Tahukah Kamu Siapa Ibumu??

Oleh: Loli Rahmana Putri

Kenapa penulis memberikan pertanyaan demikian kepada pembaca sekalian?

Beragam fenomena yang penulis temukan ketika mebahas tentang ibu. Banyak  anak yang mengenal ibunya, namun tidak tahu siapa ibunya, bahkan seolah lupa akan cara bersikap pada ibunya. Banyak anak yang mengenal ibunya, tetapi tidak tahu kemana muara keringat ibunya. Masih banyak fenomena lain yang masih bertebaran di luar sana.

Ibu, seorang wanita yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Mungkin penulis akan berkisah pada tulisan kali ini, karena biasanya kisah lebih berperan sebagai kunci pembuka mata hati pembaca.

Seorang ibu yang berjuang menghidupi anaknya, bekerja di sawah bersama suami, melawan terik matahari dari pagi hingga sore hari. Sesampainya di rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Hari-hari dilewati dengan rutinitas yang demikian. Kadang lelah sudah enggan menghinggapi karena selalu kalah dengan kekuatan hati nurani.

Suatu hari, sang ibu mulai sakit. Tubuhnya lemah, segala makanan yang ditawarkan ditolak mentah-mentah oleh tubuhnya. Alhasil, tidak ada sedikitpun energi yang menopang tubuh yang sudah mulai renta itu. Suatu hari, sang ibu selalu bertanya-tanya tentang keberadaan putra-putrinya di dalam hati. Ketika putrinya sudah berada di sampingnya, maka pengakuan tulus dari hati seorang ibupun meluncur. Ia mengaku, bahwa kehadiran seorang anak adalah sumber kekuatan di kala sakitnya.

Baiklah, kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Tahukah kamu siapa ibumu?

Ibu, wanita yang berharap jabang bayi sebagai penawar sakit.

Tahukah pembaca bagaimana harap-harap cemas seorang wanita ketika ia sudah menikah? Seorang wanita dikatakan sempurna apabila ia telah menjadi seorang ibu. Memberikan anak untuk suaminya, memberikan cucu untuk orang tuanya maupun orang tua maupun mertua. Banyak fenomena-fenomena perceraian disebabkan oleh tidak adanya kehadiran seorang anak dalam rumah tangga, tetapi masih ada yang mampu mempertahankan rumah tangga mereka walaupun tanpa kehadiran seorang anak.  Ketika seorang ibu mengetahui bahwa dalam rahimnya telah ditipkan seorang bayi yang akan dididik menjadi seorang anak yang berguna kelak, betapa haru dan sendunya hati seorang ibu tersebut. Betapa bahagianya hati seorang ibu yang dari rahimnya lahir seorang putra atau putri yang selalu mengisi segala sudut rumah dengan suara tangis dan tawanya.

Setelah bayi yang ia idam-idamkan lahir, saatnya jati diri sebagai seorang ibu diaplikasikan seutuhnya. Bekal dalam mendidik anak ia praktikan dengan sebenar-benarnya, hingga bermacam kesulitan ia rasakan. Jika dahulu ia sering menyalahkan dan memandang kekurangan seorang anak dari didikan orang tuanya, maka kini iapun mulai merasakan betapa sulitnya dalam mendidik seorang anak sehingga mampu menjadi generasi harapan yang memberikan kebanggaan baginya baik di dunia maupun di akhirat.

Maka tidakkah kita merasa beruntung menjadi seorang anak yang diidam-idamkan oleh kedua orang tua? Lantas mengapa, sebagian dari kita masih saja memilih mengecewakan harapan orang tua kita yang telah tertanam sejak embrio kita tertanam dalam rahim ibu?

Ibu, wanita kuat penahan rintih sang anak.       

Seorang ibu tidak pernah menyalin curhatan, rintihan hati anaknya pada orang lain. Seorang ibu tidak pernah membiarkan anaknya tertatih sendiri. Ia pasti akan terus memapah anaknya, walaupun ia sendiri berjalan di atas telapak kaki yang luka dan beban yang seakan meruntuhkan tulang pundaknya.

Mungkin ketika kita mendapatkan luka, kita sering pulang untuk menyalin keresahan pada ibu. Menceritakan dengan berbagai diksi manja, hingga dada yang awalnya sesak menjadi lapang. Pernah suatu gadis bercerita, ketika ia merasa lelah dan ingin menangis dengan segala tugas yang menurutnya tidak memberikan ia ruang untuk berfikir. Namun, ketika ia mengutarakan niatnya tersebut kepada temannya, ia mendapatkan suatu pertanyaan yang membuatnya memurungkan niatnya.

“Jika kamu pulang untuk menambahkan beban berat ibumu, lalu kapan kamu pulang untuk mengangkat beban berat yang ada di pundaknya?” Pertanyaan itu membuat gadis tersebut terhenyak.

Sejatinya, seorang ibu sangat bangga ketika anaknya berhasil kuliah dengan baik. Tidak ada ibu yang mau mendengar anaknya menghadapi kesulitan, namun bukan berarti juga ia tidak peduli. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa seorang ibu akan selalu menerima curhatan anaknya. Ketika ia melihat anaknya pulang, senyum dan kehangatan telah ia siapkan untuk mendekap kelelahan putra-putrinya tersebut.

Siapa yang mengatakan tidak boleh pulang saat hati mulai gelisah dan menemukan kebuntuan. Pulang adalah jalan terbaik, tetapi akan lebih baik lagi jika niat pulang bukan untuk mencurahkan keresahan dalam hati, akan lebih baik jika pulangnya kita adalah untuk kembali mengamati, mengambil pelajaran tentang bagaimana seorang ibu menyelesaikan masalahnya.

Ibu, seorang penadah doa di sepertiga malam.

Pernahkah membaca atau mendengar statement ‘keberhasilanmu saat ini, delapan puluh persen adalah hasil dari doa ibumu, dan dua puluh persen adalah hasil usahamu.’

Seorang mahasiswa pernah bercerita kepada penulis tentang keyakinannya akan doa sang ibu saat ia hendak melanjutkan pendidikan selepas SMA. Kuliah memang pilihannya, namun sayangnya pilihan tersebut kurang maksimal dalam usaha menggapainya. Mahasiswa tersebut masih ingat  ketika ibunda tercinta tidak pernah lelah dalam membangunkannya untuk shalat tahajud memohon keberhasilan dalam meraih cita-cita kuliah di kampus impiannya.

Masih banyak lagi jati diri seorang ibu yang belum tergambar dalam tulisan ini.

feril bersama ibuSebelum menulis, penulis mencoba meminta quotes tentang ibu, beberapa Quotes bermunculan, di antaranya:

 

Ibu, di setiap aku membuka dan menutup mata, aku melihatmu,” (Hardian Feril: Koordinator Komisi B, Puskomda Sumbar)

“Ibu adalah sosok yang menerima kita apa adanya,” Asyraf Mardiah, Staf Komisi C, Puskomda Sumbar).

 

FSLDK Bali Bergabung Bersama Aliansi Pemuda Bali Peduli Galang Dana Bantu Korban Tsunami Selat Sunda

ERAMADANI.COM, DENPASAR – Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Bali Peduli (APBP) melakukan aksi turun ke jalan, Minggu (06/1/2019) sore. Mereka melakukan aksi kemanusiaan penggalangan dana untuk korban Tsunami Selat Sunda.

Aksi yang dilakukan oleh Aliansi Pemuda Bali Peduli (APBP) berasal dari berbagai elemen, di antaranya Puskomda Bali, KAMMI Bali, IM3, KMI Undiknas, FPMI, Safari Masjid Bali, Pemuda Muhammadiyah Denpasar Selatan, IMUKI, KBUI PNB bersama DSM Bali.

Dalam aksinya, Ketua Koordinator APBP, Hadi Prasetya mengungkapkan, APBP berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah bencana Tsunami Selat Sunda yang telah mengakibatkan ratusan korban meninggal dunia dan banyak rumah warga yang hancur.

“Kami mengajak kepada seluruh masyarakat Bali untuk peduli terhadap korban Tsunami Selat Sunda dengan menyalurkan dana untuk meringankan beban saudara kita disana,” ungkapnya di sela-sela aksi.

Melalui aksi itu, Hadi Prasetya mengajak seluruh masyarakat Bali untuk peduli terhadap korban Tsunami Selat Sunda. Melalui bantuan dana yang disalurkan diharapkan dapat meringankan beban korban bencana.

Aksi turun ke jalan dilakukan di perempatan Sudirman, Denpasar Barat. Penggalangan dana yang dilakukan gabungan pemuda dan mahasiswa itu dimulai sejak pukul 16.00 sampai 17.30 WITA.

Dana kemanusiaan yang berhasil dikumpulkan APBP dalam waktu yang singkat itu akan disalurkan kepada korban bencana Tsunami Selat Sunda melalui Dompet Sosial Madani (DSM) Bali.

“Aksi penggalangan dana dilaksanakan dengan tertib tidak mengganggu kelancaran lalu lintas. Kami ucapkan terima kasih kepada masyarakat Bali yang telah menyumbangkan dana kepada korban Tsunami Selat Sunda,” tutup Hadi.

Iman yang Mencukupkan

Mari kita mengingat sebuah hari yang berat.
Saat sahabat-sahabat yang dipercaya berjuang, tiba-tiba memutuskan lari meninggalkan.
Mari belajar memandang kekecewaan dengan perasaan kasih sayang, bukan tatap tajam kebencian. Sebab semua hanya perlu dicukupkan dengan iman.

Adalah hari ketika sekian pasukan muslim lari meninggalkan Rasulullah dan pasukannya dalam Hunain, mereka dari kalangan Thulaqaa.
Sedangkan Anshar, memilih menjadi yang setia hingga akhirnya.

Hingga akhirnya kemenangan menjadi milik Rasul dan pasukan muslim. Tertampak harta rampasan perang yang menggunug-gunung. Lembah penuh dengan hewan ternak, emas, perak, dan tawanan. Maka, pembagian pun dilakukan.

Kira-kira, siapa yang paling berhak mendapatkan bagian?
Logika kebanyakan kita akan berpikir Anshar lah yang paling layak.
Tapi Rasulullah saw. punya cara berbeda, yang membuat sebagian hati kaum Anshar bergemuruh dalam tanda tanya.

Rasulullah saw. membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, ialah mualaf Makkah yang paling pertama melarikan diri dari pertempuran.

Ada tanda tanya besar di tengah kalangan Anshar dengan pembagian tersebut hingga Sa’ad bin Ubadah menyampaikan maksud. Lalu Rasul mengumpulkan mereka pada sebuah tempat.
Bukan untuk memarahi sikap mempertanyakan para Anshar.
Bukan pula menghakimi dan merasa bahwa Rasulullah yang paling benar.
Inilah pengingatan yang begitu mulia, nasihat yang disampaikan dengan penuh cinta, dengan berkata,
Wahai orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat ku dengar dari kalian, dan dalam diri kalian ada perasaan mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Kaum Anshar tertunduk. Masing-masing sibuk menelisik isi hatinya: jernih atau keruh.

Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang Anshar?” tanya Rasulullah saw.

Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia.” jawab ringkas salah satu mereka.

Mendengar itu, Rasulullah tidak lantas merasa besar dan benar. Rasulullah berusaha memahami posisi kaum Anshar lalu berkata, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa, lalu kami memberikan tempat dan menampungmu.”

Rasulullah memahami, adalah wajar jika pun Anshar merasa dan berkata demikian. Anshar pun memahami, bahwa sejatinya merekalah yang telah ditolong, bukan menolong. Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah sudut pandang tawadhu.
Mendengar itu, air mata mulai berlinang-linang di wajah para Anshar. Isak tersedan mulai ramai. Mereka, menemukan sesuatu yang dicari dalam hati.

Rasul melanjutkan, “Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sedangkan keislaman kalian tak mungkin lagi ku ragukan. Wahai sekalian orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Lepas sudah air mata bergerak membentuk sungai-sungai panjang di wajah dan di hati mereka. Menjernihkan dan menyadarkan, untuk kembali mencukupkan diri dengan iman.

Dan Kaum Anshar, Kaum Penolong, menutup kisah ini dengan begitu manis: ialah penerimaan tanpa tapi, keridhoan tanpa sanksi, “Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini. Kami Ridha Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami.

Lihatlah, betapa sudut pandang tawadhu menjadi penting dalam memandang masalah dan memposisikan diri.
Bukan dari sisi yang merasa benar dan besar, merasa dirugikan atau merasa telah paling banyak berkorban.
Rasul menempatkan dirinya sebagai muhajir yang ditolong Kaum Anshar, bukan sebagai nabi yang menyelamatkan. Pun Kaum Anshar, mengambil sudut pandang sebagai kaum yang telah diselamatkan Rasul, bukan menyelamatkan. Inilah sudut pandang tawadhu. Agar dalam masalah, kita tidak saling menuntut dan menyalahkan, melainkan saling memahami dan berempati. Hingga akhirnya iman yang mencukupkan dari segala tipu daya yang melenakan.

Oleh:Soffa Lutfiah
Wakil Ketua Kemuslimahan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Salam Satu Indonesia!

Bagi siapa pun di antara kita yang pernah atau sedang Allah izinkan untuk singgah di luar negeri, pasti kita akan merasakan kerinduan pada Indonesia. Saya pernah mengalaminya, saat 2016 Allah izinkan berkunjung ke negara Turki, dalam sebuah konferensi. Memang hanya lima hari saja, namun sudah rindu dengan banyak hal tentang Indonesia. Rindu melihat kemacetan, rindu makan-makanan khas Indonesia dan banyak hal lainnya. Hal lain di negeri orang, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih Indonesia Raya, insyaAllah kita pun pasti akan terenyuh.

Sensasi lebih mendalam adalah saat kita berjumpa sesama orang Indonesia di luar negeri. Kita pasti merasakan hal yang berbeda, rasanya sesuatu sekali. Terserah, bahkan tidak sempat melintas dalam pikiran, apa agamanya, sukunya, pilihan politiknya, pokoknya sesuatu. Sontak langsung ingin berkenalan, menyapa, menanyakan, kamu di Indonesia tinggal di mana? Kampusnya dulu di mana? Ya, semua itu bagi saya adalah sebuah kejujuran hati. Nurani yang membimbing kita, menunjukkan bahwa dengan siapa pun, pasti ada benang merah yang menyatukan, mendekatkan. Bahwa juga, akan selalu ada cinta untuk Indonesia.

Namun, tidak harus ke luar negeri dulu sebenarnya, untuk merasakan momen yang demikian. Kita pun bisa mendapatkannya di tanah air sendiri pastinya. Misalnya saja, saat mendukung Indonesia di ASIAN GAMES 2018 kemarin, kita dukung Minions dan Jojo di cabang bulutangkis sampai dapat emas. Kita dukung Timnas Sepakbola sampai lolos perempat final dan cabang lainnya. Bukankah pada saat itu kita telah berhasil saling memahami perbedaan? Bukankah juga pada saat itu kita mampu bersatu dengan satu narasi? Mendukung Indonesia dengan sepenuh hati! Bahkan, kita saat itu sampai bisa melihat momen langka berpelukannya Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo saat pengalungan medali kepada atlet silat Hanifan yang mendapatkan emas.

Tahun ini, 2019, adalah tahun yang katanya akan ‘panas’, sebab ada pesta demokrasi yang hendak digelar. Belum lagi, kerukunan antarumat beragama pun akhir-akhir ini terus diuji. Islam dan nasionalisme pun coba terus dipertentangkan. Sampai kapan kita akan terus masuk dalam ‘kubangan’ yang justru membuat kita semakin jadi bangsa yang kerdil?

Sebagai warga Indonesia, khususnya Muslim, semangat mencintai Indonesia dan mempersatukan harus terus dijunjung. Bersilaturahmi, sinergi dalam kebaikan, dengan siapa pun, dari agama apa pun, suku apa pun harus kita tingkatkan. Dengan tetap bertoleransi pada setiap perbedaan yang masuk dalam ranah keyakinan. Serta yang paling utama, selalu menunjukkan akhlak yang baik menjadi sesuatu yang harus kita dahulukan di atas apa pun. Maka, insyaAllah kehadiran kita akan membawa rahmah bagi siapa pun, menjadi kehadiran yang selalu dinantikan orang lain. Ingat sekali lagi, kunci utamanya selalu menunjukkan akhlak terbaik.

Nabi kita, Muhammad SAW pernah berpesan.

Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi kotor.” (HR. Tirmidzi).

Selamat berikhtiar menjadi Muslim yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha menjadi pribadi lebih baik. Selamat selalu belajar mencintai Indonesia, menjalin silaturahmi dan kolaborasi aksi dengan semua elemen anak bangsa, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Karena negeri ini terlalu sayang dan sulit rasanya, jika dibangun sendiri-sendiri, tanpa adanya sinergi kebaikan di dalamnya. Salam Satu Indonesia!

 

oleh Rangga Kusumo
Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia

Membangun Internal Organisasi Bagian 1: Insentif untuk Pengurus

Organisasi ada untuk menyelesaikan sebuah masalah, menjadi problem solver. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap permasalahan atau kondisi yang menjadi latar belakang dibuatnya organisasi tersebut. Itulah sebabnya, visi organisasi pada umumnya akan sangat bersifat eksternal, dalam artian, target atau cita-citanya akan berorientasi pada hal di luar organisasi tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita terjebak pada obsesi ketercapaian ‘prestasi’ di luar dan melupakan untuk membangun organisasi itu sendiri.

Jebakan organisasi yang kadang terjadi misalnya memfokuskan semua energi pada pencapaian di luar organisasi, menganggap pengurus sebagai ‘alat’ untuk mencapai tujuan, dan rasa takut untuk menghebatkan bawahan. Ketika hal tersebut terjadi pada sebuah organisasi, maka tidak jarang berbagai masalah internal akan datang silih berganti. Permasalahan internal yang sering muncul misalnya kehadiran pengurus yang sedikit dalam setiap agenda organisasi, pengurus tidak bersemangat dan hilang di tengah jalan, sering terjadi miss komunikasi, ataupun pengurus melakukan pekerjaan dengan buruk (under performance). Akibatnya, organisasi terancam tidak berjalan optimal dan gagal mencapai targetnya. Yang lebih buruk, organisasi tersebut bisa bubar sebelum waktunya.

Hal mendasar yang harus dipastikan agar kesolidan organisasi terbangun adalah, sedari awal memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa internal organisasi itu penting, bahkan kalau perlu masukkan ke dalam visi misi organisasi supaya perhatian para pimpinan terhadap poin ini juga maksimal. Untuk para pimpinan organisasi, sadarlah bahwa staf itu manusia, dan aset terbesar organisasi adalah pengurus-pengurusnya. Sekali lagi, sadarlah bahwa staf itu manusia, dan aset terbesar organisasi adalah pengurus-pengurusnya. Membangun staf berarti membangun organisasi itu sendiri. Menghebatkan staf berarti menghebatkan keseluruhan organisasi. Sebaliknya, abai terhadap staf berarti bersiaplah kehilangan aset terbesar organisasi Anda.

Staf itu manusia, maka perhatikanlah kebutuhan-kebutuhan kemanusiaannya supaya dia tetap terjaga dalam tim. Untuk membuat manusia mau bertahan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka di organisasi, bahkan mengeluarkan performa terbaik mereka maka pastikanlah bahwa mereka bisa mendapatkan insentif dari organisasi. Insentif  disini bentuknya bisa financial incentive atau nonfinancial incentive.

Financial incentive biasanya diberikan oleh organisasi profit/komersil seperti perusahaan dalam bentuk gaji atau pesangon. Gaji menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat seorang karyawan bertahan di perusahaan dan bersedia menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padanya. Adapun non-financial incentive bentuknya bermacam-macam, misalnya rasa nyaman, pertemanan, value, ilmu, keamanan, jaringan, kepuasan, perhatian, motivasi dan lainnya. Pada organisasi yang bersifat non profit/volunteering seperti organisasi kemahasiswaan di kampus maka insentif jenis inilah yang harus dipastikan bisa kita berikan pada seluruh fungsionaris organisasi.

Guru-guru organisasi Anda pasti pernah menyampaikan pesan seperti, berikanlah perhatian pada staf, tanyakan kabarnya, ucapkan selamat saat dia ulang tahun, berikan apresiasi atas keberhasilannya, berikan hadiah, kirimkan kalimat motivasi, buat agenda kekeluargaan seperti futsal bersama, gathering, dan pesan-pesan serupa lainnya. Itu semua pada hakikatnya hanyalah cara, substansinya adalah memberikan insentif non-finansial pada staf. Bentuk insentif ini sangat beragam. Bahkan, tidak memberikan perhatian bagi seorang staf bisa jadi merupakan insentif bagi dia, karena memang ada tipe orang yang tidak terlalu senang diberikan perhatian. Kembali pada prinsip awalnya, bahwa pengurus organisasi itu adalah manusia, dan pastikanlah kebutuhan kemanusiaannya terpenuhi.

Keunikan diri masing-masing pengurus organisasi menghasilkan beragam bentuk insentif yang sebisa mungkin harus kita penuhi sebagai pimpinan organisasi supaya dapat membuat para pengurus bertahan. Delapan tahun lalu, seorang kepala departemen dari organisasi yang saya pimpin pernah berpesan pada saya untuk sesekali menjadi orang yang ‘tidak berpola’. Ya, itu bahasa yang digunakannya untuk menggambarkan sebuah karakter yang agak cair, tidak kaku, tidak melulu mebicarakan perkara kerjaan ke staf, dan sebagainya. Kalau anak sekarang bilang, ngereceh. Dalam sebuah forum yang memang khusus membahas mengenai kondisi internal organisasi, kawan saya itu menyampaikan bahwa karakter pengurus saat itu banyak yang humoris, menginginkan ‘kebebasan’, sangat memperhatikan dan mengharapkan pertemanan, sehingga mari kita coba untuk membuat pendekatan yang lebih humanis dalam organisasi ini, dalam rangka membuat para pengurus nyaman untuk berada disana dan bebas untuk mengekspresikan dirinya.

Pada kesempatan lain, saya berada di sebuah organisasi yang sebagian besar pengurusnya adalah orang-orang baru dalam dunia keorganisasian. Kalau kita bicara skill, maka ada banyak pengurus yang justru masih belum terlalu matang kemampuannya dalam organisasi. Dalam situasi ini, maka salah satu insentif utama yang wajib diberikan oleh para pimpinan organisasi bagi pengurus-pengurusnya adalah kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri lewat organisasi tersebut. Salah satu kebijakan yang diambil saat itu adalah menjadikan 1 dari 4 kali rapat bidang di tiap bulannya dijadikan sebagai sarana untuk upgrading para staf. Departemen media misalnya, staf departemen ini ternyata punya spesialisasinya masing-masing. Ada staf media yang menguasai Corel Draw, ada yang menguasai Photoshop, ada yang seorang web developer. Atas kecerdasan kepala departemen kami saat itu, maka setiap satu bulan sekali dibuat kebijakan agar semua staf wajib membawa laptop saat rapat bidang, dan agenda rapat saat itu adalah belajar aplikasi desain atau web dari staf lain yang menguasai bidang tersebut. Contoh, pekan keempat bulan April agendanya adalah belajar Corel Draw dari staf yang menguasai aplikasi tersebut. Bulan berikutnya giliran staf yang menguasai Photoshop untuk memberikan ilmunya, dilanjutkan dengan belajar web development, dan seterusnya. Di departemen lain tidak berbeda jauh. Ada departemen yang setiap bulannya atau setiap dua bulan sekali membuat program pelatihan dari pendahulu di bidang tersebut. Bidang keumatan misalnya, mengadakan diskusi dengan senior yang memang punya spesialisasi dan track record baik di bidang keumatan.

Banyak contoh lain yang bisa dibahas, namun substansinya adalah mengetahui keunikan pengurus dan memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia dalam organisasi, So, salah satu jalan yang harus kita tempuh sebagai pimpinan organisasi adalah tentang memikirkan insentif apa yang harus kita berikan pada staf sehingga mereka dapat berkembang dan memberikan yang terbaik juga untuk organisasinya. Semoga dengan begitu organisasi yang kita pimpin dapat bertahan sampai akhir, produktif, dan tidak terjebak pada penyakit-penyakit internal yang menggerogoti keutuhan organisasi.

 

Ahmad Yanis Audi
Ketua Komisi Kaderisasi dan Kelembagaan Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019