9 PERSOALAN BERAT RUU HIP

Begitu beratnya kandungan RUU HIP sehingga RUU ini wajib ditolak seluruhnya, bukan sekedar revisi dan tambal sulam. DImana saja persoalannya?

1. Problem Judul RUU (Contradiction in Terminis)

▪ Haluan bermakna arah, tujuan, terdepan, sebelah muka, dan pedoman, sehingga menjadikan Pancasila sebagai tujuan  bertentangan (contradiction in terminis) dengan ketetapan bahwa Pancasila sebagai Landasan Filosofis NKRI, Ideologi Negara, dan Sumber dari segala sumber hukum negara;

Pancasila adalah Ideologi Negara sebagaimana Empat Pilar MPR, sehingga penggunaan kata Ideologi Pancasila bermakna rancu: Ideologi Ideologi, terjadi pengulangan;

▪ Judul juga menyiratkan makna bahwa yang dibina adalah Ideologi Pancasila, bukan masyarakatnya yang didorong untuk menghayati sebagaimana di masa Orde Baru adanya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dan Badannya BP-7.

▪ Penafsiran ulang pada Pancasila sebagaimana dilakukan kembali pada RUU-HIP ini mengulang sejarah penafsiran yang pernah dicoba dalam sejarah seperti TUBAPIN (7 Bahan Pokok Indoktrinasi), Manipol, Nasakom, dan Ekaprasetya Pancakarsa, dan seluruh penafsiran ini butuh disosialisasikan dengan dana yang tidak sedikit.

2. Downgrading Pancasila

▪ Pancasila sudah menjadi ground norm (norma dasar), sumber dari segala sumber hukum, sehingga menurunkannya menjadi UU hanya akan menjadikan Pancasilan sebagai norma biasa;

▪ Jika Pancasila menjadi norma biasa, maka Pancasila bisa menjadi ‘alat gebuk’ bagi lawan politik pemerintah, dan terdapat potensi ini di pasal 4.d. yaitu pedoman instrumentalistik dengan penjelasannya adalah terkait sengketa ideologis;

▪ Menurunkan derajat Pancasila (downgrading) dengan memonopoli penafsiran yang seharusnya milik bersama, menjadi milik penguasa tertentu

▪ Menentang UU No. 12 tahun 2011 bahwa semua UU terletak di bawah Pancasila, sehingga RUU HIP akan menjadi sumber dari segala sumber hukum NKRI

3. Menyalahi Etika Bernegara

▪ Membuka Perdebatan Ideologis tidak efektif di tengah situasi ekonomi yang menurun

▪ Membuka luka lama umat Islam atas hilangnya 7 kata

▪ Tidak memenuhi skala prioritas dalam penyelenggaraan negara di masa wabah COVID-19 dan diproses dengan diam-diam dan terkesan menutup diri dari aspirasi masyarakat madani

▪ Menghabiskan waktu dan biaya mulai dari pembahasan, sosialisasi hingga turunan teknis, yang seharusnya bisa digunakan untuk membantu penanganan bencana

4. Mengkhianati Sejarah Lengkap Pancasila

▪ Mereduksi Sejarah Pancasila Hanya Pada Peristiwa 1 Juni 1945

▪ Memandang tokoh bangsa hanya Soekarno seorang, menegasikan kerja bersama tokoh bangsa;

▪ Tidak Menjadikan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai bagian dari dasar hukum RUU terhadap teks Pancasila yang digunakan hari ini

▪ Mengkhianati Proses Panjang Redaksi Pancasila yang harus dibaca secara utuh dari latar belakang kelahirannya, pidato dan pendangan para pendiri bangsa – para tokoh bangsa dalam BPUPK, Pidato Soekarno 1 Juni 1945, kesepakatan bulat pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Pembukaan UUD 1945 serta Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang diterima secara bulat oleh DPR RI pada 22 Juli 1959.

5. Membangkitkan Sentimen PKI

▪ Tidak mencatumkan TAP MPRS XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang

▪ PKI dahulu bersepakat dengan perjuangan Gotong Royong:

– Ciri Pokok Pancasila menjadi Trisila: Sosio-Nasionalisme; Sosio-Demokrasi, dan Tuhan Yang Berkebudayaan (Pasal 7 ayat 2);

– Trisila diperas menjadi Eka Sila yaitu Gotong Royong (Pasal 7 ayat 3);

6. Menghilangkan Ruh Ketuhanan Yang Maha Esa

▪ Memuat ulang diskursus Ketuhanan Yang Berkebudayaan

▪ Menambahkan Rohani Setelah Agama, padahal agama telah mencakup rohani (pasal 22)

▪ Hanya menjadikan Keadilan Sosial sebagai pokok Pancasila telah mendistorsi makna Pancasila yang terdiri dari lima pokok (dasar), dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai “causa prima” dari sila-sila Pancasila.

▪ Tidak bisa membedakan antara Adil di Sila ke-2 dan Keadilan pada Sila ke-5 (pasal 6)

▪ Penjelasan UU tidak menjadikan berketuhanan sebagai karakter manusia Pancasila

7. Berkonsekuensi meragukan keabsahan seluruh produk konstitusi 75 tahun terakhir

▪ Tujuan RUU HIP di Pasal 1, ketentuan umum RUU HIP yang berbunyi: “Haluan Ideologi Pancasila adalah pedoman bagi penyelenggara negara dalam menyusun dan menetapkan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi terhadap kebijakan pembangunan nasional di bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, mental, spiritual, pertahanan dan keamanan yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi, serta arah bagi seluruh warganegara dan penduduk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila.”

▪ Dari penjelasan di atas terkait dibutuhkannya RUU HIP berkonsekuensi logis lahirnya makna hukum bahwa selama 75 tahun terakhir produk para penyelenggara negara di Indonesia ternyata tidak berdasarkan nilai-nilai Pancasila;

▪ Adanya kata penduduk setelah warga negara berkonsekuensi logis siapapun (termasuk warga negara asing) untuk menjadi Manusia Pancasila (pasal 41)

8. Menyelipkan Ideologi Barat

▪ Nilai (Value) (Naskah Akademik hlm. 19)

▪ Humanisme (Naskah Akademik hlm. 21)

Pemikiran Barat sejak 1808 (umanista) yang meyakini kekuatan individu dalam menentukan kebenaran. Terlacak sejak Yunani Kuno. kardinal Pelagius (354-420) yang mulai berwacana bahwa manusia punya kapasitas untuk berkembang sendiri tanpa Tuhan. Bisa tahu baik buruk dengan akalnya. Sejak awal telah berwatak sekuler.

▪ Meniadakan Adab

▪ Pendidikan Untuk Tenaga Terampil (pasal 24)

▪ Kesetaraan Gender (pasal 28)

Jenis Kelamin (Sex) berusaha dibedakan dengan Orientasi Seksual (Gender). Perdebatan antara nature dan nurture, yakni antara alamiah pemberian Tuhan dan yang terbentuk dari konstruksi sosial

9. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dihilangkan, dan digantikan dengan Manusia Pancasila, Masyarakat Pancasila (pasal 41)

Tulisan:

Ustadz Wido Supraha

Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Umat Islam (PUI)

https://adabmedia.com/2020/06/15/9-persoalan-berat-ruu-hip/

Mujahadah An-Nafsi di Bulan Suci

Bulan Ramadan adalah bulan mujahadatun nafsi (berperang melawan hawa nafsu) dan setan yang selalu menggoda. Mujahadah melawan hawa nafsu supaya nafsu itu tidak melawaan kita, sebab nafsu itu sangat jahat. “Innan nafsa Ia ammaratun bisuuk” Sesungguhnya nafsu itu mengajak pada kejahatan (QS. Yusuf:53). Begitu setan yang mengajak manusia kejalan yang sesat.

Kita sering menyaksikan orang-orang yang menghambakan dirinya kepada hawa nafsu angkara murka, dan setan durhaka. Hidup mereka seolah-olah akan abadi di dunia ini, mencari rezeki tak peduli halal-haram, tak pernah membayar zakat, suka berfoya-foya, mabuk-mabukkan, sombong, congkak, dengki, dan sebagainya. Bagi orang semacam ini perlu ada tabligh yang khusus dan berencana. Para mubalighlah yang mampu merubah keangkuhan mereka.

Sebagai khalifah di bumi, manusia harus tunduk kepada hukum-hukum Allah yag telah diturunkan dalam Al-Qur’an. Supaya hati dapat menerima hukum Allah, harus diusir dulu setan dan hawa nafsu yang bersarang dalam hati. Nafsu yang jahat tidak mungkin menyatu dalam satu ruang dengan qalbu yang salim. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah berfirman,

“Wahai hambaku, telah kujadikan taman surga bagimu dan engkaupun telah memperuntukkanku tamanmu untuk Ku. Tetapi renungkanlah apakah telah kau lihat tamanku sekarang? Apakah engkau sudah masuk ke dalamnya?

Si Hamba berkata, “Tidak ya Rabbi”. Allah berfirman lagi, “Apakah aku telah masuk kedalam tamanmu?”

Tentu si hamba akan menjawab “sudah ya Rabbi” Allah berfirman, “ketika engkau hampir masuk ke taman surga Ku. Aku keluarkan setan dari taman Ku, semuanya untuk mempersiapkan kehadiranmu. Aku berkata kepadanya: Keluarlah kamu dari sini dalam keadaan hina-dina. Aku keluarkan musuhmu sebelum kamu masuk ke situ.

Sekarang apa yang kamu lakukan. Aku sudah berada di tamanmu 70 tahun. Mengapa belum juga kau keluakan musuh Ku? Mengapa belum kau usir dia? Pada waktu itu si hamba berkata: “Tuhanku, engkaulah yang berkuasa untuk mengeluarkan dia dari taman Mu, tetapi aku hamba renta dan lemah, aku tidak kuasa mengeluarkannya!”

Allah berfirman: orang lemah akan menjadi kuat apabila masuk dalam perlindungan Ku. Masuklah dalam perlindungan Ku agar engkau kuat sehingga engkau sanggup mengeluarkan setan dari taman hatimu. Ucapkanlah ta’awudz. Ta’awudz merupakan senjata yang ampuh untuk melawan setan dan nafsu jahat yang bersarang dalam batin manusia”.

Demikian Fakhrur-Radhi menulis dalam tafsirnya. Perlindungan Allah adalah ikhlas beramal. Ia baru terwujud apabila kita terus bermujahadah. Oleh Drs. Tgk. H. Ameer Hamzah.

Sang Maha Pengasih

Seorang kekasih takkan pernah rela meninggalkan kekasih yang dicintainya. Tentu akan ada banyak pengorbanan yang dilakukan untuknya. Sehingga itulah bentuk pembuktian yang akan memberinya sebuah “cap” kesetiaan. Sama halnya dengan Allah. Sang Maha Pengasih yang tak pernah pilih kasih kepada setiap hamba hamba-Nya.

            Sudah begitu banyak kisah-kisah dan hikmah-hikmah dari Maha Pengasih Allah. Sementara juga dari sekian banyaknya itu, masih ada juga sampai saat ini yang menentang hal itu. Mereka yang semacam ini adalah hamba-hamba yang tidak mampu dan tidak pernah mau untuk bersyukur kepada Allah.

Hari ini banyak yang tidak respect terhadap ayat pertama di dalam (QS. Al-Fatihah). Bahwa Allah adalah Sang Maha Pengasih sekaligus Maha Penyayang. Hal ini juga tertuang dalam 99 Asma’ul Husna yang menjadi hafalan para murid di MDA ataupun PDTA sekarang namanya.

            Manusia pada dewasa ini masih berpikir klasik. Bahwa ketika Allah memberikan sedikit ujian pada mereka, dengan sekonyong-konyongnya mereka menyalahkan Maha Pengasihnya Allah. Mereka segera menyergah: “Allah tidak adil, kenapa harus aku yang menanggung semua beban penderitaan ini?”

            Tapi tunggu dulu, bung. Penderitaan bung belum separah itu. Kita tahu betapa Allah menguji kesabaran Nabi Ayyub dengan membuat semua ternaknya mati seketika. Hartanya yang selama ini melimpah ruah dari usaha yang ia lakukan selama ini, satu per satu Allah tarik darinya.

Nabi Ayyub ‘Alaihi Salam mungkin adalah orang yang paling berat penderitaannya. Bagaimana Allah mengujinya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Bahkan, di tengah sakitnya yang semakin parah, sampai lidahnya ikut terserang wabah penyakit. Hatinya tidak pernah luput untuk terus saja memuji Allah. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya ataupun terbersit di dalam hatinya untuk menyalahkan Allah ataupun mengucapkan sumpah serapah.

            Kita sebagai manusia pada zaman ini mungkin tidak akan pernah sanggup jika melalui ujian seberat Nabi Ayyub. Kadang kita hanya diuji dengan sedikit hilangnya harta, anak, ataupun jabatan yang sudah selama ini kita sandang dengan bangganya. Malah seringkali kita petantang petenteng di tengah-tengah keluarga dan tetangga kita yang masih belum makan dan sangat memerlukan uluran tangan kita.

Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim tidak pernah kecewa ketika ia ditinggalkan oleh suaminya di sebuah padang tandus yang gersang pada masa itu. Ia ditinggalkan bersama anaknya Ismail dengan hanya perbekalan cukup untuk makan beberapa hari atau beberapa bulan saja. Ia tahu bahwa itu adalah perintah Allah, dan Allah takkan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya walaupun sedetik saja. Ia tahu Allah Maha Pengasih, sehingga pasti Allah mengasihinya selaku hamba-Nya.

           Bung, sadarlah dengan semua hikmah yang akan Allah berikan di kemudian hari. Terlalu sedikit buah kecintaan kita pada-Nya jika kita hanya mengukur segala sesuatu lewat ujian-ujian kecil yang Allah berikan. Pun juga terlalu besar jika ditimbang dalam satuan kilogram dan terlalu luas jika diukur dari luasnya hamparan samudera di lautan tentang nikmat yang selama ini sudah Allah berikan. Oleh Suryandi Ramadhan

Kilas Balik Perjuangan

Kota Mekkah dan Madinah menjadi tinta sejarah perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam yang tak akan pernah luput dari benak setiap umat manusia di manapun ia berada. Di sana, ia adalah sosok multitalenta. Ia tidak hanya mampu mengumandangkan pekik-pekik orasi. Namun ia juga mampu menyentuh hati-hati manusia dengan tutur kata lemah lembut nan sejuk.

            Ia tidak cinta kepada dunia fana. Ia tidak dengki kepada penguasa bertahtakan emas dan intan permata. Jika pada abad ini orang senang mengikuti ajang pencarian bakat dengan hadiah yang fantastis dan menghamburkan berjuta-juta dolar. Agar lewat itu ia menjadi terkenal dan menjadi idola. Ia tidak silau dengan segala macam fasilitas megah, apalagi agar orang menganggapnya idola. Namun tentu saja, sampai pada abad ini namanya masih menjadi sebutan. Namanya menjadi idola, tidak hanya pada sebutan di lisan, tapi juga pada ikrar sedalam-dalamnya di hati umat manusia.

            Pun sampai saat ini. Ketika banyak orang-orang berebut gelar agar dianggap seorang yang pintar. Ia tidak seperti itu. Dari awal masa mudanya ia sudah dijuluki “Al Amin” oleh masyarakatnya. Seorang Michael Hart pun sampai pada detik ini masih menempatkannya pada urutan pertama orang paling berpengaruh dunia. Ia mengalahkan tokoh-tokoh barat yang banyak melahirkan teori-teori peradaban yang “katanya” mampu membawa kedamaian.

            Kemuliaannya tidak terbatas pada waktu. Ia mendominasi dari segala sisi, baik itu ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Pasukannya adalah pasukan terbaik dalam sejarah peperangan. Panglima perang dan seluruh pasukannya siap mempertaruhkan nyawa demi dirinya. Giginya patah memperjuangkan agama yang mulia ini. Nafasnya tersengal menahan debu padang pasir ketika musuhnya menghujam dirinya dari segala arah.

            Inilah kilas balik perjuangan yang perlu diketahui oleh anak dan cucu kita pada detik ini. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam berjuang membela agama Allah ini. Ketika seruan Allah itu betul-betul dijalankannya. Menyebarkan ajaran agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus (QS Al-An’am : 161). Tidak ada keraguan dalam hatinya untuk berjuang yang sebenarnya-benarnya berjuang. Tidak ada celah baginya untuk tidak mengiyakan segala perintah Allah padanya.   

            Sudah sepantasnyalah ia menjadi idola. Jika bahasa anak gaul sekarang, sudah selayaknya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam memiliki ribuan, jutaan bahkan miliaran followers dari seluruh manusia di berbagai belahan dunia. Ditulis oleh : Suryandi Ramadhan.

Mengapa Umat Islam Ketinggalan? #1

Sumber : https://islamic-center.or.id

anya (T):  Kalau kita lihat kemajuan teknologi, politik dan ekonomi, umat islam jauh ketinggalan dengan orang-orang non-islam. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawab(J): Kondisi Umat islam jauh tertinggal saat ini karena mereka meninggalkan ajaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Sebaliknya non-Islam maju karena mereka mengambil ilmu-ilmu Islam yang ada dalam AL-Qur’an.

Sebenernya ajaran islam yang ditunkan Allah SWT adalah syariat terakhir yang lengkap dan universal. Terbaik sepanjang zaman dan tak ada yang mampu mengunggulinya sampai kiamat. Ajaran ini pamungkas segala ajaran yang pernah ada. Siapa saja yang mampu mengamalkan secara sempurna akan menemui kenikmatan iman dalam menempuh hidup yang fana di dunia ini. Islam itu rahmat bagi seluruh alam.

Sebuah pertanyaan meluncur dari lubuk hati yang paling dalam. Kalau begitu mengapa juga ummat islam jauh tertinggal dengan umat-umat agama lain? Mengapa orang-orang Jepang yang menyembah matahari mampu menguasai ekonomi dunia? Mengapa pula orang Korea Selatan yang masih menyembah berhala, mobil-mobil mereka memenuhi jalan-jalan raya di Mekkah dan Madinah? Mengapa pula Amerika, Perancis, Inggris dan Jerman yang masih musyrik mampu melesat tajam dalam teknologi?

Kenapa bukan umat islam yang mencapai kemajuan? Syeikh Syakib Arsalan, Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani menjawab problema itu hampir semakna. “Umat islam tertinggal Jauh karena meninggalkan Al-Qur’an dan syariah agamanya. Sedangkan umat yang lain mencapai kemajuan karena menjauh dengan agamanya dan kemudian mencuri kunci-kunci ilmu pengetahuan dari umat islam.

Meski mereka tidak menyatakan diri Muslim, namun mereka telah memotong langkah umat islam untuk membaca kitab-kitab samawi termasuk Al-Qur’an yang menurut mereka satu-satunya kitab samawi yang masih asli. DR. Maurice Bucaille dalam bukunya “La Bible, Le Coranet La Science” mengungkapkan bahwa al-Qur’an telah memberi isyarat ilmiah kepada manusia untuk mengungkapkan rahasia-rahasia alam. Hal seperti itu tak pernah didapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Sarjana Perancis tersebut memperkirakan, suatu saat kelak, ajaran islam menjadi ajaran yang paling disukai manusia dimuka bumi ini. Insyaa Allah.

Ustadz:

BAIHAQI ABDUL MUTHALIB  dari Ulee-Kareng Banda Aceh

Sumber Referensi:

Drs. Tgk. H. Ameer Hamzah, 2017. Ustaz Menjawab; Masalah-masalah Aktual dalam Islam. Banda Aceh: PENA