Pancasila; Sebuah Pakta Toleransi Tertinggi

Kadang-kadang dalam lingkungan petugas negara Pancasila itu tidak diamalkan. Camkanlah, negara Republik Indonesia belum lagi berdasarkan Pancasila, apabila Pemerintah dan masyarakat belum sanggup mentaati Undang-Undang Dasar 1945, terutama belum dapat melaksanakan Pasal 27 ayat 2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34.” (Pidato Bung Hatta pada 1 Juni 1977 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta).

Begitulah Bung Hatta menjawab persoalan bangsa ini, sembari mengingatkan demikian besarnya peran pemerintah, masyarakat dan semua elemen bangsa ini dalam upaya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai philosofische grondslag. Yang sudah menjadi gentlement agreement sebagai rancangan preambule konstitusi atau mukadimah Undang-Undang Dasar yang merupakan hasil dari diskusi panjang para pendiri bangsa ini terdahulu.

Kita patut bangga, karena negara yang demikian besar dan beragam ini masih eksis dalam satu kesatuan yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila memiliki peran yang paling mendasar dalam proses permulaan bangsa ini, dan kita berharap hal itu juga akan berlaku dan terus berlanjut pada masa-masa yang akan datang, terutama masa-masa sulit saat ini.

Sebagai indikator pembanding, mari kita lihat Referendum Quebec 1995, “yang merupakan referendum kedua untuk memutuskan nasib Quebec sebagai provinsi Kanada atau memisahkan diri untuk menjadi sebuah negara merdeka”. Referendum ini muncul hanya karena perbedaan dua budaya saja, yaitu Inggris dan Prancis. Hal yang sama juga terjadi pada India dan Pakistan di tahun 1947 silam, perbedaan agama yang akhirnya membuat negara bekas jajahan Inggris ini akhirnya terbagi.

Maka patut kita syukuri bersama, negara sebesar Indonesia ini yang notabenenya adalah negara kepulauan dengan kurang lebih 70.000 pulau dari sabang sampai merauke. Artinya, dengan laut sebagai batasan teritorial tidak menjadikan Indonesia tercerai berai. Begitu juga dengan keragaman bahasa yang ada, kita punya ratusan bahasa daerah: Jawa, minang, bugis, mandailing, melayu dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan keragaman agama dan kepercayaan yang mendiami bangsa ini. Sebenarnya ada banyak indikator yang mampu kita kemukakan untuk membuat bangsa ini tercerai berai. Tapi kita tidak melakukan itu, karena kita sudah “Tsiqoh” dengan Pancasila sebagai Pakta toleransi tertinggi untuk semua perbedaan yang ada dan sudah ada bahkan sebelum Tan Malaka mengenalkan istilah “Republik” untuk bangsa ini.

Refleksi nilai-nilai Pancasila

Pada dasarnya dalam sejarah yang cukup panjang, Pancasila sudah mampu berinteraksi dengan baik terhadap setiap elemen yang hidup di dalamnya. Fakta bahwa Pancasila dibangun atas dasar-dasar yang berasal dari nilai-nilai religious adalah benar. Jika kita uji satu persatu nilai Pancasila maka dari sila pertama sampai sila kelima adalah buah pikir yang berasal dari nilai-nilai keagamaan.

Pertama, Sila Pertama. “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila pertama menjelaskan bahwasanya ada semacam keharusan yang telah disepakati bersama agar setiap orang yang ada di Indonesia adalah wajib mempunyai keyakinan kepada tuhan. Karena bagaimanapun juga kultur budaya dan adat bangsa kita telah mewariskan semacam DNA kepercayaan kepada kekuatan yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri.

Kedua, Sila Kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kecenderungan hari ini orang-orang menggunakan sila ini sebagai legitimasi atas pemuasan nafsu-nafsu kemanusiaannya. Sebut saja upaya pelegalan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang menjadikan sila kedua ini menjadi senjata pamungkasnya. Tanpa pernah disadari bahwasanya pola penafsiran Pancasila yang sebenarnya. Pancasila dibuat berurutan dari satu sampai lima adalah hierarki. Dalam artian, sila pertama menjadi titik tafsir untuk sila-sila dibawahnya. Sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima harus sesuai dengan norma dasar pada sila pertama. Maka kemanusiaan disini adalah kemanusian yang telah bersandar pada nilai ketuhanan. Lalu kemudian istilah beradab, Pancasila adalah produk yang lahir dari nilai keberagaman bangsa. Maka ia adalah adab yang dinormakan. Dan LGBT bukan adab bangsa ini.

Ketiga, Sila Ketiga “Persatuan Indonesia”. Adanya Pengakuan bahwasanya keberagaman yang sudah ada ini saling membutuhkan satu sama lainnya dan mesti berjalan dengan membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”. Sila keempat ini menunjukan bahwasanya ada kebebasan yang diberikan kepada warganegara ini untuk menyuarakan aspirasinya. Ada penghargaan terhadap suaranya. Kelima, “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Menjaga eksistensi Pancasila

Politisasi Pancasila menjadi salah satu momok yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Mengutip pendapat Rocky Gerung dalam diskusi Reboan di Indonesia Democracy Monitor (Indemo), di Jl Lautze 62 C, Jakarta Pusat, Rabu (7/6) memaparkan Pancasila sebagai sekedar “tools of politics” dan lebih parah lagi sebagai pembatas antara “kami yang pluralis” dan “mereka yang fundamentalis”. Karena semua dianggap sudah ada jawabannya melalui Pancasila, tandas Rocky, maka siapapun penguasa memperlakukan Pancasila untuk “turun tangan” mengatasi segala macam jenis penyakit. Akibatnya bangsa ini kehilangan kemampuan dalam memproduksi gagasan.

Hari ini Pancasila sengaja dibenturkan dengan islam. Pancasila dijadikan indikator untuk mengeluarkan seseorang dari nasionalismenya. Pancasila coba ditafsirkan sesuai dengan citarasa penguasa. Jika kita lihat secara komprehensif dan historis, Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai ketuhanan. Begitupun dengan nilai-nilai keislaman.

Dalam hemat penulis, Pancasila diposisikan oleh kekuasaan hari ini sebagai pembeda antara yang nasionalis dan islamis. Padahal islam sudah lebih dulu mengajarkan konsep nasionalis. Hari ini orang-orang yang berbicara perihal agama dibungkam dengan istilah tidak nasionalis. Hal yang paling sederhana saja adalah ketika perdebatan tagar #2019GantiPresiden. Yang notabenenya adalah tagar yang secara tidak lansung mendukung pasangan cawapres pilihan ulama. Lalu kemudian dimunculkan tagar #2019TetapPancasila. Seakan-akan mereka yang dengan tagar #2019GantiPresiden adalah mereka yang tidak pancasilais, tidak nasionalis.

Hari ini Pancasila digunakan sebagai legitimasi untuk membenarkan kecurigaan penguasa terhadap apa yang ada dalam setiap diri orang besar dalam gerakan-gerakan yang muncul. Setiap manusia lain yang punya insting politik seakan-akan sah dan legal menjadi musuh politiknya yang dengan Pancasila bisa ia bungkam dan hancurkan dengan mudah.

Maka dari itu pada momen kelahiran Pancasila ini, mari sama-sama kita maknai kembali apa yang sudah di ucapkan Bung Hatta ”Negara Republik Indonesia belum lagi berdasarkan Pancasila, apabila Pemerintah dan masyarakat belum sanggup mentaati Undang-Undang Dasar 1945, terutama belum dapat melaksanakan Pasal 27 ayat 2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34” bahwasanya pengemban amanah terbesar dalam menjaga Pancasila sebagai philosofische grondslag pada urutan pertama ada pada pundak pemerintah.

“Pancasila itu letaknya disini, bukan disini” percuma saja dan sungguh kesia-siaan yang sangat besar sekali dengan adanya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Percuma saja adanya sosialisasi Pancasila ke daerah-daerah, dan sangat sia-sia juga keberadaan pemuda Pancasila di setiap daerahnya ketika mereka yang membuat kebijakan (pemerintah), yang membentuk, maupun mereka yang dibentuk dalam upaya mempertahankan eksistensi Pancasila tersebut tidak sedikitpun menunjukkan prilaku yang ”berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkesatuan indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

“bagaimana mungkin kita bisa menyembuhkan penyakit yang sebenarnya ada di atas sana dengan mengirim dokter untuk mengobati orang-orang yang tidak punya penyakit di bawah sini”

(Hardian Feril, Ketua Komisi B FSLDK Sumatera Barat)

Mengokohkan Peran Kebangsaan Pemuda: FSLDK Sumbar Bermalam di Masjid

Padang, 16 Februari 2019, ratusan mahasiswa mengikuti Gerakan Subuh Berjamaah Nasional (GSJN) di Masjid Nurul Ilmi (MNI) Universitas Andalas, Padang. Kegiatan yang bertujuan untuk mengokohkan peran kebangsaan pemuda ini dimulai pada pukul 20.00 WIB (16/02/19) hingga pukul 06.00 WIB (17/02/19).

Menurut Riski Azmirwan Sekretaris Puskomda FSLDK Sumbar, GSJN merupakan kegiatan bulanan yang sudah dirutinkan sejak empat tahun terakhir. “FSLDK se-Indonesia mengadakan kegiatan ini” tambahnya.

Yusrizal Yasmar, ketua Komisi A Puskomda FSLDK Sumbar mengatakan bahwa kegiatan GSJN merupakan refleksi terhadap fenomena yang terjadi saat ini. Pemuda adalah salah satu ujung tombak untuk peradaban di masa depan. Oleh karena itu, perlu diadakan kegiatan untuk mengokohkan peran kebangsaan tersebut.

Adapun rangkaian kegiatan ini adalah: Shalat Isya Berjamaah, ceramah agama, membaca al-qur’an, shalat subuh berjamaah, dan diakhiri dengan ceramah agama.

Ustad Azka, salah satu pemateri dalam kegiatan ini mengatakan bahwa pemuda adalah tonggak peradaban di masa depan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai seorang pemuda, yaitu fisik, masa depan, dan orientasi ke depan.

Lebih lanjut, Ustad Azka juga menjelaskan beberapa tips yang dapat dilakukan seorang pemuda dalam perannya memajukan bangsa, yaitu meningkatkan rasa cinta pada negeri, belajar dengan sungguh-sungguh, bertekad menjadi manusia berguna, menggunakan waktu muda dengan kegiatan-kegiatan positif, bersahabat dengan orang yang berpikiran maju, memperbanyak teman dan mengurangi musuh, serta tips lainnya.

Riski Maulana, dalam kata sambutannya membuka acara mengajak para peserta GSJN tersebut untuk meningkatkan iman dan mempererat ukhuwah (persaudaraan) antar pemuda (KomD).

GEMAR: Pasukan Merah Muda FSLDK Sumbar berbagi Ratusan Pakaian Muslim

Padang, 17 Februari 2019. FSLDK Sumbar bersama ASSALAM Sumbar gelar aksi Gerakan Menutup Aurat (Gemar) di Lokasi CFD (Car Free Day), jalan Khatib Sulaiman Padang. Aksi yang dimulai pada pukul tujuh hingga pukul sepuluh pagi ini diikuti oleh ratusan mahasiswa se-Sumbar.

Riski Maulana, ketua umum Puskomda Sumbar mengatakan bahwa GEMAR merupakan kegiatan tahunan, sebagai bentuk kepedulian terhadap ironi gaya berpakaian minim yang dianggap wajar oleh masyarakat saat ini.

Gemar FSLDK Sumbar
gemar FSLDK Sumbar

Sindy, selaku koordinator Komisi C Puskomda FSLDK Sumbar, mengatakan persiapan aksi ini sudah dimulai sejak satu bulan terakhir. Mulai dari Koordinasi antar Lembaga Dakwah Kampus (LDK), pengumpulan donasi, publikasi, hingga aksi. Pakaian yang dibagikan merupakan hasil donasi, baik dari kalangan mahasiswa maupun dari luar kalangan mahasiswa. Donasi yang dibagikan tidak hanya jilbab, namun juga jenis pakaian lain berupa rok, gamis, kaos kaki, sajadah, dan lain-lain.

Adapun rangkaian kegiatan dalam aksi ini ialah: longmarch dari Mesjid Raya Sumbar ke Transmart, orasi, Gemar Challenge, dan Gemar berbagi.

Peserta dengan nuansa merah muda ini berusaha mengajak pengunjung CFD untuk menutup aurat. Ajakan yang disampaikan dengan yel-yel menarik ini mampu menyemarakkan kegiatan.

“Aksi ini bagus dilaksanakan karena mengimbau khalayak ramai untuk menutup aurat dan selagi dilaksanakan dengan tertib,” ujar Ayu, salah satu pengunjung CFD.

Berbagai saran dan tanggapan postif lain juga disampaikan masyarakat kepada peserta.

“Masyarakat berharap aksi ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya,” ujar Firda salah satu peserta.

Sempurnakan Hijabmu

Rara nampak cerah hari itu. Tudung (re: hijab/kerudung) berbunga-bunga di kepala lengkap dengan warna merah yang menyala, memberi kesan ceria dan penuh semangat dalam jiwanya. Tak lupa bagian ujungnya disematkan agar tak menjuntai begitu saja. Celana pensil putih yang dipadukan dengan  baju kemeja iklim tropis, polesan make up di wajah ala gadis korea, serta tak ketinggalan sepatu hak tinggi membuatnya semakin percaya diri untuk beraktifitas di  kampus. Penampilan seperti itu dianggap gaul, tidak ribet, dan tentunya tetap dengan simbol keislamannya (mengenakan jilbab). Intinya style seperti itu tengah diminati saat ini, begitupun Rara dan teman-temannya.

Penampilan seperti itu menghilangkan pandangan bahwa muslimah itu tidak selalu identik dengan rok dan potongan baju kaku, jilbab lebar kelabu, serta sendal gunung lengkap dengan kaos kakinya. Citra tersebut berhasil diganti dengan citra yang baru. Ditambah dengan begitu banyaknya toko jilbab online yang menawarkan berbagai jenis jilbab yang lucu dan menarik, dengan variasi potongan dan ukuran tertentu. Sehingga variasi yang terjadi pada pakaian muslimah dalam hakikat yang sebenarnya mengalami degenerasi, akibat adanya konvensional group. Lantas bagaimana sebenarnya Islam mengatur itu semua?

Pakaian Muslimah (yang Sebenarnya)

Islam adalah agama Allah yang sempurna. Tak satu pun yang luput tanpa aturannya. Bahkan hal kecil seperti ke kamar mandi sekalipun ada adab dan normanya. Kita diperintahkan untuk berdoa dan masuk dengan kaki kiri, serta keluar dengan kaki kanan, serta membaca doa (ghufraanaka). Begitu juga dengan Muslimah. Allah berikan perhatian yang lebih kepada muslimah, bahkan ada satu surat yang Allah beri nama An-Nisaa, yakni perempuan, khusus membahas tentang perempuan. Menandakan bahwa Muslimah begitu spesial dan berharga. Maka sudah barang tentu ada kewajiban yang perlu dijalankan oleh seorang muslimah, salah satunya menyempurnakan hijab sesuai syariat.

Ada kriteria yang wajib dipenuhi oleh muslimah dalam berpakaian. Seperti yang  tertuang dalam kitab Fiqh Wanita yang ditulis oleh Ibrahim Muhammad Al-Jamal:

Pertama menutupi seluruh badan selain wajah dan kedua telapak tangan. Kedua, tidak ketat sehingga masih menampakkan bentuk tubuh yang ditutupinya. Ketiga, tidak tipis temaram sehingga warna kulit masih bisa dilihat. Keempat, tidak menyerupai pakian laki-laki. Kelima, tidak berwarna mencolok sehingga menarik perhatian orang. Keenam, tidak menyerupai pakaian wanita kafir dan ketujuh, dipakai bukan dengan maksud memamerkannya.

Selain  kriteria tersebut pemakaian kerudung harus sampai menutupi dada. Hal itu disebutkan secara jelas dalam QS An-Nisaa’:31

“…dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.

serta dalam QS Al-Ahzab ayat 59,

            “…. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka perintah untuk menutup aurat tersebut sudah sangatlah terang Allah sampaikan, agar kita lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu. Dalam tafsir Ibnu Katsir, As-Saddi mengatakan bahwa dahulu kaum lelaki fasik dari kalangan penduduk Madinah  suka mengganggu wanita yang keluar malam. Saat itu rumah penduduk Madinah kecil-kecil. Bila hari telah malam, kaum wanita hendak menunaikan hajatnya keluar, dan hal ini dijadikan kesempatan oleh orang-orang fasik untuk mengganggunya. Tetapi apabila mereka melihat wanita yang keluar itu memakai jilbab, maka mereka  berkata kepada teman-temannya, “Ini adalah wanita merdeka, jangan kalian ganggu.” Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, “Ini adalah budak”, lalu mereka mengganggunya.

Maka itu adalah satu hikmah dari sekian banyak hikmah yang Allah sampaikan untuk muslimah agar menutup aurat dengan sempurna. Namun perlu diperhatikan juga, niat tetap yang utama dalam mengerjakannya. Murni karena ini adalah perintah Allah SWT.  Bentuk ketaatan muslimah kepada Allah, menjalankan yang sudah diperintahkan dan meninggalkan hal yang tidak diperintahkan, termasuk membuat variasi-variasi tandingan dalam berpakaian sehingga hakikat utama berjilbab sesuai perintah menjadi tersamarkan.

Memfungsikan (kembali) Jilbab

Ketika seorang jilbaber ingin terlihat menarik dan ingin semua mata tertuju padanya, maka yakinlah itu bukanlah hijab yang menutupi diri. Sangat kontras tentunya dengan perintah yang ada dalam Al-Qur’an. Karena justru yang menjadi alasan agar muslimah menutupi tubuhnya dengan pakaian syar’i, untuk meredam fitnah yang ada padanya.

Adalah sebuah fakta bahwa wanita sumber fitnah terbesar bagi kaum laki-laki. Dalam surat Yusuf ayat 28, Zulaikha disebutkan memiliki tipu daya yang besar (inna kaida kunna ‘adzhiim), lalu bandingkan dengan sebutan tipu daya Syaithan yang Allah abadikan dalam Al-Quran, …”sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’:76). Maka sudah sepatutnya muslimah perlu intropeksi diri, bahwa tipu daya/fitnah wanita lebih berbahaya dari Syaithan. Bahkan sudah barang tentu juga, muslimah meyakini kalimat ini : wanita itu adalah aurat. Jika kalimat itu sudah dipahami, maka sudah saatnya kemantapan hati untuk memfungsikan kembali hijab tersebut sesuai dengan tuntunan illahi.

Karena jilbab dan kerudung adalah model busana yang memiliki aturan main. Bukan sekedar trend atau style yang dapat diatur sesuai selera. Adalah wujud penghambaan muslimah kepada Rabb-Nya. Bentuk pengakuan bahwa Allah ‘azza wa jalla berhak penuh mengatur kehidupannnya. 

Hari ini, memfungsikan kembali jilbab sesuai haknya adalah tindakan terbaik yang dipilih oleh muslimah. Karena hidup (beriman) di akhir zaman tidaklah mudah, seperti menggenggam bara api yang sangat panas kata Rasulullah. “Menjaga dan terjaga” hari ini adalah keharusan. Bukan lagi hanya sekedar tanggung jawab sebagai muslimah.

Muslimah dan Peradaban

Wanita itu tiang negara, apabila kaum wanitanya baik maka baiklah kehidupan suatu negara, namun apabila kehidupan kaum wanita dalam suatu negara itu rusak, maka rusaklah negara itu. (H.R Imam Muslim).

Barangkali kita tidak asing lagi dengan hadist di atas. Secara tidak langsung, tuntutan hadist tersebut adalah menjaga dan mendidik wanita, (khususnya muslimah) agar tetap pada kehidupan yang baik. Standar baiknya wanita adalah Islam (Al-Quran dan Sunnah).  Sehingga tuntutan hadist itu adalah amanah bersama, artinya tidak hanya tugas wanita semata. Peran laki-laki (ayah, saudara, atau suami) mesti mengambil bagian dalam hal ini.

Muslimah adalah kontributor peradaban dunia, khususnya tamadun dunia Islam. Dalam mewujudkan tamadun Islam maka muslimah harus menjadi kontributor bagi dirinya sendiri untuk berubah. Kontributor menciptakan lingkungan yang sehat. Kontributor merangkul wanita yang ada di luar sana untuk sama-sama berproses menjadi baik. Semuanya  itu tentunya dimulai dari diri sendiri. Tidak bisa untuk mewujudkan peradaban Islam hanya dengan cantik, kuliah yang rajin (saja) dengan pengetahuan dan cita-cita yang tinggi (saja), jika tanggung jawab sebagai muslimah dalam menutup aurat dengan sempurna tidak dapat dilakukan. Karena jika pintar sekedar pintar, jika berpengetahuan sekedar berpengetahuan, cantik hanya sekedar cantik, maka 1Hetairai lebih mampu melakukannya. Maka sempurnakan hijabmu untuk diri, lingkungan keluarga, masyarakat, dan dunia.

Padang, 10 Februari 2019

-Susi Wahyuni, Komisi C Syiar Muslimah FSLDK Sumbar-

___________________________________________

1 Hetairai adalah wanita penghibur kelas atas Athena Kuno (Yunani) yang dipuja semua orang, yang piawai dalam memainkan musik, serta berpengetahuan tinggi, khususnya dalam politik, filsafat dan ilmu  lainnya.

Kabar Palestina, Alarm Kita

Sejak Palestina dilanda musim dingin, perjuangan masyarakat Ghaza dalam mempertahankan hidup semakin bertambah.  Wartawan Indonesia untuk Palestina, Abdilah Onim menceritakan kondisi anak-anak Palestina yang tengah kedinginan. Untuk meminimalisir kedinginan, mereka menyalakan api unggun. Mirisnya, pernah terjadi kebakaran di saat mereka tertidur, yang tak lain disebabkan oleh api unggun yang digunakan untuk menghangatkan tubuh para penghafal Quran tersebut. Meskipun demikian, tidak ada rona takut terpancar dari wajah mereka. Air mata kesakitan yang mengaliri pipi pun tak berselang lama. Berlarut-larut dalam kesedihan, bukanlah sifat mereka.

Itulah sebabnya, mengapa kita sering melihat adanya potret-potret para mujahid di atas kursi roda yang ikut bersama rombongan demonstran. Walaupun demonstrasi yang diharapkan dapat memberikan hak justru malah menghilangkan nyawa, mereka tidak pernah takut. Kematian di ranah perjuangan adalah kematian yang membanggakan. Berharap menjadi syuhada yang dimuliakan Allah di sisiNya.

Dilansir dari portal berita Suara Palestina.com yang dibagikan oleh Abdillah Onim, di halaman facebook-nya, sebanyak 22 orang demonstran Palestina mengalami cidera akibat serangan dari pihak Yahudi, Jumat (04/01/19) kemarin. Tak hanya warga, tim medis pun termasuk ke dalam daftar korban cidera tersebut. Ribuan warga dalam aksi yang disebut Masirat Al Kubra ini ditembaki pihak Israel dengan peluru tajam dan gas air mata.

Adalah salah satu bukti kekuasaan Allah, di saat para mujahid meninggal di medan perjuangan, Allah memberikan calon-calon pengganti mujahid dari rahim ibu-ibu di Palestina. Tanah Palestina terkenal dengan kelahiran bayi kembar. Memasuki tahun 2019, bayi kembar tiga lahir di empat wilayah Palestina. Mereka lahir dari kaum Dhuafa, yang tentu saja membutuhkan bantuan beruapa selimut dan beberapa bantuan keperluan bayi lainnya.

Kembali menjadi alarm bagi kita, bahwa saudara-saudara kita saat ini masih berjuang mempertahankan tanah suci. Sudah selayaknya kita sebagai pemuda muslim juga ikut membantu perjuangan mereka, baik dengan materi maupun doa. Semoga doa yang diselipkan pada waktu dua pertiga malam langsung diluncurkan Allah kepada para saudara kita di Palestina.