Arahan Berkenaan dengan Wabah Covid-19

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Indonesia dalam menyikapi persoalan terkait terdeteksinya penyebaran virus Corona di beberapa daerah Indonesia, maka diarahkan kepada seluruh Puskomda dan LDK untuk :

  1. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT,  dengan melakukan Usbu Ruhiy:
  2. Perbanyak Istighfar
  3. Dzikir Pagi dan Petang
  4. Sholat Awal Waktu dan membawa sajadah pribadi atau alas lainnya
  5. One Day One Juz
  6. Infaq
  7. Sholat Sunnah (Tahajud, Dhuha, dan Rawatib)
  8. Serta berdoa kepada Allah SWT dengan doa sebagai berikut :

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan nama Allah yang tidak ada yang dapat mencelakai bersama nama-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق

“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [H.R Muslim 2708].

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.” (HR. Abu Dawud 1554, Nasa’i 5493).

  • Meniadakan kegiatan internal FSLDK Indonesia sementara waktu. Kegiatan internal diantara lain; Rapimda, Seminar, Kajian, Mabit, dan kegiatan yang sekiranya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Kegiatan bisa mulai dilaksanakan kembali bersamaan dengan pencabutan kebijakan pemerintah setempat.
  • Menghimbau untuk menyesuaikan kegiatan dakwah bagi Lembaga Dakwah Kampus seluruh Indonesia dengan kebijakan yang telah diberlakukan oleh masing-masing kampus.
  • Senantiasa menarapkan dan membiasakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta menjaga kesucian jasad maupun ruh dengan menjaga wudhu untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit.
  • Menghimbau semua untuk tetap tenang, bersatu, mengedepankan sikap saling membantu, menghindarkan perilaku saling berbantahan dan saling menyalahkan, serta tidak menyebarkan berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya (hoax), dan bersama-sama melakukan segala upaya untuk menangkal dan meminimalkan potensi penyebaran virus Corona tersebut.

Demikian arahan ini kami sampaikan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dari berbagai hal yang tidak diharapkan, tetap bertawakal dan bersabar.

Jakarta, 16 Maret 2020 / 21 Rajab 1441 H

Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia

Fadlan Karim 0819-0634-1757

Ketua Komisi A Puskomnas :Suhandi 0899-7786-950

Ketua Komisi C Puskomnas :Retno Wulandari 8019-3299-3706

Ketua Komisi B Puskomnas : Mujahid Robbani Sholahudin
0896-5313-2158

Ketua Komisi D Puskomnas : M. Ihya Ulumudin 0857-1619-7340

Dapat diunduh melalui tautan berikut: https://bit.ly/ArahanCovid-19

Banjar, Negeri Ulama Falak Tanpa Observatorium

Siapa yang tidak kenal Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari? Ulama besar yang masyhur namanya, wabil khusus di hati masyarakat Kalimantan Selatan dengan gelar Datuk Kalampayan.


Sedikit manaqib penulis sampaikan untuk mengingat memori kita tentang beliau. Lahir di Martapura pada tahun 1122 Hijriyah, dari seorang ayah yang masih memiliki darah biru bangsawan Kesultanan Mindanao.
Melihat ada bakat kecerdasan pada Syaikh Muhammad Arsyad, Sultan Banjar pada masa itu memilih untuk mendidik secara khusus dan pada 1151 Hijriyah/1738 Masehi beliau diberangkatkan ke Mekkah al-Mukarramah untuk menuntut ilmu.

Beliau pergi ke Mekkah bersama tiga kawannya yang lain, yakni Syaikh Abdusshamad al-Falembangi, Syaikh Daud al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahab Bugis yang dikenal sebagai 4 serangkai dari Jawi.
Setelah menimba ilmu selama 35 tahun di dataran Hijaz dan negeri Arab lainnya, beliau akhirnya pulang ke Banua Banjar. Ketika pulang, beliau melakukan pembaharuan pada sistem keagamaan di Kesultanan Banjar.
Di bidang hukum, beliau mengukuhkan Mazhab Syafi’i sebagai mazhab resmi negara. Beliau membawa pembaharuan terhadap ilmu tauhid melalui kitab Tuhfat Ar-Raghibin, yang isinya juga mengkritik beberapa adat masyarakat yang berbau kesyirikan.
Saat beliau menjabat sebagai mufti, beliau juga mengarang kitab fikih yang fenomenal, yakni Sabiilal Muhtadin lit Tafaqquh fii Amriddiin yakni penjelasan dari kitab Sirath Al-Mustaqim Karya Syekh Nuruddin Al-Raniri.
Kitab ini kemudian menjadi kurikulum pendidikan di kepulauan Nusantara. Kitab ini juga menjadi salah satu sumber rancangan Undang-Undang Sultan Adam yang berlaku di Kesultanan Banjar. Kitab tersebut juga memudahkan masyarakat Banjar memahami ajaran Islam karena ditulis dalam bahasa Melayu, di tengah kitab-kitab berbahasa Arab yang agak susah diakses.
Selain menjadi pembaharu agama dalam bidang tauhid dan fikih, beliau juga membersihkan sanubari masyarakat Banjar dengan tazkiyatun nafs. Mata air tasawwuf yang beliau ambil dari telaga Murabbi beliau, Sayyid Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani berhasil menerangi tanah Kalimantan dari segala ilmu sihir hitam.
Ratib Samman yang menjadi amaliyah utama tarekat Sammaniyah mulai menggeser aliran-aliran kebatinan yang mengakar dari zaman nenek moyang pra-Islam. Sehingga masyarakat Banjar terbiasa dengan zikir mengingat Allah SWT.

Setelah mengetahui penghulu Banjar yang luar biasa keilmuannya dari segi tauhid, fikih, dan tasawwuf, maka tidak mengherankan jika banyak bertebaran pondok pesantren, madrasah, majelis ta’lim, dan masjid-masjid di Kalimantan Selatan. Darah daging beliau pula banyak mencetak ulama yang luar biasa. Nama-nama seperti Syaikh Sarwani Abdan Bangil dan KH Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul adalah buktinya. Dengan demikian, Tanah Banjar dikenal sebagai daerah yang agamis dan kental ke-Islamannya.
Dengan segudang kehebatan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, sayangnya ada satu hal yang jarang disadari oleh masyarakat Banjar. Sebuah fakta bahwa Datuk Kelampayan adalah seorang sarjana di bidang astronomi. Hal ini dibuktikan oleh beliau ketika membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Batavia, seperti Masjid Luar Batang sebelum pulang ke Banjarmasin. Nalar matematis beliau membuat Gubernur Batavia berdecak kagum dan memberikan beliau hadiah. Beliau juga mampu mengukur kedalaman air laut dengan akurat. Setidaknya, ada tiga kitab tentang ilmu falak yang beliau tulis selain dari keilmuan pokok agama lainnya. Tiga kitab tersebut adalah Risalah Ilmu Falak (tentang gerhana matahari dan bulan), Risalatul Qiblah (tentang perhitungan arah kiblat), dan Kur al-Ardhi wa Khath al-Istiwa (Peta Bumi dan Garis Katulistiwa).


Maka dengan kepiawaian ulama kita di bidang falakiyah, yang menjadi pertanyaan, kenapa di Banua Banjar tidak memiliki observatorium? Ya, gedung bulat tempat memperhatikan benda-benda angkasa berteropong raksasa. Dengan adanya observatorium, tentu akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan modern juga bisa lebih cepat. Observatorium juga dapat menarik minat anak-anak untuk belajar sains. Padahal, peradaban-peradaban Islam seperti di Andalusia, Baghdad dan Samarkand ratusan tahun lalu sudah memilikinya. Disaat negara-negara lain mulai mengembangkan kemajuan sains untuk memperkuat kedaulatan negaranya, maka Indonesia harusnya sudah mulai membangun dengan adanya modal historis. Dengan sejarah Datuk Kalampayan, kita bisa memajukan ilmu pengetahuan sains yang berlandaskan kearifan lokal berupa nilai agama Islam.


Sebenarnya jika kita menilik, sains dan agama harusnya bisa menjadi selaras dalam kehidupan, bukan sebagai dua entitas yang harus dipetentangkan. Agama menjadi landasan kebenaran yang kemudian ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran tersebut. Memisahkan keduanya akan menjadikan peradaban Islam menjadi terbelakang. Hal ini sudah dibahas di dalam kitab terbitan majalah al-Manar oleh Syekh Rasyid Ridha dan Amir Syakib Arsalan, yang berjudul ‘Limadza Ta’akhkhar al-Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?’ (mengapa umat Islam mundur sedangkan non-Islam maju?) Kitab tersebut berasal dari pertanyaan seorang alim dari Negeri Sambas (sekarang bagian dari Kalimantan Barat), yakni Maharaja Imam Baisuni Imran. Pertanyaan yang singkat tersebut seolah melampaui pemikiran di zamannya.

Namun ketika penulis mengamati kondisi koleksi museum kita yang begitu-begitu saja, jumlah koleksi ensiklopedia di perpustakaan kita yang masih kurang lengkap, fokus visi pembangunan para pemimpin kita yang masih kurang memperhatikan pendidikan, sepertinya harapan itu masih harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Katalisator pembangunan juga masih diukur dari berapa dalam kerukan tanah hasil tambang, bukan dengan meningkatnya kesadaran akan ilmu pengetahuan. Peran ulama kita juga sangat penting, dengan momen haul Datuk Kelampayan yang setiap tahun kita peringati. Hendaknya juga menyisipkan urgensi membangkitkan ilmu falak disela-sela pembacaan manaqib. Hal itu jauh lebih bermanfaat, dibandingkan terus mengisahkan ‘keajaiban’ Datuk Kelampayan memunculkan buah kasturi di Negeri Arab.


(Penulis adalah Sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Demisioner Kepala Departemen Keagamaan Badan Eksekutif Mahasiswa ULM periode 2018, demisioner anggota LDK Unit Kerohanian Mahasiswa Muslim (UKMM) ULM, anggota Angkatan Muda Masjid As-Sa’adah 2016-2017, Komisi D FSLDK 2020-2021, Founder media dakwah @majaliskita)
Referensi :
Azra, Azyumardi. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.
Djaelani, M. Anwar. (2016). 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Pro-U Media.
Halidi, Jusuf. (1968). Ulama Besar Kalimantan Sjech Muhammad Arsjad Al-Banjary. Surabaya: Penerbit al-Ikhsan.
La Eda, Maulana. (2020). 100 Ulama Nusantara Di Tanah Suci. Jawa Tengah: Aqwam.

Mauladdawilah, Abdul Qadir Umar. (2014). 12 Ulama Kharismatik di Indonesia. Malang: Pustaka Basma.


Natsir, Nanat Fatah. (2012). The Next Civilization Menggagas Indonesia Sebagai Puncak Peradaban Dunia. Jakarta: Media Maxima.
Pribadi, Haries. (2018). Qanun & Tarikh Kesultanan Sambas. Pusat Studi Humaniora Indonesia.
Rahmadi, dkk. (2012). Islam Banjar : Dinamika dan Tipologi Pemikiran Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Banjarmasin: IAIN Antasari Press.

Brand New Day ala Anak LDK

oleh: Suryandi Ramadhan

Sudah mendekati akhir tahun nih. Udah banyak banget dong kisah-kisah yang sudah kamu jalani. Banyak rencana-rencana yang mungkin sudah terealisasi, atau bahkan tidak sama sekali. Waktu bakal terasa sangat cepat jika kamu geraknya lambat. Namun sebaliknya, waktu terasa sangat lambat jika kamu geraknya cepat. Begitulah, waktu kadang-kadang membuat bingung mereka yang tak memanfaatkannya untuk kebaikan-kebaikan. Mereka seolah-olah terkekang oleh banyaknya beban dan masalah dunia. Benar memang, meskipun dunia bagi orang kafir adalah surga, namun mereka tak pernah mendapat bahagia. Memang begitu, hakikat dunia itu sementara. Sehingga rasa senangnya juga sementara saja.

“Waktu bakal terasa sangat cepat jika kamu geraknya lambat. Namun sebaliknya, waktu terasa sangat lambat jika kamu geraknya cepat.”

Tapi tahu gak sih? Bagi mereka yang beriman, dunia itu penjara. Tapi coba deh bayangkan, jika kamu masuk penjara. Rindu banget kan keluar dari sana, semua yang di luar penjara bisa dibayangkan bak surga. Padahal bagi mereka yang berada di luar penjara, semuanya biasa-biasa saja. Ya, meskipun dunia yang sedang dijalani orang beriman sekarang ibarat penjara, tapi mereka bisa merasakan begitu indahnya jika kematian itu datang. Mereka bisa melakukan apa saja di surga, mereka bahkan bisa menjadi seratus persen lebih bahagia ketimbang ketika mereka di dunia. Sebab di Al-Qur’an udah tertulis bahwa keindahan surga itu tak pernah dilihat mata dan tak pernah di dengar oleh telinga. Indah bukan?

Nah, oleh karena itu mari mengambil banyak-banyak hikmah dari tahun-tahun yang sudah kita jalani. Bukan seberapa megahnya kita menyambut tahun yang akan datang sih, tapi lebih bagaimana semua yang sudah berlalu bisa menjadi iktibar atau pelajaran bagi kita. Sudah sebesar apa dosa yang kita lakukan, seberapa sering melawan orang tua, udah berapa kali bohongin dosen di masa pandemi ini, sesering apa kita ngerjain teman yang kita anggap hal biasa, padahal bagi dia mungkin itu menyakitkan hatinya. Serta banyak pertanyaan-pertanyaan lain tentang kesalahan kita di tahun ini.

“Bukan seberapa megahnya kita menyambut tahun yang akan datang sih, tapi lebih bagaimana semua yang sudah berlalu bisa menjadi iktibar atau pelajaran bagi kita”

Untuk kembali mengisi semangat, yuk mari siapin semua hal terindah yang bisa kamu bayangkan untuk tahun depan. Bikin rencana-rencana yang bukan sekedar wacana. Kalau bisa, bikin tuh targetan kamu semisal visi dan misi kayak calon-calon kepala daerah gitu. Tapi usahain semuanya berbuah pahala dan orientasinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala. Misalnya gini:

Visi

Hidup untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Mati masuk surga bareng keluarga dan orang-orang beriman di seluruh dunia

Misi

Ngelakuin semua hal baik yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya

Udah gitu aja, nanti silakan deh kamu jabarin sendiri sedetail-detailnya apa yang sudah saya tuliskan di atas. Kalau saya tulis semuanya, gak bakal cukup tulisan ini, bisa-bisa sampai tengah malam saya nulisnya. Eits, yang terpenting dari tahun baru itu muhasabahnya yang harus diperbanyak, ya. Jangan sampai kita ikut-ikutan merayakan hal-hal yang tidak ada urgensinya sama sekali bagi orang-orang beriman. Bahkan lebih banyak jeleknya. Semoga di tahun depan, kita bisa berjaya, dan tentunya menggapi surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.

“Yang terpenting dari tahun baru itu muhasabahnya yang harus diperbanyak, Jangan sampai kita ikut-ikutan merayakan hal-hal yang tidak ada urgensinya sama sekali bagi orang-orang beriman.”

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia Atas Ujaran Kebencian dan Pelecehan Terhadap Umat Islam yang dilakukan oleh Emmanuel Macron

Setiap bentuk pelecehan dan ujaran kebencian terhadap sendi-sendi ajaran Islam tidak dibenarkan, meskipun dengan dalih kebebasan bereskspresi. Oleh karena itu, pelecehan terhadap simbol-simbol dan ritus-ritus agama Islam tidak dapat dibiarkan. Berkaitan dengan pernyataan Emmanuel Macron yang mengaitkan Islam dengan terorisme, serta dukungannya terhadap karikatur Nabi Muhammad saw. sebagai kebebasan berekspresi, kami Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus menyatakan sebagai berikut :

  1. Menegaskan :
  1. Terorisme bukanlah ajaran Islam, adapun tindakan terorisme yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai umat Islam tidaklah menjadi dasar penisbatan terorisme kepada Islam ataupun umat Islam secara umum.
  2. Emmanuel Macron dalam kedudukannya sebagai Presiden Perancis telah menyebarkan kebencian terhadap Islam atau Islamophobia dan telah melukai perasaan umat Islam.
  3. Kebebasan berekspresi tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan pelecehan terhadap suatu agama, baik terhadap ajarannya maupun penganutnya, apalagi di negara yang menjunjung tinggi demokrasi.
  4. Dukungan Emmanuel Macron terhadap karikatur Nabi Muhammad saw. merupakan bentuk pelecehan terhadap sendi ajaran agama. Dengan demikian, ia tidak mampu untuk bersikap toleran terhadap umat Islam.
  5. FSLDK mengecam setiap bentuk pelecehan, ujaran kebencian dan upaya mendiskreditkan Islam yang dilakukan oleh siapapun.
  6. Mendukung penolakan pemerintah Indonesia dan setiap unsur yang menyatakan penolakannya terhadap pernyataan Emmanuel Macron.

2. Mendorong :

  1. Emmanuel Macron untuk meminta maaf kepada umat Islam dan menarik setiap bentuk ujaran kebencian terhadap Islam, serta menghentikan pembuatan dan penyebaran karikatur Nabi Muhammad saw.
  2. Segenap umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi terhadap setiap bentuk pelecehan dan kebencian yang dilontarkan kepada Islam.
  3. Segenap umat Islam untuk melakukan pembelaan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, melalui berbagai bentuk penolakan, juga dengan terus menggaungkan keagungan Islam kepada segenap umat manusia.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai bentuk solidaritas sesama umat manusia, semoga Allah memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi segenap umat manusia.

Atas nama Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Indonesia,

Jakarta, 28 Februari 2020

Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia

(Fadlan Karim)

Link download (pdf) : bit.ly/SikapFSLDKMacron

Pentingnya Menanamkan Akidah Pada Anak

Oleh    : Rina Okdwiani

          Anak merupakan generasi yang akan memimpin bangsa dan menjadi pemuda tonggak peradaban Islam. Sehingga perlu ditanamkan akidah pada diri anak sejak usia dini, karena pada usia ini anak masih dalam keadaan bersih sesuai dengan fitrahnya.

 “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anak, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata) “ Hai anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS Al Baqoroh :132)

          Faidah yang dirasakan jika aqidah sudah tertanam dalam jiwa anak ialah terbiasa tawadu dan selalu meminta pertolongan kepada Allah, senantiasa menyandarkan kesuksesan dan kebahagian yang diperoleh dengan bersyukur kepada Allah, mampu menerima semua ketentuan Allah baik menyenangkan atau sebaliknya.

Ubaidah bin Shamit berkata kepada putranya “Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan lezatnya iman hingga engkau bisa memahami bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan engkau dapatkan. Aku pernah mendengar Rasululah bersabda “Pertama kali Allah menciptakan pena, lalu Allah berfirman kepadanya : “Tulislah!” pena itu menjawab “Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?” Allah menjawab : “Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datang hari kiamat. “Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa meninggal tidak atas keyakinan seperti ini maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Abu daud, Kitabus Sunnah no 4078, dihasankan oleh Syuaib al Arnauth dalam Takhrij Sunah Abi Daud no 4700).

Berikut cara menanamkan akidah pada anak antara lain:

1. Dekatkan anak dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah.

Al Quran berisi begitu banyak kisah-kisah yang bisa diajarkan kepada anak yang dapat menanamkan nilai ketauhidan. Solusi lainnya ialah membelikan buku yang berisi kisah-kisah dalam Al Quran. Sebagaimana KH. Zainuddin MZ berpesan bahwa “Didiklah mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampaiun nyawa terpisah dari hatinya. bahkan dia sanggup dengan tegar berkata “lebih baik saya melarat karena mempertahankan iman daripada hidup mewah dengan menjual aqidah”.

2. Ajak anak mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Bisa dilakukan dengan mengajaknya sholat, kenalkan masjid, majelis taklim dan ajak mereka untuk mendengarkan bacaan Al Quran dari lisan orang tuanya.

   3. Mendorong anak untuk serius dalam menuntut ilmu.

Bisa dilakukan dengan orang yang kita anggap dapat membantu membentuk frame berpikir islami seperti mendorong anak untuk bersilaturahim, berkunjung ke pengasuh pesantren untuk berdiskusi, mendatangi masjelis ilmu yang dapat menguatkan akidah anak.

Sumber: https://muslimah.or.id/11298-mengajarkan-akidah-sejak-dini.html

9 PERSOALAN BERAT RUU HIP

Begitu beratnya kandungan RUU HIP sehingga RUU ini wajib ditolak seluruhnya, bukan sekedar revisi dan tambal sulam. DImana saja persoalannya?

1. Problem Judul RUU (Contradiction in Terminis)

▪ Haluan bermakna arah, tujuan, terdepan, sebelah muka, dan pedoman, sehingga menjadikan Pancasila sebagai tujuan  bertentangan (contradiction in terminis) dengan ketetapan bahwa Pancasila sebagai Landasan Filosofis NKRI, Ideologi Negara, dan Sumber dari segala sumber hukum negara;

Pancasila adalah Ideologi Negara sebagaimana Empat Pilar MPR, sehingga penggunaan kata Ideologi Pancasila bermakna rancu: Ideologi Ideologi, terjadi pengulangan;

▪ Judul juga menyiratkan makna bahwa yang dibina adalah Ideologi Pancasila, bukan masyarakatnya yang didorong untuk menghayati sebagaimana di masa Orde Baru adanya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dan Badannya BP-7.

▪ Penafsiran ulang pada Pancasila sebagaimana dilakukan kembali pada RUU-HIP ini mengulang sejarah penafsiran yang pernah dicoba dalam sejarah seperti TUBAPIN (7 Bahan Pokok Indoktrinasi), Manipol, Nasakom, dan Ekaprasetya Pancakarsa, dan seluruh penafsiran ini butuh disosialisasikan dengan dana yang tidak sedikit.

2. Downgrading Pancasila

▪ Pancasila sudah menjadi ground norm (norma dasar), sumber dari segala sumber hukum, sehingga menurunkannya menjadi UU hanya akan menjadikan Pancasilan sebagai norma biasa;

▪ Jika Pancasila menjadi norma biasa, maka Pancasila bisa menjadi ‘alat gebuk’ bagi lawan politik pemerintah, dan terdapat potensi ini di pasal 4.d. yaitu pedoman instrumentalistik dengan penjelasannya adalah terkait sengketa ideologis;

▪ Menurunkan derajat Pancasila (downgrading) dengan memonopoli penafsiran yang seharusnya milik bersama, menjadi milik penguasa tertentu

▪ Menentang UU No. 12 tahun 2011 bahwa semua UU terletak di bawah Pancasila, sehingga RUU HIP akan menjadi sumber dari segala sumber hukum NKRI

3. Menyalahi Etika Bernegara

▪ Membuka Perdebatan Ideologis tidak efektif di tengah situasi ekonomi yang menurun

▪ Membuka luka lama umat Islam atas hilangnya 7 kata

▪ Tidak memenuhi skala prioritas dalam penyelenggaraan negara di masa wabah COVID-19 dan diproses dengan diam-diam dan terkesan menutup diri dari aspirasi masyarakat madani

▪ Menghabiskan waktu dan biaya mulai dari pembahasan, sosialisasi hingga turunan teknis, yang seharusnya bisa digunakan untuk membantu penanganan bencana

4. Mengkhianati Sejarah Lengkap Pancasila

▪ Mereduksi Sejarah Pancasila Hanya Pada Peristiwa 1 Juni 1945

▪ Memandang tokoh bangsa hanya Soekarno seorang, menegasikan kerja bersama tokoh bangsa;

▪ Tidak Menjadikan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai bagian dari dasar hukum RUU terhadap teks Pancasila yang digunakan hari ini

▪ Mengkhianati Proses Panjang Redaksi Pancasila yang harus dibaca secara utuh dari latar belakang kelahirannya, pidato dan pendangan para pendiri bangsa – para tokoh bangsa dalam BPUPK, Pidato Soekarno 1 Juni 1945, kesepakatan bulat pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Pembukaan UUD 1945 serta Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang diterima secara bulat oleh DPR RI pada 22 Juli 1959.

5. Membangkitkan Sentimen PKI

▪ Tidak mencatumkan TAP MPRS XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang

▪ PKI dahulu bersepakat dengan perjuangan Gotong Royong:

– Ciri Pokok Pancasila menjadi Trisila: Sosio-Nasionalisme; Sosio-Demokrasi, dan Tuhan Yang Berkebudayaan (Pasal 7 ayat 2);

– Trisila diperas menjadi Eka Sila yaitu Gotong Royong (Pasal 7 ayat 3);

6. Menghilangkan Ruh Ketuhanan Yang Maha Esa

▪ Memuat ulang diskursus Ketuhanan Yang Berkebudayaan

▪ Menambahkan Rohani Setelah Agama, padahal agama telah mencakup rohani (pasal 22)

▪ Hanya menjadikan Keadilan Sosial sebagai pokok Pancasila telah mendistorsi makna Pancasila yang terdiri dari lima pokok (dasar), dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai “causa prima” dari sila-sila Pancasila.

▪ Tidak bisa membedakan antara Adil di Sila ke-2 dan Keadilan pada Sila ke-5 (pasal 6)

▪ Penjelasan UU tidak menjadikan berketuhanan sebagai karakter manusia Pancasila

7. Berkonsekuensi meragukan keabsahan seluruh produk konstitusi 75 tahun terakhir

▪ Tujuan RUU HIP di Pasal 1, ketentuan umum RUU HIP yang berbunyi: “Haluan Ideologi Pancasila adalah pedoman bagi penyelenggara negara dalam menyusun dan menetapkan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi terhadap kebijakan pembangunan nasional di bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, mental, spiritual, pertahanan dan keamanan yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi, serta arah bagi seluruh warganegara dan penduduk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila.”

▪ Dari penjelasan di atas terkait dibutuhkannya RUU HIP berkonsekuensi logis lahirnya makna hukum bahwa selama 75 tahun terakhir produk para penyelenggara negara di Indonesia ternyata tidak berdasarkan nilai-nilai Pancasila;

▪ Adanya kata penduduk setelah warga negara berkonsekuensi logis siapapun (termasuk warga negara asing) untuk menjadi Manusia Pancasila (pasal 41)

8. Menyelipkan Ideologi Barat

▪ Nilai (Value) (Naskah Akademik hlm. 19)

▪ Humanisme (Naskah Akademik hlm. 21)

Pemikiran Barat sejak 1808 (umanista) yang meyakini kekuatan individu dalam menentukan kebenaran. Terlacak sejak Yunani Kuno. kardinal Pelagius (354-420) yang mulai berwacana bahwa manusia punya kapasitas untuk berkembang sendiri tanpa Tuhan. Bisa tahu baik buruk dengan akalnya. Sejak awal telah berwatak sekuler.

▪ Meniadakan Adab

▪ Pendidikan Untuk Tenaga Terampil (pasal 24)

▪ Kesetaraan Gender (pasal 28)

Jenis Kelamin (Sex) berusaha dibedakan dengan Orientasi Seksual (Gender). Perdebatan antara nature dan nurture, yakni antara alamiah pemberian Tuhan dan yang terbentuk dari konstruksi sosial

9. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dihilangkan, dan digantikan dengan Manusia Pancasila, Masyarakat Pancasila (pasal 41)

Tulisan:

Ustadz Wido Supraha

Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Umat Islam (PUI)

https://adabmedia.com/2020/06/15/9-persoalan-berat-ruu-hip/