Manusia : Lahir dengan Misi yang Berbeda-Beda

Setiap manusia terlahir berbeda-beda sehingga dalam sebuah kelompok pasti ada perbedaan. Menjadi tugas masing-masing anggota menerima perbedaan anggota lain selama masih dalam batas. Tetapi ini tidak boleh selesai pada tahap saling menerima atau bahkan berakhir dengan saling menghilangkan identitas demi persatuan. Hal itu seperti menghilangkan sidik jari setiap manusia. Setiap anggota harus berusaha semaksimal mungkin memberi manfaat dengan caranya masing-masing. Itulah yang disebut dengan fastabiqul khairat , berlomba-lomba dalam kebaikan.

Perbedaan haruslah menjadi motivasi kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk masyarakat. Kealpaan kontribusi kita adalah kerugian atau setidaknya menjadi loss opportunitiy karena adanya potensi kebaikan yang hilang dalam masyarakat, layaknya puzzel yang kehilangan salah satu bagiannya. Ini sejalan dengan pendapat Buya Hamka, “Orang tidak boleh membunuh dirinya, karena bunuh diri adalah dosa besar kepada diri dan kepada masyarakat. Sebab hidup itu bukan untuk dirinya saja“. Ada tanggung jawab diri sendiri pada masyarakat untuk memenuhi hak manusia yang lain dan sebagai bayaran atas hak diri yang telah didapat dari masyarakat.

Dr. Tawfique Chowdhury, pendiri Mercy Mission (NGO yang memiliki puluhan proyek lembaga sosial dan pendidikan di 8 negara) menggunakan istilah lain. “Setiap manusia memiliki misi besar masing-masing, bahkan beliau berdoa agar tidak dipanggil untuk bertemu Allah SWT (wafat) sebelum melaksanakan misi terbesarnya di dunia.” Beliau sangat yakin tentang adanya misi besar dibalik penciptaan manusia. Setiap orang memiliki misinya masing-masing sehingga tidak bisa beralasan ada orang lain yang mengerjakan kebaikan dan kita bisa berdiam diri.

Perbedaan agama dalam masyarakat pun harus begitu. Tidaklah sama seorang muslim dan non muslim (QS 32:18), sehingga mencabut identitas agama dalam masyarakat bukanlah harga yang pantas dibayar untuk terciptanya perdamaian dan persatuan. Tapi perbedaan ini juga jangan sampai menjadi musibah karena Islam cinta perdamaian dan menerima perbedaan (QS: 109:6). Islam mempersilakan orang untuk menjalankan agama masing-masing dan tidak ada paksaan di dalamnya (QS: 2:256).

Allah SWT telah menceritakan kepada kita tentang perjuangan para nabi terdahulu dalam menjalankan misi dakwah tapi pada akhirnya ajaran yang dibawa ternodai setelah kepergiannya. Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir tetapi diberikan kitab suci yang terjaga kemurniannya hingga hari akhir. Lalu siapa yang menjadi penyeru ajaran ini jika bukan umat itu sendiri? Ini adalah tanggung jawab besar. Tanggung jawab yang sebelumnya diberikan kepada para nabi yang dididik oleh Allah melalui para malaikat.

Ini adalah sebuah misi besar dari Allah. Misi untuk setiap muslim. Misi yang akhirnya dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW “Semuanya bekerja menurut nasib masing-masing atau menurut yang dimudahkan Tuhan bagi masing-masing.” (HR. Muslim)

Apa misi yang dititipkan Allah SWT untukmu di dunia?

 

Oleh: Saqib
Wakil Ketua Komisi Media
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Syiar Digital: Seni Menyentuh Hati dengan Kebijaksanaan Teknologi

Menjadi umat terbaik, ialah sebuah takdir yang dititahkan Allah kepada generasi muslim sejak agama ini lahir hingga tumbuh menjadi peradaban. Sebagaimana kalam-Nya menegaskan,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

‘Kamu adalah umat terbaik.’ Jika boleh meminjam istilah kekinian, maka kita, pemuda Muslim yang hidup di masa kini ialah generasi milenial yang menjadi umat terbaik untuk peradaban zaman now sekaligus akhir zaman. Dan akan menjadi sebuah keharusan saat berbicara kewajiban menegakkan kalimatullah di muka bumi. Maka tugas penting nan mulia itu bermula disini: menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, juga menyeru kepada diri dan sekitar untuk beriman kepada Allah.

Islam hadir menerangi yang gelap, dan mengubah kesewenang-wenangan menuju keteraturan hidup manusia melalui syiar dakwah para nabi dan Rasulullah bersama para shahabat dan shahabiyah (semoga Allah selalu merahmati mereka). Syiar Islam merekah mempesona dan menyentuh hati mereka yang awalnya merasa asing, marah, benci terhadap agama yang dibawa oleh para nabi ini. Syiar yang bermula di jazirah Arab, membentang dari timur ke barat hingga sampai ke nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam serta perjuangan para pahlawan dan para sunan yang dahulu menghiasi masa cilik kita di pelajaran sosial dan sejarah, adalah saksi bahwa syiar Islam tak serta merta hadir begitu saja. Ia melewati perjalanan panjang yang tak mudah. Ya, menyentuh hati manusia untuk menyeru kepada haq dan meninggalkan yang bathil adalah sebuah perjuangan.

Mengutip ungkapan yang pernah dituliskan gurunda Salim A Fillah pada sebuah tulisannya, ‘maka inilah hutang besar kita, pada bangsa kita sendiri maupun dunia, sebuah syi’ar dakwah Nusantara.’ Umat terbaik mengemban tugas besar ini. Tak terkecuali kita, sobat. Jika membahas syiar dakwah Nusantara begitu berat, maka mari kita peringan hal itu dengan membuatnya menjadi asyik dan kekinian. Ya, syiar digital!

Wahai milenials, platform media sosial apa yang belum kamu cicipi? Kalau kamu terbukti milenial, hampir semua media sosial pasti sudah kamu jelajahi. Ndak percaya? Twitter, facebook, instagram, path, blog, tumblr, youtube, daan sederet platform digital ngehits lainnya pasti pernah terinstall di smartphonemu. Dari sekian banyak akun, sudah sebanyak apa mereka kamu gunakan untuk menyeru kepada kebaikan, Ferguso? (:

Tenang, selagi masih ada waktu maka mulailah manfaatkan karunia teknologi bernama media sosial sebagai salah satu sarana untuk menjadi umat terbaik-Nya. Dengan syiar digital, kita bisa belajar menyentuh hati manusia melalui berbagai macam cara. Sebab di era keterbukaan informasi ini, media sosial pun bisa menyentuh hati orang-orang yang kebingungan dan mencari arah tujuan.

Hidayah memang milik Allah semata. Tapi mana tahu kalau ada salah seorang yang entah dia followers/mutual friends denganmu atau tidak, kemudian ia merasa seperti mendapat suatu pencerahan dari sebuah postingan baikmu, dan akhirnya secara tak langsung kamu membantunya menjadi lebih baik. Dan hanya dengan sekali klik, ‘share!’ atau ‘repost ya!’, syiar itu akan terus berbagi dari satu ke yang lainnya. Bayangkan berapa besar pahala kebaikan yang akan kita dapatkan. Lillah, insya Allah berkah!

Maka begitulah umat terbaik melaksanakan tugasnya melalui syiar digital. Islam tak pernah membatasi kreativitas. Batasan kita hanyalah syariat. Selama ia tak didobrak, lakukan syiar kreatif yang tetap mengedepankan qaulan kariima (perkataan yang mulia), qaulam ma’rufa (perkataan yang baik), juga qaulan sadiida (perkataan yang jelas). Ingat sobat, destinasi syiar kita ialah menyentuh hati manusia. Maka sebelum kita kibarkan syiar digital itu, pastikan kita memahami konteks kebaikan yang akan kita sampaikan. Sampaikan dengan pembawaan yang jelas, tak bertele-tele namun tetap santun, asyik dan menyenangkan disimak orang.

Siap menjadi umat terbaik? Jangan menunggu sampai merasa sudah pantas atau tidak, atau menanti sampai followers banyak. Tidak, Ferguso. Dengan sendirinya, diri kita akan berproses menjadi lebih dan lebih baik saat ada tekad serta dorongan kuat untuk memulai menjadi umat terbaik. Mari terus tegakkan kalimat-Nya, agar tiada yang lebih indah dan lebih tinggi daripada syiar Islam. Watawashawbil haq, watawashawbish shabr. Selamat menjadi milenial muslim terbaik!

Oleh: Salma Muazaroh
Wakil Ketua Komisi Media
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Ditulis di Solo, 29 Desember 2018.

Menjadi Tangguh: Manifestasi Ishlahul Afrad

Sebuah manifesto ishlahul afrad muncul sejak 622 M tak jauh setelah diangkatnya manusia dengan akhlak terbaik, Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul Allah SWT. Nilai luhur tersebut diwariskan dan terus diterapkan hingga diperbaharui dengan bahasa semi-post-modern menjadi sebuah terminologi “self-upgrading”. Terminologi ini bermanifestasikan konsep muwasshafat, sebuah konsep turunan dari arkanul baiah yang disarikan oleh tokoh pemikir Islam modern abad-20, Imamusyahid Hasan al-Banna –semoga Allah ampuni dosa beliau dan berkahi ilmu yang ditinggalkan berwasilahkan beliau–.

Ishlahul afrad menjadi sebuah tangga dasar bahwa memperhatikan kualitas diri wajib dilakukan bersamaan dengan kita memperbaiki kondisi keluarga hingga masuk tahap irsyadul mujtama’, memperbaiki masyarakat dan pemerintahan. Karena keluarga terdiri dari individu, maka ketika masing-masing individu berada pada kualitas yang optimal, maka keluargapun akan menjadi keluarga yang berkualitas. Begitupula masyarakat akan menjadi sebuah perkumpulan yang kokoh ketika masing-masing keluarga sebagai pilar masyarakat memiliki kekokohan kapasitas. Dan seterusnya hingga terbentuknya pemerintahan yang kokoh dengan dasar masyarakat yang cerdas, tasamuh, berkompeten serta mandiri.

Dulu, saya punya cita-cita, di umur 30 tahun sudah mandiri secara keuangan. Terbebas dari hutang, dan memiliki perusahaan yang keuntungannya mampu menghidupi dakwah. Bukan saya hidup dari dakwah atau amanah dakwah.”, kata Murabbi –red, guru saya. Dan benar, atas izin-Nya, beliau mampu tidak mengambil keuntungan materi dari dakwah, namun justru menghidupi dakwah. Kisah Murabbi saya itu menggugah sebuah ‘hasrat’ untuk kembali hidup dengan dimensi yang lebih kaffah, komprehensif. Memikirkan dan mencontoh kemandirian finansial sebagaimana keuletan kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika menjadi saudagar di usia belia hingga diangkat menjadi Rasul.

Memiliki pemikiran yang luas juga perlu disiapkan dalam rangka memenuhi perintah ‘iqra’ serta menghindari tumbuhnya chauvinism dalam diri tanpa disadari: merasa paling benar dengan sempitnya keilmuan yang kita miliki. Dan kecerdasan otak perlu diiringi dengan keluhuran hati, hingga terbentuk akhlak yang kokoh untuk menghindari sifat sombong atas segala yang mungkin dirasa masuk diakal. Selain hal yang sifatnya non-fisik, qawwiyul jism –kekuatan fisik menjadi syarat sebuah pemikiran dan cita bisa lebih mudah tergapai. Maka menjaga kesehatan pun menjadi suatu hal yang menjadi wasilah terpenuhinya cita.

Dengan tools kemahiran mengelola urusan dan mengatur waktu, niscaya hal-hal yang sudah kita rencanakan akan lebih mudah terwujud. Secara praktis, setidaknya kita bisa menurunkan menjadi beberapa poin yang lebih mudah sebagai berikut:

  • Pertama, adanya plan jangka menengah-panjang untuk menyukseskan muwashafat. Semisal: di umur 30 tahun kita harus sudah memiliki pendapatan berapa dan dari mana, sehari saya wajib membaca berapa halaman buku dalam rangka meningkatkan mutsaqaful fikr, berapa menit harus digunakan untuk olahraga harian, hingga kitab ulama siapa yang harus saya habiskan bersama majelis ilmu dalam satu bulan untuk memastikan aqidah dan ibadah saya “lurus”, dan selainnya.
  • Kedua, ada kelompok usrah yang kokoh (kawan yang serasa keluarga) untuk saling mengingatkan tentang pentingnya ishlahul afrad, termasuk saling mengingatkan dalam rangka plan jangka menengah-panjang.
  • Ketiga, mencatat segala perencanaan dalam note yang mudah terlihat atau setidaknya dapat sering dilihat, seperti dipasang pada dinding kamar, wallpaper ponsel pintar, atau note kecil yang sering kita bawa.
  • Keempat, langitkan doa terbaik dan adukan pada Allah bahwa kita memiliki cita-cita tersebut. Minta juga agar orang tua dan orang terdekat kita membantu dalam doa dan tirakat kebaikan kita.

Menjadi manusia berparadigma “lakukan yang terbaik di posisi kita” akan sangat membantu keluarga dalam saling memotivasi, meng-upgrade kualitas masyarakat, hingga terjaminnya penerus pemerintahan yang berkapasitas mumpuni untuk melanjutkan estafet perjuangan. Mari menjadi mukmin yang kuat, karna Allah lebih mencintainya daripada yang lemah. Sekaligus menjadikan diri sebagai bukti atas manifestasi kalam, Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [8:65]. Semoga Allah menjadikan kita sebagai generasi Rabbani yang tangguh. Allahu yubaarik fiikum!

Oleh: Fahrudin Alwi (Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019; Ketua LDKN Salam UI 2017)

Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan

“Uyghur, Nafas Panjang Perjuangan”
Oleh: Fahrudin Alwi[1]

Sezaman dengan Dinasti Han (leluhur Tiongkok), 200 tahun sebelum masehi (SM) untuk pertama kalinya bangsa Turki muncul dengan etnik tersendiri di Xiongnu, wilayah yang berdiaspor menjadi Uyghur Xinjiang, Kazakhstan Timur, Kirgizstan Timur, Manchuria Barat, Mongolia, dan Rusia Selatan.[2] Sejarah panjang menceritakan perjalanan penduduk pegunungan Altay itu hingga mulai memeluk Islam di abad-10 M. Kerajaan Uyghur muncul dan terus berkembang hingga di kemudian hari berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tiongkok, Dinasti Qing pada 1759 dan dirubah namanya menjadi Xinjiang yang bermakna new territory –kekuasaan baru—.[3] Satu keterangan tambahan: Uyghur sebagai ‘Turkic ethnic group’ di wilayah Xinjiang disebut sebagai shaoshu minzu atau “minority nationality”. Sementara Han adalah mayoritasnya.

Perjalanan diplomatis yang dinamis (dengan sedikit konflik) antara Uyghur Xinjiang dan “Han” berjalan sejak dikuasainya Uyghur oleh Dinasti Qing 1759 hingga Tiongkok modern berdiri. Sebelum Tiongkok menjadi PRC (People’s Republic of China), tepatnya 1940, Uyghur memprakarsai berdirinya Republik Turkistan Timur. Namun di 1949, PRC berdiri dan memasukkan Republik Turkistan Timur menjadi wilayah otonomi PRC dengan sebutan yang sama dengan Dinasti Qing: Xinjiang Uyghur Autonomous Region, the new territory.[4]

Tiongkok modern hadir bersama karakter yang khas dengan value komunis namun memberikan keleluasaan rakyatnya dalam memilih dan bertindak. Termasuk kepada Muslim yang diberikan kebebasan melaksanakan ibadah, menikah, berhaji, dll dengan syariat Islam. Seperti yang tertuang dalam China’s White Paper: “Muslim customs regarding food and drink, clothing, festivals, marriages and funerals are fully respected. The Islamic Association of China organizes for Muslims to go on pilgrimage to Saudi Arabia every year, with the number of participants exceeding 10,000 a year since 2007.”[5] PRC berhasil melaksanakan ini dengan memberikan kebebasan beragama etnis Muslim Tiongkok: Hui dan berbagai diaspora Muslim di dataran Tiongkok. Etnis Hui sendiri memiliki geonologis seperti etnis Han dan memiliki tokoh kuat Laksamana Cheng Ho, pendakwah hingga Nusantara. Namun, ada satu catatan atas inkonsistensi PRC dalam melaksanakan ‘konstitusinya’ sendiri, yakni dengan tidak memberikan kebebasan beragama bagi Muslim Uyghur. Sebuah paradoks. Lihat, “China: Human Right Concern in Xinjiang” oleh Human Right Watch HRW.[6]

Tulisan ini muncul ketika saya mencoba berdiskusi dengan mualaf keturunan Tiongkok dan saya hubungkan dengan mata kuliah ‘History of Ancient Turkey (civilization)’ waktu jadi mahasiswa. Menarik memang menuliskan Uyghur dan Tiongkok, dua etnis Turkic dan China Han dengan karakteristik yang cukup jauh namun harus tinggal di wilayah yang sama selama berabad tahun. Saya akan coba bahas dari sebuah pemicu pertanyaan beberapa kawan mahasiswa muslim baik di Jakarta maupun di daerah, “apa yang bisa kita lakukan untuk Uyghur?” Setidaknya, dari pandangan pribadi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, responsif bukan reaktif. Perjuangan Uyghur adalah perjuangan panjang. Dan hanya orang bernafas panjanglah yang akhirnya bisa ikut berjuang. Maka menjadi responsif adalah satu hal yang penting. Memastikan sumber informasi primer dan sekunder menjadi satu hal yang juga penting yang harus dilakukan. Bukan menjadi reaktif dengan sekonyong-konyong menuntut tanpa tahu cara dan resiko. Saya ingin mengambil contoh dari isu Rohingya. Di awal meledaknya isu, ada beberapa bagian masyarakat yang reaktif namun redup di sekian bulan setelahnya. Ada juga cerita sebuah NGO yang masuk secara diam-diam, berhubungan people to people dan mengambil jaminan dari tokoh di Myanmar, hingga akhirnya bisa masuk ke Rakhine dan membangun beberapa sekolah serta memberikan berbagai bantuan lainnya. Tentu berjalan sebagai kolaboratif NGO, karna ia bukan pemain tunggal yang kesepian. NGO tersebut baru mem-publish aktivitasnya 3 bulan kemudian karena mempertimbangkan keselamatan tim yang bekerja di lapangan dan keamanan misi program jangka panjang. InsyaaAllah ini adalah berita yang valid karna saya sekarang mengabdi di NGO yang berhasil menempatkan timnya berbulan-bulan di Rakhine itu. Dan ini salah satu cara responsif yang tidak reaktif, terutama ketika kita melihat PRC sebagai salah satu super-power dunia dan pemerintah Indonesia sedang cukup mesra dalam kerjasama dengan PRC. Tentu di sisi lain, pemerintah Indonesia lebih “berhati-hati”.

Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur Xinjiang

Fahrudin Alwi bertemu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Uyghur, Xinjiang
Mewakili FSLDK Indonesia bertemu Ibu Retno Menlu RI

Kedua, diplomatis. Setidaknya ada dua jenis diplomasi yang bisa dilakukan oleh kita untuk saat ini: people to people diplomacy (p to p) dan people to government diplomacy (p to g). Saya bersama FSLDK Indonesia sedang mencoba melakukan “p to p” dengan menjalin komunikasi ke salah satu anggota Perkumpulan Muslim Hangzhou, juga seorang mualaf keturunan Tiongkok, dan warga muslim PRC yang sedang belajar di Indonesia. “p to g” juga kami lakukan dengan upaya audiensi dengan Kemenlu RI. Surat audiensi sudah kami masukkan beberapa hari lalu. Plus saya pribadi mewakili FSLDK Indonesia juga bertemu Ibu Retno Menlu RI di sebuah momen, —meski belum sejauh pembicaraan diplomasi Uyghur. Kemenlu RI menjadi lembaga yang kita harapkan bisa membuka akses dan menyuarakan secara soft di meja diplomasi antara RI dan PRC. Juga secara hard, seperti di PBB atau OKI jika dibutuhkan. Diplomasi dunia Islam di belahan dunia lain harapannya mampu memediasi konflik berkepanjangan di Uyghur. Andaikata permainan ‘p to p’ atau ‘p to g’ belum berhasil, secara natural “people’s power” akan bermain.

Dan yang terakhir, melangitkan doa dan mengirimkan donasi terbaik. Poin ketiga ini salah satu yang paling penting. Mengirim dan langitkan doa terbaik untuk saudara kita di Uyghur. Agar Allah beri kesabaran, kekokohan iman, dan kemudahan amal. Juga agar Allah ‘lembutkan’ hati para penguasa PRC. Maka mari jadikan Jumat-Jumat kita sebagai waktu khusus untuk mendoakan saudara kita di Uyghur khususnya, dan belahan dunia pada umumnya. Adapun donasi, sampai sekarang baru bisa mengakses Uyghur di luar Xinjiang. Karena akses ke Uyghur Xinjiang masih sangat rapat tertutup.

Wallahu a’lam bisshawab. Allahu yubaarik fiikum!

————————

[1] Fahrudin Alwi, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia 2018; Ketua LDKN Salam UI 2017; Overseas Partnership (International Relation) PKPU Human Initiative 2018. https://www.instagram.com/p/BrmxmtXA5_p/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=31enw9avyt57

https://timeline.line.me/post/_dTi6rRrUcfbSVYkR18jYEiCs3AeIQnXOJOI6XbU/1154530705002028191

[2] Tulisan Peter Zieme: The Old Turkish Empires in Mongolia, Genghis Khan and His Heirs: The Empire of The Mongol. 2005

[3] Oxford Research Encyclopedias, http://oxfordre.com/asianhistory/view/10.1093/acrefore/9780190277727.001.0001/acrefore-9780190277727-e-160

[4] Sejarah Konflik Uyghur, http://repository.lppm.unila.ac.id/6158/1/364-712-1-PB.pdf

[5] White Paper: China’s Policies and Practices on Protecting Freedom of Religious Belief. Kutipan: White Paper Chapter III. Point 5. http://t.m.china.com.cn/convert/c_oEsyxNII.html

[6] China: Human Right Concern in Xinjiang oleh Human Right Watch, https://www.hrw.org/legacy/backgrounder/asia/china-bck1017.htm

Ibuku, Ibu Indonesia: yang Stay Cool, Stay Positive!

Yang kuingat ketika belajar ngaji dulu:
Islam begitu indah.
Ia amat memuliakan Ibuku,
juga Ibu Indonesia.
Ia menyanjung Ibu,
dengan penghormatan yang begitu tinggi.
Dengan meminta agar menjulurkan kain menutupi tubuh,
yang menyucikannya dari segala hajat jahat.
Agar senantiasa terjaga untuk yang berhak.
Juga untuk madrasah anak-anaknya
kelak.

Yang kuingat, Ibu pernah berkisah,
“Nak, dulu
para pahlawan negeri ini begitu bergema melawan kompeni:
penjajah dzalim.
Dengan berkeyakinan bahwa kemenangan akan hadir.
Layaknya panggilan adzan,
‘hayya ‘alal falaah’ —mari menuju kemenangan.” Yang kutahu, Ibuku adalah Ibu Indonesia. Yang terlahir dari darah nusantara.
Yang diajarkan kepadanya dari keturunannya, agar menjadi Ibu yang:
baik hatinya,
santun perangainya,
dan jujur katanya.

Yang kuingat, Ibu sering bernasihat,
“Le, dadoso lare ingkang sabar njih.”
—Nak, jadilah anak yang sabar.
Sabar untuk taat.
Sabar untuk menghindar maksiat.
Sabar untuk cobaan yang berat.
Juga sabar ketika agama dihujat. “Ibu, jikalau Islam dihujat. Bolehkah kita marah?, tanyaku pada Ibu.
“Boleh nak, tapi marahlah pada sikapnya. Bukan orangnya.”, jawab Ibuku.
“Mereka yang menghina,
tetap berhak menerima kiriman doa
dari kita. Agar Allah SWT kirimkan hidayah
pada mereka, serta jaga hidayah
pada kita.”, imbuh Ibu tenang.

“Le, kita mesti tetap bijak
pada orang yang menghina kita.
Karna negeri ini,
Indonesia kita,
dibangun dengan kesantunan dan
kebijaksanaan.
Hati kita kudu baik
dan perangai tetap kudu santun.
Ingat kisah orang yang meludahi Nabi,
tapi beliau jenguk ketika sakit.
Le, bisa jadi kitalah perantara hidayah
atas orang lain.”

Ya Tuhan kami, berikanlah hidayah kepada kami.
Jadikanlah negeri kami negeri yang Engkau berkahi:
dengan persatuan yang kokoh
(yang terhindar dari adu domba),
dengan keadilan sosial yang tercipta,
dengan kemanusiaan yang beradab,
dan kesejahteraan bagi seluruh
rakyatnya.”

Shadaqallaah!
Terimakasih untuk Ibu Indonesia,
juga segenap putra putri bangsa,
yang lahir atasnya.
Yang tetap #StayCool #StayPositive