Iman yang Mencukupkan

Mari kita mengingat sebuah hari yang berat.
Saat sahabat-sahabat yang dipercaya berjuang, tiba-tiba memutuskan lari meninggalkan.
Mari belajar memandang kekecewaan dengan perasaan kasih sayang, bukan tatap tajam kebencian. Sebab semua hanya perlu dicukupkan dengan iman.

Adalah hari ketika sekian pasukan muslim lari meninggalkan Rasulullah dan pasukannya dalam Hunain, mereka dari kalangan Thulaqaa.
Sedangkan Anshar, memilih menjadi yang setia hingga akhirnya.

Hingga akhirnya kemenangan menjadi milik Rasul dan pasukan muslim. Tertampak harta rampasan perang yang menggunug-gunung. Lembah penuh dengan hewan ternak, emas, perak, dan tawanan. Maka, pembagian pun dilakukan.

Kira-kira, siapa yang paling berhak mendapatkan bagian?
Logika kebanyakan kita akan berpikir Anshar lah yang paling layak.
Tapi Rasulullah saw. punya cara berbeda, yang membuat sebagian hati kaum Anshar bergemuruh dalam tanda tanya.

Rasulullah saw. membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, ialah mualaf Makkah yang paling pertama melarikan diri dari pertempuran.

Ada tanda tanya besar di tengah kalangan Anshar dengan pembagian tersebut hingga Sa’ad bin Ubadah menyampaikan maksud. Lalu Rasul mengumpulkan mereka pada sebuah tempat.
Bukan untuk memarahi sikap mempertanyakan para Anshar.
Bukan pula menghakimi dan merasa bahwa Rasulullah yang paling benar.
Inilah pengingatan yang begitu mulia, nasihat yang disampaikan dengan penuh cinta, dengan berkata,
Wahai orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat ku dengar dari kalian, dan dalam diri kalian ada perasaan mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Kaum Anshar tertunduk. Masing-masing sibuk menelisik isi hatinya: jernih atau keruh.

Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang Anshar?” tanya Rasulullah saw.

Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia.” jawab ringkas salah satu mereka.

Mendengar itu, Rasulullah tidak lantas merasa besar dan benar. Rasulullah berusaha memahami posisi kaum Anshar lalu berkata, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa, lalu kami memberikan tempat dan menampungmu.”

Rasulullah memahami, adalah wajar jika pun Anshar merasa dan berkata demikian. Anshar pun memahami, bahwa sejatinya merekalah yang telah ditolong, bukan menolong. Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah sudut pandang tawadhu.
Mendengar itu, air mata mulai berlinang-linang di wajah para Anshar. Isak tersedan mulai ramai. Mereka, menemukan sesuatu yang dicari dalam hati.

Rasul melanjutkan, “Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sedangkan keislaman kalian tak mungkin lagi ku ragukan. Wahai sekalian orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Lepas sudah air mata bergerak membentuk sungai-sungai panjang di wajah dan di hati mereka. Menjernihkan dan menyadarkan, untuk kembali mencukupkan diri dengan iman.

Dan Kaum Anshar, Kaum Penolong, menutup kisah ini dengan begitu manis: ialah penerimaan tanpa tapi, keridhoan tanpa sanksi, “Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini. Kami Ridha Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami.

Lihatlah, betapa sudut pandang tawadhu menjadi penting dalam memandang masalah dan memposisikan diri.
Bukan dari sisi yang merasa benar dan besar, merasa dirugikan atau merasa telah paling banyak berkorban.
Rasul menempatkan dirinya sebagai muhajir yang ditolong Kaum Anshar, bukan sebagai nabi yang menyelamatkan. Pun Kaum Anshar, mengambil sudut pandang sebagai kaum yang telah diselamatkan Rasul, bukan menyelamatkan. Inilah sudut pandang tawadhu. Agar dalam masalah, kita tidak saling menuntut dan menyalahkan, melainkan saling memahami dan berempati. Hingga akhirnya iman yang mencukupkan dari segala tipu daya yang melenakan.

Oleh:Soffa Lutfiah
Wakil Ketua Kemuslimahan
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Salam Satu Indonesia!

Bagi siapa pun di antara kita yang pernah atau sedang Allah izinkan untuk singgah di luar negeri, pasti kita akan merasakan kerinduan pada Indonesia. Saya pernah mengalaminya, saat 2016 Allah izinkan berkunjung ke negara Turki, dalam sebuah konferensi. Memang hanya lima hari saja, namun sudah rindu dengan banyak hal tentang Indonesia. Rindu melihat kemacetan, rindu makan-makanan khas Indonesia dan banyak hal lainnya. Hal lain di negeri orang, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih Indonesia Raya, insyaAllah kita pun pasti akan terenyuh.

Sensasi lebih mendalam adalah saat kita berjumpa sesama orang Indonesia di luar negeri. Kita pasti merasakan hal yang berbeda, rasanya sesuatu sekali. Terserah, bahkan tidak sempat melintas dalam pikiran, apa agamanya, sukunya, pilihan politiknya, pokoknya sesuatu. Sontak langsung ingin berkenalan, menyapa, menanyakan, kamu di Indonesia tinggal di mana? Kampusnya dulu di mana? Ya, semua itu bagi saya adalah sebuah kejujuran hati. Nurani yang membimbing kita, menunjukkan bahwa dengan siapa pun, pasti ada benang merah yang menyatukan, mendekatkan. Bahwa juga, akan selalu ada cinta untuk Indonesia.

Namun, tidak harus ke luar negeri dulu sebenarnya, untuk merasakan momen yang demikian. Kita pun bisa mendapatkannya di tanah air sendiri pastinya. Misalnya saja, saat mendukung Indonesia di ASIAN GAMES 2018 kemarin, kita dukung Minions dan Jojo di cabang bulutangkis sampai dapat emas. Kita dukung Timnas Sepakbola sampai lolos perempat final dan cabang lainnya. Bukankah pada saat itu kita telah berhasil saling memahami perbedaan? Bukankah juga pada saat itu kita mampu bersatu dengan satu narasi? Mendukung Indonesia dengan sepenuh hati! Bahkan, kita saat itu sampai bisa melihat momen langka berpelukannya Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo saat pengalungan medali kepada atlet silat Hanifan yang mendapatkan emas.

Tahun ini, 2019, adalah tahun yang katanya akan ‘panas’, sebab ada pesta demokrasi yang hendak digelar. Belum lagi, kerukunan antarumat beragama pun akhir-akhir ini terus diuji. Islam dan nasionalisme pun coba terus dipertentangkan. Sampai kapan kita akan terus masuk dalam ‘kubangan’ yang justru membuat kita semakin jadi bangsa yang kerdil?

Sebagai warga Indonesia, khususnya Muslim, semangat mencintai Indonesia dan mempersatukan harus terus dijunjung. Bersilaturahmi, sinergi dalam kebaikan, dengan siapa pun, dari agama apa pun, suku apa pun harus kita tingkatkan. Dengan tetap bertoleransi pada setiap perbedaan yang masuk dalam ranah keyakinan. Serta yang paling utama, selalu menunjukkan akhlak yang baik menjadi sesuatu yang harus kita dahulukan di atas apa pun. Maka, insyaAllah kehadiran kita akan membawa rahmah bagi siapa pun, menjadi kehadiran yang selalu dinantikan orang lain. Ingat sekali lagi, kunci utamanya selalu menunjukkan akhlak terbaik.

Nabi kita, Muhammad SAW pernah berpesan.

Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi kotor.” (HR. Tirmidzi).

Selamat berikhtiar menjadi Muslim yang tidak pernah lelah untuk selalu berusaha menjadi pribadi lebih baik. Selamat selalu belajar mencintai Indonesia, menjalin silaturahmi dan kolaborasi aksi dengan semua elemen anak bangsa, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Karena negeri ini terlalu sayang dan sulit rasanya, jika dibangun sendiri-sendiri, tanpa adanya sinergi kebaikan di dalamnya. Salam Satu Indonesia!

 

oleh Rangga Kusumo
Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia

Membangun Internal Organisasi Bagian 1: Insentif untuk Pengurus

Organisasi ada untuk menyelesaikan sebuah masalah, menjadi problem solver. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap permasalahan atau kondisi yang menjadi latar belakang dibuatnya organisasi tersebut. Itulah sebabnya, visi organisasi pada umumnya akan sangat bersifat eksternal, dalam artian, target atau cita-citanya akan berorientasi pada hal di luar organisasi tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita terjebak pada obsesi ketercapaian ‘prestasi’ di luar dan melupakan untuk membangun organisasi itu sendiri.

Jebakan organisasi yang kadang terjadi misalnya memfokuskan semua energi pada pencapaian di luar organisasi, menganggap pengurus sebagai ‘alat’ untuk mencapai tujuan, dan rasa takut untuk menghebatkan bawahan. Ketika hal tersebut terjadi pada sebuah organisasi, maka tidak jarang berbagai masalah internal akan datang silih berganti. Permasalahan internal yang sering muncul misalnya kehadiran pengurus yang sedikit dalam setiap agenda organisasi, pengurus tidak bersemangat dan hilang di tengah jalan, sering terjadi miss komunikasi, ataupun pengurus melakukan pekerjaan dengan buruk (under performance). Akibatnya, organisasi terancam tidak berjalan optimal dan gagal mencapai targetnya. Yang lebih buruk, organisasi tersebut bisa bubar sebelum waktunya.

Hal mendasar yang harus dipastikan agar kesolidan organisasi terbangun adalah, sedari awal memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa internal organisasi itu penting, bahkan kalau perlu masukkan ke dalam visi misi organisasi supaya perhatian para pimpinan terhadap poin ini juga maksimal. Untuk para pimpinan organisasi, sadarlah bahwa staf itu manusia, dan aset terbesar organisasi adalah pengurus-pengurusnya. Sekali lagi, sadarlah bahwa staf itu manusia, dan aset terbesar organisasi adalah pengurus-pengurusnya. Membangun staf berarti membangun organisasi itu sendiri. Menghebatkan staf berarti menghebatkan keseluruhan organisasi. Sebaliknya, abai terhadap staf berarti bersiaplah kehilangan aset terbesar organisasi Anda.

Staf itu manusia, maka perhatikanlah kebutuhan-kebutuhan kemanusiaannya supaya dia tetap terjaga dalam tim. Untuk membuat manusia mau bertahan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka di organisasi, bahkan mengeluarkan performa terbaik mereka maka pastikanlah bahwa mereka bisa mendapatkan insentif dari organisasi. Insentif  disini bentuknya bisa financial incentive atau nonfinancial incentive.

Financial incentive biasanya diberikan oleh organisasi profit/komersil seperti perusahaan dalam bentuk gaji atau pesangon. Gaji menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat seorang karyawan bertahan di perusahaan dan bersedia menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padanya. Adapun non-financial incentive bentuknya bermacam-macam, misalnya rasa nyaman, pertemanan, value, ilmu, keamanan, jaringan, kepuasan, perhatian, motivasi dan lainnya. Pada organisasi yang bersifat non profit/volunteering seperti organisasi kemahasiswaan di kampus maka insentif jenis inilah yang harus dipastikan bisa kita berikan pada seluruh fungsionaris organisasi.

Guru-guru organisasi Anda pasti pernah menyampaikan pesan seperti, berikanlah perhatian pada staf, tanyakan kabarnya, ucapkan selamat saat dia ulang tahun, berikan apresiasi atas keberhasilannya, berikan hadiah, kirimkan kalimat motivasi, buat agenda kekeluargaan seperti futsal bersama, gathering, dan pesan-pesan serupa lainnya. Itu semua pada hakikatnya hanyalah cara, substansinya adalah memberikan insentif non-finansial pada staf. Bentuk insentif ini sangat beragam. Bahkan, tidak memberikan perhatian bagi seorang staf bisa jadi merupakan insentif bagi dia, karena memang ada tipe orang yang tidak terlalu senang diberikan perhatian. Kembali pada prinsip awalnya, bahwa pengurus organisasi itu adalah manusia, dan pastikanlah kebutuhan kemanusiaannya terpenuhi.

Keunikan diri masing-masing pengurus organisasi menghasilkan beragam bentuk insentif yang sebisa mungkin harus kita penuhi sebagai pimpinan organisasi supaya dapat membuat para pengurus bertahan. Delapan tahun lalu, seorang kepala departemen dari organisasi yang saya pimpin pernah berpesan pada saya untuk sesekali menjadi orang yang ‘tidak berpola’. Ya, itu bahasa yang digunakannya untuk menggambarkan sebuah karakter yang agak cair, tidak kaku, tidak melulu mebicarakan perkara kerjaan ke staf, dan sebagainya. Kalau anak sekarang bilang, ngereceh. Dalam sebuah forum yang memang khusus membahas mengenai kondisi internal organisasi, kawan saya itu menyampaikan bahwa karakter pengurus saat itu banyak yang humoris, menginginkan ‘kebebasan’, sangat memperhatikan dan mengharapkan pertemanan, sehingga mari kita coba untuk membuat pendekatan yang lebih humanis dalam organisasi ini, dalam rangka membuat para pengurus nyaman untuk berada disana dan bebas untuk mengekspresikan dirinya.

Pada kesempatan lain, saya berada di sebuah organisasi yang sebagian besar pengurusnya adalah orang-orang baru dalam dunia keorganisasian. Kalau kita bicara skill, maka ada banyak pengurus yang justru masih belum terlalu matang kemampuannya dalam organisasi. Dalam situasi ini, maka salah satu insentif utama yang wajib diberikan oleh para pimpinan organisasi bagi pengurus-pengurusnya adalah kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri lewat organisasi tersebut. Salah satu kebijakan yang diambil saat itu adalah menjadikan 1 dari 4 kali rapat bidang di tiap bulannya dijadikan sebagai sarana untuk upgrading para staf. Departemen media misalnya, staf departemen ini ternyata punya spesialisasinya masing-masing. Ada staf media yang menguasai Corel Draw, ada yang menguasai Photoshop, ada yang seorang web developer. Atas kecerdasan kepala departemen kami saat itu, maka setiap satu bulan sekali dibuat kebijakan agar semua staf wajib membawa laptop saat rapat bidang, dan agenda rapat saat itu adalah belajar aplikasi desain atau web dari staf lain yang menguasai bidang tersebut. Contoh, pekan keempat bulan April agendanya adalah belajar Corel Draw dari staf yang menguasai aplikasi tersebut. Bulan berikutnya giliran staf yang menguasai Photoshop untuk memberikan ilmunya, dilanjutkan dengan belajar web development, dan seterusnya. Di departemen lain tidak berbeda jauh. Ada departemen yang setiap bulannya atau setiap dua bulan sekali membuat program pelatihan dari pendahulu di bidang tersebut. Bidang keumatan misalnya, mengadakan diskusi dengan senior yang memang punya spesialisasi dan track record baik di bidang keumatan.

Banyak contoh lain yang bisa dibahas, namun substansinya adalah mengetahui keunikan pengurus dan memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia dalam organisasi, So, salah satu jalan yang harus kita tempuh sebagai pimpinan organisasi adalah tentang memikirkan insentif apa yang harus kita berikan pada staf sehingga mereka dapat berkembang dan memberikan yang terbaik juga untuk organisasinya. Semoga dengan begitu organisasi yang kita pimpin dapat bertahan sampai akhir, produktif, dan tidak terjebak pada penyakit-penyakit internal yang menggerogoti keutuhan organisasi.

 

Ahmad Yanis Audi
Ketua Komisi Kaderisasi dan Kelembagaan Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Manusia : Lahir dengan Misi yang Berbeda-Beda

Setiap manusia terlahir berbeda-beda sehingga dalam sebuah kelompok pasti ada perbedaan. Menjadi tugas masing-masing anggota menerima perbedaan anggota lain selama masih dalam batas. Tetapi ini tidak boleh selesai pada tahap saling menerima atau bahkan berakhir dengan saling menghilangkan identitas demi persatuan. Hal itu seperti menghilangkan sidik jari setiap manusia. Setiap anggota harus berusaha semaksimal mungkin memberi manfaat dengan caranya masing-masing. Itulah yang disebut dengan fastabiqul khairat , berlomba-lomba dalam kebaikan.

Perbedaan haruslah menjadi motivasi kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk masyarakat. Kealpaan kontribusi kita adalah kerugian atau setidaknya menjadi loss opportunitiy karena adanya potensi kebaikan yang hilang dalam masyarakat, layaknya puzzel yang kehilangan salah satu bagiannya. Ini sejalan dengan pendapat Buya Hamka, “Orang tidak boleh membunuh dirinya, karena bunuh diri adalah dosa besar kepada diri dan kepada masyarakat. Sebab hidup itu bukan untuk dirinya saja“. Ada tanggung jawab diri sendiri pada masyarakat untuk memenuhi hak manusia yang lain dan sebagai bayaran atas hak diri yang telah didapat dari masyarakat.

Dr. Tawfique Chowdhury, pendiri Mercy Mission (NGO yang memiliki puluhan proyek lembaga sosial dan pendidikan di 8 negara) menggunakan istilah lain. “Setiap manusia memiliki misi besar masing-masing, bahkan beliau berdoa agar tidak dipanggil untuk bertemu Allah SWT (wafat) sebelum melaksanakan misi terbesarnya di dunia.” Beliau sangat yakin tentang adanya misi besar dibalik penciptaan manusia. Setiap orang memiliki misinya masing-masing sehingga tidak bisa beralasan ada orang lain yang mengerjakan kebaikan dan kita bisa berdiam diri.

Perbedaan agama dalam masyarakat pun harus begitu. Tidaklah sama seorang muslim dan non muslim (QS 32:18), sehingga mencabut identitas agama dalam masyarakat bukanlah harga yang pantas dibayar untuk terciptanya perdamaian dan persatuan. Tapi perbedaan ini juga jangan sampai menjadi musibah karena Islam cinta perdamaian dan menerima perbedaan (QS: 109:6). Islam mempersilakan orang untuk menjalankan agama masing-masing dan tidak ada paksaan di dalamnya (QS: 2:256).

Allah SWT telah menceritakan kepada kita tentang perjuangan para nabi terdahulu dalam menjalankan misi dakwah tapi pada akhirnya ajaran yang dibawa ternodai setelah kepergiannya. Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir tetapi diberikan kitab suci yang terjaga kemurniannya hingga hari akhir. Lalu siapa yang menjadi penyeru ajaran ini jika bukan umat itu sendiri? Ini adalah tanggung jawab besar. Tanggung jawab yang sebelumnya diberikan kepada para nabi yang dididik oleh Allah melalui para malaikat.

Ini adalah sebuah misi besar dari Allah. Misi untuk setiap muslim. Misi yang akhirnya dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW “Semuanya bekerja menurut nasib masing-masing atau menurut yang dimudahkan Tuhan bagi masing-masing.” (HR. Muslim)

Apa misi yang dititipkan Allah SWT untukmu di dunia?

 

Oleh: Saqib
Wakil Ketua Komisi Media
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019

Al-Qur’an dalam Refleksi dan Resolusi Hidup

Tahun telah berganti menyadarkan kita atas capaian-capaian apa yang berhasil kita raih di tahun ini dan mempersiapkan target-target hidup di tahun selanjutnya. Nyatanya, tidak semua keinginan di tahun sebelumnya dapat tercapai sehingga membuat kita menghapus target tersebut karena dirasa tidak relevan, menundanya, atau membuat strategi baru yang dirasa lebih tepat. Kita coba breakdown poin-poin resolusi satu per satu hingga menjadi to-do-list yang detil. Lulus kuliah, mendapat pekerjaan sesuai keinginan, menikah adalah resolusi yang biasanya menjadi harapan untuk dapat terwujud. Harapan yang menjadikan hidup terasa lebih sempurna dan bahagia. Namun, adakah interaksi dengan Al-Qur’an menjadi salah satu poin resolusi tersebut? Atau sudah menjadi keinginan di tahun sebelumnya namun sama sekali belum tercapai? Hanya menjadi pemanis tanpa adanya kesungguhan untuk mewujudkan?

Adalah kejernihan hati dan pikiran yang dapat membuat kita dengan rendah hati bermuhasabah diri merefleksikan segala amalan yang telah kita lakukan. Satu tahun yang telah terlewati bukanlah waktu yang panjang jika sedemikian besar pula target yang kita punya sehingga satu tahun mungkin hanya cukup sebagai persiapan membangun pondasi atau anak tangga mimpi kita. Satu tahun yang telah terlewati juga bukan waktu yang sebentar jika setiap harinya ada satu batu bata yang kita susun sehingga dalam satu tahun, susunan batu bata tersebut telah menjadi sebuah bangunan kokoh yang siap kita pakai. Tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya saja, dalam satu tahun dan tahun-tahun sebelumnya, yang tidak akan pernah kembali itu, adakah Al-Qur’an menjadi salah satu yang kita perjuangkan?

Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Siapa pun yang menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan, maka ia akan mendapat kemuliaan di dunia dan di akhirat. Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa perumpamaan seorang mukmin yang senantiasa membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Uttrujah yang baunya harum dan rasanya manis. Ia adalah seorang yang dapat menginternalisasikan kandungan Al-Qur’an di dalam dirinya dan mewujudkannya dalam amalan harian baik secara individu maupun berjama’ah. Begitu pula sebaliknya. Di dalam surat At Thaha ayat 124, bahwa siapa yang berpaling dari Al-Qur’an maka Allah SWT akan memberikannya kesempitan dalam hidup. Tidak menutup kemungkinan bahwa segala kesulitan, kegundahan hati, dan kegagalan yang kita rasakan selama ini tersebab kurangnya interaksi kita dengan Al-Qur’an atau hanya menjadikan tilawah dan muraja’ah sebagai suatu tuntutan sehingga kita menjalaninya bagaikan tanpa ruh.

Rasulullah SAW sang kekasih Allah, seorang yang sudah dijaminkan Allah mendapat surga tertinggi pun, selalu berdo’a agar dirinya jangan sampai tidak mendapatkan keberkahan dan keutamaan Al-Qur’an yang telah Allah SWT janjikan.

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ya Allah aku mohon kepadaMu agar Al-Qur’an ini menjadi penyejuk hatiku, dan cahaya dadaku, dan penghilang kesedihan dan kegundahan hatiku.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Dari do’a tersebut, kita dapat melihat betapa seriusnya Rasulullah SAW memohon kepada Allah untuk menerangi hati dan mengokohkan jiwanya dengan Al-Qur’an. Bahwa dengan Al-Qur’an, jiwa akan menjadi lapang meski menghadapi banyak ujian kesedihan, kesulitan, dan kegundahan.

Adalah sebuah karunia bila rasa butuh dan cinta terhadap Al-Qur’an telah mengalir dalam aliran darah kita. Menjadikannya bukan hanya sebagai tujuan, namun sebagai sebuah pegangan dalam menjalani setiap fase hidup. Meyakini bahwa semua resolusi kita adalah kesia-siaan bila tanpa melibatkan sebuah lentera yang menunjukan manusia pada jalan yang haq, yang akan menerangi alam kubur kelak, yang akan menanti di hari kiamat dengan membawa syafa’at dan limpahan rahmat. Menjadikan kenikmatan membacanya sebagai standar baru untuk mendefinisikan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup.

Selamat melakukan refleksi dan membuat resolusi! Semoga dengan kesungguhan kita dalam memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an, Allah perbaiki pula orientasi kita terhadap kehidupan dunia ini sehingga target kita akan lebih jauh ke depan, ke kehidupan yang kekal.

Oleh: Aisyah Sa’diyah
Ketua Komisi Kemuslimahan,
Puskomnas FSLDK Indonesia 2017-2019