Berpuasa dalam Karantina

Tak bisa dipungkiri bahwa Ramadhan tahun ini memiliki suasana yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Keadaan seluruh dunia terkait Covid-19 yang mengharuskan kita lebih berwaspada dalam berinteraksi membuat citra Ramadhan yang biasa penuh keramaian dan saling silaturahim seolah pupus. Tidak lagi ramai masjid-masjid dengan berbondong-bondong orang tarawih, tidak lagi berisik tempat makan di jam petang dengan anak-anak muda berbuka puasa bersama, tidak lagi merekah senyum orang tua dan anak yang melepas rindu dari lepasnya perantauan.

Tapi Ramadhan tahun ini tetap memberikan berkahnya tersendiri. Mungkin selama ini kita memang salah melupakan Ramadhan sebagaimana mestinya ia. Bukan sekadar waktu yang tepat melepas rindu dengan kawan lama hingga lupa waktu, bukan hanya momen bereuforia karena pasar meningkat. Ia sebagaimana yang diilhamkan pada manusia, adalah sarana manusia agar bertakwa.

Dan dengan terkurung dalam rumah masing-masing, masihkah kita giat salat malam? Sementara pada ramadhan biasa saja masjid sudah sepi menjelang lebaran? Masihkah kita semangat menghidupkan hari dengan beribadah? Seberapa jauh kita akan menjadikan ketidakleluasaan bergerak sebagai alasan? Alih-alih tantangan yang perlu ditaklukan? Bahkan sebuah kesempatan atas waktu luang yang berlimpah?

Ramadhan tahun ini berbeda, itu tak bisa dipungkiri. Maka harap pula kita punya strategi yang berbeda untuk membuatnya lebih berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *