Duit Setan Dimakan Jin

 

uang setan dimakan jin
Sumber Gambar: http://rahmiaziza.blogdetik.com/2013/10/22/dukung-pln-bersih-turut-kampanye-no-gratifikasi/

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita besar –yang sebenarnya nggak penting- tentang pelacur papan atas bertarif ratusan juta. Konon kabarnya, sekali “ritual” saja, sang pelanggan harus merogoh kocek sampai ratusan juta. Sebagian orang berdecak keheranan, ‘hebat bener PSK-nya’. Tapi bagi saya, ‘hebat bener pelanggannya’. Hehe.

Lha, coba bayangkan. Cuma untuk urusan yang sebenarnya bisa dia lakukan dengan istri di rumah, dia rela menggelontorkan uang segitu banyaknya. Kan hebat tuh. Kalau nggak kaya banget, ya berarti kan edan banget. Hehe. Maka pertanyaan yang muncul di benak saya saat itu adalah, siapa pelanggannya?

Nah ini yang menarik. Berita yang selama ini beredar menyebutkan, para pelanggan setia itu bervariasi, mulai dari bos-bos kaya berhidung belang sampai om-om pejabat bermoral bejat. Sampai disini, pertanyaan saya yang tadi terjawab tuntas. Semua menjadi terang bahwa siapapun –asal punya duit banyak- memiliki kesempatan yang sama untuk menjerumuskan diri ke dunia gelap itu.

Namun ada pertanyaan lain yang masih juga abu-abu. Orang-orang itu, duit mereka dapet darimana? Pertanyaan ini sama dengan: duit yang mereka pakai buat beli PSK itu, itu duit halal apa haram?”

Saya belum menemukan jawaban ini. Sampai kemarin waktu berada di Jawa Timur, ada seseorang yang menceritakan tentang ini. Beliau bukan pelaku, tapi punya teman yang menjadi teman pelaku. Jadi, cerita yang saya dapat ini sudah dari mulut yang ke-sekian. Tapi Insyaallah masih valid kok. Hehe.

Kata beliau “Wis to, yang kayak gitu itu emang udah jadi lingkaran setan. Duit yang mereka pakai buat beli PSK itu juga bukan duit bener kok. Kata temen saya itu, rekan-rekan dia yang hobi maenan cewek-cewek mewah (berharga mahal, red.) itu semua pakai duit haram. Hasil proyekan sana-sini yang nggak jelas itu, duit-duit korupsi itu, ya itu yang mereka pake buat beli cewek. Jadi, sumber duitnya nggak jelas darimana, diterima sama orang yang nggak jelas akhlaknya, trus diberikan sama cewek yang nggak jelas hidupnya. Lengkap dah. Duit setan, dimakan jin. Sama-sama nggak bener.”

Nah! Ketemu sudah jawabannya. Ternyata, sejak dari awal sumbernya udah nggak bener, makanya larinya juga ke barang yang nggak bener.

Lho, jin kan ada yang bener juga? Bukan itu titik tekannya, kakak. Heuheu. Intinya begini, kalau sumbernya halal, insyaallah mengalirnya juga ke tempat yang halal. Dan, kalau sejak awal udah haram, larinya juga nggak akan jauh-jauh dari sesuatu yang haram. Sepakat?

Kata Sayyidina Utsman, sesuatu yang haram itu tidak akan menarik kecuali yang haram pula.

Sekarang coba cek diri kita. Seberapa sering kita melakukan hal-hal yang diharamkan Allah? Ah, rasanya sering sekali. Maka sudah saatnya nih kita memastikan, uang yang selama ini kita gunakan, sumbernya darimana? Kalau masih “nodong” ke orang tua, maka tanyakan, mereka dapet duit darimana?

Karena yang haram tidak akan menarik sesautu kecuali yang haram.

Organ-organ tubuh kita ini misalnya. Kalau sering sekali dipakai untuk sesuatu yang nggak bener: tangan buat nyuri, mulut buat ngehina orang, mata buat nonton film porno, jangan-jangan sumber glukosa yang dipakai sel-sel tubuh kita untuk melangsungkan aktivitasnya itu berasal dari sumber yang haram.  

Kan aktivitas sel itu memerlukan energi. Nah energinya dapet dari glukosa. Glukosa nya dapet dari makanan. Lha makanannya beli pake duit halal apa haram? Terus juga, status kehalalan makanan yang masuk ke tubuh kita itu gimana? Kalau haram, maka praktis, sampai ke bagian terkecil dari organ fungsional tubuh kita ini tersusun atas barang haram. Ini benar-benar bahaya. Selama di tubuh kita masih ada barang nggak bener, pasti kita juga akan lebih mudah tergerakkan untuk maen ke tempat yang nggak bener.

“Barangsiapa membeli sehelai baju dengan harga sepuluh dirham sedang di dalamnya ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima sholatnya selama yang haram itu masih ada padanya” (H.R. Ahmad)

Maka yok. Ramadhan ini adalah momentum paling tepat untuk melakukan transformasi besar-besaran. Kalau saat ini masih kerja di jaringan rentenir, keluar sekarang juga! Kalau masih sering korupsi, tobat segera! Kasihan anak-anakmu yang tidak berdosa itu, pak! Kalau dikasih uang saku dari duit haram, jangan diterima! (tentu tata kramanya tetep dijaga ya). Wis to, belum pernah ditemukan berita dengan headline begini: seorang mahasiswa mati kelaparan di kamar kos karena menolak pemberian uang saku dari orangtuanya. Hehe. Kalaupun ada, Insyaallah khusnul khotimah tuh. Tapi masak iya sih, kita ngikutin apa yang Allah mau, terus Allah ninggalin kita sendirian? Nggak mungkin lah ya. Nggak perlu repot-repot pakai cara curang. Cara-cara yang diberikan Allah itu pasti lebih menguntungkan!

Kakak tingkat saya, begitu dia tahu kalau ayahnya main judi, segera saja dia bilang ke ibunya (karena belum berani bilang langsung ke ayahnya) “Buk, ngapunten. Mulai hari ini, saya ndak usah dikirimi uang dari rumah lagi. Insyaallah saya bisa cari sendiri”. Tahu begitu, lama-lama ayahnya mulai menyadari, ‘kok anak gua nggak mau gua kasih duit yak’. Akhirnya ngobrol lah mereka. Dan apa yang terjadi setelah obrolan itu? Ayahnya berhenti main judi! Kan.. Malah jadi keren kan..   

Yok yok.. Kita cek bareng-bareng. Kalau selama ini ternyata hidup kita masih belum bener, segera kita benerin. Kalau udah bener, ingetin yang belum bener biar cepet berubah. “Barangsiapa memakan makanan yang haram, tidak akan diterima amalnya sedikitpun, baik yang sunnah maupun yang wajib” (H.R. Ad-Dailamy)

Penulis: @densyukri

Soal Momentum

momentum
Sumber Gambar: http://www.lkc.or.id/2014/09/05/momentum/

Apa itu momentum? Sebagian besar dari kita mungkin mengatakan: kesempatan!

Benarkah arti momentum sesederhana itu?

Coba kita teliti kasus ini. Misalkan saja minggu depan ada tes Calon Guru PNS. Bagi kita yang masih semester enam, tes itu jadi momentum kita atau bukan? Pasti semua kompak menjawab, bukan! Tapi bagi seorang lulusan sarjana FKIP, apakah itu momentum bagi dirinya? Iya! Jelas itu momentum bagi dirinya. Apalagi tes itu hanya ada setahun sekali. Maka pertanyaannya, antara mahasiswa dan si sarjana, apa yang membuat beda?

Itu kasus pertama. Sekarang coba lihat yang kedua.

Ini cerita tentang Hudzaifah. Hudzaifah bin yaman. Seorang sahabat yang diminta Rasulullah Saw. untuk menembus gelapnya malam, mencari tahu keadaan pasukan lawan saat Perang Khandaq berada di ujung kemenangan. Saat itu kendali pasukan lawan berada di tangan Abu Sufyan. Hudzaifah berhasil. Kini dia telah berada tepat di tengah-tengah kemah pasukan lawan. Berbaur dengan mereka sambil berusaha agar tak ada yang menyadari kehadirannya. Di saat-saat yang sangat menegangkan itu, ada sebuah plot kisah yang paling saya sukai: Hudzaifah sempat berada di sebuah posisi yang memungkinkan dia untuk membunuh Abu Sufyan saat itu juga. Dia mendapatkan momentum itu! Momentum untuk menghabisi nyawa Abu Sufyan. Tapi tidak dia lakukan, karena dia sadar, Rasulullah tidak mengutusnya kecuali hanya untuk mengintai.

Menarik. Bagaimana jika kita mengganti kata ‘momentum’ disana dengan ‘kesempatan’? Akankah maknanya juga turut berubah?

Sekilas mungkin akan nampak sama, tapi sejatinya mereka berbeda. Momentum dan kesempatan, dia adalah dua hal yang berbeda. Mirip mungkin iya, tapi momentum, dia lebih kompleks dari sekedar kesempatan.

Jadi, apa itu momentum?

Bertemunya kesempatan dengan kemampuan. Itulah momentum. Jadi bukan hanya perkara ada atau tidaknya kesempatan, tapi juga soal ada atau tidaknya kemampuan. Bagi mahasiswa, tes CPNS itu bukanlah momentum. Kenapa? Karena walaupun sudah ada kesempatan, tapi dia tidak punya kemampuan (terutama kemampuan administratif). Dia belum jadi sarjana. Mau ndaftar pun, juga tidak akan mendapatkan izin. Tapi bagi lulusan sarjana, jelas itu momentum baginya. Kesempatan sudah di depan mata, kemampuannya pun juga sudah ada. Saat Hudzaifah mau membunuh Abu Sufyan di Perang Khandaq, itu momentum. Misal ceritanya diganti. Hudzaifah tepat berada di sisi Abu Sufyan, tapi ternyata dia lupa nggak bawa pedang, kan nggak bisa juga disebut momentum. Kesempatan membunuhnya memang ada, tapi kemampuan untuk mengeksekusinya menjadi tidak ada.

Maka saat kita bicara momentum, kita sedang bicara bukan hanya tentang kapan kesempatan itu datang, tapi juga sudah sejauh mana kemampuan yang telah kita siapkan. Ada dua syarat yang harus digenapkan agar momentum itu tercipta: ada kesempatan dan ada kemampuan.

Kebanyakan dari kita hanya menunggu yang pertama, tapi lupa untuk mempersiapkan syarat keduanya, yaitu kemampuan (ability). Maka dalam konteks inilah, kita tidak boleh menunggu datangnya momentum. Kenapa? Karena kita tidak bisa melakukan itu. Momentum itu diciptakan, bukan dinantikan. Dia adalah perpaduan. Untuk menjadi sebuah momentum, kita perlu melakukan intervensi di dalamnya. Kita harus bertindak. Kita harus bergerak, menyiapkan kemampuan terbaik untuk menyambut datangnya kesempatan. Kalau kita masih saja berdiam diri dan mengatakan ‘saya belum sukses karena momentumnya belum datang’, maka sudah saatnya kita sadar. Yang kita tunggu itu kesempatan, bukan momentum. Dan kalau kita hanya berdiam diri, sampai nanti kiamat datang, kita tidak akan mendapatkan momentum kesuksesan kita.

Celakanya, kita juga sering lupa bahwa dalam menciptakan sebuah momentum, kita sebenarnya sedang “berbagi tugas” dengan Allah. Kesempatan -yang merupakan syarat pertama dari momentum itu- itu adalah domain Allah Swt. Allah lah yang berhak menghadirkannya. Nah baru yang syarat kedua, itu urusan kita. Maka jangan kebalik. Kita sering merisaukan kapan kita mendapat kesempatan, padahal itu bukan ranah yang seharusnya kita urusi. Itu kerjaannya Allah. Biarkan Dia yang mengatur urusan itu. Tugas kita hanyalah melewati detik demi detik dari perjalanan hidup kita dengan terus menerus meningkatkan kapasitas diri kita. Agar apa? Agar saat Allah telah selesai dengan urusan-Nya, kita juga telah selesai dengan urusan kita. Jadi match! Cocok.
Kita tidak seharusnya merisaukan kapan saatnya angin berhembus paling kencang, cukup bagi kita untuk terus menerus melepaskan anak panah kita.

Bergeraklah! Siapkan diri untuk menyambut datangnya kesempatan. Allah pasti punya itung-itunganNya sendiri untuk menghadirkan kesempatan terbaik di depan mata kita. Maka tak perlu risau jika diarasa kesempatan itu belum juga menyapa kita. Itung-itunganNya Allah pasti jauh lebih sempurna daripada itung-itungan kita! Wis to, percaya saja sama Allah.

Maka bertindaklah! Ciptakan momentummu sendiri!

Penulis: @densyukri

Rian Mantasa, ADK Ber-IPK Sempurna!

47301de23ab7f07fde6014e562ca03ed_400x400
Rian Mantasa Salve

Hanya di semester enam, IPK nya tidak benar-benar bulat. Sisanya, di semester satu, dua, tiga, empat, lima, dan tujuh, indeks prestasi Aktivis Dakwah Kampus UNS asal Pati ini berada tepat di angka 4.00! Maka tak heran, rekan-rekannya kini menjulukinya ‘Sang Professor’.

Bukan hanya itu, pemuda berkacamata yang menjadikan stasiun, terminal, tangga proyek hingga meja laboratorium hidrolika sebagai tempat tidur favoritnya ini adalah penerima salah satu beasiswa paling bergengsi di kalangan mahasiswa, Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa.

Beberapa kali dia juga menyabet penghargaan tingkat nasional di bidang yang dia tekuni saat ini, Teknik Sipil. Dia juga merupakan Runner Up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik UNS. Selama di kampus, dia mendapat julukan “The King of Asdos” atau Raja Asdos (Asisten Dosen) karena menjadi asisten dosen hampir di semua mata kuliah! Menariknya, pemuda yang dulu –semasa SMA- pernah sangat membenci Kerohanian Islam (Rohis) dan menganggap Rohis sebagai sarang teroris ini, kini justru aktif di Lembaga Dakwah Kampus dan menjadi pengurus inti di dalamnya. Dia ingin membayar kesalahan yang dia buat selama ini -yang telah menganggap Rohis atau semisalnya sebagai tempat yang sangat mengerikan- dan menunjukkan kepada dunia bahwa Lembaga Dakwah Kampus adalah rumah paling tepat untuk melahirkan prestasi dan karya-karya besar.

Menarik untuk mengikuti perjalanan ‘Professor’ Rian Mantasa Salve (ini namanya imut banget ya) yang punya hobi foto selfie ini. Mari kita undang beliau di tengah-tengah kita @FsdkIndonesia.

Please Welcome, Mas Professor…

Ajaib Sejak Ingusan

Mantas tidak suka saya sebut sebaagai bocah ajaib. Tapi, ya memang begitu faktanya. Hehe. Bagaimana tidak, keistimewaan yang dia miliki sudah dia tunjukkan sejak masih imut-imut. Saat itu dia belajar di sebuah Taman Pembelajaran Qur’an atau TPQ. Disana dia belajar  membaca iqro’, lalu berlanjut belajar al-qur’an, tajwid dan gharib. Mantas kecil -dengan kecerdasan yang dia miliki-, berhasil melangsungkan wisuda saat baru menginjak kelas 3 SD. Padahal untuk ukuran anak-anak yang lain, mereka baru diwisuda saat berada di kelas 6 SD atau SMP. Praktis, Mantas melakukan akselerasi 4 tahun!

Prestasi akademiknya di Sekolah Dasar juga jangan ditanya lagi. Banyak orang  yang mengurungkan impiannya untuk mendapat ranking satu setelah melihat Mantas berada disampingnya. Pokoknya jika ada Mantas, jangan tanya lagi siapa yang mendapat ranking satu. 

Memasuki SMP, “kegilaan” calon professor ini semakin menjadi. Dengan modal prestasi yang mentereng saat SD, dia berhasil masuk ke SMPN 3 Pati yang merupakan sekolah terbaik di Kabupaten Pati. Disana, dia masuk ke kelas IMERSI, kelas paling istimewa. Awalnya dia merasa minder dengan pergaulan di kelas IMERSI yang mayoritas adalah anak-anak kota (Mantas sendiri terpaksa in de kos karena jarak rumahnya yang di desa ke SMPN 3 adalah 39 km), namun karena semangatnya yang terus menggebu, dia bukan hanya bisa beradaptasi, tapi justru menjadi raja di kelas IMERSI. Dengan sistem pembelajaran yang memakai bahasa pengantar  bahasa inggris, tentu kelas IMERSI terkesan sangat angker bagi yang lain. Tapi lain halnya dengan Mantas. Di semester 1 dan 2, ujian semester bahasa inggrisnya berturut-turut mendapat nilai 98,5 dan 100. Sempurna! Maka tak heran, anak desa ini menjadi primadona di sekolahnya. Memang benar, ini bocah adalah bocah ajaib!

Diusir dari kost-an dan Kebencian Terhadap Rohis

Ada yang menarik –kalau kita tidak mau menyebutnya memalukan- dari perjalanan hidup Rian Mantasa. Jadi waktu kelas 8 SMP, anak desa ini akhirnya mengenal dunia yang lebih luas. Dia kenal dengan bermacam-macam orang, dengan pergaulan yang tentu sangat beragam. Nah, karena masih cupu, dia tidak bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan mana yang buruk. Akhirnya dia terjebak dalam pergaulan yang tidak beres. Dia sering kongkow-kongkow nggak jelas sampai jam 1 pagi. Itu tidak hanya berlangsung satu dua hari, tapi bertahun-tahun. Setiap kali ditanya ibu kos, dia menjawab dengan enteng “belajar kelompok”. Hingga suatu waktu, di beberapa hari menjelang ujian nasional SMP, sang ibu kos yang lagi-lagi memergoki Mantas pulang jam 1 pagi tidak lagi percaya dengan omongan Mantas. Dia naik pitam! Dini hari itu juga, Mantas diseret ke sekolahan, dihadapkan dengan satpam dan 2 guru BP yang kebetulan tinggal di sekolah itu. Di malam yang dingin itu, Mantas dipaksa mengakui kebohongan yang selama ini dia sembunyikan. Tangis penyesalan pecah dari pelupuk matanya. Dan yang membuat Mantas lebih menyesal adalah karena saat itu, justru sang guru BP yang sangat dia hormatilah yang memintakan maaf untuk Mantas.

Namun beruntung, Mantas berhasil membayar kesalahannya ini dengan sebuah torehan yang sangat membanggakan: mendapatkan NEM terbaik Se-Jawa Tengah dengan nilai matematika 10.00! Bahkan prestasi ini diliput oleh beberapa media cetak. Setidaknya, pengorbanan guru BP-nya malam itu terbayar dengan kebanggan yang dia hadiahakn kepada beliau. Untung otak elu encer, prof..

Memasuki SMA, ternyata Mantas tidak bisa terbebas begitu saja dengan pergaulan SMP nya. Dia masih berkawan dengan rekan-rekan yang dulu sering mengajaknya kongkow-kongkow. Dan dari mereka, dia mendapat sebuah paradigma tentang Rohis. Paradigma itu berbunyi “Rohis dan mentoring itu sesat! Kamu jangan dekat-dekat sama Rohis!”

Waktu cerita ke saya, doi bilang “Aku terjebak sama pemikiran sempit itu. Karena banyak yang bilang Rohis dan mentoring itu sesat, aku jadi kemakan omongan mereka. Padahal sejak dari kelas X aku tinggal satu kos sama mas-mas Rohis yang mereka semua sering ikut olimpiade sains. Mereka pinter-pinter dan baik banget sama aku. Tapi kebaikan-kebaikan mereka ketutup gara-gara aku udah kemakan omongan orang lain. Bodo banget emang. Dan aku benar-benar menyesal kenapa dulu aku nggak ikut Rohis.”

Dia lantas menceritakan awal dari perubahan paradigma nya tentang Rohis “Aku punya temen deket. Di akhir SMA, kita pernah ngobrol panjang lebar. Ngalor ngidul kesana kemari. Nah, dari obrolan itu aku tersadar. Aku aja belum pernah ikut Rohis, bagaimana bisa aku menilai buruk terhadap Rohis? Dan kemudian, hidayah itu datang. Hehe. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membayar kesalahan yang telah aku perbuat ini!”

Dia juga mengatakan –ini yang membuat saya merinding- “Jadi sekarang kalau ada yang bilang Rohis sesat, mentoring sesat, mereka harus berhadapan sama aku dulu.”

Segudang Kesibukan dan LDK Sebagai Tempat Berpulang

Bertekad untuk membayar segala kesalahan, Mantas membuktikan diri dengan ikut salah satu UKM yang justru tidak direkomendasikan oleh kakak tingkatnya, Lembaga Dakwah Kampus. Atau di Fakultas Teknik UNS dia menyebutnya Sentra Kegiatan Islam (SKI).

“Semua UKM yang aku ikuti di semester satu itu adalah rekomendasi kakak tingkat, kecuali satu, SKI. Tapi justru disana aku menemukan kebahagiaan. Di semester-semester berikutnya, saat semua kerjaan udah numpuk, SKI atau lembaga Dakwah Kampus bener-bener jadi rumah buat kembali. Saat udah capek dengan semua permasalahan, LDK bener-bener ngasih nutrisi yang bisa bikin aku semangat lagi. Pokoknya kalau lagi capek, aku pengennya main sama anak SKI. Bodo amat mau kemana yang penting main sama mereka. Gatau kenapa, seneng aja rasanya kalau lagi bareng-bareng sama mereka. Beban-beban yang selama ini numpuk tiba-tiba luntur. Benar-benar tempat kembali yang nyaman. Ketemu mereka itu sama artinya dengan ketemu sama kebahagiaan. Pokoknya, LDK itu sesuatu banget.”

Mau tahu bagaimana sibuknya seorang Mantas?

 “Jadi waktu itu, pas aku jadi ketua Biro AAI (mentoring) Fakultas Teknik, pas banget sama aku lagi magang proyek di jogja. Waktu itu juga aku lagi megang banyak asisten dosen. Jadi asdos di banyak mata kuliah. Aku nggak mau ngorbanin akademik, tapi aku juga nggak mau ngorbanin organisasi. Jam 2 pagi aku harus udah bangun, ngerjain tugas, deadline asisten dosen. Terus jam 6 pagi udah harus berangkat ke jogja, muterin proyek-proyek sambil kepanasan sampek jam satu siang. Begitu nyampek solo, rapat-rapat langsung menanti. Udah gitu, adek-adek tingkat juga udah pada tanya, mas bisa konsultasi jam berapa? Karena nggak cuma satu mata kuliah yang harus aku cover dan karena nggak ada waktu selain malem, akhirnya jadwal konsultasi itu bisa sampai jam 1 pagi. Ya Allah.. Kadang stres banget. Harus tidur jam satu dan bangun lagi jam dua. Rasanya Cuma pas sholat aja aku bisa istirahat. Tidur setengah jam, sejam, udah alhamdulillah banget. Waktu itu tempat tidur favoritku adalah bus, kereta, stasiun, terminal, tangga proyek, sampai meja lab hidrolika. Bahkan sering adek-adek mahasiswa yang mau minta konsultasi, mereka ngantre di luar lab karena nungguin aku yang ketiduran di atas meja lab. Haha. ”

Awal Kecemerlangan

Memulai kehidupan kampusnya sebagai aktivis dakwah kampus, Mantas membuktikan bahwa saat kita bergabung dalam kereta dakwah, semua urusan dunia dan impian-impian kita –atas izinNya- justru akan mudah kita gapai.

Sebelum menjadi asisten dosen, Mantas terlebih dulu menjadi Asisten Agam Islam, atau kita akrab menyebutnya sebagai “kakak mentoring”. Pasca itu, di semester yang sama, Mantas menjadi asisten fisika dasar dan fisika terapan. Hal ini berlanjut ke semester-semesster berikutnya, hingga dia mendapat julukan “The King of Asdos”. Sebagai contoh, di semester tujuh dia menjadi asisten di tujuh mata kuliah! Apa saja? Hidrolika, hidrolika dan saluran terbuka, mekanika fluida dan jaringan perpipaan, struktur beton, struktur kayu dan alaisis struktur dengan metode matriks! Hebat bener kan?

Dan yang lebih mengagumkan, di semester-semester tersebut dia sedang memegang amanah dakwah dengan jam terbang yang sangat tinggi: koordinator fakultas Biro Asistensi Agama Islam, atau ketua mentoring Fakultas Teknik! Bayangkan, dengan kesibukan dakwah yang tinggi, dia masih sempat menjadi asisten dosen di berbagai mata kuliah, yang tidak jarang memaksa dia memberikan konsultasi kepada adik tingkat sampai jam 1 pagi.

Tidak berhenti disana, kecemerlangan Mantas terus berlanjut hingga dia menjadi juara III dalam lomba Desain Kawasan Navigasi Sungai di Universitas Hasanuddin Makassar. Karya tulisnya yang lain juga pernah lolos ke dalam top 10 Finalis dalam lomba Green Innovation yang diselenggarakan Univeritas Riau. Mengikuti prestasi yang lainnya, pada tahun 2014 Mantas memperoleh predikat sebagai runner-up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Dan yang terakhir, dia menjadi satu diantara 8 penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.  

Saat ini, Mantas sedang mewakafkan dirinya untuk ngopenin Biro AAI (Mentoring) Tingkat Universitas sebagai kepala departmen pengelolaan peserta asistensi dan kaderisasi. Dia juga sedang memperbaikai IPK nya di semester enam yang “hanya” 3,98 agar bisa sempurna menjadi 4.00 saat lulus nanti. Kita doakan Calon Sarjana Teknik Sipil ini bisa lulus dengan IPK bulat 4.00 yak..

Terkahir, apa pesan Mantas untuk kita sobat muda @FsdkIndonesia?

“Teruslah berada di sana, di Lembaga Dakwah Kampus. Berikan yang terbaik untuknya, dan lihatlah, hanya soal waktu untuk mendapatkan apa yang selama ini kita impikan. Hidup adalah pilihan. Pada akhirnya, jika kita memilih menjadi penggerak dakwah kampus, maka setiap langkah kita adalah pengorbanan, setiap goresan pena adalah pengabdian, dan setiap detak jantung yang membuat kita masih bernafas menandakan bahwa tanggung jawab kita belum usai. Maka, teruslah bergerak, dan menggerakkan yang lain dalam kebaikan!”

Sobat muda @FsdkIndonesia.. Semoga kita menjadi bagian dari rangkaian inspirasi-inspirasi yang membuat negeri ini terus melaju menuju puncak kejayaannya, seperti Mantas dan para aktor “LDK.Saya!” lainnya. Maka, teruslah hidup dan teruslah menginspirasi!

Terimakasih kepada:

Rumah besar @FsdkIndonesiaFSLDK Indonesia,  dan Fsldkindonesia.org

Aktor LDK.Saya! @RianMantasaSP

Penulis @densyukri

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

#LDK.Saya!

Edisi sebelumnya:

http://fsldkindonesia.org/syayma-sebuah-mahkota-untuk-orangtuanya/

http://fsldkindonesia.org/puguh-adk-penjelajah-nusantara/

Wanita Sederhana

tuntun
Sumber Gambar : http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194059765

Siapa yang tidak mengenal Bung Tomo. Sekian ratus pasukan kompeni bersenjata lengkap porak poranda karena pria ini. Dialah yang mengharumkan tanah Surabaya dengan darah para mujahid. Dialah yang pertama kali menanamkan image bahwa arek-arek suroboyo adalah pemuda nekat tak takut mati. Hingga munculah istilah bonek. Hingga diperingatilah 10 november sebagai hari pahlawan. Semua atas sumbangsihnya.  Maka jadilah dia besar. Dan dunia menyejarahkan namanya.

Siapa yang tak mengenal Umar bin Khattab. Namanya telah begitu besar sebelum dia masuk islam. Jagoan gulat dari klan Bani ‘Adi ini telah memiliki segalanya untuk disebut pria. Gagah, terhormat, kaya, disegani. Dan setelah memeluk islam, lengkaplah semuanya. Lebih dari seperempat dunia tercerahkan oleh islam dibawah kepemimpinannya. Maka jadilah dia menyejarah. Berbondong-bondong orang mempelajari karakternya. Beramai-ramai orang menulis tentang dirinya.

Siapa pula yang tak mengenal Slamet Riyadi. Dua pekan lebih Surakarta bertahan dari kepungan pasukan belanda di bawah komandonya. Tinggal sejengkal mereka masuk, namun selalu gagal. Hingga akhirnya belanda menyerah. Maka dipanggillah Slamet Riyadi, untuk bertemu dengan komandan senior pasukan Belanda. Kagetlah bule tua ini. Dan dia menangis. Menangis karena malu. Dia harus menyerah kepada pasukan yang hanya memakai bambu runcing untuk berperang. Dan lebih menyakitkan, dia menyerah pada pemuda ingusan yang baru berusia 22 tahun. Maka harumlah nama Slamet Riyadi. Hingga di tengah kota Surakarta berdiri gagah patung seorang pemuda, dengan pistol di tangan kanan menghadap ke langit luas. Itulah Slamet Riyadi! Dan hingga detik ini, patung itu seolah menularkan semangatnya pada kami, rekan-rekan mahasiswa, untuk turun ke jalan dengan membawa seonggok kebenaran dari sudut pandang kami sebagai pemuda.

Mereka semua melegenda karena jasa-jasanya. Mereka terkenang karena pengorbanannya. Namun adakah yang mengenal wanita dibalik orang-orang hebat itu? Siapa yang mengenal istri Bung Tomo sebaik mereka mengenal suaminya? Siapa yang tahu tentang sosok istri Umar bin Khattab sebesar pengetahuannya pada sosok sang khalifah? Bahkan, siapa yang mengenal dengan jelas istri-istri Rosulullah selain Aisyah dan Khadijah?

Lalu apakah berarti wanita-wanita mulia itu tidak mempunyai peran atas kesuksesan suaminya? Tentu terlalu naïf jika kita berfikir demikian. Namun dari sini kita belajar sebuah kaidah sederhana bahwa: tidak semua orang hebat memerlukan orang yang sehebat dirinya untuk menemaninya dalam berjuang.

Kebanyakan dari mereka justru mempunyai istri yang sangat sederhana dan bersahaja.

Karena biasanya, orang-orang yang sederhana itu mampu menerima orang lain (suaminya) sebagaimana dia adanya, bukan bagaimana dia seharusnya. Sekali lagi, dia mampu menerima orang lain sebagaimana dia adanya, bukan bagaimana dia seharusnya.  Mereka tidak banyak menuntut. Maka jadilah orang-orang yang mempunyai istri seperti ini, kapasitas mereka akan cepat berkembang. Setahu saya, orang-orang hebat itu pasti pernah melalui perjalanan panjang yang sarat dengan kegagalan. Ketika dia “menyimpan” orang-orang sederhana dibalik perjuangannya dalam menghadapi permasalahan, dia pun akan sangat cepat menemukan berbagai penyelesaian.

Coba kita fikirkan. Ketika pria-pria hebat itu berkutat dengan kegagalan  dan berusaha mencari sebuah solusi, istri yang sederhana ini hadir untuk mengatakan bahwa dia tidak menuntut suaminya menjadi apapun, dia akan selalu setia dengan kondisi sang suami. Maka hadirlah ketenangan itu. Dan dibalik ketenangan inilah, solusi-solusi itu akan datang beriringan. Setelah solusi datang berhamburan, jadilah dia yang paling cemerlang di zamannya. Dia melejit, lalu menjadi pahlawan.

Di sisi yang berbeda, walaupun tidak selamanya, orang-orang yang mempunyai kapasitas tinggi terkadang melihat orang lain dengan cara pandang bahwa mereka harus menjadi seperti apa yang dia inginkan. Atau setidaknya, tidak terlalu jauh dengan kapasitas dirinya. Dan seringkali potensi alamiah seseorang tidak akan berkembang dengan baik saat dia hidup dengan orang seperti ini. Maka orang-orang besar itu biasanya, dia tidak memerlukan istri yang seunggul dirinya. Namun mereka memerlukan istri yang tepat dengan bingkai kepribadiannya. Sekali lagi, mereka tidak butuh yang paling unggul, namun yang paling tepat.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, mari belajar banyak dari istri seorang Buya Hamka. Pernah suatu saat buya hamka diundang untuk mengisi ceramah. Sebelum beliau naik mimbar, sang pembawa acara tiba-tiba mempersilakan istri beliau untuk memberikan ceramah pembuka. Niat yang baik memang. Dia berfikir “kalau suaminya aja penceramah besar, tentu istrinya juga jago ceramah dong”. Tidak ada yang salah dari pemikiran itu. Maka majulah istri buya Hamka. Beliau mengucapkan salam, lalu berkata “Saya tidak bisa ceramah. Saya hanyalah tukang masak dari sang penceramah.”, lalu beliau turun. Sederhana. Dan kesederhanaan itulah yang membuat Hamka menjadi besar.

Tulisan ini hanya melihat dari sudut pandang laki-laki. Sangat memungkinkan untuk dilihat dari sudut pandang sebaliknya. Silakan setuju, sialakan tidak. Semua kesalahan dalam tulisan ini hanyalah karena sempitnya pemahaman saya.

By Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia: @densyukri

Ribuan Aktivis Dakwah Kampus Se-Indonesia Menggelar Tarhib Ramadhan

IMG-20150614-WA0089
FSLDK Berbagi di Papua-Papua Barat

Ahad, 14 Juni 2015, ribuan Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) dari Sabang sampai Merauke turun ke jalan menggelar sebuah acara untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di daerah masing-masing. Acara tarhib Ramadhan yang bertajuk FSLDK Berbagi ini menggunakan tagar #1000AgenFSLDK untuk kampanye di dunia maya. Acara ini diadakan di 29 titik di wilayah Indonesia. Adapun wilayah-wilayahnya yaitu: Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Priyangan Barat, Purwokerto, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan-Barat, Gorontalo-Sulawesi Utara, Maluku, Ternate, dan Papua-Papua Barat. 

Acara ini disaksikan oleh ribuan masyarakat Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam  acara tersebut adalah pembagian Al-Qur’an, jilbab, Al’Ma’tsurat, pakaian layak pakai, bros, bunga, balon, jadwal imsakiyah, stiker, pulpen, peci, banner, buku panduan Ramadhan, kaos kaki, sembako, buku, mukena, buku iqra’, dan sajadah. Tiap benda yang dibagikan berjumlah lebih dari 1000 buah. Tak hanya itu, acara FSLDK Berbagi ini juga diisi dengan: Pawai Keliling, Stand Up Comedy, Teatrikal, Nasyid, Pembacaan Puisi, Santunan Anak Yatim, Cek Kesehatan Gratis, Mini Konser, Photobooth, dan Pengajian Sambut Ramadhan

Acara ini merupakan bentuk perwujudan bentuk rasa cinta dan kepedulian Aktivis Dakwah Kampus yang tergabung dalam FLSDK Indonesia kepada masyarakat Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan oleh Aktivis Dakwah Kampus se-Indonesia kepada masyarakat Indonesia melalui acara ini adalah mari kita bersama-sama menyambut bulan suci Ramadhan dengan hal-hal yang baik dan menebar kebermanfaatan kita kepada orang lain.

Ketua Pusat Komunikasi Nasional, Muhammad Syukri Kurnia Rahman, dalam wawancaranya dengan media ini menuturkan, “ Acara ini kami selenggarakan sebagai bukti bahwa Aktivis Dakwah Kampus yang tersebar di seluruh Indonesia adalah orang-orang yang mencintai agamanya dan benar-benar peduli akan nasib bangsanya.” Pernyataan ini sekaligus menekankan sebuah pesan untuk khalayak untuk bersama-sama mencintai Indonesia dan menyuarakan kepedulian kita lewat berbagi kepada masyarakat Indonesia dengan tanpa pamrih. (admin)