuat kedaulatan negaranya, maka Indonesia harusnya sudah mulai membangun dengan adanya modal historis. Dengan sejarah Datuk Kalampayan, kita bisa memajukan ilmu pengetahuan sains yang berlandaskan kearifan lokal berupa nilai agama Islam.


Sebenarnya jika kita menilik, sains dan agama harusnya bisa menjadi selaras dalam kehidupan, bukan sebagai dua entitas yang harus dipetentangkan. Agama menjadi landasan kebenaran yang kemudian ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran tersebut. Memisahkan keduanya akan menjadikan peradaban Islam menjadi terbelakang. Hal ini sudah dibahas di dalam kitab terbitan majalah al-Manar oleh Syekh Rasyid Ridha dan Amir Syakib Arsalan, yang berjudul ‘Limadza Ta’akhkhar al-Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?’ (mengapa umat Islam mundur sedangkan non-Islam maju?) Kitab tersebut berasal dari pertanyaan seorang alim dari Negeri Sambas (sekarang bagian dari Kalimantan Barat), yakni Maharaja Imam Baisuni Imran. Pertanyaan yang singkat tersebut seolah melampaui pemikiran di zamannya.

Namun ketika penulis mengamati kondisi koleksi museum kita yang begitu-begitu saja, jumlah koleksi ensiklopedia di perpustakaan kita yang masih kurang lengkap, fokus visi pembangunan para pemimpin kita yang masih kurang memperhatikan pendidikan, sepertinya harapan itu masih harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Katalisator pembangunan juga masih diukur dari berapa dalam kerukan tanah hasil tambang, bukan dengan meningkatnya kesadaran akan ilmu pengetahuan. Peran ulama kita juga sangat penting, dengan momen haul Datuk Kelampayan yang setiap tahun kita peringati. Hendaknya juga menyisipkan urgensi membangkitkan ilmu falak disela-sela pembacaan manaqib. Hal itu jauh lebih bermanfaat, dibandingkan terus mengisahkan ‘keajaiban’ Datuk Kelampayan memunculkan buah kasturi di Negeri Arab.


(Penulis adalah Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Demisioner Kepala Departemen Keagamaan Badan Eksekutif Mahasiswa ULM periode 2018, demisioner anggota LDK Unit Kerohanian Mahasiswa Muslim (UKMM) ULM, anggota Angkatan Muda Masjid As-Sa’adah 2016-2017, Komisi D FSLDK 2020-2021, Founder media dakwah @majaliskita)
Referensi :
Azra, Azyumardi. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.
Djaelani, M. Anwar. (2016). 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Pro-U Media.
Halidi, Jusuf. (1968). Ulama Besar Kalimantan Sjech Muhammad Arsjad Al-Banjary. Surabaya: Penerbit al-Ikhsan.
La Eda, Maulana. (2020). 100 Ulama Nusantara Di Tanah Suci. Jawa Tengah: Aqwam.

Mauladdawilah, Abdul Qadir Umar. (2014). 12 Ulama Kharismatik di Indonesia. Malang: Pustaka Basma.


Natsir, Nanat Fatah. (2012). The Next Civilization Menggagas Indonesia Sebagai Puncak Peradaban Dunia. Jakarta: Media Maxima.
Pribadi, Haries. (2018). Qanun & Tarikh Kesultanan Sambas. Pusat Studi Humaniora Indonesia.
Rahmadi, dkk. (2012). Islam Banjar : Dinamika dan Tipologi Pemikiran Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Banjarmasin: IAIN Antasari Press.

Mengapa Umat Islam Ketinggalan? #1

Sumber : https://islamic-center.or.id

anya (T):  Kalau kita lihat kemajuan teknologi, politik dan ekonomi, umat islam jauh ketinggalan dengan orang-orang non-islam. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawab(J): Kondisi Umat islam jauh tertinggal saat ini karena mereka meninggalkan ajaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Sebaliknya non-Islam maju karena mereka mengambil ilmu-ilmu Islam yang ada dalam AL-Qur’an.

Sebenernya ajaran islam yang ditunkan Allah SWT adalah syariat terakhir yang lengkap dan universal. Terbaik sepanjang zaman dan tak ada yang mampu mengunggulinya sampai kiamat. Ajaran ini pamungkas segala ajaran yang pernah ada. Siapa saja yang mampu mengamalkan secara sempurna akan menemui kenikmatan iman dalam menempuh hidup yang fana di dunia ini. Islam itu rahmat bagi seluruh alam.

Sebuah pertanyaan meluncur dari lubuk hati yang paling dalam. Kalau begitu mengapa juga ummat islam jauh tertinggal dengan umat-umat agama lain? Mengapa orang-orang Jepang yang menyembah matahari mampu menguasai ekonomi dunia? Mengapa pula orang Korea Selatan yang masih menyembah berhala, mobil-mobil mereka memenuhi jalan-jalan raya di Mekkah dan Madinah? Mengapa pula Amerika, Perancis, Inggris dan Jerman yang masih musyrik mampu melesat tajam dalam teknologi?

Kenapa bukan umat islam yang mencapai kemajuan? Syeikh Syakib Arsalan, Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani menjawab problema itu hampir semakna. “Umat islam tertinggal Jauh karena meninggalkan Al-Qur’an dan syariah agamanya. Sedangkan umat yang lain mencapai kemajuan karena menjauh dengan agamanya dan kemudian mencuri kunci-kunci ilmu pengetahuan dari umat islam.

Meski mereka tidak menyatakan diri Muslim, namun mereka telah memotong langkah umat islam untuk membaca kitab-kitab samawi termasuk Al-Qur’an yang menurut mereka satu-satunya kitab samawi yang masih asli. DR. Maurice Bucaille dalam bukunya “La Bible, Le Coranet La Science” mengungkapkan bahwa al-Qur’an telah memberi isyarat ilmiah kepada manusia untuk mengungkapkan rahasia-rahasia alam. Hal seperti itu tak pernah didapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Sarjana Perancis tersebut memperkirakan, suatu saat kelak, ajaran islam menjadi ajaran yang paling disukai manusia dimuka bumi ini. Insyaa Allah.

Ustadz:

BAIHAQI ABDUL MUTHALIB  dari Ulee-Kareng Banda Aceh

Sumber Referensi:

Drs. Tgk. H. Ameer Hamzah, 2017. Ustaz Menjawab; Masalah-masalah Aktual dalam Islam. Banda Aceh: PENA

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia atas Tragedi Kemanusiaan di India

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia
Atas Terjadinya Tragedi Kemanusiaan yang Terjadi di New Delhi, India

Link Download : bit.ly/SikapFSLDK-TragediKemanusiaanIndia

link download : bit.ly/SikapFSLDK-TragediKemanusiaanIndia

Konflik kemanusiaan bukanlah ajaran dari agama apapun. Apalagi, konflik tersebut telah mengakibatkan adanya korban jiwa. Berkaitan dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di New Delhi, India, yang sampai dengan Kamis, 28 Februari 2020 telah menewaskan 33 orang dan 189 terluka, kami atas nama Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

Menegaskan :
a. Tragedi tersebut merupakan tragedi kemanusiaan yang merenggut hak-hak hidup, sosial, dan beragama yang mengakibatkan korban jiwa;
b. Tragedi tersebut tidak mencerminkan ajaran agama Hindu, dan para pelaku kekerasan menyimpang dari ajaran agamanya.
c. Oknum-oknum yang terlibat dalam kekerasan tersebut tidak dapat mewakili umat Hindu seluruhnya.
d. FSLDK Indonesia mengecam dengan keras setiap tindakan kekerasan yang dapat menimbulkan tragedi kemanusiaan, dan merenggut hak-hak hidup, sosial dan beragama, serta mengakibatkan korban jiwa.

Mendorong :
a. Agar oknum-oknum yang terlibat menghentikan kekerasan yang telah dilakukan.
b. Agar pemerintah Indonesia mendorong pemerintah India untuk mengupayakan resolusi konflik, dan menghentikan kekerasan tersebut, serta memberikan advokasi kepada korban-korban yang terdampak.
c. Agar segenap rakyat Indonesia ikut andil dalam upaya resolusi konflik kemanusiaan di New Delhi, India sebagai bentuk solidaritas sesama manusia.
d. Agar segenap umat Islam mendoakan setiap orang yang menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan tersebut.
e. Agar kedutaan besar India untuk Indonesia menjelaskan kepada publik atas kejadian tersebut dan meminta maaf kepada segenap umat Islam yang menjadi korban.
f. Agar kedutaan besar India mengupayakan resolusi konflik kemanusiaan di New Delhi, India.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai bentuk solidaritas sesama umat manusia, semoga Allah memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi segenap umat manusia.

6 Pemuda Riau Hadiri RAPIMNAS 1 FSLDK SE-INDONESIA 2020 di Pontianak

Pekanbaru – Rapat Pimpinan Nasional Pertama (Rapimnas 1) adalah semangat baru untuk kepengurusan FSLDK RIAU Periode 2019-2021. Pasalnya acara bergengsi ini dihadiri oleh Pimpinan-pimpinan kelembagaan yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Dakwah Kampus  se-Indonesia Termasuk Riau didalamnya.

Pontianak menjadi tempat bertemunya 130 peserta dari berbagai provinsi sekaligus menjadi tuan rumah pada acara 14-16 Februari ini.

Selama 4 hari tersebut ke 6 delegasi dari Riau mengikuti serangkaian agenda meliputi Seminar dan Dialog Kebangsaan yang dihadiri oleh Rektor Universitas Tanjung Pura, Kapolda Kalbar, Mayor Jendral TNI dan Perwakilan dari Kegubernuran.

Sidang Rapimnas akan berlangsung pada hari ini, membahas program kerja selama 2 tahun kedepan. “Harapannya kita tidak hanya memonitoring dan membina dari atas kebawah tapi juga dari bawah ke atas, agar semuanya sinergi dalam satu kesatuan” ucap Fadlan Karim, Ketua Puskomnas periode 2019-2020 dalam Sharing Session pada Forum Pimpinan, Jumat malam

Puskomda Riau menaungi 22 ldk se-riau untuk dilakukan pembinaan intensif kedepannya dan besar harapan dengan adanya keegiatan ini dampak besar yang akan kita capai bersmaa adalah terjalinnya program dan ukhuwah untuk kebermanfaatan umaat. Aamin ucap Dimas Agustin, Ketua Puskomda Riau 2019-2020. (zvn)

Media Online:

  1. Tribun Pekanbaru: https://pekanbaru.tribunnews.com/2020/02/17/citizen-journalism-6-pemuda-riau-hadiri-rapimnas-1-fsldk-se-indonesia-2020-di-pontianak

Dokumentasi:

Gemar 2020, FSLDK Riau Ajak Masyarakat ikut Longmarch dan Edukasi Tutorial Hijab Syar’i

Pekanbaru – Dalam rangka memperingati  hari Gerakan Menutup Aurat se-indonesia, FSLDK Riau bersama sahabat peduli Jilbab pekanbaru dan beberapa komunitas yang tergabung didalamnya komitmen mengkampanyekan gerakan menutup aurat setiap tahunnya pada ahad (23/2).

Kegiatan ini berawal dari rasa kepedulian remaja-remaja mesjid yang melihat fakta-fakta mengenai pelecehan seksual hingga pemerkosaan itu makin banyak terjadi di indonesia.

kejahatan terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi. Pada tahun 2019 kejahatan terhadap perempuan meningkat jika dibandingkan tahun 2018. Kasus pemerkosaan di tahun 2018 ada 3.404 kasus, di tahun 2019 meningkat jadi 4.730, atau naik 38,9 persen. (dikutip dari indozone)

inilah latar belakang kenapa FSLDK komit untuk terus mengkampanyekan gerakan menutup aurat tak hanya di riau tapi seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Acara ini dimulai dengan Longmarch di area CFD Jl. Sudirman Pekanbaru, sembari menyuarakan bahwa Gemar: Jilbab bukti Cinta yang juga merupakan tema kegiatan GEMAR tahun ini. Kemudian dilanjutkan dengan tausyiah dari ustadzah hafifah Rasheed  aktivis perempuan pekanbaru. Beliau mengungkapkan bahwa “Jilbab itu wajib dikenakan oleh setiap muslimah yang sudah baligh ini tentang penjagaan diri kita agar tehindar dari pandangan laki-laki yang tidak terkontrol hawa nafsunya” pungkasnya Peserta gemar pada CFD kali ini tidak hanya datang dari mahasiswa-mahasiswa kampus di pekanbaru saja. Pelajar SMP-SMA dan para pengunjung CFD juga tertarik dengan kegiatan ini. Selain acara GEMAR, FSLDK bekerja sama dengan Human Inisiative membuka Cek Pelayanan Kesehatan Gratis. (zvn)