Syiar Digital: Seni Menyentuh Hati dengan Kebijaksanaan Teknologi

Menjadi umat terbaik, ialah sebuah takdir yang dititahkan Allah kepada generasi muslim sejak agama ini lahir hingga tumbuh menjadi peradaban. Sebagaimana kalam-Nya menegaskan,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

‘Kamu adalah umat terbaik.’ Jika boleh meminjam istilah kekinian, maka kita, pemuda Muslim yang hidup di masa kini ialah generasi milenial yang menjadi umat terbaik untuk peradaban zaman now sekaligus akhir zaman. Dan akan menjadi sebuah keharusan saat berbicara kewajiban menegakkan kalimatullah di muka bumi. Maka tugas penting nan mulia itu bermula disini: menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, juga menyeru kepada diri dan sekitar untuk beriman kepada Allah.

Islam hadir menerangi yang gelap, dan mengubah kesewenang-wenangan menuju keteraturan hidup manusia melalui syiar dakwah para nabi dan Rasulullah bersama para shahabat dan shahabiyah (semoga Allah selalu merahmati mereka). Syiar Islam merekah mempesona dan menyentuh hati mereka yang awalnya merasa asing, marah, benci terhadap agama yang dibawa oleh para nabi ini. Syiar yang bermula di jazirah Arab, membentang dari timur ke barat hingga sampai ke nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam serta perjuangan para pahlawan dan para sunan yang dahulu menghiasi masa cilik kita di pelajaran sosial dan sejarah, adalah saksi bahwa syiar Islam tak serta merta hadir begitu saja. Ia melewati perjalanan panjang yang tak mudah. Ya, menyentuh hati manusia untuk menyeru kepada haq dan meninggalkan yang bathil adalah sebuah perjuangan.

Mengutip ungkapan yang pernah dituliskan gurunda Salim A Fillah pada sebuah tulisannya, ‘maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.’ Umat terbaik mengemban tugas besar ini. Tak terkecuali kita, sobat. Jika membahas syiar dakwah Nusantara begitu berat, maka mari kita peringan hal itu dengan membuatnya menjadi asyik dan kekinian. Ya, syiar digital!

Wahai milenials, platform media sosial apa yang belum kamu cicipi? Kalau kamu terbukti milenial, hampir semua media sosial pasti sudah kamu jelajahi. Ndak percaya? Twitter, facebook, instagram, path, blog, tumblr, youtube, daan sederet platform digital ngehits lainnya pasti pernah terinstall di smartphonemu. Dari sekian banyak akun, sudah sebanyak apa mereka kamu gunakan untuk menyeru kepada kebaikan, Ferguso? (:

Tenang, selagi masih ada waktu maka mulailah manfaatkan karunia teknologi bernama media sosial sebagai salah satu sarana untuk menjadi umat terbaik-Nya. Dengan syiar digital, kita bisa belajar menyentuh hati manusia melalui berbagai macam cara. Sebab di era keterbukaan informasi ini, media sosial pun bisa menyentuh hati orang-orang yang kebingungan dan mencari arah tujuan.

Hidayah memang milik Allah semata. Tapi mana tahu kalau ada salah seorang yang entah dia followers/mutual friends denganmu atau tidak, kemudian ia merasa seperti mendapat suatu pencerahan dari sebuah postingan baikmu, dan akhirnya secara tak langsung kamu membantunya menjadi lebih baik. Dan hanya dengan sekali klik, ‘share!’ atau ‘repost ya!’, syiar itu akan terus berbagi dari satu ke yang lainnya. Bayangkan berapa besar pahala kebaikan yang akan kita dapatkan. Lillah, insya Allah berkah!

Maka begitulah umat terbaik melaksanakan tugasnya melalui syiar digital. Islam tak pernah membatasi kreativitas. Batasan kita hanyalah syariat. Selama ia tak didobrak, lakukan syiar kreatif yang tetap mengedepankan qaulan kariima (perkataan yang mulia), qaulam ma’rufa (perkataan yang baik), juga qaulan sadiida (perkataan yang jelas). Ingat sobat, destinasi syiar kita ialah menyentuh hati manusia. Maka sebelum kita kibarkan syiar digital itu, pastikan kita memahami konteks kebaikan yang akan kita sampaikan. Sampaikan dengan pembawaan yang jelas, tak bertele-tele namun tetap santun, asyik dan menyenangkan disimak orang.

Siap menjadi umat terbaik? Jangan menunggu sampai merasa sudah pantas atau tidak, atau menanti sampai followers banyak. Tidak, Ferguso. Dengan sendirinya, diri kita akan berproses menjadi lebih dan lebih baik saat ada tekad serta dorongan kuat untuk memulai menjadi umat terbaik. Mari terus tegakkan kalimat-Nya, agar tiada yang lebih indah dan lebih tinggi daripada syiar Islam. Watawashawbil haq, watawashawbish shabr. Selamat menjadi milenial muslim terbaik!

Oleh: Salma Muazaroh
Wakil Ketua Komisi Media
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Ditulis di Solo, 29 Desember 2018.