Pemilu 2019: Indonesia Optimis

Nusantara, 17 April 2019 s/d 22 Mei 2019 menjadi perjalanan penting bagi atmosfer kebangsaan kita. Untuk bersama-sama memahami bahwa sebaik apapun strategi yang digunakan, sebesar apapun hasil real di penghitungan suara akhir, dan siapapun yang terpilih nanti, semoga kita masih punya impian yang tetap sama: menjayakan negeri ini, memperjuangkan kaum kecil, dan menjunjung setinggi keadilan.

Saat ini, ada perbedaan beberapa hasil quick count pemilu 2019. Sebagian memenangkan 02 dan sebagian lain memenangkan 01. Juga hasil quick count Pileg dari Partai nomor urut 01 hingga 20 yang beragam. Adapun sebagian besar quick count menggunakan data sampel sekitar 2.000-4.000 TPS dari 800.000 TPS yang ada. Dan KPU baru akan mengumumkan secara resmi pada 22 Mei 2019.

Mewakili FSLDK Nasional Indonesia (dengan 37 wilayah, 505 LDK dan 25.215 anggota se-Indonesia), kami mengajak, mari terus menjadi #KawanPemilu. Mari menciptakan suasana yang kondusif dengan saling menghargai pilihan masing-masing. Dan terus mengawal berjalannya Pemilu (baik Pilpres maupun Pileg) untuk tetap berada pada asas luberjurdil-nya hingga 22 Mei 2019.

Mengajak untuk kembali menonton campaign video KawalPemilu(org) dan upload data dari TPS kamu berupa:
• C1 Plano Pilpres 2 halaman
• C1 Plano DPR RI 18 halaman
ke link upload.kawalpemilu.org/c/fsldk (link ada di bio @fsldkindonesia)

Terakhir, mari tingkatkan munajat kita. Ikhtiar dan doa, semoga Tuhan memberkahi negeri ini, melimpahkan beribu keberkahan, dan cinta. Aamiin.

Kebumen, 17 April 2019
Fahrudin Alwi
Ketua Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) FSLDK Indonesia.

Menjadi Tangguh: Manifestasi Ishlahul Afrad

Sebuah manifesto ishlahul afrad muncul sejak 622 M tak jauh setelah diangkatnya manusia dengan akhlak terbaik, Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul Allah SWT. Nilai luhur tersebut diwariskan dan terus diterapkan hingga diperbaharui dengan bahasa semi-post-modern menjadi sebuah terminologi “self-upgrading”. Terminologi ini bermanifestasikan konsep muwasshafat, sebuah konsep turunan dari arkanul baiah yang disarikan oleh tokoh pemikir Islam modern abad-20, Imamusyahid Hasan al-Banna –semoga Allah ampuni dosa beliau dan berkahi ilmu yang ditinggalkan berwasilahkan beliau–.

Ishlahul afrad menjadi sebuah tangga dasar bahwa memperhatikan kualitas diri wajib dilakukan bersamaan dengan kita memperbaiki kondisi keluarga hingga masuk tahap irsyadul mujtama’, memperbaiki masyarakat dan pemerintahan. Karena keluarga terdiri dari individu, maka ketika masing-masing individu berada pada kualitas yang optimal, maka keluargapun akan menjadi keluarga yang berkualitas. Begitupula masyarakat akan menjadi sebuah perkumpulan yang kokoh ketika masing-masing keluarga sebagai pilar masyarakat memiliki kekokohan kapasitas. Dan seterusnya hingga terbentuknya pemerintahan yang kokoh dengan dasar masyarakat yang cerdas, tasamuh, berkompeten serta mandiri.

Dulu, saya punya cita-cita, di umur 30 tahun sudah mandiri secara keuangan. Terbebas dari hutang, dan memiliki perusahaan yang keuntungannya mampu menghidupi dakwah. Bukan saya hidup dari dakwah atau amanah dakwah.”, kata Murabbi –red, guru saya. Dan benar, atas izin-Nya, beliau mampu tidak mengambil keuntungan materi dari dakwah, namun justru menghidupi dakwah. Kisah Murabbi saya itu menggugah sebuah ‘hasrat’ untuk kembali hidup dengan dimensi yang lebih kaffah, komprehensif. Memikirkan dan mencontoh kemandirian finansial sebagaimana keuletan kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika menjadi saudagar di usia belia hingga diangkat menjadi Rasul.

Memiliki pemikiran yang luas juga perlu disiapkan dalam rangka memenuhi perintah ‘iqra’ serta menghindari tumbuhnya chauvinism dalam diri tanpa disadari: merasa paling benar dengan sempitnya keilmuan yang kita miliki. Dan kecerdasan otak perlu diiringi dengan keluhuran hati, hingga terbentuk akhlak yang kokoh untuk menghindari sifat sombong atas segala yang mungkin dirasa masuk diakal. Selain hal yang sifatnya non-fisik, qawwiyul jism –kekuatan fisik menjadi syarat sebuah pemikiran dan cita bisa lebih mudah tergapai. Maka menjaga kesehatan pun menjadi suatu hal yang menjadi wasilah terpenuhinya cita.

Dengan tools kemahiran mengelola urusan dan mengatur waktu, niscaya hal-hal yang sudah kita rencanakan akan lebih mudah terwujud. Secara praktis, setidaknya kita bisa menurunkan menjadi beberapa poin yang lebih mudah sebagai berikut:

  • Pertama, adanya plan jangka menengah-panjang untuk menyukseskan muwashafat. Semisal: di umur 30 tahun kita harus sudah memiliki pendapatan berapa dan dari mana, sehari saya wajib membaca berapa halaman buku dalam rangka meningkatkan mutsaqaful fikr, berapa menit harus digunakan untuk olahraga harian, hingga kitab ulama siapa yang harus saya habiskan bersama majelis ilmu dalam satu bulan untuk memastikan aqidah dan ibadah saya “lurus”, dan selainnya.
  • Kedua, ada kelompok usrah yang kokoh (kawan yang serasa keluarga) untuk saling mengingatkan tentang pentingnya ishlahul afrad, termasuk saling mengingatkan dalam rangka plan jangka menengah-panjang.
  • Ketiga, mencatat segala perencanaan dalam note yang mudah terlihat atau setidaknya dapat sering dilihat, seperti dipasang pada dinding kamar, wallpaper ponsel pintar, atau note kecil yang sering kita bawa.
  • Keempat, langitkan doa terbaik dan adukan pada Allah bahwa kita memiliki cita-cita tersebut. Minta juga agar orang tua dan orang terdekat kita membantu dalam doa dan tirakat kebaikan kita.

Menjadi manusia berparadigma “lakukan yang terbaik di posisi kita” akan sangat membantu keluarga dalam saling memotivasi, meng-upgrade kualitas masyarakat, hingga terjaminnya penerus pemerintahan yang berkapasitas mumpuni untuk melanjutkan estafet perjuangan. Mari menjadi mukmin yang kuat, karna Allah lebih mencintainya daripada yang lemah. Sekaligus menjadikan diri sebagai bukti atas manifestasi kalam, Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [8:65]. Semoga Allah menjadikan kita sebagai generasi Rabbani yang tangguh. Allahu yubaarik fiikum!

Oleh: Fahrudin Alwi (Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019; Ketua LDKN Salam UI 2017)

Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan

“Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan”
Oleh: Fahrudin Alwi[1]

Sezaman dengan Dinasti Han (leluhur Tiongkok), 200 tahun sebelum masehi (SM) untuk pertama kalinya bangsa Turki muncul dengan etnik tersendiri di Xiongnu, wilayah yang berdiaspor menjadi Uyghur Xinjiang, Kazakhstan Timur, Kirgizstan Timur, Manchuria Barat, Mongolia, dan Rusia Selatan.[2] Sejarah panjang menceritakan perjalanan penduduk pegunungan Altay itu hingga mulai memeluk Islam di abad-10 M. Kerajaan Uyghur muncul dan terus berkembang hingga di kemudian hari berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tiongkok, Dinasti Qing pada 1759 dan dirubah namanya menjadi Xinjiang yang bermakna new territory –kekuasaan baru—.[3] Satu keterangan tambahan: Uyghur sebagai ‘Turkic ethnic group’ di wilayah Xinjiang disebut sebagai shaoshu minzu atau “minority nationality”. Sementara Han adalah mayoritasnya.

Perjalanan diplomatis yang dinamis (dengan sedikit konflik) antara Uyghur Xinjiang dan “Han” berjalan sejak dikuasainya Uyghur oleh Dinasti Qing 1759 hingga Tiongkok modern berdiri. Sebelum Tiongkok menjadi PRC (People’s Republic of China), tepatnya 1940, Uyghur memprakarsai berdirinya Republik Turkistan Timur. Namun di 1949, PRC berdiri dan memasukkan Republik Turkistan Timur menjadi wilayah otonomi PRC dengan sebutan yang sama dengan Dinasti Qing: Xinjiang Uyghur Autonomous Region, the new territory.[4]

Tiongkok modern hadir bersama karakter yang khas dengan value komunis namun memberikan keleluasaan rakyatnya dalam memilih dan bertindak. Termasuk kepada Muslim yang diberikan kebebasan melaksanakan ibadah, menikah, berhaji, dll dengan syariat Islam. Seperti yang tertuang dalam China’s White Paper: “Muslim customs regarding food and drink, clothing, festivals, marriages and funerals are fully respected. The Islamic Association of China organizes for Muslims to go on pilgrimage to Saudi Arabia every year, with the number of participants exceeding 10,000 a year since 2007.”[5] PRC berhasil melaksanakan ini dengan memberikan kebebasan beragama etnis Muslim Tiongkok: Hui dan berbagai diaspora Muslim di dataran Tiongkok. Etnis Hui sendiri memiliki geonologis seperti etnis Han dan memiliki tokoh kuat Laksamana Cheng Ho, pendakwah hingga Nusantara. Namun, ada satu catatan atas inkonsistensi PRC dalam melaksanakan ‘konstitusinya’ sendiri, yakni dengan tidak memberikan kebebasan beragama bagi Muslim Uyghur. Sebuah paradoks. Lihat, “China: Human Right Concern in Xinjiang” oleh Human Right Watch HRW.[6]

Tulisan ini muncul ketika saya mencoba berdiskusi dengan mualaf keturunan Tiongkok dan saya hubungkan dengan mata kuliah ‘History of Ancient Turkey (civilization)’ waktu jadi mahasiswa. Menarik memang menuliskan Uyghur dan Tiongkok, dua etnis Turkic dan China Han dengan karakteristik yang cukup jauh namun harus tinggal di wilayah yang sama selama berabad tahun. Saya akan coba bahas dari sebuah pemicu pertanyaan beberapa kawan mahasiswa muslim baik di Jakarta maupun di daerah, “apa yang bisa kita lakukan untuk Uyghur?” Setidaknya, dari pandangan pribadi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, responsif bukan reaktif. Perjuangan Uyghur adalah perjuangan panjang. Dan hanya orang bernafas panjanglah yang akhirnya bisa ikut berjuang. Maka menjadi responsif adalah satu hal yang penting. Memastikan sumber informasi primer dan sekunder menjadi satu hal yang juga penting yang harus dilakukan. Bukan menjadi reaktif dengan sekonyong-konyong menuntut tanpa tahu cara dan resiko. Saya ingin mengambil contoh dari isu Rohingya. Di awal meledaknya isu, ada beberapa bagian masyarakat yang reaktif namun redup di sekian bulan setelahnya. Ada juga cerita sebuah NGO yang masuk secara diam-diam, berhubungan people to people dan mengambil jaminan dari tokoh di Myanmar, hingga akhirnya bisa masuk ke Rakhine dan membangun beberapa sekolah serta memberikan berbagai bantuan lainnya. Tentu berjalan sebagai kolaboratif NGO, karna ia bukan pemain tunggal yang kesepian. NGO tersebut baru mem-publish aktivitasnya 3 bulan kemudian karena mempertimbangkan keselamatan tim yang bekerja di lapangan dan keamanan misi program jangka panjang. InsyaaAllah ini adalah berita yang valid karna saya sekarang mengabdi di NGO yang berhasil menempatkan timnya berbulan-bulan di Rakhine itu. Dan ini salah satu cara responsif yang tidak reaktif, terutama ketika kita melihat PRC sebagai salah satu super-power dunia dan pemerintah Indonesia sedang cukup mesra dalam kerjasama dengan PRC. Tentu di sisi lain, pemerintah Indonesia lebih “berhati-hati”.

Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur Xinjiang

Fahrudin Alwi bertemu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur, Xinjiang
Mewakili FSLDK Indonesia bertemu Ibu Retno Menlu RI

Kedua, diplomatis. Setidaknya ada dua jenis diplomasi yang bisa dilakukan oleh kita untuk saat ini: people to people diplomacy (p to p) dan people to government diplomacy (p to g). Saya bersama FSLDK Indonesia sedang mencoba melakukan “p to p” dengan menjalin komunikasi ke salah satu anggota Perkumpulan Muslim Hangzhou, juga seorang mualaf keturunan Tiongkok, dan warga muslim PRC yang sedang belajar di Indonesia. “p to g” juga kami lakukan dengan upaya audiensi dengan Kemenlu RI. Surat audiensi sudah kami masukkan beberapa hari lalu. Plus saya pribadi mewakili FSLDK Indonesia juga bertemu Ibu Retno Menlu RI di sebuah momen, —meski belum sejauh pembicaraan diplomasi Uyghur. Kemenlu RI menjadi lembaga yang kita harapkan bisa membuka akses dan menyuarakan secara soft di meja diplomasi antara RI dan PRC. Juga secara hard, seperti di PBB atau OKI jika dibutuhkan. Diplomasi dunia Islam di belahan dunia lain harapannya mampu memediasi konflik berkepanjangan di Uyghur. Andaikata permainan ‘p to p’ atau ‘p to g’ belum berhasil, secara natural “people’s power” akan bermain.

Dan yang terakhir, melangitkan doa dan mengirimkan donasi terbaik. Poin ketiga ini salah satu yang paling penting. Mengirim dan langitkan doa terbaik untuk saudara kita di Uyghur. Agar Allah beri kesabaran, kekokohan iman, dan kemudahan amal. Juga agar Allah ‘lembutkan’ hati para penguasa PRC. Maka mari jadikan Jumat-Jumat kita sebagai waktu khusus untuk mendoakan saudara kita di Uyghur khususnya, dan belahan dunia pada umumnya. Adapun donasi, sampai sekarang baru bisa mengakses Uyghur di luar Xinjiang. Karena akses ke Uyghur Xinjiang masih sangat rapat tertutup.

Wallahu a’lam bisshawab. Allahu yubaarik fiikum!

————————

[1] Fahrudin Alwi, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia 2018; Ketua LDKN Salam UI 2017; Overseas Partnership (International Relation) PKPU Human Initiative 2018. https://www.instagram.com/p/BrmxmtXA5_p/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=31enw9avyt57

https://timeline.line.me/post/_dTi6rRrUcfbSVYkR18jYEiCs3AeIQnXOJOI6XbU/1154530705002028191

[2] Tulisan Peter Zieme: The Old Turkish Empires in Mongolia, Genghis Khan and His Heirs: The Empire of The Mongol. 2005

[3] Oxford Research Encyclopedias, http://oxfordre.com/asianhistory/view/10.1093/acrefore/9780190277727.001.0001/acrefore-9780190277727-e-160

[4] Sejarah Konflik Uyghur, http://repository.lppm.unila.ac.id/6158/1/364-712-1-PB.pdf

[5] White Paper: China’s Policies and Practices on Protecting Freedom of Religious Belief. Kutipan: White Paper Chapter III. Point 5. http://t.m.china.com.cn/convert/c_oEsyxNII.html

[6] China: Human Right Concern in Xinjiang oleh Human Right Watch, https://www.hrw.org/legacy/backgrounder/asia/china-bck1017.htm

Pembakaran Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid di Garut

Assalaamu’alaikum, wr. wb.

Baru saja terjadi kegaduhan di tengah masyarakat Indonesia yang bersumber dari adanya peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid oleh oknum Banser di Garut, Jawa Barat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan sikap menyayangkan kejadian tersebut.

Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, tentu kejadian tersebut tidak bisa kita diamkan serta tidak boleh lewat begitu saja tanpa ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk perbaikan kedepan. Oleh sebab itu, Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia sebagai bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keadilan, persatuan dan perdamaian merasa penting untuk menyatakan sikap sebagai berikut:

1. FSLDK Indonesia menyatakan sikap bahwa segala bentuk kegiatan yang mengandung unsur mempermainkan/menodai nilai sebuah agama, apapun agamanya, adalah tindakan tercela yang tidak berakhlak, dapat memunculkan kegaduhan di tengah masyarakat serta dapat menyakiti hati pemeluk suatu agama tertentu. Selain itu, hal tersebut bertentangan dengan pasal 156a KUHP yang salah satu isinya membahas tentang pidana bagi siapapun yang melakukan tindakan penodaan terhadap suatu agama.

2. Terhadap kegaduhan pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid di Garut, FSLDK Indonesia penting untuk menyatakan sikap sekaligus meluruskan pandangan yang keliru di sebagian masyarakat kita, bahwa bendera bertuliskan kalimat Tauhid sesungguhnya adalah bendera milik semua umat Islam yang memiliki makna sangat agung, bukan bendera milik satu organisasi/kelompok tertentu. Maka menjaga keagungannya, tidak sembarangan memperlakukannya adalah sebuah keharusan dan bagian terpenting dari akhlak sebagai seorang yang beragama dan berbangsa. Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa tindakan pembakaran yang terhadap bendera bertuliskan kalimat Tauhid di Garut oleh oknum Banser adalah bentuk penodaan terhadap nilai Islam, apalagi telah sampai menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat.

3. FSLDK Indonesia mengajak masyarakat untuk mempercayakan penyelesaian kasus ini kepada proses hukum. Kita desak pihak Kepolisian agar mengusut kasus dugaan penodaan agama ini secara cepat, adil dan transparan. Hal tersebut penting agar dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat, sehingga tidak sembarangan bertindak kedepannya.

4. FSLDK Indonesia mengajak semua elemen masyarakat, khususnya para pemuda Muslim untuk menjadi pelopor pemersatu dan perdamaian umat. Mari kita mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Kita tetap nyatakan ketegasan kita berpihak dan membela nilai kebenaran, namun tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan upaya mempersatukan kembali umat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan. Semoga Allah mengampuni kelalaian kita, menguatkan persaudaraan kita, dan selalu membimbing negeri kita agar menjadi negeri yang diberkahi. Aamiin

Wassalaamu’alaikum, wr. wb.

Download : SIKAP FSLDK INDONESIA – PEMBAKARAN BENDERA TAUHID DI GARUT

Jakarta, 24 Oktober 2018
Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia
Fahrudin Alwi, S. Hum

Harmoni: Kami Tak Sama!

Sebagai seorang muslim, harmoni dalam perbedaan bukan hal baru. Kita dapat belajar dri sejarah Jarusalem.

Jerusalem merupakan tempat yang diberkahi, kota suci bagi tiga agama semit: Islam, Yahudi, Kristen. Ia juga tempat sejarah Nabi, mulai Ibrahim a.s, Ishaq a.s, Yaqub a.s, Sulaiman a.s, Musa a.s, Isa a.s, juga Muhammad saw saat ber-Isra.

Pada 637 M, pasukan Islam di bawah komando ‘Amr ibn al-Ash dan Syarhabil ibn Hasanah mendekati wilayah Jerusalem setelah melewati Levantina, Hayfa, Ajnadin, dan berbagai kota bandar lain. Di balik benteng Jerusalem, Patriach (Uskup Agung) Sophronius bersama Artavon dan petinggi lainnya berdiskusi terkait masa depan Jerusalem hingga akhirnya diputuskan untuk menyerahkan Jerusalem dengan damai ke Kekhalifahan Islam. (Musthafa Murad, ‘Umar ibn al-Khattab, hlm 107).

Pasca penyerahan Jerusalem, ‘Umar ibn al-Khattab berangkat dari Madinah dengan hanya berkendara keledai dan ditemani Aslam (pengawal setia khalifah). Setibanya di Jerusalem, Khalifah disambut oleh Uskup Agung Sophronius yang bersamaan merasa takjub dengan sosok pemimpin muslim yang berkuasa di berbagai belahan bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya. Khalifah ‘Umar diajak mengelilingi Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (didirikan oleh Saint Helena -Helena Augusta- 250-330 M). Uskup Agung Sophronius mempersilahkan Khalifah ‘Umar untuk shalat di gereja tersebut namun Sang Khalifah menolaknya karena khawatir jika seandainya ia shalat di gereja tersebut, kelak umat Islam akan merubah gereja tersebut menjadi masjid dengan dalih Sang Khalifah pernah shalat di tempat itu sehingga mendzalimi hak umat Kristiani.

Selain terkait shalat, ‘Umar juga mencontohkan toleransi beragama dengan sebuah perjanjian. Berikut potongan perjanjian tersebut, “Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, ‘Umar amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Bahwa ia memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta benda, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka dan tidak dipaksa beralih memeluk Islam….” (Tarikh at-Thabari).

Puskomnas

 

📷 Silaturahmi Kebangsaan FSLDK Indonesia bersama Perhimpunan Pemuda Hindu (Perpadah) Indonesia). Diwakili oleh Puskomnas (Pusat Komunikasi Nasional) FSLDK Indonesia dan DPN (Dewan Pengurus Nasional) Perpadah Indonesia.

Kami yakini bahwa kami berbeda dalam tataran teologi, keyakinan, cara ibadah, dan berbagai perbedaan lain. Tapi kami punya semangat dan spirit yang sama tentang kebangsaan, kedamaian, menjaga ketenteraman, dan sampai pada satu titik bahwa kita harus menjadi pemuda pelopor kebaikan di negeri ini. Tidak harus sama untuk menjadi indah. Justru karna perbedaan, kedewasaan akhirnya belajar untuk sebuah harmoni.

Harmoni dalam perbedaan!